Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 9 : Jatuh Dalam Perangkap


__ADS_3


Episode 5/6 dari jadwal 6 episode dalam minggu ini


***


"Selamat malam."


Sera melangkah memasuki ruangan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Perempuan itu berdiri di dekat pintu masuk ruang privat yang telah ditutup oleh anak buah Xavier dari luar, lalu menganggukkan kepala dengan sikap formal terhadap lelaki itu. "Terima kasih sudah mengundang saya makan malam bersama untuk merayakan, saya sangat menghargainya."


Xavier menipiskan bibir, menahan kemarahan yang mulai bergolak di dalam jiwanya saat matanya kembali menelusuri penampilan Sera dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan saksama.


Perempuan kurang ajar ini bukan hanya menolak mengenakan gaun dan perhiasan yang dihadiahkan olehnya, tetapi seolah malahan menantang Xavier dengan memilih memakai pakaian yang mungkin adalah pakaian terjelek yang bisa diambil dari lemarinya.


Jika Sera memang tidak mau memakai gaun pemberiannya, seharusnya Sera mengenal nama restoran yang dipilihkan oleh Xavier sebagai tempat makan malam mereka. Sera pasti tahu bahwa ini adalah restoran terkenal yang memiliki peraturan tak tertulis, yaitu bahwa para tamu yang hendak melakukan makan malam di sini, diwajibkan memakai pakaian formal sopan untuk menyesuaikan dengan kelas restoran ini yang memang ditujukan bagi kalangan atas.


Para tamu wanita yang mendapatkan kesempatan reservasi di restoran ini pastilah akan datang dengan mengenakan pakaian terbaik mereka dan berlomba-lomba berdandan menjadi yang paling cantik dan paling terlihat mahal. Begitu pun kaum lelaki yang datang mendampingi wanitanya, seperti Xavier sekarang yang memakai setelan jas elegan yang membuatnya tampak begitu tampan malam ini, hampir seluruh kaum lelaki mengenakan setelan jas formal untuk menunjukkan kelas mereka.


Xavier tahu, dari rekam jejak pekerjaan Sera sebelumnya di beberapa perusahaan internasional bergaji besar, Sera lebih dari mampu untuk membeli gaun indah dan perhiasannya sendiri. Tetapi, dia bersikeras menyediakan gaun dan perhiasan itu, untuk menunjukkan intimidasi dan kekuasannya. Dengan mengenakan gaun pemberiannya, melengkapinya dengan perhiasan yang dipilihkannya, serta datang tanpa bisa membantah ke acara makan malam yang diperintahkannya di lokasi yang dia tentukan, Xavier ingin menunjukkan bahwa dia berkuasa atas Sera dan bisa menggerakkan Sera layaknya boneka patuh yang tak memiliki kehendak.


Tetapi Sera… alih-alih mengikuti peraturan tak tertulis di restoran itu dan mengikuti isntruksi Xavier , perempuan itu malahan datang mengenakan celana panjang. Ya, celana kain jelek warna merah mencolok yang sedikit kedodoran membugkus bagian bawah tubuhnya, ditambah lagi dengan atasan warna hitam dengan model norak yang sepertinya dijahit untuk perempuan yang berasal dari tahun enam puluhan.


Beruntung mereka sekarang berada di ruang makan malam privat khusus. Kalau tidak, Xavier tahu pasti kalau semua orang akan memusatkan perhatiannya pada Sera malam ini dengan tatapan mencemooh dan bertanya-tanya, bagaimana seorang wanita dengan dengan pakaian tak beradab seperti itu bisa mendapatkan reservasi di restoran ini.


Xavier mungkin tak peduli dengan pandangan orang-orang, tetapi dia tidak suka jika ada orang lain yang mencemooh dan merendahkan teman makan malamnya, siapapun itu.


"Kenapa kau tidak memakai hadiah yang kuberikan kepadamu?" Xavier berucap tenang, berusaha menjaga supaya suaranya tetap terkendali. Setiap kali dia menatap pakaian jelek Sera, kejengkelan langsung merebak di benaknya, meniupkan api kemarahan semakin membesar di sana.


Xavier menggertakkan gigi. Entah kenapa kali ini butuh waktu sedikit lebih lama baginya untuk menguasai diri. Kemarahan seolah menjalar perlahan di pembuluh nadinya, membakar dirinya sedikit demi sedikit dan jika dirinya lengah, bisa saja Xavier meledak dalam kemarahan dan terkalahkan oleh perempuan itu.


