
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Apa?” Xavier melebarkan mata karena terkejut. “Bagaimana bisa dia menjadikan dokter Nathan sebagai sanderanya? Bagaimana bisa kalian membiarkan dokter Nathan mendekati Aaron jika kalian belum bisa memastikan keamanannya?”
Derek menundukkan kepala, tampak malu dan merasa bersalah.
“Aaron menggunakan jarum suntik berisi sedatif dosis tinggi sebagai senjatanya.” Derek rupanya tak mau repot-repot menyebut Aaron sebagai dokter Oberon lagi sesuai dengan tampilan fisiknya. Kejadian penyanderaan ini membuatnya langsung tahu bahwa pria itu benar-benar Aaron yang menyamar. “Kami sudah menjalankan protokol keamanan dan menggeledah Aaron, tapi ukuran jarum suntik itu sangat kecil, hampir menyerupai ukuran pensil dan diletakkan di area saku dalam yang terlapisi lapisan kulit tebal hingga tak teraba dari luar. Ini memang kesalahan murni dari kami, saya tak akan mencari alasan untuk membela diri.”
Derek terlihat menyesal, lelaki itu menundukkan kepala dan berdiri tegap di sana, seolah siap menerima hukuman.
Xavier menipiskan bibir dengan mata berkilat marah atas keteledoran anak buahnya. Memang bukan Derek yang melakukan penggeledahan saat itu, tetapi tetap saja mereka bekerja di bahwa supervisi Derek sebagai pimpinan mereka. Kelakuan mereka yang tidak becus ini telah membawa masalah dan membuat nyawa dokter Nathan berada dalam ancaman.
“B-bagaimana dengan dokter Nathan sekarang? Apa yang terjadi?” bibir Sera gemetaran ketika dia memaksakan diri bersuara dan bertanya kepada Derek. Pikirannya langsung kalut saat membayangkan nasib dokter Nathan.
Sama seperti halnya Derek, begitu Sera mendengar tentang kasus penyanderaan yang terjadi, keraguan yang tadi sempat ada langsung pupus tak tersissa. Sera langsung bisa menerima perkataan Xavier bahwa dokter Oberon yang sekarang adalah Aaron yang menyamar. Jika orang itu benar-benar adalah dokter Oberon yang asli, maka lelaki itu pasti tak akan merasa perlu untuk melawan habis-habisan saat hendak diambil darahnya. Kenyataan bahwa lelaki itu tak mau diambil darahnya untuk pembuktian, malahan sudah menjadi bukti yang cukup untuk memastikan identitasnya.
Kenyataan bahwa dokter Oberon adalah Aaron yang menyamar, membuat Sera merasa cemas. Selama bertahun-tahun hidup dan tumbuh dewasa bersama Aaron, Sera juga sangat mengenal Aaron. Dia tahu bagaimana watak Aaron. Lelaki itu akan melakukan hal-hal nekat di luar dugaan, jika memang kondisinya sudah terdesak. Kelakuannya itulah yang membuat Aaron selalu berhasil menyelamatkan nyawanya di saat-saat genting yang beberapa kali mengancamnya. Saat ini Aaron menggunakan dokter Nathan sebagai sandera, itu berarti, Aaron bisa melakukan semua hal nekat yang bisa dilakukannya dan mengancam nyawa dokter Nathan. Nyawa dokter Nathan benar-benar sedang berada di dalam bahaya.
Derek menatap ke arah Sera dengan tatapan menyesal. “Kami belum berhasil menyelamatkan dokter Nathan, pun kami masih menimbang-nimbang untuk melakukan penyergapan karena ujung jarum itu berada dekat sekali di leher dokter Nathan dan siap tertancap jika kami melakukan gerakan terburu-buru.” Derek menghela napas panjang. “Saat ini kami mengikuti dari jarak yang aman saat Aaron menyeret dokter Nathan menuruni bangunan rumah sakit dan menuju lantai basement. Saya rasa, Aaron hendak menuju ke mobilnya sendiri dan melarikan diri.”
