
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
Xavier tidak segera menjawab, lelaki itu termenung menatap ke arah dua putrinya yang terbaring pulas dalam damai di kotak inkubator itu.
Hatinya mengembang oleh rasa hangat. Seolah-olah segala perasaan cintanya meluap dan terfokus pada dua makhluk mungil yang begitu indah itu. Xavier merasa seperti pemuja yang kehilangan akal. Meskipun perjumpaanny dengan dua makhluk itu di dunia ini masihlah singkat, tetapi Xavier tahu pasti bahwa dia sangat mencintai kedua anaknya itu.
Ini adalah jenis cinta dimana dia rela menyerahkan segalanya demi kebahagiaan anak-anaknya, ini adalah jenis cinta dimana dia akan bersedia menawarkan diri sebagai tameng pelindung bagi anak-anaknya. Ini adalah jenis cinta tak terbatas, yang tumbuh dari perasaan seorang ayah bahagia kepada anak-anaknya.
Mungkin saja cinta ini sesungguhnya telah bertumbuh lama, bahkan saat dia mengetahui keberadaan dua anak ini yang bertumbuh di dalam perut Sera. Mungkin pula cinta ini sudah terpupuk banyak sedikit demi sedikit ketika dia mendampingi kehamilan Sera dari perutnya yang datar hingga ke perutnya yang besar dengan dua bayi yang semakin berkembang di sana.
Sekarang, ketika dia menatap ke arah kedua anaknya, rasa cinta yang terakumulasi perlahan-lahan selama bulan-bulan kehamilan Sera itu akhirnya meledak, meluap tak terkendali.
“Jika aku menggunakan sel punca dari plasenta mereka. Entah kenapa... aku merasa seperti merenggut sesuatu yang seharusnya milik anak-anakku. Kau bilang bahwa anemia aplastik ini bisa diturunkan... aku takut jika di masa depan nanti mereka mendapatkan turunan dari penyakit ini... mereka akan membutuhkan sel punca ini. Akan seperti apa mereka memandang diriku nanti? Aku seorang ayah yang seharusnya melindungi mereka, bukan hanya telah menurunkan penyakit ini, tetapi juga mencuri sel punca yang harusnya menjadi hak mereka.”
Dokter Nathan menghela napas panjang. Pemikiran Xavier itu ada benarnya jika lelaki itu memandang dari sudut negatifnya saja, tentu saja dia tak bisa sepenuhnya setuju.
“Kita berharap bahwa hal itu tidak perlu terjadi. Anemia aplastik memang sebagian berasal dari faktor genetik. Namun itu tidak selalu diturunkan kepada setiap keturunanmu. Masih ada kesempatan besar bagi anak-anakmu untuk tidak terkena penyakit itu. Aku berjanji bahwa aku akan memantau mereka dengan saksama bahkan sejak mereka masih bayi seperti sekarang ini. Jadi, jika ada indikasi sekecil apapun, kita akan mengetahuinya dengan cepat dan bisa melakukan penanganan sejak dini. Namun, bukankah aku sudah bilang bahwa anak-anakmu memiliki satu sama lain untuk membantu mereka? Mereka bisa saling membantu jika menyangkut donor sumsum tulang belakang. Pada saudara kembar, apalagi kembar identik seperti kedua anakmu, kecocokannya hampirlah seratus persen.”
Xavier mendekatkan wajahnya ke kaca pemisah itu, mengamati kedua putrinya berganti-ganti dan ekspresinya malahan bertambah cemas ketika berucap kemudian.
“Akan tetapi, bagaimana jika mereka berdua sama-sama sakit? Mereka tak akan bisa membantu satu sama lain, pada saat itu, mereka akan membutuhkan sel punca itu, bukan?”
