Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 44 : Tuan Lemah


__ADS_3


"Kumohon."


Tiba-tiba Elana menggunakan mata lebarnya yang jernih untuk memohon ke arah Akram, seperti anak kucing kecil galak yang tiba-tiba berubah menjadi jinak untuk memohon elusan.


Akram menipiskan bibir dan menimbang-nimbang.


Mungkin untuk saat ini, Elana masih bisa pergi keluar... toh Xavier masih belum mengetahui identitas wanita yang disembunyikan Akram sebagai kekasih favoritnya. Bahkan, mungkin Xavier masih belum yakin akan dugaannya mengenai benar atau tidak Akram memiliki kekasih yang disimpannya secara rahasia.


Elana tidak pernah meminta apapun kepadanya. Jadi, ketika perempuan itu menggunakan segala cara untuk memohon kepadanya seperti saat ini, bagaimana mungkin Akram bisa menolaknya?


"Kau hanya boleh mengikuti pesta itu selama satu jam. Setelahnya, kau harus mencari alasan untuk meninggalkan pesta, dan anak buahku yang berjaga di dekatmu akan menjemputmu dengan segera untuk membawamu pulang." Akram menyipitkan mata mengawasi wajah Elana.


Tiba-tiba Akram merasa jengkel. Perempuan itu berjanji untuk bersikap aktif kepadanya mulai malam ini, dan Akram sungguh tak sabar menantikan hari berlalu hingga tiba di waktu malam dimana dia bisa bercinta dengan Elana dan menikmati sikap aktif yang akan ditunjukkan Elana kepadanya. Sungguh berbanding terbalik dengan Elana yang malah memohon izin untuk pergi ke pesta bersama karyawan-karyawan lainnya.


Apakah berkumpul bersama orang-orang itu lebih menarik daripada bercinta dengannya?


"Di mana alamat restoran itu? Bodyguardku akan menjaga dari jarak aman mengikuti bus karyawan yang membawa kalian dan mengawasi tak jauh dari restoran dan menunggu ketika kau berpamitan pulang." Akram memutuskan dengan nada ketus dan sengaja bersikap galak supaya Elana tidak membantah pengaturannya. "Hanya satu jam, Elana. Satu jam. Jangan melanggar janji, karena sungguh, aku akan memberikan hukuman yang sangat berat kepadamu kalau kau sampai berani melanggar janjimu."


Dan memang Elana sepertinya tidak berniat untuk membantah. Perempuan itu sepertinya tahu bahwa dirinya sudah sangat beruntung karena Akram telah memberikan waktu satu jam baginya untuk bebas berada di luar lingkungan perusahaan, dan bisa menghabiskan waktu di sebuah pesta bersama rekan-rekan kerjanya.


***



***


Pesta itu berlangsung sangat menyenangkan. Makanannya melimpah dan enak-enak, meskipun  tentu saja ini bukan restoran dengan bintang-bintang aneh seperti yang disebutkan oleh Akram kepadanya. Bagi Elana sendiri, situasi megah dan sajian lezat di restoran ini termasuk standar yang luar biasa mewah.


Panggung besar diatur di ujung ruangan seluas aula itu, sementara di depannya, tampak meja-meja bulat ditutup dengann kain sutra putih bersalur keemasan yang elegan dilingkari oleh kursi yang ditutup dengan penutup warna senada. Pada masing-masing meja bundar itu, penuh tersaji hidangan yang ditata melingkar, siap untuk dinikmati tamu undangan yang telah diatur supaya duduk berkelompok di kursi-kursi yang tersedia melingkari meja.


Saat ini Elana tengah duduk disalah satu kursi yang melingkar itu, di antara teman-temannya yang sibuk tertawa dan mengobrol bersama sambil menikmati hidangan, sementara di panggung depan sana, kepala divisinya yang berbahagia sambil memeluk istrinya. Mereka tampaknya tengah memberikan pidato sambutan dengan diiringi musik bertema lagu cinta nostalgia yang menyentuh hati, menghibur seluruh tamu undangan yang datang.