“Bagaimana dengan penembak jitu?” Xavier bertenya cepat dan ketika dirasakannya Sera terkesiap, lelaki itu menolehkan kepala ke arah istrinya dan menyeringai. “Aku bukannya mau menembak kepala Aaron di rumah sakit ini, meskipun aku sangat ingin melakukannya sekarang.” Xavier menambahkan kalimatnya dengan nada yang sangat kejam. “Menembak Aaron dengan peluru tajam dan menumpahkan darah hanya akan membuat keributan dan menarik perhatian orang-orang. Lagipula, aku tak membutuhkan peluru jika aku memiliki racun. Jika menemukan posisi, para penembak jituku akan menembakkan racun ke leher Aaron untuk melumpuhkannya.”
Derek menganggukkan kepala untuk menyetujui perkataan Xavier itu, lalu segera menjawab pertanyaan atasannya yang sebelumnya.
“Para penembak jitu tak bisa menyerang di dalam basement karena kondisi atapnya yang rendah dan terhalang tiang serta penuh dengan mobil-mobil. Namun, kami menempatkan beberapa penembak jitu di bangunan tinggi yang bisa membidik ketika mobil itu keluar dari basement. Kami berasumsi bahwa Aaron akan menyuruh dokter Nathan mengemudikan mobilnya di bawah ancaman jarum suntik sebagai sandera. Situasi di lapangan sangat sulit karena basement itu langsung terhubung dengan taman rumah sakit yang penuh dengan pepohonan tinggi dan menghalangi pandangan untuk menembak, ditambah lagi dengan kemungkinan mobil yang melaju dengan kekuatan penuh saat membidik nanti. Tapi para penembak jitu itu akan melakukan apapun yang mereka bisa untuk membidik Aaron. Saat ini, pasukan bodyguard tak bisa mengikuti karena Aaron berkali-kali mengancam bahwa dia akan menusuk dokter Nathan dengan jarum suntik itu jika kami mengikuti terlalu dekat.”
“Pastikan para penembak jitu itu berusaha keras untuk membidik Aaron.” Xavier memberi perintah tanpa ragu dengan ekspresi marah tertahan yang dipenuhi kilatan tajam di matanya.
Sera mengawasi ekspresi Xavier, lalu perempuan itu bertanya perlahan.
“Apakah racunmu itu... racun yang bisa langsung membunuh Aaron?” Sera bertanya kemudian dengan nada takut.
Tak ada keraguan di dalam nada suara Xavier ketika lelaki itu menjawab kemudian.
“Aku tak akan berbohong kepadamu, Sera. Aku akan membunuh Aaron tanpa ragu. Kau tentu tahu jika Aaron membahayakan nyawa dokter Nathan, maka aku tak akan segan-segan membunuhnya. Beritahukan kepada seluruh pasukan, bahwa nyawa dokter Nathan adalah yang utama. Jangan lakukan apapun secara ceroboh yang mungkin bisa membuat nyawa dokter Nathan berada di dalam bahaya.” Xavier menatap lekat ke arah Sera dan ekspresinya melembut. “Buang rasa bersalahmu, Sera. Lelaki jahat itu tak berhak mendapatkan simpatimu.”
Xavier membungkuk dan membawa tangan Sera ke mulutnya sebelum mengecup punggung tangannya lembut. “Beristirahatlah, biarkan aku yang mengurus ini. Aku akan berusaha mendapatkan hasil yang terbaik. Akram juga pasti akan datang membantuku, jadi jangan terlalu banyak pikiran dan fokuskan dirimu untuk tidur. Derek dan para penjaga akan memperketat perimeter penjagaan terhadapmu dan terhadap bayi kita, jadi kau bisa tenang.” Xavier berucap seolah mengucapkan sumpah. “Aku tak akan membiarkan Aaron bisa menjangkaumu dan anak-anak kita, Sera. Aku juga tak akan membiarkan dokter Nathan menjadi korban, aku akan menyelamatkannya.”
Sera menganggukkan kepala. Bagaimanapun campur aduknya perasaannya atas kebenaran mengenai Aaron yang dilemparkan oleh Xavier kepadanya, dia tahu bahwa dia harus mempercayai Xavier sepenuhnya. Xavier akan mengambil keputusan yang paling tepat. Jika dalam keputusan itu Xavier harus membunuh Aaron, maka Sera tak akan melakukan apapun untuk mencegahnya, pun dia juga tak akan menyalahkan Xavier atas keputusannya itu.