Dokter Nathan menghela napas panjang. Tangannya menepuk pundak Xavier dan mengulangi kembali ucapannya. “Xavier. Apakah kau sadar bahwa penyakitmu itu bisa mengambil nyawamu? Kau bisa saja mati. Kalau kau melakukannya, bukankah kau akan berdosa besar? Bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu yang lemah dan kedua anakmu yang masih kecil untuk hidup di dunia ini dan bertahan sendirian tanpa seorang ayah yang melindungi mereka?”
Dokter Nathan mengucapkan kalimatnya dengan hati-hati, berusaha membujuk Xavier supaya bisa menerima pemikiran yang disugestikannya kepada lelaki itu. “Sebagai seorang dokter, aku selalu menempatkan skala prioritas kepada pasienku. Mereka yang paling kritis dan paling parah serta paling membutuhkan pertolonganlah yang harus mendapatkan penanganan terlebih dahulu. Jika aku sebagai seorang dokter harus menilai tingkat keparahan antara dirimu dan anak-anakmu, bukankah dirimulah yang paling membutuhkan pertolongan saat ini? Kau sakit dan kondisimu makin parah dari hari ke hari, meskipun kau mengebaskan dirimu dari rasa sakit dengan meminum obatmu sendiri. Jika kau tak mendapatkan operasi secepatnya, kau tak akan terselamatkan. Sementara untuk kedua anakmu, mereka sehat dari segi medis. Hasil tes darah dan pemeriksaan mereka menunjukkan data yang bagus. Mereka normal dan baik-baik saja.”
Dokter Nathan menghela napas panjang. “Aku sudah bilang bahwa aku akan memantau mereka dan tidak akan melepaskan mereka dari pengawasanku. Jika di kemudian hari nanti terjadi sesuatu yang kita takutkan, kita bisa mengusahakan segala cara terbaik untuk menolong anak-anakmu. Siapa yang tahu kalau di masa depan nanti ada teknologi terbaru atau ada hasil temuanmu yang lebih baik dari sekarang?”
Bujukan dokter Nathan sepertinya mengena. Lelaki itu termenung dan menelaah dalam-dalam apa yang diucapkan oleh sang dokter ke dalam pikirannya.
Pada akhirnya, Xavier menghela napas panjang. Tubuhnya yang menegang dipenuhi oleh berbagai pikiran yang menggelayuti sedikit melemas ketika lelaki itu seolah melepaskan beban pikirannya.
“Aku akan membicarakannya dengan Sera nanti,” jawabnya dengan nada perlahan dan dalam.
Dokter Nathan tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. Jika Xavier bilang bahwa lelaki itu akan berbicara dengan Sera, maka dirinya sudah berhasil lebih dari setengah jalan untuk membujuk Xavier agar menyetujui untuk melakukan operasi itu dilakukan, sebab Sera tentu akan mendukung dengan sangat Xavier melakukan operasi untuk menyembuhkan dirinya.
“Aku tahu kau butuh berbicara dengan Sera, jadi aku tak akan mendesakmu lebih daripada ini,” ujarnya kemudian. Dokter Nathan melangkah mundur, hendak pergi dari situ dan memberikan waktu bagi Xavier untuk menikmati masa berharga memandangi anak-anaknya. Namun, sebelum dokter Nathan melangkah terlalu jauh, tiba-tiba Xavier berucap memanggil namanya.
“Nathan.”
Langkah dokter Nathan langsung berhenti. Dari suara Xavier yang berubah serius dan gelap, dia tahu bahwa lelaki ini akan membahas sesuatu yang serius. Karena itulah dia membalikkan tubuhnya dan memusatkan perhatiannya kepada Xavier.
“Ada apa?” tanyanya kemudian.
Xavier menipiskan bibir.
“Dia bukan dokter Oberon. Lelaki itu jelas Aaron yang menyamar.”
Perkataan Xavier itu membuat dokter Nathan mengerutkan kening.
“Apakah kau yakin?” tanyanya lagi.
