Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL Eps 119 : Penerang Keluarga


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira  + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


****


****


****


“Helikopter senyap akan menarik perhatian banyak pihak, apalagi jika kita melakukan pengejaran di jalan tol yang ramai kendaraan. Kau tahu, untuk bisa membidik, helikopter itu butuh mendekat ke arah mobil.” Akram menyahuti dengan nada suara tak setuju. “Meskipun helikopter itu tak bersuara, namun ukurannya yang besar cukup mencolok. Orang akan dipenuhi banyak pertanyaan menyangkut prototype yang aneh di mata mereka ini. Kemunculan helikopter senyap akan menjadi tajuk utama berita esok hari. Jika itu terjadi, kita akan berhadapan dengan pemerintah yang sudah pasti mempertanyakan tindakan kita.”


Xavier menipiskan bibirnya. “Aku akan mengendalikan pemberitaan di media massa. Jangan khawatir. Lakukan saja. Semua orang akan mengira bahwa pengejaran dengan menggunakan helikopter itu adalah salah satu bagian dari pengambilan gambar untuk sebuah film aksi. Keterangan itu jugalah yang akan muncul di tajuk berita esok hari.”


Xavier menatap ke arah Akram dengan serius sebelum melanjutkan kembali perkataannya. “Helikopter itu akan berguna di situasi genting. Jika penembak jitu tak bisa menembak Aaron yang sedang mengemudi, setidaknya mereka akan bisa menyelamatkan Nathan nanti.”


Akram mengerutkan  keningnya terkejut.


“Menurutmu, Aaron tetap akan menyuntik Nathan?”


Ekspresi Xavier tampak menyesal. “Kurasa dia sudah pasti akan melakukannya. Dokter Nathan adalah sandera yang diperlukannya untuk melarikan diri. Ketika dia sudah berhasil melarikan diri, maka dia tak perlu lagi membawa-bawa dokter Nathan, karena akan merepotkannya. Aaron pasti akan mempertimbangkan untuk menyuntik dokter Nathan dan menyingkirkannya sebelum dia melanjutkan pelariannya.” Xavier menggertakkan gerahamnya dengan ekspresi menyesal.


Seharusnya dia tak menyetujui saat dokter Nathan mengajukan diri untuk menjadi orang yang mengambil darah Aaron sebagai pembuktian bagi dirinya sendiri. Seharusnya dia sadar bahwa Aaron sangat nekat dan membiarkan orang yang dikenalnya dan cukup penting baginya -seperti dokter Nathan- berada di dekat Aaron, adalah sesuatu yang sangat berisiko.


Sayangnya, nasi sudah berubah menjadi bubur. Apa yang sudah terjadi tak bisa diputar balik kembali. Xavier hanya berharap mereka bisa cepat menyelamatkan jika terjadi sesuatu kepada dokter Nathan.


“Kirimkan pesan kepada anak buahmu yang ada di dalam helikopter itu. Mereka memang diberangkatkan untuk mengejar dan menembakkan racunku kepada Aaron. Namun, dokter Nathan adalah prioritas utama. Jika pilihannya adalah menyelamatkan dokter Nathan atau mengejar Aaron, maka mereka harus memilih menyelamatkan dokter Nathan.”


Akram menatap ekspresi Xavier yang keras kepala, lalu akhirnya menganggukkan kepala, tahu bahwa dia tak bisa membuat Xavier membatalkan kemauannya. Dia tahu Xavier memiliki alasan untuk melakukan itu semua.


Lelaki itu memiliki kemampuan otak jenius yang mampu memprediksi tingkah laku dan pola perilaku manusia dalam beberapa waktu ke depan, jadi untuk saat ini, Akram akan percaya pada setiap keputusan Xavier. Lagipula, dia juga sama cemasnya memikirkan tentang dokter Nathan yang saat itu menjadi sandera.


Dokter Nathan bukan hanya dokter yang menyelamatkan mereka dalam situasi genting. Akram berhutang nyawa dan berhutang budi kepadanya. Selain itu, dokter Nathan adalah sahabatnya. Tentu saja dia akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan lelaki itu.


“Baiklah. Aku akan mengeluarkannya untuk melakukan pengejaran, sesuai dengan kemauanmu.” Dengan cepat Akram mengambil ponselnya dan memberikan instruksi beruntun kepada anak buahnya di seberang sana. Setelahnya, sang taipan itu menutup percakapan dan menatap ke arah Xavier kembali. “Sudah dilakukan,” ujarnya kemudian memberitahu.


