Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 96 : Bersinggungan


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


 


****


****


****


 


 


Dokter Nathan menatap mobil yang berlalu pergi itu sambil mengerutkan kening. Dia memang tahu bahwa dokter Oberon adalah manusia introvert yang sepenuhnya menutup diri sejak kecelakaan yang menghancurkan karirnya sebagai dokter bedah itu, tetapi dia tak menyangka bahwa seiring berjalannya waktu, lelaki itu semakin menutup diri dan menolak sikap ramah rekan-rekannya secara terang-terangan.


Nathan lalu mengangkat bahunya dan membuka pintu mobil sebelum kemudian melangkah masuk dan duduk di balik kemudi.


Yah, bukannya dia peduli dan ikut campur urusan orang lain, tetapi setertutup-tertutupnya dokter Oberon, lelaki itu tetaplah salah satu dokter yang memiliki kedudukan penting di rumah sakit ini. Bukannya dokter Oberon tidak becus melakukan pekerjaannya sebagai direktur keuangan, lelaki itu selalu memberikan hasil yang  terbaik dan memuaskan, hanya saja di mata Nathan, dokter Oberon tampak semakin sulit dan sulit dipahami.


Mungkin dia tak bisa mengerti sebab dia tak mengalami seperti yang dialami oleh dokter Oberon. Mungkin jika dia kehilangan karirnya dan tidak bisa melakukan apa yang menjadi hasratnya karena kecelakaan, dia akan menjadi manusia pahit yang sama tertutupnya seperti dokter Oberon.


Ah. Tapi dia tidak seharusnya menyulitkan diri dengan memikirkan urusan orang lain. Dokter Oberon adalah lelaki dewasa yang dia yakin sudah cukup bijaksana untuk menentukan arah kehidupannya sendiri.


Nathan hendak menyalakan kemudi ketika getaran ponselnya menarik perhatiannya. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan kening ketika melihat nama Xavier di layar ponselnya.


"Xavier?"


"Nathan." Xavier menyahuti di seberang sana, ada sesuatu di nada suaranya yang membuat Nathan langsung waspada. "Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Sera?" tanyanya cemas.


Xavier tampak membutuhkan waktu beberapa detik lebih  lama sebelum menyahuti dari seberang sana. Setelah lelaki itu berbicara kemudian, ada penyesalan kental yang terselip di dalam suaranya.


"Sekarang tidak terjadi sesuatu. Namun, aku cemas kalau nanti terjadi sesuatu." Xavier menghela napas panjang. "Nathan, aku bersikap impulsif dengan mengajak Sera ke fasilitas kesehatan untuk menjenguk ayahnya hari ini."


"Kau apa?!"


Nathan tanpa sadar berteriak ketika mendengar pengakuan Xavier yang tak disangkanya.


***


"Kau apa?!"


Suara dokter Nathan yang kencang di seberang sana membuat Xavier sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menghela napas panjang.


"Kau mendengarnya, kan? Aku menawarkan kepada Sera untuk ikut denganku menengok ayahnya," sahutnya kemudian.


"Apa kau sudah gila? Kau tidak melihat perut Sera yang begitu besar? Aku memang menyarankannya berjalan-jalan, tetapi itu hanya berjalan-jalan ringan di taman sekitar rumah untuk melenturkan ototnya dan dia harus berhenti ketika kakinya yang bengkak tak kuat lagi menopang tubuhnya! Lagipula, apakah kau tidak berpikir bahwa fasilitas kesehatan itu terletak cukup jauh dari rumahmu? Apa kau kira perjalanan panjang dengan kendaraan darat dalam kondisi Sera yang sedang hamil itu tidak akan menjadi masalah baginya? Sera akan sangat tidak nyaman dalam perjalanan! Belum lagi kondisi emosionalnya. Pertemuan dengan ayahnya setelah sekian lama ketika dia dalam kondisi seperti ini akan menciptakan ledakan emosional yang mungkin tidak bisa ditanggung oleh tubuhnya! Kau bisa membahayakan Sera."


"Aku tahu. Aku juga cemas." Xavier jelas-jelas menyesali ajakan impulsifnya sebelumnya. Saat ini ketika Sera sedang berganti pakaian, dia menjauh ke ruang kerjanya untuk menelepon Nathan tanpa ketahuan. "Karena itu aku ingin kau hadir di sana untuk berjaga-jaga."