Rupanya pesta ini cukup besar dan bukan pesta tertutup yang hanya dihadiri oleh seluruh divisi kebersihan di perusahaan. Jabatan kepala divisinya mungkin hanyalah di bidang kebersihan saja. Tetapi, karena dia menjabat kepala divisi di perusahaan yang menjadi kantor pusat milik Night Corporation, dimana perusahaan itu dikenal sangat bergengsi dan memiliki kedudukan kokoh dalam jajaran perusahaan-perusahaan yang memberi pengaruh besar dalam perekonomian negara, maka tamu-tamu yang datang pun bukanlah tamu sembarangan.


Selain para kepala divisi di perusahaan Akram, banyak juga datang orang-orang dengan jas dan gaun elegan yang berasal dari luar perusahaan. Tamu yang datang ke pesta ini sepertinya mencapai ratusan jumlahnya, dilihat dari penuhnya kursi yang melingkari meja yang jumlahnya ada puluhan di dalam ruangan besar itu.


Saat teman-temannya sibuk bersenda gurau sambil menikmati hidangan yang tak henti-hentinya mengalir di tengah hiruk pikuk musik pesta, nyanyian dan sendau gurau dari Master of Ceremony yang mengawal jalannya pesta, Elana diam-diam mengeluarkan ponsel yang sejak tadi terus bergetar dari dalam sakunya. Dia lalu meletakkan ponsel itu di bawah meja, tepat di pangkuannya, lalu meliriknya diam-diam. Wajahnya memucat begitu melihat apa yang tersaji di layar ponselnya.


Empat puluh delapan kali panggilan tak terjawab dari Akram Night


Sudah satu setengah jam lebih dia berada di pesta ini dan dia belum menemukan alasan untuk meninggalkan pesta. Seperti biasa, pesta dengan ukuran sebesar ini selalu dimulai sedikit terlambat. Saat ini di panggung sana baru dimulai acara sambutan serta hiburan di permulaan acara yang tengah berlangsung, sementara acara puncak belumlah tiba.


Ketika Elana menggumamkan  keinginannya untuk pulang setengah jam yang lalu, semua rekan-rekan kerjanya kompak mencegahnya dan mengatakan akan tidak sopan kepada atasan kalau dia sampai pulang bahkan sebelum acara puncak di mulai. Dan seolah semakin ingin mencegahnya pulang, hujan deras tiba-tiba turun di luar sana, membuat Elana kehilangan alasan untuk angkat kaki dari pesta ini.

__ADS_1


Dia sudah setengah jam terlambat dari yang dijanjikannya kepada Akram. Elana meringis membayangkan ancaman Akram tadi siang, tak bisa dia membayangkan bagaimana murkanya Akram Night saat ini. Ketakutan merayapi jiwanya membayangkan apa yang akan dilakukan lelaki itu untuk menghukum Elana malam ini ketika dia pulang.


Elana sibuk dengan pikiranya sendiri sehingga tidak menyadari keributan yang bermula keluar dari pintu restoran mewah itu. Ketika dia menyadarinya perubahan situasi di sekelilingnya dan mengangkat kepala, dilihatnya semua orang sedang melongokkan lehernya ke arah yang sama, berusaha menembus keramaian dan melihat ke arah pintu restoran.


Ada sesuatu yang menarik perhatian mereka semua saat ini... hingga bahkan musik dan nyanyian yang dimainkan mengiringi pesta sejak tadi langsung terhenti seketika dan Master Of Ceremony yang sejak tadi sibuk berbicara dengan nada ceria mengawal jalannya pesta, tiba-tiba membisu tanpa suara.


Penuh rasa ingin tahu, Elana ikut melongok ke arah yang sama, dan matanya langsung melebar syok ketika melihat sosok-sosok berjas hitam sudah memasuki pintu restoran itu dan berbaris berjajar di sana seolah-olah bersiap memberi jalan untuk menyambut kedatangan orang penting yang akan segera memasuki pintu restoran.


Jantung Elana berdetak kencang ketika menyadari bahwa para bodyguard itu adalah para pengawal Akram Night.


