
Perkataan Sera membuat Xavier tercengang.
Perempuan ini menolak tawaran kebebasan yang diberikannya?
Selama ini Xavier berpikir bahwa Sera akan melompat kegirangan, merangsek maju dan tak sabar untuk menyambar kebebasan yang ditawarkan oleh Xavier kepadanya. Tetapi, di luar dugaannya, bukannya melakukan itu semua, Sera malah menolak mentah-mentah diceraikan olehnya.
Apa sebenarnya yang ada di dalam kepala Sera yang rumit itu? Xavier selama ini selalu merasa bahwa dirinya sangat cerdas, tetapi entah kenapa jika menyangkut apa yang ada di dalam kepala makhluk bernama perempuan, Xavier cukup kesulitan untuk menerjemahkannya.
"Aku tidak sedang membuangmu." Perlahan, Xavier mengeluarkan kalimat sanggahan tenang yang telah diperhitungkannya masak-masak. "Tidak bisakah kau melihat dari sisi positifnya? Aku telah menawarkan kebebasan kepadamu. Sebuah kebebasan yang sangat kau inginkan, bukan?" Xavier bertanya dengan nada sinis, tak bisa menenggelamkan nada ironi dalam suaranya.
Sera mendongakkan dagunya angkuh, dengan berani dia menatap ke arah Xavier.
"Kebebasan yang kau tawarkan itu sudah terlambat, Xavier. Kau sudah menyentuhku, mempergunakan tubuhku dan memperalatku semaumu. Kau telah merusakku, dan sekarang kau ingin membuangku setelah kau puas melakukannya?" pipi Sera memerah karena malu ketika mengucapkan kalimat itu, tetapi dia memaksakan diri melanjutkan perkataannya. Xavier tak boleh menginjak-injak Sera seenaknya, Sera harus bisa mempertahankan harga dirinya di depan lelaki itu. "Kau tak boleh bertindak semaumu, Xavier Light," kecam Sera kemudian.
Mata Xavier melebar, tampak jelas jika lelaki itu terkejut dan sama sekali tak menduga akan reaksi Sera menyangkut tawaran kebebasan yang diberikannya.
"Jadi kau mau apa?" Baru kali ini Xavier benar-benar kehilangan petunjuk arah dan tak bisa membaca apa maksud Sera. Biasanya dia sangat ahli memprediksi, tetapi entah kenapa sekarang kepalanya terasa kosong hingga membuatnya hanya mampu bertanya, seperti orang bodoh.
"Aku mau apa?" Gantian Sera yang melebarkan mata, perempuan itu tampak tak habis pikir kenapa Xavier tak memahaminya. "Aku menolak perceraian itu. Aku menolak dibuang! Kau tak bisa seenaknya...."
Sebelum Sera sempat melanjutkan rentetan panjang kalimat omelan yang hendak meluncur dari bibirnya, Xavier sudah menggerakkan tangannya memberi isyarat supaya Sera bergenti berucap. Lelaki itu menghela napas dalam-dalam, seolah kesulitan bernapas.
Amarah Sera surut seketika. Ekspresinya yang tadi menggebu-gebu siap melawan, langsung memudar, dipenuhi kecemasan.
"A-apakah kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian dengan nada gugup.
Xavier memberikan anggukan tegas sebagai jawaban. Tetapi, lelaki itu kembali menghela napas seolah menenangkan dirinya. Tangannya sendiri bergerak memberi isyarat supaya Sera mau menunggu.
Keheningan membentang cukup panjang di dalam ruangan itu. Sera bergeming, bahkan tak berani bergerak atau bersuara sedikit pun, sementara matanya terpaku ke arah Xavier, mengawasi lelaki itu dengan saksama.
Sera lupa kalau Xavier sedang terluka parah....
Apakah sikap menentangnya tadi membuat kondisi Xavier memburuk? Apakah seharusnya Sera pasrah dan menurut saja?