Karena terbiasa dipatuhi oleh orang-orang yang ketakutan kepadanya, pengalaman menghadapi seseorang yang membangkang dan terang-terangan melawannya, membuat Xavier kesulitan menguasai diri. Dia mengambil gelas anggur yang tadi tak disentuhnya, lalu menyesap sedikit untu menenangkan diri. Setelah itu, ditatapnya Sera yang masih berdiri di sana dan tampak ragu dengan pandangan bertanya.


“Jadi? Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku, Nona Sera?” tanya Xavier lagi.


Sikap Xavier yang arogan itu membuat Sera mendongakkan dagunya dengan angkuh, seolah-olah nalurinya untuk melawan terbangunkan kembali.


“Apakah Anda tak akan mempersilahkan saya duduk dulu?” Sera bertanya dengan manis, meskipun ada pisau tajam yang terselip di balik baluran gula dalam nada suaranya.


Sekali lagi, perempuan itu membangkang.


Xavier menipiskan bibir, lalu memaksakan sebuah senyum ramah yang biasanya berhasil menjadi topeng untuk menutupi apa yang dia rasakan.


“Ah, maaf. Aku begitu terpesona dengan… keunikan penampilanmu, sehingga melupakan tata krama. Silahkan duduk, Nona Sera, pelayan akan datang sebentar lagi untuk membawakan menu hidangan pembuka. Sambil menunggu, kita bisa bercakap-cakap di sini sambil minum anggur,” mata Xavier mengawasi Sera yang langsung mengambil tempat duduk di hadapannya setelah dipersilahkan.


Lelaki itu lalu mengedikkan dagunya ke arah gelas kosong yang tersedia di depan Sera.


“Kau ingin aku menuangkan anggur untukmu? Anggur ini adalah anggur terbaik yang sangat cocok digunakan untuk membasuh lidah sebelum menikmati hidangan lezat di restoran ini… begitu meminumnya kau akan merasakan sensasi….”


“Tidak, terima kasih, Tuan Xavier. Saya tidak minum alkohol, apalagi dengan perut kosong.” Sera menyela dengan suara tegas, membuat apapun yang hendak dikatakan oleh Xavier langsung menguap di udara. “Bisa dibilang saya punya pengalaman buruk dengan alkohol sehingga trauma untuk meminumnya. Daya tahan saya terhadap alkohol sangat rendah, jadi jika ada setitik saja alkohol yang masuk dan terserap ke aliran darah saya, saya bisa mabuk seketika.”


Mata Xavier yang tajam langsung bertemu dengan mata Sera. Dalam sedetik, ada ketegangan mengalir dari mereka berdua, tetapi sekejap, kedua-duanya berhasil menutup dan menyingkirkannya.


Perempuan itu langsung memasang senyum ceria tak berdosanya, lalu berucap dengan kalimat cepat  yang menghabiskan napasnya.


“Anda bertanya kenapa saya tidak memakai gaun yang Anda berikan? Itu karena sebelum kemari, saya ada ke rumah teman saya dulu. Dia seorang ibu dengan tiga anak yang masih kecil-kecil, dan rumahnya selalu riuh rendah oleh anak-anak yang aktif, banyak bergerak dan menumpahkan segala sesuatu dengan ceria. Karena itulah saya rasa pakaian ini lebih cocok digunakan pada situasi seperti ini,” Sera menatap Xavier dan mengangkat alisnya. “Kemudian, karena terlalu asyik mengobrol, saya lupa waktu dan hampir saja terlambat datang ke janji temu dengan Anda. Jadi, saya tidak sempat berganti pakaian. Terima kasih atas gaun indah dan perhiasan yang Anda hadiahkan untuk saya pakai, sayangnyasaya rasa untuk saat ini keadaanlah yang membuat saya tidak bisa mengenakannya sesuai keinginan Anda. Tetapi, saya rasa, itu bukan masalah, kan? Saya tahu kalau Anda mengerti bahwa saya tidak bermaksud membuat Anda merasa tak dihargai, lagipula kita datang kemari untuk makan, bukan untuk peragaan busana.” Sera menambahkan kalimatnya dengan tajam, seolah memaksa Xavier memahami maksud di balik kata-katanya.