Tidak.... tidak mungkin, bukan?


Elana menenangkan diri, berusaha mengusir dugaan mengerikan di jiwanya. Sayangnya ketenangannya tidak berlangsung lama. Sosok yang ditakutinya tiba-tiba muncul di pintu restoran itu, dengan wajah dingin dan dipenuhi kemarahan gelap nan menakutkan.


Akram Night... itu benar-benar Akram Night! Lelaki benar-benar secara mengejutkan memutuskan untuk memenuhi undangan dan ke pesta ini, sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan sebelumnya di masa lampau....


Akram tampaknya sama sekali tidak memedulikan kepala divisi kebersihan yang langsung menggandeng istrinya dengan panik dan meloncat turun dari atas panggung pesta, tergopoh-gopoh mendatangi Akram, terbungkuk-bungkuk menyalaminya dengan rasa terkejut.


Kedatangan Akram Night ke pestanya mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu keajaiban abad ini. Sang kepala divisi memang telah memberikan undangan ke bos besarnya itu, tetapi itu semua dilakukan hanya demi formalitas dengan pengetahuan bahwa undangannya itu tidak akan dipenuhi.


Karena semua orang sudah tahu bahwa Akram Night sama sekali tidak pernah datang ke acara-acara pribadi karyawannya.


Saat ini, si kepala divisi benar-benar tengah mengungkapkan keterkejutan, rasa syukur dan kebanggaan tak terperi atas kedatangan orang yang begitu penting ke pestanya yang sederhana itu.


"Aku kebetulan sedang berada di dekat sini dan memutuskan tidak ada salahnya untuk mampir sebentar." mata Akram mengitari seluruh tamu undangan yang tampak terpana menatap kehadirannya, dan dengan cepat dia langsung menemukan keberadaan Elana.


Seketika Akram mengirimkan pandangan berkilat yang menusuk jiwa ke arah perempuan itu, membuat Elana berkerut dan gemetar ketakutan. "Aku hanya sebentar di sini, hendak mengucapkan selamat atas perayaanmu, mengambil benda milikku, lalu pergi lagi," sambung Akram kemudian dengan nada misterius. Lelaki itu menerima gelas anggur yang diserahkan kepadanya dengan sikap sopan untuk menghargai empunya pesta, tetapi langsung menolak dengan halus ketika kepala divisi kebersihan itu berusaha dengan ramah menggiring langkahnya ke tempat duduk khusus yang langsung disediakan dengan cepat baginya


Elana mengepalkan tangan ketika sinyal mengerikan yang dikirimkan oleh Akram dari tatapannya itu membuat bulu kuduknya berdiri. Lelaki itu jelas-jelas akan mengejar, menangkap dan menindasnya setelah ini. Elana tahu bahwa dia tidak bisa lari dari Akram, tetapi dia sadar bahwa setidaknya dia bisa mengulur waktu dan membuat Akram menyadari bahwa Elana tidak semudah itu ditindas oleh sikap Akram yang mengintimidasi dan penuh kuasa.


Segera Elana bangkit dari duduknya, mengucapkan kalimat berpamitan untuk pergi ke toilet kepada rekan-rekannya. Tetapi bukannya pergi ke toilet, Elana secara impulsif berlari cepat ke arah pintu kecil di dekat area toilet yang merupakan jalan keluar alternatif dari restoran tersebut.


Tanpa disadari oleh Elana, beberapa bodyguard langsung melangkah cepat mengikuti jejak Elana keluar dari gedung restoran itu. Elana sendiri terlalu sibuk dengan usahanya untuk melarikan diri dari Akram Dia tahu bahwa meskipun dirinya akan segera tertangkap karena microchip yang tertanam di tangannya, setidaknya dia sudah menunjukkan sikap perlawanannya kepada lelaki itu. Ketika tertangkap nanti setelah melalui proses pengejaran yang sulit, Elana akan bisa menghadapi Akram dengan sikap angkuh penuh harga diri.