"Aku hanya ingin menegaskan kembali kepadamu. Sepertinya kau melihat tawaranku dari sisi negatif. Aku tidak membuangmu, malahan aku melepaskan dan membebaskanmu, bukankah itu yang kau mau?" Xavier merangkai kalimatnya perlahan. "Pernikahan ini kurancang untuk mengikatmu, menjadikanmu tawananku dan memperalat tubuhmu untuk melahirkan anak-anakku. Tetapi sekarang aku membebaskanmu. Kau berhak menjalani hidupmu sendiri." Xavier menghentikan kalimatnya, lalu menatap Sera dengan penuh penilaian. "Ayahmu akan dikeluarkan dari penjara dan mendapatkan perawatan selayaknya di rumah sakit. Aaron akan mendapatkan penawarnya. Dan kau bisa menentukan langkahmu sebebas-bebasnya."
Mata Sera melebar atas pengetahuan baru yang didapatnya, tubuhnya menegang.
"Kau membebaskan ayahku dari penjara negara? Bagaimana bisa?" serunya dengan suara tercekik.
Selama ini, ayahnya yang invalid dan berada dalam kondisi rusak otak mendapatkan perawatan seadanya di fasilitas kesehatan di penjara kota. Sakit yang diderita ayahnya akibat hajaran rekan satu sel yang merupakan suruhan Roman Dawn sama sekali tak pernah dijadikan pertimbangan untuk mengurangi atau mematahkan vonis hukuman seumur hidupnya. Lagipula, Roman Dawn sendiri dengan jahatnya telah memastikan supaya ayahnya berakhir membusuk di penjara, karena ayahnya adalah jaminan kepatuhan Sera kepadanya. Sampai dengan kematian Roman Dawn, Sera yang tak punya kekuatan apa-apa, selalu berpikir bahwa dia harus menuruti apapun yang dikatakan oleh Roman Dawn demi menyelamatkan nyawa ayahnya.
Lalu, ketika Xavier mengambil alih semuanya, Sera berpikir bahwa lelaki itu akan melakukan hal yang sama, menahan ayahnya di penjara negara sebagai sandera supaya Sera menurut kepadanya.
Tetapi sekarang, Xavier akan membebaskan ayahnya? Bagaimana caranya? Apakah kekuasaan Xavier sedemikian besarnya hingga bisa menghapuskan vonis hukuman seseorang yang telah ditetapkan oleh negara?
"Aku tidak melakukan cara-cara kotor jika itu yang kau pikirkan." Xavier menyahuti tenang, mampu membaca dengan jelas apa yang tersirat di benak Sera. "Ayahmu tidak pernah mendapatkan proses hukum yang adil di masa lampau. Bisa dibilang, dia ditumbalkan demi menutup mulut keluarga Dawn yang menjadi korban. Kemungkinan besar, aku ikut andil dalam hal itu, ayah angkatku, Baron Night sudah pasti menggunakan segala cara supaya namaku sama sekali tak dilibatkan dalam kasus tersebut." Xavier menatap Sera lekat-lekat seolah berusaha membaca hati perempuan itu setelah menerima pengakuannya. Dia mencari-cari rasa benci di mata Sera, tetapi tak menemukan apapun.
"Aku hanya meminta pengacaraku mengajukan peninjauan kembali dengan mempertimbangkan kondisi sakit ayahmu." Xavier menjelaskan lagi, lalu menghentikan kalimatnya sejenak. Menimbang-nimbang apakah dia harus mengatakan mengenai kondisi ayah Sera yang terkena kanker dan hampir tidak memiliki harapan hidup lagi. "Mereka setuju untuk membiarkan ayahmu dirawat di fasilitas yang lebih baik," sambungnya kemudian, pada akhirnya memutuskan bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengatakan hal itu pada Sera.
Nanti di saat mereka mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak, barulah Xavier akan menjelaskan mengenai kondisi ayahnya kepada Sera.
"Kau membebaskan ayahku, sebagai kompensasi kepadaku untuk perceraian kita?" Sera mengulang lagi seolah perlu diyakinkan.