"Astaga Xavier! Kau rupanya sangat suka menguji kesehatan jantungku. Batalkan ajakanmu itu jika bisa. Aku tahu kau sangat persuasif  dalam hal membujuk, kau pasti bisa membuat Sera mengerti bahwa kesehatannya berada di atas segalanya saat ini dan lebih baik tak mengambil risiko yang bia membahayakannya dan bayinya." Nathan menyahuti di seberang sana tanpa menyembunyikan kemarahannya. Kondisi kehamilan kembar Sera sudah sangat berisiko, ditambah lagi dengan kondisi sang ibu yang cukup rapuh dan lemah. Nathan sudah berusaha untuk meminimalisasi kemungkin buruk yang bisa terjadi, tetapi Xavier malahan dengan mudah membuat keputusan yang bisa merusak semuanya. "Meskipun begitu, aku akan hadir di fasilitas kesehatan itu. Jika kau tak berhasil membujuk Sera untuk membatalkan kunjungan ini, maka kita bertemu di sana nanti." Meskipun dia marah dengan sikap sembrono Xavier, tetap saja Nathan tak bisa mengabaikan kondisi kesehatan Sera semaunya. Karenanya, tanpa menunggu jawaban Xavier, dia langsung menutup panggilan telepon dan melajukan mobilnya sekencang mungkin menuju fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat.


***


Xavier menatap ponselnya yang kini senyap dengan ekspresi muram. Nathan mungkin bermaksud baik dan dia tahu bahwa apa yang dikatakan oleh Nathan benar adanya.


Keputusan impulsifnya mungkin bisa membahayakan Sera. Tetapi, bagaimana mungkin Xavier membatalkannya?


Sera sudah begitu bahagia ketika tahu bahwa Xavier akan mengajaknya menemui ayahnya dan Xavier tak mungkin menempatkan dirinya sebagai orang jahat yang merubuhkan kebahagiaan itu menjadi berkeping-keping begitu saja dengan kejamnya.


Apapun keputusan yang dia lakukan sekarang seperti pedang bermata dua yang kedua sisinya bisa menyakiti Sera. Jika dia membawa perempuan itu ke rumah sakit, dia mungkin akan mempertaruhkan kondisi kesehatan Sera. Jika dia membatalkan kunjungan Sera ke rumah sakit, dia juga akan menyakiti Sera.


Xavier menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang sedikit lebih panjang dari  biasanya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.


"Xavier?" Ketika dia sampai di ruang tamu, suara Sera yang bersemangat langsung menyapanya. Mata Xavier bergerak mengikuti sumber suara dan langsung bertemu dengan mata Sera yang duduk di sofa ruang tamu menantinya.


Perempuan itu tampak sangat.... bahagia. Wajahnya berseri-seri di tengah cahaya matahari yang mulai naik ke singgasana langit, bibirnya mengulas senyum dan Sera tampak seperti anak kecil di malam ulang tahunnya yang begitu bersemangat dan berdebar menanti kado apa yang akan dibelikan oleh orang tuanya baginya esok hari.


Bagaimana mungkin dia mengikuti saran Nathan untuk membatalkan ajakannya lalu memudarkan senyum indah itu dari wajah kesayangannya?


Xavier mengulas senyum tipis, lalu melangkah mendekati Sera dan berlutut di depannya.


"Kau tampak senang." bisiknya pelan dan meletakkan tangannya di perut buncit perempuan itu. "Apakah kau yakin kau akan baik-baik saja?" tanyanya kemudian.


Pipi Sera merona merah, tetapi dia tak bisa menyembunyikan dirinya yang bersemangat dan tak sabar untuk berangkat. Detik-detik ini terasa menyesakkan dada, membuat hati Sera dibanjiri perasaan yang membengkakkan dadanya dan seolah akan meledakkannya. Tinggal setapak lagi hingga dia mencapai mimpi yang dulu bahkan tak berani dibayangkannya. Dia akan menemui ayahnya!