Xavier menganggukkan kepala. “Sekarang, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu,” sahutnya dengan mata berkilat tajam dan tubuh menegang kaku seolah dilingkupi oleh aura tak sabar yang kental


***


 


Mobil yang dikendarai oleh Aaron menembus keramaian jalan raya dengan cepat, meliuk-liuk menyalip satu demi satu mobil yang melaju di tengah jalan tol yang lebar dan saat ini tidak begitu penuh karena hari masih cukup pagi.


Aaron berkonsentrasi penuh memandang ke depan, sementara kakinya menginjak pedal gas dengan sangat kuat. Dia harus bisa meninggalkan keramaian ini dengan cepat sebelum kemudian menuju tempat persembunyiannya. Untuk itu, dia harus menghilangkan jejak terlebih dahulu, sehingga rute yang ditempuhnya menuju tempat persembunyian, tak akan bisa dilacak oleh Xavier.


Untuk bisa melakukan itu semua, dia harus menggunakan dokter Nathan sebagai pengalih perhatian.


Mata Aaron melirik ke arah dokter Nathan yang duduk kaku di sisinya. Lelaki itu memilih tak bersuara, hanya duduk tegak di sana dengan kaki dan tangan yang terikat.


Mata Aaron lalu berubah melirik ke arah kaca spion di samping kanan mobil yang dikendarainya.


Tidak ada mobil mencurigakan yang bergerak mengikuti manuver menyetirnya yang meliuk-liuk di jalan tol dan melaju kencang menyalip semua kendaraan yang ada di sana. Itu berarti, mereka memang tidak mengikutinya dengan mobil.


Meskipun begitu, Aaron tidak merasa lega sama sekali. Xavier sangat licik, kenyataan bahwa lelaki itu tidak mengirimkan bodyguard-nya untuk melakukan pengejaran dengan menggunakan mobil, menunjukkan bahwa lelaki itu menggunakan cara lain yang lebih efektif yang belum disadari oleh Aaron.


Kalau begitu, dia harus bergerak secepatnya. Aaron melirik ke arah dokter Nathan kembali dan memutuskan.


Yang harus dilakukan pertama kali adalah menyingkirkan dokter Nathan sesegera mungkin supaya tidak membebani pelariannya. Lelaki itu memang berguna sebagai sandera hingga Aaron dapat melarikan diri tanpa dikejar.


Tanpa sadar bibir Aaron membentuk senyuman mengejek yang keji. Orang bilang Xavier Light sangatlah jenius, tapi di mata Aaron, Xavier adalah orang bodoh yang mengambil keputusan bodoh pula.


Bagaimana mungkin Xavier menyuruh dokter Nathan yang mengambil darahnya? Keputusan bodoh Xavier telah memberikan jalan bagi Aaron untuk melarikan diri dengan menggunakan dokter Nathan sebagai sanderanya.


Xavier pasti sekarang sedang menyesali diri karena kebodohannya, dan Aaron akan membuat lelaki itu lebih menyesal lagi saat dia mengembalikan dokter Nathan dalam kondisi tak bernyawa nanti.

__ADS_1


***


 


Sera berbaring di atas ranjang sambil menatap nyalang ke arah langit-langit kamarnya.


Aaron.


Nama itu memenuhi kepalanya, tetapi kali ini bukan dalam bentuk kenangan manis berbalut rasa terima kasih, melainkan dalam bentuk kegetiran yang menyayat hati.


Ternyata selama ini dirinya telah dimanipulasi oleh Aaron. Ternyata selama ini Aaron memiliki motivasi tersendiri. Ternyata selama ini Sera telah dibohongi.


Kenangan ketika Aaron menyelipkan obat baginya dan membantu mengoles bilur di tubuhnya yang terkapar tak berdaya setelah dicambuki, atau saat lelaki itu mencuri-curi kesempatan untuk memberikan makannnya bagi Sera yang dihukum kurungan sata kelaparan, kini berubah menjadi kenangan yang menyakitkan.


Bahkan pada saat itu, pada saat Sera menganggap Aaron adalah penyelamatnya, ternyata semua itu adalah hasil manipulasi dari lelaki itu yang bekerjasama dengan Roman Dawn, untuk memastikan Sera menjadi makhluk yang setia kepada mereka dan bisa disetir semaunya. Aaron jugalah yang menginisiasi dan bertanggung jawab terhadap penyerangan yang terjadi atas ayahnya dan menyebabkan ayahnya menjadi koma seperti sekarang.