Rasa sakit akibat terkhianati dan ditipu perasaannya selama bertahun-tahun, membuat perasaan Sera seperti mati rasa jika menyangkut Aaron. Seolah-olah setitik rasa yang masih tersisa mengendap di kedalaman hatinya dicabut paksa begitu saja dan meninggalkan luka berdarah di sana, membuat Sera seolah menutup pintu hati dan perasaannya serta tak mau memikirkan Aaron lagi karena rasanya terlalu menyakitkan.
Sera lalu menyentuhkan tangannya ke tangan Xavier dan berucap dengan nada penuh harap.
“Beritahu aku apapun yang terjadi nanti,” kecemasan masih mewarnai pandangan matanya hingga membuat Xavier tak mampu menahan diri untuk tak menghadiahkan kecupan lembut di bibir Sera guna menenangkannya.
“Aku akan melakukannya. Derek akan memberitahumu perkembangannya dari waktu ke waktu. Sekarang tidurlah dan tenangkan dirimu,” dengan lembut Xavier mendorong Sera supaya berbaring lagi sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Tubuh dokter Nathan terpaksa terseret mengikuti langkah Aaron yang seolah kesetanan, membawanya bergerak cepat melalui lorong rumah sakit dan terus menuruni lift dan terus berjalan menuju pintu belakang rumah sakit untuk kemudian melewati jalan setapak di tengah taman rumah sakit yang menembus ke pintu besar yang terarah ke lantai basement khusus untuk lokasi parkiran dokter.
Para bodyguard Xavier tetap mengikuti jarak aman. Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti karena Aaron yang tampak nekat bukan kepalang masih menggunakan jarum suntik di dekat leher dokter Nathan dan mengancam akan menusuknya.
Langkah Aaron terseret-seret karena dia mencengkeram dokter Nathan dan menariknya menyeberangi jalan di area parkir khusus dokter untuk mencari mobilnya yang diparkir di sana. Dokter Nathan sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu bawa Aaron telah gelap mata dan jarum itu sudah menempel ujungnya di permukaan kulit lehernya, menciptakan rasa gatal seperti gigitan semut yang tak bisa digaruk. Tak ada yang bisa dilakukan oleh dokter Nathan selain mengikuti langkah Aaron karena dia tahu, begitu dia melakukan gerakan tiba-tiba, Aaron bisa saja langsung menancapkan jarum berisi sedatif dosis tinggi itu ke lehernya dan membunuhnya. Hal yang sama juga rupanya dipikikirkan oleh bodyguard Xavier yang mengikuti, itu semua terlihat dari gerakan mereka yang sangat berhati-hati mengikuti dari jarak aman, berusaha keras supaya tidak memancing Aaron untuk berbuat nekat.
Mereka juga telah mengikuti instruksi Xavier dan menempatkan beberapa penembak jitu untuk bersiaga di beberapa bangunan tinggi yang bisa mengakses posisi Aaron saat keluar dari mobil nanti. Karena area basement itu terletak menurun ke bawah, membuat para penembak jitu tak bisa menyerang Aaron di dalam sini dan harus menunggu hingga Aaron keluar.
__ADS_1
“ Kau akan menyesali ini, Aaron.” Dokter Nathan berucap perlahan, mencoba membujuk secara persuasif untuk mengembalikan akal sehat Aaron kembali pada tempatnya.
Sayangnya, hal itu malahan membuat Aaron menipiskan bibirnya.
“Aku tak akan pernah menyesal karena berjuan menyelamatkan nyawaku.” Aaron melirik ke arah pada bodyguard yang mengikuti dengan tenang di belakang mereka. Aaron tahu bahwa dirinya tak akan dilepaskan dengan mudah dan akan langsung diserang jika dia mengendorkan kewaspadaan. “Masuk!” dengan keras Aaron memberikan perintah kepada dokter Nathan, membuka pintu mobil di bagian penumpang yang berada di sebelah kursi supir.
Dokter Nathan tidak bisa berbuat hal lain selain menuruti apa yang diperintahkan oleh Aaron, bahgaimanapun, jarum itu masih menempel di permukaan kulit lehernya, siap menusuk kapan saja.
Ketika dokter Nathan sudah masuk, Aaron rupanya tidak bermaksud untuk melepaskan lelaki itu dalam waktu dekat. Kepalanya menengadah ke arah para bodyguard yang mengikuti sebelum kemudian berteriak lantang.