"Aku akan baik-baik saja." Bibir Sera tersenyum lebar dengan senang. Perempuan itu menangkup tangan Xavier di perutnya, lalu mendesahkan ucapan tulus yang sejak tadi sudah berada di ujung lidahnya. "Aku... aku sangat berterima kasih kepadamu, Xavier. Kau tahu... aku senang sekali." Tangan Sera meremas tangan Xavier dengan kuat. Tetapi kemudian matanya menangkap reaksi Xavier yang tak biasa dan kecemasan langsung memenuhi jiwanya. "Kau... kau tampak muram." Jantung Sera tiba-tiba berdegup oleh antisipasi yang menyakitkan. "Kau... kau tidak berubah pikiran dan membatalkannya, kan?" tanyanya dengan suara gemetar.


Xavier menatap Sera langsung di matanya, lelaki itu  tampak berpikir, lalu akhirnya kepalanya menggeleng dan bibirnya mengulas senyum.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa membatalkannya? Kau sudah sesenang ini." Bibir Xavier mengulas senyuman lembut.


Sera menggigit bibirnya, tetapi akhirnya memaksa dirinya untuk berucap lagi.


Yah, dia sudah biasa menekan harapannya. Meskipun saat ini harapannya sudah melambung terlalu tinggi, tetapi dia bisa menekannya lagi sampai ke dasar, bukan? Tidak masalah. Dia sudah sering melakukannya di masa lalu. Dia pasti bisa.


"K-kalau kau berubah pikiran, aku bisa menerimanya." Sera berucap perlahan dengan bibir gemetaran. "Aku tahu kalau kau punya alasan... aku... aku bisa mengerti."


Di detik suara Sera berhenti, di detik itu pulalah tangan Xavier tiba-tiba menangkup kedua sisi kepalanya dan menundekatkan wajah Sera ke arahnya. Tanpa menunggu sedetik pun berlalu, bibir Xavier lalu menemukan bibir Sera dan langsung menenggelamkan kelembutan bibir ranum yang manis itu ke dalam pagutannya. Xavier menyesap bibir Sera perlahan, menggoda dengan lidahnya, menekan dengan kekuatannya dan menggilas bibir Sera dengan bibirnya. Hingga ketika lelaki itu memutuskan menghentikan ciumannya dengan susah payah, napas mereka berdua yang masih berpadu dalam kedekatan bibir yang seolah enggan terpisah itu, terdengar saling bersahutan dalam engahan penuh hasrat.


Sera menatap ke sekeliling ruang tamu yang sepi. Para pelayan seperti biasanya sengaja memberikan privasi kepada tuan dan nyonya mereka dan memilih menjaga jarak nyaman dan tak mengganggu. Untunglah, kalau tidak mereka mungkin akan memergoki Sera dan Xavier berciuman dengan penuh hasrat di tempat terbuka seperti ini dan akan membuat Sera malu setengah mati.


Mata Sera bertemu dengan mata Xavier kembali dan dia langsung memahami hasrat nyata yang menyala dari balik bola mata Xavier yang berkabut itu. Selama bulan-bulan terakhir ini, hubungan pernikahan mereka, meskipun tidak bisa dikatakan sempurna, berlangsung cukup baik. Komunikasi terjalin mengalir di antara mereka, menciptakan keakraban dan kedekatan penuh pengertian yang jauh lebih kuat di atas sebelumnya. Sedangkan hubungan mereka di atas ranjang, jauh lebih baik lagi. Sera terbiasa melayani Xavier yang seolah memiliki hasrat tak tertahankan ketika bersamanya, mereka saling menyenangkan satu sama lain tanpa paksaan. Kehamilan Sera memang membuat Xavier lebih berhati-hati, tetapi bukan berarti lelaki itu meredam diri. Mereka tetap bercinta beberapa kali sehari, mencoba berbagai variasi dimana Xavier mengajari Sera hal-hal yang tak dia sangka bisa dia lakukan sebelumnya, mereka juga mencoba bercinta di berbagai tempat di rumah ini yang membuat pipi Sera selalu memerah ketika membayangkannya.


Lalu, setelah usia kandungan Sera menginjak tujuh bulan, Xavier akhirnya meredam diri dan berhenti sama sekali menyatukan dirinya dengan Sera demi menjaga kesehatan kandungannya. Bukan berarti mereka berhenti bercinta. Lelaki itu membawanya ke dunia baru, mengajari cara-cara saling menyenangkan satu sama lain tanpa harus membahayakan kandungannya.