"Aku sudah bilang bahwa aku akan membebaskanmu, jadi tak ada sandera lagi yang akan kugunakan untuk mengancammu." Xavier menganggukkan kepala. "Bukan hanya ayahmu, tetapi juga Aaron. Saat ini Akram sedang menjemput Aaron di lokasi persembunyiannya. Mereka membawa serum dariku untuk menawarkan racun di tubuh Aaron. Jadi, Aaronmu akan bebas dan selamat. Aku bahkan sudah menyiapkan semua supaya dia bisa kembali ke negaranya dengan selamat dan terlepas dari ancamanku. Aku tidak akan mengganggunya lagi." Suara Xavier merendah. "Bahkan jika kalian berdua mencapai kesepakatan dan jika hasil test darah menunjukkan bahwa kau tidak mengandung, maka kau boleh pergi bersamanya."
"Kau juga membebaskan Aaron, itu bagus..." Sera berucap tanpa sadar. Entah kenapa mendengar itu semua, hatinya lebih dipenuhi dengan kelegaan dibandingkan dengan bahagia. Setidaknya, dengan melepaskan Aaron dari segala masalah rumit yang ditimbulkannya, beban hutang budi Sera menyangkut Aaron musnahlah sudah.
Sementara itu, mengenai perasaan Sera kepada Aaron, Xavier sepertinya salah mengartikannya. Sera memang pernah mencintai Aaron sebagai satu-satunya sosok lelaki sempurna dengan kebaikan tulus yang muncul di kehidupannya yang penuh derita. Tetapi, sudah sejak lama dia membunuh perasaannya itu sampai hilang musnah, karena menyadari bahwa dirinya yang tak sederajat ini malahan akan membebani langkah Aaron menuju puncak kejayaannya.
Sudah cukup bagi Sera bisa menyelamatkan nyawa Aaron dan membebaskannya dari upaya sapu bersih keluarga Dawn yang dicanangkan oleh Xavier. Sera tak pernah berharap yang lebih lagi.
Sementara Sera berpikir, Xavier mengamati dan langsung mengambil kesimpulannya sendiri. Dia mengira bahwa Sera sedang menimbang-nimbang untuk menjalani sisa hidupnya dengan Aaron. Pada saat itulah, secara impulsif, Xavier langsung terdorong untuk membuka kedok Aaron di mata Sera, supaya perempuan itu tak menggantungkan harapan tinggi pada rupa palsu Aaron dan dikecewakan kemudian.
"Sera." Xavier menarik perhatian Sera dari lamunannya sendiri dengan suaranya. Ketika mata Sera terangkat dan bertemu kembali dengan matanya, Xavier pun berucap, "Ada sesuatu yang harus kukatakan mengenai Aar-"
Suara ketukan di pintu membuat Xavier menghentikan kalimatnya. Baik dia dan Sera sama-sama menoleh ke arah pintu dengan penuh ingin tahu.
Ini sudah dini hari dan para bodyguard di luar pasti sudah mendapatkan pesan bahwa Xavier dan dirinya sedang mengadakan percakapan pribadi sehingga tidak bisa diganggu.
Firasat buruk langsung memenuhi benak Sera. Jika mereka sampai menginterupsi percakapan mereka, itu artinya ada sesuatu yang sangat genting....
"Masuklah," Xavierlah yang menjawab kemudian, memerintah dengan tegas kepada siapapun yang ada di depan pintu. Lelaki itu sepertinya sama penasarannya dengan Sera.
__ADS_1
Tak perlu menunggu lama, pintu pun terbuka dan sosok Akram Night lah yang memasuki ruangan.
***
Setelah menempuh pelarian yang panjang tanpa henti menjauhi lokasi motel supaya tak terlacak, Aaron akhirnya kehabisan tenaganya. Tubuh Aaron merosot jatuh terduduk di trotoar dan lelaki itu langsung menyandarkan tubuhnya di pintu berteralis dari sebuah rumah toko tua yang telah tutup.
Suasana jalanan sangat sepi di tengah hujan rintik-rintik dan malam kelam yang telah bergulir menyambut pagi. Tidak ada satu kendaraan pun yang lewat di depannya. Meskipun begitu, trotoar di lokasi pertokoan pinggiran kota ini pun hampir-hampir penuh, dijajah oleh manusia-manusia tak berumah yang menggantungkan lelap tidurnya dengan beratapkan teras-teras pertokoan tua yang menaungi tubuh mereka dan melindungi dari rintik hujan.