“Aku tak mau diikuti!” serunya dengan nada suara keras hingga menggema ke seluruh area basement lantai parkiran ini. “Jika sampai aku melihat kalian mengikuti mobil ini, aku akan menusuk dokter Nathan dan membunuhnya!” sambungnya kemudian dengan nada suara nekat.
Perkataannya itu membuat mata dokter Nathan yang sudah duduk di dalam mobil itu melebar, dia menatap ke arah Aaron dengan penuh peringatan hanya untuk didorong kemudian.
“Diam dulu si situ dan jangan bergerak!” Aaron masih berdiri di luar pintu dan menghalangi dokter Nathan sambil tetap mengancamkan jarum suntiknya ke leher dokter Nathan itu. Benaknya berpikir cepat, berputar mencari jalan keluar. Dia tahu bahwa Xavier memiliki para penembak jitu yang pasti akan ditempatkannya di area tinggi strategis di luar sana untuk membidiknya. Lelaki itu terkenal dengan pasukan penembak jitunya yang mengerikan, karena bukan menembakkan peluru tajam biasa, tetapi menembakkan peluru berisi racun.
Aaron tak mau mati konyol di bawah tembakan penembak jitu itu, dia juga tak mau ditempatkan di situasi buruk dimana Xavier berhasil menangkapnya hidup-hidup. Sudah untung kalau yang ditembakkan adalah racun pembunuh yang membuat Aaron mati seketika. Kalau yang ditembakkan adalah racun yang hanya digunakan untuk membiusnya, Xavier pasti akan menyekap dan memenjarakannya, lalu menyiksanya dengan cara mengerikan dengan menggunakan berbagai jenis racunnya sebelum membunuhnya.
Kalau begitu, Aaron tak mungkin menyuruh Nathan duduk di belakang kemudi. Hal itu akan membuat penembak jitu itu akan langsung menembaknya saat mobil ini keluar dari basement tanpa merasa ragu.
Aaron tak akan membiarkan Xavier mendapatkan apa yang dia mau, dia tak akan menyerah begitu saja. Setelah menimbang-nimbang dengan cepat, Aaron menganggukkan kepala, puas dengan perhitungannya.
Ya, dialah yang akan mengemudi mobil ini dengan kecepatan yang sangat tinggi keluar dari basement.
Dia akan mengancam keselamatan nyawa dokter Nathan dengan ancaman menabrakkan mobil dengan sangat kuat dan bunuh diri dengan membawa dokter Nathan bersamanya. Para penembak jitu juga akan ragu menembaknya jika dialah yang berada di belakang kemudi, mengebut dengan kecepatan tinggi. Sebab, jika penembak itu membidiknya saat dia sedang mengemudi, bisa saja hal itu membuat mobil yang sedang dia kendarai dengan kecepatan tinggi berguling atau menabrak dengan sangat keras hingga membahayakan dokter Nathan yang ada di dalam mobil bersamanya.
Aaron melongok ke arah sisi bawah kursi penumpang. Di sana terdapat laci kecil berisi barang-barang yang telah disiapkannya. “Jangan bergerak atau kau mati.” Ancaman Aaron bukanlah main-main karena sambil mencari-cari dengan sebelah tangan, Aaron masih menjaga tangannya supaya ujung jarum suntik itu masih berada dekat dengan permukaan kulit dokter Nathan, siap menusuknya jika sang dokter melawan.
Sebelah tangan Aaron mengambil zip cable berwarna hitam transparan yang ada di sana. Lelaki itu mengambil dua dan menatap dokter Nathan dengan arogan.
“Pasang ini di kakimu, sekencang mungkin,” perintahnya galak.
Dokter Nathan mengangkat alisnya.
Sikap Aaron menunjukkan bahwa dia serius dengan perkataannya. Mau tak mau, dia menerima zip cable itu dari tangan Aaron lalu membungkuk untuk memasangnya di kakinya dengan ujung jarum masih mengancamnya.
Semula dokter Nathan berniat memasangnya agak longgar supaya dia memiliki kesempatan melarikan diri. Sayangnya, mata Aaron yang cermat terlihat mengawasi dan langsung mengetahui niat terselubung dokter Nathan. Ujung jarum itu langsung menusuk sedikit, melukai permukaan kulitnya.