Sekarang, eskpresi Xavier menunjukkan dengan jelas hasratnya yang melambung saat bersama Sera dan itu membuat Sera mengulas senyum di bibirnya, sebelum menyentuhkan tangannya untuk menangkup pipi Xavier.


"K-kau... ingin aku membantumu?" bisiknya perlahan dengan suara tersekat dipenuhi rasa malu yang kental. Dia dan Xavier mungkin telah mencoba segala keintiman antar suami istri dalam hubungan mereka, tetapi membicarakan hal-hal seperti ini secara gamblang tetap saja memantik rasa malu dalam jiwanya.


Xavier tampak tertegun mendengar tawaran Sera. Matanya menatap mata Sera dan ketika ditemukannya betapa bersungguh-sungguh istrinya itu ketika menawarkan untuk membantu Xavier menuntaskan hasratnya, bibirnya langsung mengurai seringaian lebar.


Xavier terkekeh, lelaki itu lalu naik duduk di sofa di samping Sera dan membawa perempuan itu ke dalam rangkulan lengannya.


"Kau... apa yang harus kulakukan kepadamu?" Suara Xavier tenggelam di kelembutan rambut Sera dan lelaki itu seolah sedang menggerutu. Ya, hasratnya memang bangkit karena ciuman mereka. Hasratnya memang selalu bangkit ketika bersama Sera. Tetapi, bukan berarti dia akan menjadi suami yang seegois itu yang mengutamakan hasratnya di atas segalanya.


Xavier menundukkan kepala dan jemarinya menyentuh dagu Sera, mendongakkan perempuan itu ke arahnya.


"Aku akan menagih janjimu nanti malam," bisik Xavier dengan nada sensual yang kental, menikmati ketika rona malu di wajah Sera semakin menggelap karenanya. "Untuk sekarang, kita harus berangkat menjenguk ayahmu sesuai rencana."


Mata bening Sera yang indah langsung melebar karenanya.


"K-kau... tidak membatalkannya?" tanyanya seolah tak yakin. Harapannya mulai melambung lagi, tetapi Sera menahan diri sekuat tenaga, tak mau harapannya terbang tinggi lalu terjatuh sakit.


"Tentu saja aku tidak membatalkannya." Xavier menghadiahkan ciuman di sisi pipi Sera. "Asalkan kau berjanji kau akan baik-baik saja, ya?"


Sera mengepalkan tangannya penuh semangat.


"Aku akan baik-baik saja," ujarnya penuh keyakinan, membuat Xavier terkekeh kembali.


"Perjalanan ke fasilitas kesehatan cukup jauh, kurasa lebih baik kau tidur sepanjang perjalanan agar kau tak terlalu lelah. Kau juga harus mau mengenakan kursi roda karena aku tak ingin kau terlalu banyak bergerak dan...." Xavier menghentikan kalimatnya, menatap Sera dengan sungguh-sungguh. "Jangan terlalu emosional seharu apapun kau nanti. Kau tahu, ledakan emosional yang belebihan bisa membahayakan dirimu dan bayimu." Xavier mengelus perut Sera dengan rasa sayang bercampur kecemasan. "Apakah kau yakin bahwa kau bisa melakukannya?" tanyanya kemudian.


"A-aku akan berusaha, Xavier."


Xavier menenggelamkan kepala Sera ke dalam pelukannya dan memejamkan matanya perlahan.


Nathan pasti akan marah besar kepadanya karena dia memutuskan untuk tetap membawa Sera menemui ayahnya. Tetapi, jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang akan dirasakan Sera nanti, maka semuanya akan sepadan.


Dia hanya harus menjaga supaya kenyataan mengenai kanker stadium empat yang menggerogoti ayah Sera tidak diketahui oleh istrinya itu, setidaknya sampai istrinya melahirkan anak-anaknya dan kondisi kesehatannya baik fisik maupun mentalnya sudah membaik.


***


Sera benar-benar tidur selama di perjalanan dan dia baru terbangun ketika jari Xavier menyentuh pipinya lembut dan mengusapnya perlahan. Ketika mata Sera terbuka, dilihatnya suaminya sedang tersenyum menatapnya.