Para gelandangan itu kesemuanya sudah siap melewatkan malam di udara terbuka di sepanjang emperan toko tersebut, mereka mengenakan pakaian tebal dan kain lebar sebagai selimut sekaligus alas tidur untuk melindungi tubuh mereka dari hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Tentu saja hal itu berbeda dengan Aaron yang terdampar di tempat menyedihkan ini tanpa persiapan apapun. Seluruh tubuhnya sakit, masih menanggung luka bekas dipukuli sebelumnya, dan dia juga merasakan demam yang menyalakan saraf sakit di sekujur tubuhnya sehingga setiap inci permukaan kulitnya terasa nyeri tak terperi hanya dengan sentuhan kecil sekalipun.
Serafina Moon dan Xavier Light sialan! Kenapa dirinya begitu sial harus terlibat dengan dua makhluk yang mengganggu itu?
Aaron mengutuk dalam hati, mengeluarkan segala perbendaharaan umpatan yang dia ketahui, tetapi dalam sekejap dia sadar bahwa marah-marah sendirian tak akan menyelesaikan apapun.
Pertama-tama, dia harus menemukan jalan keluar dari kebuntuan yang membelitnya ini.
Aaron tak memiliki apapun di tubuhnya, hanya pakaian lusuh yang melekat dan penuh bekas darah kering, ditambah sedikit uang yang ditinggalkan Sabina untuknya di sakunya. Perutnya keroncongan menahan lapar dan hal itu semakin memperburuk kondisinya.
Aaron juga tak lupa bahwa di tubuhnya ada racun yang telah ditanamkan oleh Xavier kepadanya. Jika dia tak segera mendapatkan penawarnya, dia menduga bahwa kondisi tubuhnya akan semakin melemah dan bukan tak mungkin kematian akan segera menjemputnya ke dalam pelukan.
Bayangan kematian yang menakutkan membuat Aaron kalut, sementara pikirannya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan yang menciutkan nyali.
Apa yang harus dia lakukan? Dirinya sendirian di negara antah berantah ini, terlunta-lunta tanpa siapapun yang bisa membantunya. Dia harus meminta tolong kepada siapa?
Pikiran Aaron berputar seperti kincir angin, mencari-cari di dalam ingatannya, sampai kemudian dia menemukan sebuah nama yang sempat tenggelam di dasar memori terdalamnya dan baru muncul kembali setelah dia menggalinya.
Mata Aaron langsung bersinar penuh harapan, dan tubuhnya yang semula merosot lunglai di trotoar itu langsung melenting bangun seolah-olah mendapatkan suntikan kekuatan baru.
***
Mata Xavier melebar ketika melihat Akram sendirilah yang memasuki ruangan perawatannya. Lelaki itu jelas-jelas sama terkejutnya seperti Sera melihat kehadiran Akram yang tak terduga.
"Apa yang kau lakukan di sini tengah malam begini? Kau meninggalkan Elana dan Zac sendirian?" tanya Xavier dengan suara cemas.
Akram menghentikan langkahnya dan berdiri di dekat kaki ranjang Xavier. Seperti biasa, kehadiran lelaki itu langsung menebarkan aura gelap mengintimidasi ke seluruh penjuru ruangan yang membuat Sera beringsut tak nyaman di kursinya karena dirambati oleh rasa takut.
"Elana dan Zac aman di rumah." Akram menjawab tenang, lalu menatap Xavier dan Sera berganti-ganti sebelum kemudian berucap, "aku semula hendak menahan informasi ini sampai kami bisa membereskan masalah, sayangnya hingga dini hari seperti ini, anak buahku belum juga memberikan kabar bagus. Jadi, aku memutuskan untuk memberitahukan kepadamu."
Mata Akram melirik ke arah Sera, lalu lelaki itu mengalihkan pandangannya dan menatap Xavier tajam.
"Aaron Dawn melarikan diri dari motel tempatnya bersembunyi sebelum pasukan anak buahku mendatangi motel itu dengan tujuan hendak menjemputnya." Akram memberitahu dengan nada jengkel. "Kecoa itu menyaru dengan penduduk sekitar dan kemungkinan besar melarikan diri ke gang-gang sempit di area pasar tradisional sehingga anak buahku kesulitan melacaknya. Kami telah menggunakan satelit untuk meretas seluruh kamera CCTV di semua area, tetapi makhluk itu ternyata pandai bersembunyi karena hampir beberapa jam ini, anak buahku kerepotan mencari tanpa hasil."