Sera memejamkan mata, merasakan sakit yang bergulung-gulung di hatinya. Dari sudut matanya, mengalir buliran panas berkilauan yang menunjukkan betapa terlukanya dirinya saat ini.


Rasa dikhianati setelah bertahun-tahun diliputi hutang budi yang ternyata palsu, telah menyobek hati Sera dan menciptakan luka besar yang menganga.


Dia tidak akan memaafkan Aaron. Dia akan membuang Aaron dari hatinya sepenuhnya dan menganggapnya sebagai musuh besarnya. Lelaki itu terlalu jahat dan tak layak dipikirkan, Sera tak akan lagi membuang-buang air matanya untuk memikirkan Aaron.


Dengan penuh tekad dan semangat kuat, Sera bergerak menghapus air matanya dan menghela napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan diri.


Pada saat yang sama, tiba-tiba pintu rumah sakit terbuka dan seorang perawat masuk sambil menggulirkan senyuman lembut kepada Sera.


“Ah, Anda sudah terjaga. Mari, saya akan bantu menyeka tubuh Anda. Setelah itu, kita akan berlatih duduk. Jika Anda sudah bisa duduk, kita bisa menggunakan kursi roda dan saya akan mengantarkan Anda ke ruang bayi untuk menyusui kedua bayi kembar Anda,” ucapnya sambil menguraikan senyuman lembut keibuan yang langsung membuat segala cemas dan kesedihan Sera menguap seketika dan berganti dengan rasa bahagia bercampur tak sabar karena dia akan segera memeluk bayinya lagi.


***


 


Dua bayinya sangatlah cantik dan begitu mungil. Rambut mereka sangat lebat, begitu tebal dan sedikit ikal dan membuat kedua-duanya tampak seperti malaikat mungil yang sangat lucu. Mata mereka terpejam rapat dan bahkan saat masih bayi seperti itu, bulu mata mereka berdua tampak panjang dan indah, sama seperti ayahnya.


Kedua bayi itu memiliki kulit keriput akibat dilahirkan prematur sehingga daging yang menggemukkan belum sempat mengisi lipatan-lipatan kulit mereka dan mengencangkannya. Namun, Sera yakin bahwa bayi-bayi ini akan segera bertumbuh besar dengan tubuh montok yang menggemaskan.


Sera menerima bayi mungil itu di daam pelukannya, menimangnya lembut sebelum kemudian mulai menyusui anaknya. Si kecil tadinya masih belum terstimulasi, tetapi setelah Sera memancing dengan mengetuk di sudut bibirnya, mulut anak itu langsung terbuka secara insting dan melahap sebelum kemudian minum dengan sangat kuat.


Sera tersenyum lembut, mengusap rambut anaknya yang lebat dengan penuh rasa bahagia.


Sensasi menyusui yang dirasakan oleh seorang ibu terasa sangat menyenangkan. Seolah-olah dadanya dibanjiri oleh sensai hangat yang membuat seluruh pembuluh darahnya dialiri oleh kebahagiaan yang tak terperi.


“Sepertinya dia sangat lapar.”


Suara Xavier yang terdengar kemudian, membuat Sera memutuskan perhatian penuhnya yang tadi diberikannya kepada si bungsu, dan mendongakkan kepalanya.


Mungkin Xavier memang terbiasa bergerak tanpa suara, atau memang Sera yang terlalu terfokuskan perhatiannya kepada bayi kesayangan di pelukannya, Sera jadi tak menyadari kehadiran Xavier sama sekali sebelum lelaki itu berucap untuk menunjukkan keberadaaanya.


Mata Sera berkaca-kaca dan bibirnya langsung mengurai senyum lebar.


“Ya, sepertinya perut kecilnya bergemuruh meminta diisi,” Sera memainkan jemari anaknya yang terasa sangat lembut dan senyumannya melebar ketika si bungsu dengan kuat menggenggam jari telunjuknya kuat-kuat sebagai tanggapan. “Aku beruntung, air susuku jumlahnya melimpah,” bisiknya kemudian dengan bahagia. Merasakan air susunya menderas dan direguk oleh anaknya, adalah kesenangan luar biasa yang bisa diraskana oleh seorang ibu.