Dan Xavier paham. Sera dengan gamblang mengatakan bahwa janji temu dengan Xavier ini bukanlah sesuatu yang penting. Perempuan itu jelas-jelas bilang bahwa Xavier adalah pilihan kedua setelah janji temu dengan temannya yang beranak banyak itu.


“Aku mengerti,” Xavier menjawab tenang meskipun darahnya mulai mendidih oleh letupan rasa tersinggung. Meskipun begitu, Xavier tetap memberikan senyumnya yang paling manis ketika menajamkan tatapannya ke arah Sera. “Karena kau akan menjadi asisten pribadiku yang berarti akan menghabiskan banyak waktu bersamaku, jadi aku bersikeras kalau lebih baik kita menanggalkan sikap formal dan tidak menggunakan kata ‘Anda’ dan ‘Saya’ lagi. Aku lebih nyaman kalau kita menggunakan ‘aku’ dan ‘kamu’, seperti yang diucapkan oleh seorang teman.”


Kepala Sera terangkat dan bibirnya membuka, hendak membantah seketika. Sayangnya, Xavier yang melihat gelagat ini langsung mengangkat tangannya, memberi isyarat supaya Sera tak melakukan perlawanan apapun.


“Jika kau tidak mau menerima ini sebagai permintaan seorang teman, maka anggap saja ini adalah perintah atasanmu. Aku bersikeras,” ujar Xavier dengan nada dingin penuh ancaman.


Nuansa beku menegangkan langsung meyebar ke seluruh penjuru ruangan, membuat Sera tiba-tiba begidik diserang rasa takut.


Sepertinya, sikapnya yang sengaja membangkang Xavier telah mendorong lelaki itu sampai di batas kesabarannya. Sera telah bermain-main dengan api dan dia tahu bahwa dia akan terbakar kalau tidak berhati-hati. Dengan bijaksana, Sera memilih mundur dan mengamankan diri.


“Baiklah, Tuan Xavier,” ucapnya cepat dan ketika melihat mata Xavier berkilat tidak suka, Sera langsung mengoreksi ucapannya, membuang embel-embel sebutan ‘Tuan” untuk menyebut nama lelaki itu. “Xavier, maksudku Xavier,” ujarnya perlahan.

__ADS_1


Senyum puas kali ini tersunggung di bibir Xavier tanpa bisa disembunyikan. Berinteraksi dengan Sera, meskipun telah berkali-kali membuatnya harus menggertakkan gigi menahan jengkel, ternyata terasa menyenangkan. Mereka berdua seperti sedang berlomba-lomba untuk merebut posisi teratas, silih berganti bersaing untuk berada di posisi paling kuat dan menguasai yang lainnya.


Saat ini, karena Xavier cukup menyukai kompleksitas kepribadian Sera yang unik, dia dengan sukarela menahan diri dan sedikit merendah, sengaja membiarkan Sera berada di atas angin. Tetapi tentu saja, Xavier  tidak akan membiarkan Sera berlama-lama di atas. Jika dia sudah memastikan bahwa perempuan ini adalah jenis pengkhianat yang menyusup untuk menusuknya dari belakang, dia bersumpah akan membuat perempuan itu tunduk di kakinya dan tak mungkin bangkit lagi, dengan segala cara.


Pintu diketuk dan ketika Xavier memberikan izinnya, seorang pelayan memasuki ruangan dengan membawa hidangan makanan yang langsung diletakkan di depan mereka berdua.


Setelah pelayan itu pergi, Sera menundukkan kepala dengan penasaran untuk menatap sumber dari aroma lezat di atas meja, dan matanya melebar melihat keindahan hidangan mewah yang ditata rapi di atas piring mungil itu.


Penataan hidangan pembuka tersebut cukup menyenangkan mata, dengan warna merah gelap di bagian dasarnya, bertumpuk dengan warna pink semburan nan cantik, lalu ditambahkan warna putih nan kontras di atasnya berpadu dengan warna hijau segar dari sayuran yang ditata dengan sangat elegan.


Sera hanya tahu bahwa hidangan itu tampak indah, tetapi dia bahkan tak bisa menebak makanan apa yang ada di depannya.


Meskipun pekerjaannya di masa lampau menuntutnya untuk menghadiri makan malam resmi di tempat-tempat kelas satu. Tetapi, Sera tak pernah tertarik dengan hidangan perancis karena menganggapnya terlalu rumit, berporsi sedikit dan tidak mengenyangkan.