Mata Xavier melirik ke arah Sera yang tampak terkejut, lalu dengan tenang lelaki itu menjawab ke arah Akram.
"Satu bulan," ujarnya menghitung. "Jika dalam satu bulan Aaron tak mendapatkan penawar itu, maka dia bisa mati," sambungnya memberikan ultimatum.
Akram menipiskan bibir, mengabaikan Sera yang terkesiap ketika mendengarkan ucapan Xavier.
"Meskipun aku lebih senang jika kecoa itu mati saja, tetapi aku akan mengusahakan untuk menemukan makhluk itu sebelum satu bulan berlalu." Akram memasukkan tangannya ke saku. "Aku datang kemari hanya untuk menyampaikan hal itu."
"Kau tentu tak kemari hanya untuk itu, bukan?" Xavier menyahuti sambil menahan senyum. "Aku mengenalmu, Akram, dan aku tahu aku tak sebegitu berartinya bagimu hingga membuatmu rela malam-malam begini datang ke rumah sakit meninggalkan Elana dan Zac di rumah," tebaknya tepat.
Akram langsung menyeringai, ekspresinya yang tadinya kaku, langsung berubah melembut ketika dia akhirnya berucap.
"Aku datang kemari untuk menjemput Nathan dan mengantarkan sampel darah serta urine Elana. Nathan bertugas jaga malam di sini jadi setelah dia menyerahkan sampel itu ke laboratorium aku sekalian hendak membawanya ke rumah," jawabnya kemudian.
Xavier menegang, langsung waspada. "Kau menjemput Nathan? Ada apa? Kenapa Elana harus diperiksa sampel darah dan urine-nya? Dia sakit apa?" sambarnya cepat.
Akram melepaskan tangannya dari saku celananya, entah kenapa tampak kesulitan berkata-kata.
"Elana tidak mendapatkan periode datang bulannya dan dia merasa mual serta muntah semalaman ini. Dia tak bisa tidur karena bolak-balik muntah ke kamar mandi. Dari pengalaman kehamilan Elana sebelumnya, kami menduga bahwa ... eh ... Elana kemungkinan sedang mengandung lagi." Akram tampak merona. "Kau tahu, Elana memiliki trauma dengan rumah sakit, jadi aku tak bisa memaksanya datang kemari memeriksakan diri dan meninggalkan Zac, karena itulah aku menjemput Nathan untuk pulang bersamaku."
"Mengandung lagi?" Kali ini Xavier dan Sera berseru hampir bersamaan, keduanya sama-sama dipenuhi keterkejutan.
"Masih belum pasti. Karena itulah aku memanggil Nathan untuk memeriksa dan memastikan. Mungkin saja Elana salah makan atau yang lainnya, bagaimanapun Elana masih menyusui Zac, jadi semua harus ditangani dengan cepat." Akram mengibaskan tangannya, memutuskan pembahasan mereka berakhir di sini. " Aku harus pergi. Untuk Aaron Dawn, akan kupastikan dia tertangkap sebelum jangka waktu satu bulan berakhir," ucapnya kemudian sambil melangkahkan kaki, hendak pergi meninggalkan ruangan.
"Terima kasih, Akram." Xavier tiba-tiba berucap ketika Akram sudah sampai di ambang pintu, membuat langkah Akram tersendat di sana.
Akram menolehkan kepala, eksprsinya tampak kaku.
"Kita bersaudara, inilah yang sudah seharusnya dilakukan sesama saudara, saling membantu," jawabnya dengan nada suara canggung, lalu buru-buru melangkah keluar meninggalkan ruangan.
__ADS_1
***
Sepeninggal Akram, Xavier kembali menolehkan kepala ke arah Sera, bibirnya menipis ketika melihat keterkejutan masih menggurati wajah perempuan itu.