Ketika Elana melangkahkan kaki keluar dari restoran, hujan deras langsung menyambutnya di luar, membuat Elana kaget ketika hempasan air yang keras langsung menimpa tubuhnya, membuatnya basah kuyup.


Dia begitu ingin melarikan diri dari Akram sehingga lupa bahwa di luar sedang hujan deras...


Suara langkah kaki berderap terdengar di belakangnya, tiba-tiba terdengar, mengalahkan derasnya hujan. Dengan panik Elana menolehkan kepala, hanya untuk menemukan bahwa ada beberapa orang berjas hitam yang tampak bergerak menembus keramaian pesta di dalam sana dan berusaha keluar dari restoran untuk mengejar tepat ke arahnya.


Penuh keterkejutan, Elana berlari melewati trotoar-trotoar lebar di pinggir jalanan besar tersebut, berusaha menjauh dari kejaran sekaligus mencari tempat berteduh dari derasnya hujan.


Area tempat restoran itu berada adalah area bisnis kelas atas yang meskipun saat ini sedang hujan deras, situasi masih sangatlah ramai oleh pengunjung lokal dan juga turis yang berlalu lalang memenuhi trotoar dengan memakai payung sebagai pelindung diri mereka dari tumpahan air hujan. Di bagian kiri dan kanan jalan area ini, terdapat berbagai cafe dan restoran kelas tinggi serta beberapa butik merk terkenal luar negeri yang menampilkan jenis pakaian dan tas elegan di etalasenya.


Elana terus membawa langkah kakinya menjauhi restoran itu. Dia sengaja mengambil jalur berkelak-kelok untuk menghindari kejaran para bodyguard yang mengikuti langkahnya dengan gerakan tak kalah gesit.

__ADS_1


Hingga akhirnya, di salah satu sisi trotoar yang sangat ramai, Elana berhasil mendapatkan keberuntungannya, karena para pengejarnya sepertinya kehilangan jejak saat Elana dengan cepat membaurkan diri bersama begitu banyak manusia yang memenuhi trotoar itu. Hampir seluruh pejalan kaki itu menembus hujan dengan membawa payung beraneka warna di tangan mereka, yang tentunya akan semakin mengaburkan pandangan para pengejar Elana.


Setelah merasa sedikit aman, Elana melambatkan langkah dan berhenti sejenak di salah satu sisi trotoar yang lebih sepi dari yang lainnya. Mata Elana bergerak memindai sekeliling dan akhirnya menemukan tempat yang teduh dari hujan tepat di seberang jalan. Berlokasi di teras sebuah cafe yang menyediakan kanopi-kanopi berwarna hijau di sepanjang trotoar depan cafenya guna menjaga supaya siapapun yang berlindung di bawahnya tidak akan basah tertimpa air hujan.


Dengan panik Elana menyeberang jalan kecil yang sepi itu, berlari cepat guna mencapai area teduh tersebut. Tetapi, di tengah hujan yang sangat deras, dia melupakan kehati-hatiannya dan malahan menabrak sesosok tubuh lain yang seolah muncul tiba-tiba di depannya tepat ketika dia sampai di seberang jalan.


"Maafkan saya," Elana terhuyung mundur dan hampir jatuh akibat tabrakan itu, mulutnya menyerukan permintaan maaf dengan panik.


Beruntung sebelah tangan sosok yang ditabraknya itu dengan sigap menahan tubuhnya, hingga Elana tidak sampai jatuh.


"Kenapa kau berlarian di tengah hujan seolah dikejar sesuatu yang jahat, gadis mungil? Adakah penjahat yang sedang mengejarmu?" sebuah suara lembut dari sosok yang menahannya terdengar menyapa, tidak tampak sama sekali jejak kemarahan meskipun Elana telah menabrak tubuhnya yang kering dengan dirinya yang basah kuyup, menciptakan noda basah yang mencemari kesempurnaan pakaian lelaki di depannya itu.