"Kita sudah sampai?" Sera mengerjapkan mata, kepalanya menoleh ke sisi luar jendela dan menatap bangunan megah fasilitas kesehatan tempat ayahnya dirawat dengan mata lebar. Bangunan itu benar-benar jauh lebih besar dan lebih megah dari dugaannya. Ditolehkannya kepalanya kembali ke arah Xavier sebelum dia bertanya lagi untuk meyakinkan diri. "Apakah ayahku... dirawat di sini?"


Xavier mengangguk. "Ya, beliau dirawat di sini." Xavier mengawasi Sera dan mempelajari ekspresi wajahnya untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja. Sera masih pucat seperti biasanya, tetapi ada rona merah di wajahnya yang menunjukkan bahwa darah mengalir lancar di tubuhnya. Perempuan itu juga memasang senyum dan tampak ceria. Mau tak mau Xavier menghela napas lega. Dia cemas perjalanan panjang menuju fasilitas kesehatan ini akan membuat tubuh Sera kelelahan, tetapi beruntung Sera tertidur sepanjang jalan hingga sepertinya perempuan itu malahan bangun dengan kondisi segar.  "Tunggu di sini sebentar, aku akan menyiapkan kursi rodamu dan membantumu turun."


Ketika Xavier bergerak  ke sisi seberang di kabin penumpang itu untuk membuka pintu, Sera tiba-tiba menggerakkan tangannya untuk menyentuh kemeja Xavier dan menariknya sedikit, membuat Xavier menghentikan gerakannya.


"Ada apa, Sera?" Xavier membalikkan tubuhnya kembali. "Apakah kau merasa sakit?"


Sera menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha memupuskan kecemasan Xavier seketika.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku hanya...." Sera menghela napas panjang, seolah kesulitan berbicara. "Selama bertahun-tahun, ayahku dirawat dalam fasilitas kesehatan yang buruk di penjara negara... sebagai seorang kriminal, ayahku hampir-hampir hanya dibaringkan saja dan hanya mendapatkan terapi pengobatan seadanya. Tetapi, kau membuat ayahku dipindahkan ke fasilitas kesehatan sebagus ini... dan aku... aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu secara benar." Sera menengadahkan wajahnya dan menatap Xavier dengan sungguh-sungguh. "Terima kasih, Xavier."


Ketulusan dalam suara Sera di ucapan terima kasihnya terasa bagaikan anak panah yang menusuk ke dalam jiwa Xavier. Dadanya langsung terasa sakit, dipenuhi rasa bersalah yang langsung menembus jantungnya. Dia adalah penyebab ayah Sera dipenjara lalu dipukuli dan terbaring koma arena dendam Roman Dawn kepada dirinya. Dia penyebab Sera terpisah dan tak bisa menemui ayahnya. Sekarang perempuan yang telah dipaksanya mengandung anaknya, duduk dalam kondisi kurus dan kepayahan dengan perut membuncit besar karena anak kembar yang ditanamkannya di sana, malahan mengucapkan terima kasih kepadanya dengan mata berbinar seolah Xavier adalah seorang malaikat penyelamat.


Bagaimana mungkin jiwanya yang kelam ini bisa menerima ketulusan itu? Tidakkah Sera membencinya? Tidakkah Sera menyalahkannya? Kenapa perempuan itu mengucapkan terima kasih kepadanya?


Xavier menipiskan bibir, menahan perasaan yang bergolak di dada, lalu menghadiahkan pelukan lembut kepada Sera dan mengecup pucuk kepalanya.


"Sudah berapa kali kau mengucapkan terima kasih kepadaku? Kau tahu bahwa aku tidak layak menerimanya," bisiknya serak sebelum kemudian melangkah turun dari mobil tanpa menunggu reaksi Sera atas perkataannya.


Sera terpana menatap pintu mobil yang tertutup di depannya. Dia mendengar dengan jelas perkataan Xavier tadi, dan hatinya langsung dipenuhi pertanyaan.


Apakah Xavier berpikir bahwa Sera masih menyalahkannya atas semua hal buruk yang menimpanya?