Xavier menganggukkan kepala. “Aku yakin. Aku bisa membaca emosi seseorang dan mendesak mereka hingga di titik mereka tak bisa membohongiku.” Xavier berucap dengan nada pongah. “Aku akan mengeksekusinya.”
“Kau tak boleh menumpahkan nyawa semaumu. Lagipula ini menyangkut Aaron dan itu berhubungan dengan Sera. Tidakkah kau ingin membicarakan segala sesuatunya dengan Sera dahulu?”
“Sera sudah tidak memikirkan Aaron. Apalagi sejak dia tahu bahwa Aaron membayar orang untuk melukai bayinya, dia hampir tak pernah mengangkat pembicaraan tentang Aaron di hadapanku. Lagipula, bukanlah Sera sudah jatuh cinta kepadaku? Kurasa Aaron hanyalah sisa cinta pertama di masa lalunya yang tak layak berada di dalam pikirannya lagi.” Xavier menyahuti cepat. Pembicaraan tentang Aaron yang dihubungkan dengan Sera selalu membuat suasana hatinya memburuk hingga ekspresinya berubah kelam.
“Tetap saja, Serafina memiliki kedekatan di masa lalu yang tak bisa kita tembus begitu saja. Meskipun Aaron membantu Sera dengan motivasi buruk untuk mencuci otak Sera dan menjadikannya senjata pembalas dendam, tetapi tetap saja, di masa lampau, Aaron memiliki peran untuk menyelamatkan Sera dan membuat Sera merasa berhutang budi dengannya. Jika kau membunuh Aaron begitu saja dan tak mengatakannya kepada Sera, dia bisa membencimu di kemudian hari jika dia mengetahuinya nanti.”
__ADS_1
“Aku akan menjadikannya rahasia dan membawanya ke alam kubur.” Xavier menyahuti dengan keras kepala.
Dokter Nathan menghela napas panjang.
“Aku tak punya pengalaman banyak dalam hubungan antara dua manusia, apalagi yang menyangkut pernikahan. Namun, satu hal yang kutahu pasti, jika ada rahasia antara dua manusia dalam hubungan percintaan, rahasia itu akan menjadi bom waktu yang bisa meledak di saat tidak tepat. Percayalah kepadaku, Xavier. Tidak ada rahasia yang abadi. Kurasa kau harus berbicara terus terang dengan Sera setelah ini.”
Dokter Nathan mengawasi Xavier dengan serius. “Aku tahu kau ingin menjaga perasaan Sera dan tak menyakitinya. Aku tahu kau tak ingin Sera terluka saat mengetahui kenyataan tentang Aaron. Karena itulah kau memutuskan untuk merahasiakan pengetahuanmu tentang Aaron terhadap Sera. Kau melakukannya demi menjaga kenangan masa lalu Sera tetap baik dan tak hancur berkeping-keping.”
Tatapan dokter Nathan terlihat sangat serius. “Kurasa sudah saatnya kau berhenti merahasiakan apapun yang menyangkut Aaron dari Sera. Kenyataan bahwa Aaron telah menghamili Anastasia dan mendukung Anastasia menjebak Akram, kenyataan bahwa Aaron telah bekerjasama dengan Roman Dawn untuk mencuci otak Sera supaya menjadi alat pembalas dendam yang loyal kepada keluarga mereka, Sera berhak mengetahuinya. Siapa tahu, nantinya jika kau terpaksa melukai Aaron, Sera akan mengerti dan mau mendukungmu? Atau, setidaknya Sera bisa mengerti alasanmu melakukan itu semua tanpa terlalu menyalahkanmu.”
Xavier termenung sejenak, tetapi lelaki itu memilih untuk tidak menolak ataupun mengiyakan. Dia menatap dokter Nathan dengan tatapan tajam kemudian.
“Jika kau ingin kepastian atas dugaanku, kau bisa melihat hasil test darah nanti. Memang ini agak tertunda karena Sera melahirkan di saat tak terduga dan mengalihkan seluruh perhatianku. Tetapi, bukan berarti aku melupakannya. Aku akan meminta anak buahku untuk mengambil darah Aaron hari ini.”