“Pasang yang kencang!” Teriak Aaron dengan nada marah. “Cepat!” sambungnya lagi setengah histeris.
Dokter Nathan mengetatkan gerahamnya, mau tak mau dia memasang zip cable itu dengan kencang, memupuskan harapannya sendiri untuk bisa lari dan melawan.
Setelah dokter Nathan memasang pengikat di kakinya itu dengan kencang, Aaron tak puas begitu saja. Lelaki itu menggerakkan tangan untuk memeriksa dan bibirnya langsung mengulas senyuman puas ketika tahu bahwa kabel pengikat itu telah terpasang dengan tingkat kekencangan kuat sesuai yang dimauinya.
“Tangan.” Aaron meminta kembali dengan nada arogan. Sekarang, setelah kaki dokter Nathan terikat dan lelaki itu tak bisa bergerak bebas, Aaron lebih santai. Lelaki itu memegang zip cable dengan sebelah tangannya dan sedikit menjauhkan ujung jarum suntiknya dari leher sang dokter. “Berikan kedua tanganmu sekarang.”
Dokter Nathan ingin melawan, tapi dia tak bisa melakukannya. Dengan geram dia menyerahkan tangannya dan membiarkan Aaron memasang zip cable itu dengan sangat kencang hingga menimbulkan bekas merah di pergelangan tangannya.
Setelah dokter Nathan terikat di tangan dan kakinya, Aaron benar-benar menjadi santai, lelaki itu menarik tangannya yang dari tadi mengancamkan jarum suntik ke leher sang dokter dan menyeringai penuh kepuasan.
“Sekarang, duduk dan diamlah. Bersikap baiklah sebagai sanderaku maka umurmu bisa sedikit lebih panjang,” ancamnya kemudian dengan nada arogan.
Dokter Nathan menipiskan bibir.
“Membawaku sebagai sanderamu tidak akan ada gunanya, Aaron. Kau tidak akan bisa lepas dari Xavier.”
Menyebutkan nama Xavier sepertinya merupakan kesalahan karena ekspresi Aaron langsung berubah dipenuhi dengan kemarahan yang sangat nyata.
“Kita lihat saja nanti,” Aaron menyahuti dengan sinis, matanya menatap ke arah dokter Nathan yang tak berdaya karena diikat tangan dan kakinya dan senyum mengerikan langsung muncul di bibirnya. “Kau lihat saja nanti apakah Xavier yang kau puja kemampuannya itu akan mampu menyelamatkanmu atau tidak. Bisa saja kau akan mati dengan cepat sebelum dia berhasil menyelamatkanmu. Itu akan membuatmu mati sia-sia, dokter.”
Dengan sikap penuh tekad, Aaron membungkuk dan memasangkan sabuk pengaman dengan ketat di tubuh dokter Nathan hingga lelaki itu tak bisa bergerak bebas sebelum kemudian membanting pintu mobil, lalu bergerak secepat kilat menuju sisi lain mobil untuk menuju ke area tempat duduk supir sebelum para bodyguard itu bisa membidik atau meringkusnya.
Aaron menghela napas panjang ketika dia berhasil duduk di belakang kemudi dengan selamat. Jarum suntik yang merupakan penyelamat nyawanya itu dipegangnya dengan tangan gemetaran. Aaron segera meletakkan senjata berharga itu di laci dashboard yang aman sebelum kemudian menghela napas panjang. Rasanya seperti lepas dari ancaman kehilangan nyawa yang menghantamnya. Adrenalin bercampur dengan kelegaan membanjiri tubuhnya, membuat Aaron membutuhkan waktu beberapa lama sebelum akhirnya bisa menguasai diri dan menyalakan mobilnya.
“Jika kalian mengikutiku, aku akan menabrakkan diri atau menjatuhkan mobilku ke jurang dan membunuh diriku bersamaan dengan dokter Nathan!” Aaron berteriak keras dari jendela, memastikan semua orang mendengarnya, lalu dia melajukan mobil dan mengendarainya dengan mengebut cepat, melaju ke jalanan menanjak naik dan keluar dari area basement parkiran itu.