“Mungkin tubuhmu tahu bahwa kau memiliki dua mulut kecil untuk dipenuhi nutrisinya, sehingga secara alami, kau menghasilkan banyak air susu,” Xavier menyahuti dalam senyum, sementara matanya terpaku ke arah Sera.


Lelaki itu tampak takjub, menatap hangat adegan indah ketika seorang ibu menyalurkan saripati dirinya dari tubuhnya, berbagi oksigen dan makanan dari tubuhnya sendiri untuk disalurkan kepada anaknya demi menjaga sang anak tetap sehat serta bisa bertumbuh pesat.


Tidak seperti dirinya yang sebatang kara karena dibuang saat masih berwujud bayi merah, anak-anaknya mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang mencintainya.


Hati Xavier dibanjiri oleh kelegaan dan rasa syukur yang melimpahinya. Anak-anaknya dicintai oleh ibunya, anak-anaknya diinginkan oleh kedua orang tuanya untuk hadir di dunia ini. Anak-anaknya tidak akan mengalami nasib kelam seperti dirinya, yang selalu meringkuk dalam kesedihan di setiap malam pada waktu kecilnya, perih melihat anak-anak lain memilliki limpahan kasih sayang orang tuanya, sementara dia tidak punya sama sekali. Anak-anaknya tidak perlu merasakan rasa rendah diri seperti yang dirasakannya sejak masa kanak-kanak, bertanya-tanya apakah kesalahannya hingga kedua orang tuanya memilih membuangnya.


Ya. Anak-anaknya akan tumbuh dengan limpahan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Xavier akan memastikan itu.


Dengan perlahan supaya tidak mengganggu sesi menyusu si bungsu, Xavier berlutut dengan menggunakan salah satu lututnya sebagai tumpuan sehingga kepalanya bisa sejajar dengan Sera yang duduk di kursi roda. Tangannya bergerak dan mengusap pipi Sera dengan lembut.


“Kau sudah bisa duduk, apakah perawat membantumu? Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah masih sakit?” tanya Xavier dengan nada cemas, matanya kemudian melirik ke perut bawah Sera, tempat lokasi jahitan melintang karena operasi Caesar di sana.

__ADS_1


Sera memasang senyumannya.


“Aku baik-baik saja. Lagipula, aku masih mendapatkan asupan pereda rasa sakit, jadi sakitnya sama sekali tak terasa,” sahutnya lembut.


Sayangnya, kalimat menenangkan Sera itu tak berhasil menyingkirkan rasa sesal yang menghiasi wajah Xavier.


“Maafkan aku karena tak ada di sisimu saat kau belajar duduk.” Xavier berucap dengan sungguh-sungguh.


Dia tadinya bermaksud ada di sana untuk mendampingi Sera. Dari apa yang dipelajarinya, belajar duduk dan bergerak untuk pertama kalinya setelah rasa kebas di bagian bawah tubuh hilang dengan luka operasi yang masih basah, adalah hal tersulit yang dialami oleh seorang wanita yang baru saja mengalami operasi caesar. Pada saat itulah pendampingan dari suami sangat diperlukan. Sayangnya, Xavier kehilangan kesempatan melakukan itu gara-gara Aaron melakukan manuver di saat yang tidak tepat.


Sera bisa memahami apa yang bergolak di dalam hati Xavier, karena itu dia kembali tersenyum menenangkan.


“Kau memiliki hal lain untuk dilakukan dan aku bisa mengerti.” Sera memutuskan untuk tidak menyebutkan tentang Aaron secara langsung dalam percakapan mereka, karena itu sudah pasti akan merusak suasana magis yang tercipta antara mereka dan anak-anak mereka di ruangan ini. “Perawat membantuku dengan baik tadi, dia sangat profesional dan aku jadi tidak terlalu merasakan sakit saat mencoba duduk pertama kalinya. Kau lihat sendiri, kan? Aku duduk di sini dengan tersenyum.” Sera tersenyum lebar dan menatap Xavier dengan lembut. “Lagipula, kau ada di sini sekarang, di saat aku menyusui dua bayi kita. Kita bisa melalui keajaiban ini bersama-sama dan itu sudah lebih dari cukup bagiku,” tambahnya lembut.


Perkataannya itu kali ini berhasil menyingkirkan rasa menyesal yang terpatri di mata Xavier. Lelaki itu menganggukkan kepala, lalu jarinya dengan hati-hati mengusap pipi lembut anaknya dan bergerak ke rambutnya.