“Apakah kau mengingatkan dokter Oberon mengenai ini?” dokter Nathan bertanya ragu.
Xavier menganggukkan kepala. “Aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan melakukan test darah kepadanya dan dia tak akan bisa lari meskipun dia mencobanya.”
“Kalau begitu... dengan asumsi bahwa dia benar-benar Aaron, dia pasti sudah sadar bahwa kau telah mencurigainya.” Dokter Nathan menatap cemas. “Apakah kau yakin bahwa dia tak memiliki kesempatan untuk melarikan diri?”
“Aku tak akan mengulang kesalahan yang sama dengan membiarkannya lepas begitu saja. Di sekelilingnya, para pengawalku berjaga ketat. Dia tak akan bisa melepaskan diri dari pengawalan anak buahku yang sangat ahli.”
Dokter Nathan menganggukkan kepala. Perkataan Xavier sudah membuatnya sedikit yakin, namun sebagai seorang dokter, dia tak akan mengambil keputusan tanpa melihat bukti yang benar-benar nyata di depan mata.
“Aku akan memutuskan akan seperti apa tindakanku setelah aku melihat hasil test darah. Bagaimanapun, dokter Oberon adalah pegawai rumah sakit ini dan anak buahku. Jika memang dokter Oberon yang sekarang adalah Aaron yang menyamar, apakah itu berarti mayat yang ditemukan oleh Akram kemarin adalah mayat... dokter Oberon?” Suara dokter Nathan sedikit ragu. Bagaimanapun, membicarakan koleganya yang dulunya hidup dan berinteraksi dengannya ternyata sudah menjadi mayat, terasa sedikit mengganggu baginya.
“Mayat itu adalah mayat dokter Oberon yang dioperasi wajahnya sehingga menyerupai Aaron. Jika test darah nanti membuktikan bahwa Aaron adalah dokter Oberon, maka Aaron bersalah akan pembunuhan tingkat satu atas pembunuhannya terhadap dokter Oberon yang direncanakannya. Pada akhirnya, dia tetap saja akan menghadapi ancaman hukuman mati.” Xavier menyipitkan matanya dengan ekspresi muram. “Kenyataan bahwa Aaron senekat ini dengan menyamar sebagai dokter Oberon guna mendekati Sera, menunjukkan bahwa pria itu benar-benar telah terobsesi untuk memiliki Sera. Aku akan meningkatkan penjagaan di rumah sakit ini sementara seluruh pengawalku akan menjaga ketat Aaron. Jika hasil test darah itu keluar, aku akan membereskannya dengan segera.”
Dokter Nathan menganggukkan kepala.
“Aku mengajukan diri untuk mengambil sendiri darah Aaron. Aku harus benar-benar yakin. Jika memang nanti terbukti bahwa ini adalah Aaron yang menyamar, maka aku akan sepenuhnya mendukungmu, apapun keputusanmu.” Memikirkan bahwa dokter Oberon, rekan dokternya yang tidak bersalah telah dibunuh dan dengan keji dipaksa dioperasi wajahnya sebelum dihabisi membuat hati Nathan sedikit terusik kemarahan. “Kurasa, atas kejahatan yang diperbuat oleh Aaron, dia layak mendapatkan hukuman.”
***
Dia mengerjapkan mata untuk mengumpulkan kesadarannya yang dilingkupi kabut tebal dan sulit terangkat. Tenggorokannya terasa sakit dan kering. Pada saat yang sama, sebuah tangan kuat meremas tangannya lembut.
“Kau ingin minum?”
Suara itu familiar, membuat Sera menolehkan kepala dengan segera dan tatapannya langsung bersirobok dengan Xavier yang duduk di tepi ranjang, dekat dengan dirinya.
Sera menganggukkan kepala dan Xavier segera membawakan gelas berisi air hangat dengan sedotan, lalu mengangkat kepala Sera sedikit untuk membantunya minum.