Kepala Elana sendiri langsung mendongak untuk melihat siapa yang ditabraknya. Itu adalah lelaki bertubuh ramping, dengan pakaian putih dan mantel tebal tersampir di pundaknya, sebelah tangannya memegang payung berwarna hitam dan penampilannya tampak begitu elegan layaknya pangeran-pangeran yang muncul dari buku dongeng kisah fantasi para wanita yang merindukan sosok sempurna untuk memenuhi khayalan mereka.


Ketika mata Elana berlabuh di wajah lelaki itu, dirinya langsung membelalak begitu melihat sosok wajah yang familiar baginya.


"Tuan Lemah?" Elana langsung menyuarakan apa yang ada di otaknya tanpa pikir panjang.


Di dalam ingatannya, lelaki didepannya ini adalah sosok lemah yang sakit yang ditemuinya tanpa sengaja di toilet karyawan perusahaan Akram. Elana bahkan tidak percaya ketika Akram menyebut sosok ini sebagai sosok yang berbahaya, karena dari pengamatan Elana sendiri, lelaki itu terlihat begitu lemah hingga tak mungkin membunuh seekor nyamuk sekalipun.


Xavier yang juga baru mengenali sosok di depannya langsung menyeringai dengan mata melebar seolah tidak menyangka.


Dia menghabiskan sesorean ini dengan mengikuti mobil Akram yang keluar dari gedung kantor pusatnya. Dirinya memang sengaja mengikuti Akram sendiri dalam upaya mencari tahu kebenaran tentang sosok kekasih misterius Akram yang semakin hari semakin membuat dirinya penasaran.


Sayangnya, Akram sepertinya mengetahui kalau dirinya sedang diikuti oleh Xavier. Lelaki itu malahan seolah mengejek Xavier dengan memutuskan masuk ke sebuah pesta yang penuh dengan keramaian, yang kemudian akhirnya diketahui oleh Xavier memang sedang diadakan di restoran area sini oleh salah satu anak buah Akram


Akram jelas tahu kalau Xavier takut pada keramaian pesta... karena dulu, Xavier diculik di tengah pesta besar yang diadakan oleh orang tua mereka...


Memutuskan kalau dia telah kalah kali ini dan tahu kalau dia bahwa dia tidak akan mendapatkan apa-apa dengan bersikeras mengikuti Akram, Xavier akhirnya menghentikan tindakannya dan berbalik arah.


Kali ini Xavier harus pulang dengan tangan kosong tanpa menemukan petunjuk apapun. Tetapi, tentu saja dia tidak akan menyerah. Dia tidak akan berhenti sampai dia bisa menemukan kebenaran tentang gadis misterius yang menjadi kekasih rahasia Akram, lalu merebut gadis itu dari tangan Akram dan menghancurkannya hingga berkeping-keping, rusak parah dan tak akan bisa diperbaiki lagi.


Sebelum pulang, Xavier berniat mengisi perutnya di cafe langganannya, dengan memesan secangkir kopi dan pastri berlapis mentega yang pasti akan sangat nikmat disantap di tengah hujan deras dan hawa dingin seperti ini. Hal itu mungkin sekaligus bisa mengembalikan suasana hatinya yang muram karena harus mengalah dari Akram.


Tetapi, sungguh tidak disangkanya dia malah bertemu dengan harta karun yang luar biasa berharga di tempat dan situasi yang sangat tidak disangkanya.


Dirinya memang berniat menemukan Lana kembali dengan segera.Tetapi, dewi keberuntungan sepertinya sedang menaunginya hingga dia dipertemukan dengan perempuan mempesona ini, bahkan sebelum dia bergerak mengejarnya.


"Tuan Lemah? Begitu caramu memanggilku?" Xavier tersenyum dengan begitu manis dan penuh pancaran aura mempesona nan berkilauan, hingga mungkin bisa membuat sinar bulan yang cantik merasa rendah diri karenanya. "Aku pernah disebut dengan berbagai macam julukan, tetapi 'Tuan Lemah' sudah tentu bukanlah salah satunya," sambungnya dengan nada penuh ironi yang ramah sambil mengedipkan mata penuh arti pada perempuan di depannya.



***


__ADS_1


__ADS_2