“Dia sangat mungil,” bisiknya dengan parau, dipenuhi rasa haru.


“Dia akan bertumbuh besar dengan cepat. Ketika tiba waktunya nanti, kau bahkan akan merasa bahwa tubuhnya sangat berat ketika kau menggendongnya.” Sera terkekeh, matanya berkaca-kaca, dipenuhi oleh rasa haru yang sama.


Xavier membalas senyuman Sera dengan seringaian lebar yang dipenuhi rasa hangat. Matanya menatap ke arah dua bayinya, yang satu sedang tidur dengan puas di dalam inkubatornya, sementara yang lainnya asyik menyusu di dalam pelukan ibunya.


“Mereka berdua adalah cahaya penerang kita.” Xavier berucap kemudian dengan nada penuh kekhidmatan. “Elaine yang berarti cahaya terang untuk si sulung, dan Ainee yang berarti cahaya megah untuk si bungsu


Mereka berdua telah menentukan nama itu sejak sebelum kedua permata mereka dilahirkan. Begitu jenis kelamin anak mereka ditentukan sebagai putri kembar, mereka pun mencari nama-nama indah dari berbagai referensi. Karena secara kebetulan, nama Xavier dan Serafina sama-sama berarti cahaya, juga kenangan sentimental Xavier dengan ibu angkatnya yang memberikan nama Light di belakang namanya karena Xavier adalah cahaya penerang hatinya, maka mereka sepakat untuk memberi nama dua anak perempuan mereka dengan nama yang sama-sama berarti cahaya.


Elaine Light dan Ainee Light adalah dua nama yang menggambarkan doa tulus dan harapan kedua orang tua mereka bagi dua putri kembarnya yang cantik. Dengan nama itu, Xavier dan Sera sama-sama berharap bahwa jalan kehidupan kedua anak mereka, sama-sama dipenuhi oleh cahaya terang yang indah berkilauan, mutlak oleh kebahagiaan.


Untuk sejenak, ruangan itu seolah dipenuhi oleh nuansa magis yang terasa sangat mengharukan. Xavier dan Sera saling bertukar pandang dalam senyuman dan mata berkaca-kaca. Tak perlu ada kalimat yang terucap. Hati yang hangat dipenuhi kebahagiaan memenuhi kalbu ini, sudah cukup untuk mewakili rasa yang sama-sama mereka peluk berdua.


Lalu tiba-tiba, si sulung Elaine Light merasa bahwa sudah gilirannya untuk mendapatkan susu. Bayi mungil itu menggeliat, keningnya berkerut dalam saat dia terbangun dari tidur lelapnya sebelum kemudian memutuskan untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan suara tangis menuntut yang memekakkan telinga.


Tentu saja bagi Sera dan Xavier, suara tangisan bayi yang sangat keras itu terdengar laksana musik indah yang mengalun layaknya orkestra membahagiakan yang menghangatkan hati mereka.


Xavier tertawa, lalu lelaki itu mengulurkan tangannya. Seorang perawat yang bertugas di ruangan bayi itu dengan sigap langsung membantu memindahkan si bungsu Ainee dari pangkuan Sera ke pelukan Xavier. Di saat Xavier menimang putri kecilnya yang mulai mengantuk kekenyangan, perawat itu kemudian memindahkan Elaine yang menangis kencang menagih susu ke pangkuan Sera.


Begitu Sera menyodorkan penawar dahaga bagi bayi itu, Elaine langsung melahap dan menyedot kuat dan menghentikan tangisannya.


Sera tersenyum lembut dan membuai kepala bayinya yang juga berambut lebat sama seperti adiknya, dia mendongakkan kepala dan matanya terpaku pada Xavier yang tampak sangat luwes menimang putri kecilnya. Lelaki itu menggunakan lengan kuatnya untuk memeluk dengan berhati-hati, lalu menundukkan kepala dan menghadiahkan kecupan lembut di dahi Ainee yang tengah tertidur kekenyangan.


Hati Sera mengembang oleh rasa bahagia. Seandainya saja bisa, dia ingin waktu berhenti berputar, biar mereka bisa terus tenggelam dalam kebahagiaan sebagai dua orang tua yang penuh cinta, melingkupi kedua putri mereka dengan kehangatan hati yang bersinar indah menerangi.


 


***


***


***


***


Hello.


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira  + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


 


Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY

__ADS_1


 


 


__ADS_2