Sera menghabiskan air di gelasnya dan tersenyum puas setelahnya, dia kemudian menolehkan kepala ke arah Xavier dan menanyakan pertanyaan pertama yang langsung memenuhi kepalanya.
“Bagaimana dengan si kembar? Apakah mereka baik-baik saja?”
Xavier meletakkan gelas itu di meja, lalu tersenyum lebar.
“Mereka sangat sehat dan baik-baik saja. Sekarang mereka berdua sedang tidur nyenyak.”
Sera tampak ragu. “Tapi... mereka dilahirkan sebelum waktunya. Apakah tidak ada masalah?” tanyanya perlahan dengan nada takut-takut.
Xavier menggelengkan kepala. “Mereka sangat sehat untuk anak yang dilahirkan prematur. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri betapa sehatnya mereka. Aku juga sudah melihat hasil tes laboratorium mereka,” ujarnya dengan nada meyakinkan. Xavier kemudian meraih tangan Sera lembut, lalu membawanya ke bibirnya. “Kau tak perlu cemas, Sera.”
Sera mengulas senyum di bibirnya. Dia tahu bahwa Xavier tak akan membohonginya hanya agar dia tak cemas. Lelaki itu tidak tampak diliputi beban pikiran, yang terlihat malahan ekspresi bahagia yang bercampur senyuman lebar. Hanya dengan melihat ekspresinya saja, Sera bisa tahu bahwa lelaki itu adalah ayah bahagia. Hanya saja, ada lingkaran hitam di bawah mata Xavier, seolah-olah lelaki itu tak sempat untuk tidur.
Tangan Sera terulur dan mengusap pipi suaminya.
“Bagaimana dengan dirimu? Apakah kau cukup mendapatkan istirahat?” tanyanya lembut.
Xavier membalas pertanyaan Sera itu dengan senyuman lebar. Senang karena perempuan itu memperhatikannya.
“Aku baik-baik saja. Aku memang kurang tidur karena yang kulakukan sejak kemarin adalah bolak balik dari kamar ini ke kamar anak.” Xavier mengusap rambutnya. “Kau tak tahu betapa aku tak bisa membuat keputusan. Jika aku ada di depan kamar anak-anak kita, aku memikirkanmu dan bergegas ingin menemanimu. Namun, sekarang saat bersamamu, aku ingin anak-anak kita juga ada di sini sehingga kita bisa berkumpul bersama.”
Sera menganggukkan kepala, jemarinya mengusap pipi Xavier. Lelaki itu tampak pucat dan sebersit kecemasan menebal di lapisan hatinya.
__ADS_1
“Aku mengerti perasaanmu. Tapi, bagaimanapun kau harus mementingkan kesehatanmu dulu. Kau harus menyempatkan diri untuk beristirahat, Xavier. Apakah kau lupa bahwa giliranmu untuk merasakan nikmatnya menjadi orang tua belumlah tiba? Nanti kalau dua putri kita sudah keluar dari ruang inkubator, kita membutuhkan banyak energi untuk membuka mata sepanjang waktu dan kekurangan tidur.”
Xavier menyeringai. “Aku tak sabar menanti waktu itu tiba,” bisiknya dengan nada sungguh-sungguh. Lelaki itu lalu mengambil tangan Sera yang masih mengusap pipinya dan meremasnya lembut dalam genggaman. “Kau tahu, aku sudah mengucapkan terima kasih kepadamu waktu itu. Namun, aku masih merasa kurang.” Xavier membawa jemari Sera ke mulutnya dan menghadiahkan kecupan lembut di buku-buku jarinya itu. “Terima kasih Sera, telah melahirkan putri kembar kita dengan selamat, dan terima kasih karena kau kuat danb baik-baik saja.”