Sera tak sempat memikirkan lebih jauh karena pintu di sebelahnya dibuka oleh supir mereka. Sebuah kursi roda sudah disiapkan di lobby fasilitas kesehatan itu dan Xavier lalu membungkuk di pintu mobil sebelum kemudian meraup Sera dalam gendongan dan membawanya menaiki anak tangga menuju lobby, lalu meletakkannya dengan lembut di kursi roda. Lelaki itu berlutut untuk memasang selimut di pangkuan Sera, sebelum kemudian mendongak menatapnya.

__ADS_1


"Kau siap?" tanyanya dalam senyuman mendukung.


Sera membalas senyuman itu dengan sayang. "Aku siap," jawabnya yakin.


Pintu kaca lobby terbuka dan mengalihkan perhatian mereka. Tampak dokter Nathan muncul di sana dengan ekspresi kaku di wajahnya. Lelaki itu menatap ke arah Xavier seolah menyalahkan karena pada akhirnya, Xavier tetap saja membawa Sera ke tempat ini.


"Masuklah ke lobby dalam, di sini dingin dan berangin," ucapnya kemudian sambil membukakan pintu kaca itu untuk mereka.


Xavier beranjak bangkit dan mendorong kursi roda Sera masuk, di belakang mereka, para bodyguard berusaha tampil tak mencolok dan memastikan situasi terkendali di dalam perimeter keamanan mereka. Beruntung ruang lobby itu cukup sepi sehingga rombongan mereka tak menarik perhatian pengunjung yang datang.


"Bagaimana perjalan kemari?" Dokter Nathan menjajari kursi roda Sera, suaranya berubah lembut ketika berbicara kepada perempuan itu.


Sera mendongakkan kepalanya dan tersenyum meyakinkan ke arah sang dokter. "Perjalanannya menyenangkan," sahutnya pelan.


Xavier ikut tersenyum mendengar jawaban Sera. "Tentu saja perjalanannya menyenangkan. Kau tidur sepanjang waktu," bisiknya pelan menggoda, membuat pipi Sera memerah karenanya.


Dokter Nathan tersenyum lebar, merasakan kelegaan karena kecemasannya tak terjadi. Sekarang, hanya tinggal menunggu bagaimana Sera menangani ledakan emosionalnya ketika melihat ayahnya pertama kalinya setelah sekian lama. Bertemu dengan orang terkasih setelah terpisah lama, sudah cukup bisa mengguncang emosi. Yang lebih menyulitkan lagi, jika orang terkasih itu tidak sedang dalam kondisi yang baik. Itulah yang terjadi pada ayah Sera sekarang. Lelaki itu terbaring koma di di atas ranjang rumah sakit dan keadaannya secara kasat mata, tidak bisa dibilang baik.


Dokter Nathan membayangkan jika situasi Sera terjadi kepada dirinya. Jika dia adalah seorang anak yang tak pernah melihat ayahnya selama bertahun-tahun, lalu akhirnya bisa melihat ayahnya, tetapi ayahnya itu dalam kondisi kurus kering, dengan mata terpejam tak sadar, mulut menganga tanpa daya, dengan banyak kabel penunjang kehidupan yang tersambung ke tubuhnya dan selang yang memenuhi lubang udara serta melubangi lehernya... mungkin dia tak akan bisa menahan ledakan emosional yang akan meruntuhkan  seluruh kekuatannya.


Dokter Nathan tak bisa berhenti mengutuk keputusan Xavier yang impulsif untuk membawa Sera ke tempat ini, lalu menoleh hati-hati ke arah Sera, mempelajari wajah perempuan itu dan berusaha menilainya. Bagaimana dengan Sera sendiri? Apakah hati perempuan itu cukup kuat untuk menanggungnya?


Dia sungguh-sungguh berharap Sera cukup kuat. Dia tak mau perempuan itu ambruk hingga membuat baik kondisi sang ibu juga bayi kembarnya terancam.


"Dokter Nathan? Anda juga ada di sini?"


Suara sapaan dari arah meja resepsionis itu membuat lamunan kecemasan dokter Nathan terhenti. Lelaki itu mendongakkan kepala dan menatap ke arah sumber suara.


"Dokter Oberon?" Nathan mengucapkan nama penyapanya itu dengan sedikit terkejut.


 


 


***


***


***


***


 


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


 


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


 


 


Yours Sincerely


AY


 


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2