"Kau tak perlu cemas. Anak buah Akram adalah pencari yang ahli, mereka akan menemukan Aaron dengan cepat dan memberikan serum itu sebelum terlambat," ujarnya kemudian tanpa menyembunyikan sinar sinis di matanya.
Sera tergeragap, mengangkat pandangannya hingga matanya bertemu dengan mata Xavier yang jernih.
Ya. Sera memang mencemaskan Aaron setengah mati, tetapi entah kenapa, ada pikiran lain yang lebih memenuhi otaknya dibandingkan pemikiran tentang Aaron.
"Jika Elana benar-benar mengandung... maka kemungkinan besar -jika aku juga mengandung- maka anak kami bisa dilahirkan di periode waktu yang berdekatan...." Sera tanpa sadar menyuarakan pikirannya, perempuan itu mengerutkan kening dan menghitung-hitung, lalu ada seulas senyum tipis di bibirnya ketika membayangkan jika itu semua benar-benar terjadi.
Elana sangat baik dan keibuan, perempuan itu juga sangat tulus memberikan perhatian dan bantuannya kepada Sera. Elana telah berpengalaman dengan kehamilannya yang sebelumnya. Jika mereka hamil bersama-sama, Sera yang tak tahu apa-apa tentang kehamilan pastilah sangat terbantu.
Xavier mengangkat alis, tak menyangka bahwa hal itulah yang akan diucapkan oleh Sera. Tadinya dia menyangka bahwa perempuan itu akan merengek, menangis dan memohonkan jaminan keselamatan Aaron kepadanya.
"Apakah kau berpikir bahwa dirimu telah hamil?" Xavier akhirnya bertanya dengan nada sedikit sinis. "Bagaimana jika dirimu ternyata tak hamil? Kurasa kau tak perlu memberatkan dirimu dengan berbagai kemungkinan dahulu, sebelum kita bisa melakukan test darah dan membuktikan secara akurat kehamilanmu." Ada nada penuh ironi di dalam suara Xavier. Lelaki itu tahu, bahwa akan lebih mudah bagi Sera untuk bebas darinya jika ternyata perempuan itu tak hamil.
Itu berarti, Xavier harus melepaskan Sera lebih cepat, membebaskannya dan mungkin tak akan melihatnya lagi. Untuk selamanya.
Tetapi, di luar dugaan, Sera tiba-tiba mendongakkan kepala, mengangkat dagunya dengan angkuh dan kembali menunjukkan sikap menantangnya di depan Xavier.
"Kau melepaskan ayahku dari penjara sehingga beliau bisa mendapatkan fasilitas perawatan yang lebih baik. Kau juga bersedia melepaskan Aaron, memberikan penawar racun di tubuhnya dan berjanji tak akan mengganggunya lagi ketika dia pulang ke Rusia. Semua kebaikan itu hanya akan menjadi beban bagiku jika aku tak menggantinya dengan nilai setimpal." Sera menghela napas panjang, lalu melanjutkan, "aku tidak akan menerima kebaikanmu tanpa timbal balik, Xavier."
Sera lalu menatap Xavier lekat-lekat, mengajukan negosiasi nekatnya. "Aku memberikan tubuhku sebagai balas budi kepadamu. Aku bertekad untuk mengandung anak-anakmu dan memberikan plasenta mereka untuk menyelamatkan nyawamu seperti komitmen awal kita," sambungnya kemudian dengan nada mantap.
Perkataan Sera itu membuat Xavier tercengang dan menatap Sera seolah-olah perempuan itu sudah gila. Sejenak Xavier kehilangan kata-kata, tetapi akhirnya lelaki itu berhasil menguasai diri dan bertanya,
"Bagaimana jika hasil tes nanti menyatakan kalau kau tidak hamil?"
Sera menelan ludah, wajahnya dipenuhi rona merah dan bibirnya gemetaran. Tetapi, dengan berani, dia akhirnya berucap,
"J-jika itu yang terjadi... maka kau harus berusaha keras untuk menghamiliku sehingga aku bisa mengandung dan melahirkan anak-anakmu."
***
PS : ADA SATU POSTINGAN LAGI NANTI DI HARI MINGGU
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
__ADS_1
Terima Kasih.
AY