__ADS_1
Ketika mengemudi, Aaron melirik ke arah dokter Nathan di sebelahnya dan menipiskan bibir dengan penuh tekad. Mata Aaron melirik ke arah laci tempatnya menyimpan jarum suntiknya, dan kilatan keji langsung muncul di sana.
Begitu mereka benar-benar lepas dari para penguntit dan berada di jalur bebas dimana Aaron benar-benar melepaskan diri, dia akan langsung menyuntik dokter Nathan dan membunuhnya, lalu membuang mayatnya ke jalanan sebelum kemudian melarikan diri sendirian dan bergerak menyembunyikan diri dengan efektif.
Xavier tidak sadar bahwa Aaron datang ke negara ini dengan persiapan penuh. Dia memiliki sebuah tempat bersembunyi yang tak akan bisa dijangkau oleh Xavier. Tempat itu akan menjadi lokasi paling aman dan sangat tepat untuk mempersiapkan rencana Aaron terhadap Sera.
Yah, rencana itu akan dilakukan lebih cepat dari yang dia kira. Namun, bukan masalah. Aaron hanya perlu berhasil melepaskan diri kali ini. Setelah itu, semua akan berjalan sesuai dengan kemauannya.
***
“Para penembak jitu gagal membidik.”
Kali ini Elioslah yang menerima informasi itu dan menyampaikannya kepada Akram dan Xavier yang sama-sama berkumpul di ruang duduk yang tersedia di lantai rumah sakit itu. Elios mengambil alih saluran informasi dan bertugas sebagai perantara untuk komunikasi yang efektif demi memberitahukan perkembangan terbaru dari upaya pelumpuhan Aaron, karena Derek sebagai pemimpin tim, ditempatkan oleh Xavier secara khusus untuk mengkoordinasikan pengaturan penjagaan Sera serta anak-anaknya.
Mata Akram menggelap ketika mendengarkan informasi itu.
“Kenapa mereka gagal melakukannya?” tanya Akram dengan nada geram tak sabar.
“Mereka bilang bahwa Aaron melakukan manuver tak terduga dengan menempatkan dokter Nathan ke kursi penumpang lalu mengikatnya. Setelah itu, Aaron mengambil alih kemudi dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Dia mengancam akan menabrakkan dan menggulingkan mobil jika pasukan melakukan pengejaran terhadapnya. Para penembak jitu juga ragu menembak karena Aaron ada di balik kemudi. Bagaimanapun, menembak supir yang sedang mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, akan membahayakan penumpangnya juga.” Elios menjelaskan panjang lebar dengan sikap menyesal.
Akram melirik ke arah Xavier yang berdiri kaku sambil menghadap jendela luar yang menampilkan pemandangan langit cerah dari lantai tinggi di rumah sakit itu.
“Musuhmu itu sepertinya sudah nekat dan tidak memikirkan nyawanya lagi. Aku tak menyangka dia juga cukup cerdas untuk menemukan cara menyelamatkan dirinya.” Akram mengerutkan keningnya dalam. “Jika tidak ada Nathan di sana, aku pasti sudah meledakkan mobil itu tanpa pikir panjang. Sekarang, apa yang akan kau lakukan, Xavier?” Akram bertanya kemudian, meminta pendapat karena dia tahu bahwa dirinya harus bersikap hati-hati dan tak ceroboh dalam hal ini, mengingat ada nyawa dokter Nathan yang dipertaruhkan di sini.
Xavier menyipitkan mata, lalu memutuskan dengan cepat.
“Siapkan helikopter senyap.” Helikopter senyap adalah salah satu produk dari gudang senjata milik Akram. Helikopter itu dilengkapi dengan teknologi tinggi sehingga mampu menyelinap dalam kamuflase tanpa mengeluarkan suara berisik seperti yang ada pada helikopter biasa. Akram memproduksi helikopter itu untuk memenuhi pesanan militer dari pemerintah, tetapi Xavier tahu bahwa lelaki itu memiliki satu helikopter pribadi yang digunakannya untuk kepentingannya sendiri.
“Tempatkan dua penembak jitu di kedua sisinya, dan perintahkan helikopter senyap itu mengikuti mobil yang dikendarai oleh Aaron,” sambungnya kemudian.
***
***
***
***
Hello.
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di projectsairaakira.com + bonus part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
***
__ADS_1