Sera menganggukkan kepala. “Aku sudah berhasil melalui masa kritisku.” Tatapan Sera berubah menjadi sangat lembut ketika dia berucap dengan nada hati-hati ke arah Xavier. “Bukankah sekarang... adalah giliranmu?”
Xavier menatap langsung ke kedalaman mata Sera. “Apa maksudmu?” Dia sudah bisa menebak maksud perkataan Sera, tapi dia ingin mendengarnya langsung dari telinga perempuan itu.
Sera memasang senyum penuh sayangnya kepada lelaki di hadapannya itu.
“Sekarang giliranmu untuk mengalahkan masa kristismu. Aku dan si kembar, kami semua telah berhasil memberikan apa yang kau butuhkan untuk sembuh.” Sera merendahkan nada suaranya. “Dokter Nathan bilang bahwa sel punca si kembar sudah disimpan di bank plasenta dan siap untuk digunakan kapanpun kau siap. Jadi, kapan kau akan melakukan operasi?”
Xavier menatap Sera lekat-lekat. Sama sekali tidak ditemukannya keraguan di mata Sera atas penawarannya. Sepanjang masa kehamilan Sera ini, beberapa kali mereka berdebat tentang penggunaan sel punca dari plasenta si kembar. Meskipun tujuannya pertama kali menikahi Sera dan menghamilinya adalah demi mendapatkan sel punca itu, tetapi sekarang Xavier tak mau Sera berpikir bahwa alasannya hanyalah tetap itu. Xavier mencintai Sera. Bahkan sekarang, setelah perempuan itu menjadi ibu dari anak-anaknya. Cintanya bahkan menjadi semakin dalam lagi hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Jika sudah begitu, ada rasa bersalah yang mengusik hatinya ketika memikirkan tentang sel punca itu, membuatnya merasa mengambil keuntungan dari Sera dan si kembar, hanya untuk keselamatannya sendiri.
Tapi Sera sendiri menginginkann dia tetap hidup. Perempuan ini menginginkan Xavier mendampinginya untuk membesarkan anak-anak mereka. Juga perkataan dokter Nathan sebelumnya telah merasuk ke dalam jiwa Xavier, membuatnya menyetujui tentang skala prioritas yang dikatakan oleh sang dokter.
Ya. Xavier memutuskan untuk melakukan operasi itu, demi Sera dan kedua bayinya. Nanti jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan di masa depan menyangkut kesehatan anak-anaknya, setidaknya Xavier ada di sana untuk mendampingi Sera dan di kembar.
“Aku akan melakukan operasi itu secepatnya. Aku akan membicarakannya dengan dokter Nathan nanti.” Xavier mengutarakan keputusannya dengan cepat. Lelaki itu lalu meremas tangan Sera lagi. “Kau tahu aku belum mengucapkan terima kasih untuk yang satu ini. Kau dan si kembar kemungkinan besar akan menjadi penyelamat nyawaku. Seumur hidup aku berhutang nyawa kepada kalian.”
“Xavier.” Sera menggelengkan kepalanya sedikit. “Kau tak perlu berterima kasih kepadaku. Apakah kau tahu? Aku memberikan sel punca si kembar dengan alasan egois demi kepentinganku sendiri. Aku ingin suamiku, lelaki yang kucintai, tetap hidup dan mendampingiku. Aku mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar darimu dalam hal ini, jadi... kau tak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku. Kau tidak berhutang apapun kepadaku.”
Xavier tersenyum, tatapannya semakin dalam dan serius ketika dia berucap kemudian.
“Sera... ada sesuatu yang ingin kuceritakan kepadamu.” Dengan cepat Xavier memutuskan mengenai yang satu ini. Tidak ada rahasia di antara mereka. Setidaknya saat nanti operasi itu tak berhasil dan Xavier mati di meja operasi, Sera sudah mengetahui semua hal tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. “Yang kuceritakan ini mengenai Aaron. Ada rahasia tentangnya yang selama ini kusimpan rapat-rapat darimu.”
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***