Untuk makan di restoran perancis biasa saja dia harus berpikir-pikir dulu, apalagi untuk makan di restora perancis berbintang Michelin yang sudah pasti akan dihindarinya.


Diliriknya Xavier dengan penuh rasa ingin tahu, dan pipinya memerah ketika menyadari bahwa Xavier tengah mengamati perubahan ekspresi wajahnya dengan tatapan tajam menilai.


Kembali Sera memasang senyum cerah cerianya.


“Aku hanya sedang menebak-nebak hidangan apa ini. Masakan perancis… eh biasanya cukup ekstrim…” Ketika Xavier tidak mengatakan apapun, Sera melebarkan senyumnya dengan canggung. “Maksudku, ini bukan sejenis makanan ekstrim seperti siput atau kaki kodok, kan?”


Ekspresi Xavier melembut dan lelaki itu seperti sedang menahan diri untuk tidak menertawakan Sera.


“Itu bukan makanan aneh. Itu adalah lobster yang dimasak ala sous vide direndam dalam jus buah bit dan disajikan bersama sayuran segar. Cicipilah, kau pasti akan menyukai perpaduan gurih manis lobster segar yang lumer di mulutmu.”


Xavier mengambil peralatan makannya dan hendak menyuapkan hidangan pembuka itu ke mulutnya, tetapi pada saat bersamaan, ponselnya tiba-tiba berdering, membuat lelaki itu meletakkan peralatan makannya kembali dan mengerutkan kening.


Dia telah mematikan dering panggilan teleponnya dan menutup semua panggilan yang kemungkinan bisa mengganggu acara makan malamnya.


Hanya panggilan darurat dan penting saja yang bisa sampai kepadanya….


Dengan penuh rasa ingin tahu, Xavier mengambil ponselnya dari saku jasnya, dan melirik nama peneleponnya yang tampak jelas di layar ponselnya.


Dimitri.


Kenapa lelaki itu menelepon di saat seperti ini, dan jauh lebih cepat dari waktu yang dia berikan kepadanya?


Xavier mengangkat kepala dari ponselnya, lalu menatap ke arah Sera yang masih menunggu dan melemparkan tatapan mata penuh permintaan maaf.


“Ini urusan bisnis darurat. Mohon maaf, aku harus menerimanya.” Xavier beranjak dari posisinya duduk. “Tak perlu menungguku, silahkan nikmati hidanganmu terlebih dahulu.”


Sambil mengangguk dan melemparkan senyum penuh permohonan maaf, Xavier melangkah meninggalkan ruang makan privat itu dan menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Sera sendirian di sana.



“Sebaiknya ini penting.”


Xavier berucap dengan kasar ketika menerima panggilan telepon Dimitri di ruangan VIP lain yang telah disterilkan dan juga dijaga dengan ketat oleh para anak buahnya sehingga menutup kemungkinan ada orang lain yang bisa mencuri dengar percakapannya.


“Ini memang penting. Ini informasi menyangkut Serafina Moon yang kau inginkan,” sahut Dimitri dengan suara kaku di seberang sana.


Xavier tak bisa menahan diri untuk menyeringai meskipun dia tahu kalau Dimitri tak akan bisa melihatnya.


“Sebegitu bersemangatnya kau melakukan apa yang kuperintahkan kepadamu? Apakah efek racun itu sudah mulai terasa dan kau ketakutan kalau kau akan mati saat kau gagal dan aku menolak memberikan penawarnya?”


Dimitri terdiam dan Xavier bisa menebak bahwa lelaki itu tengah menggertakkan giginya di seberang sana.


“Aku baik-baik saja dan efek racun itu belum terasa, sampai sebulan lagi. Kau pasti akan menepati janjimu untuk memberiku penawarnya jika kau mendengar apa yang kudapatkan. Jadi, kau mau dengar tidak?” tanya Dimitri dengan nada kasar.


“Katakan.” Suara Xavier berucap serius, menyelipkan nada memerintah nan arogan di sana.


“Gadismu itu, Serafina Moon memiliki masa lalu yang lebih kompleks daripada yang bisa kau bayangkan. Seperti dugaanmu, dia memang memiliki hubungan erat dengan keluarga Dawn, keluarga yang anak perempuannya kau habisi dengan kejam.”


Dimitri menambahkan kalimat terakhirnya dengan nada mencela, seolah-olah ingin menohok hati nurani Xavier.Sayangnya, usaha Dimitri itu tentu saja tak menemui hasil, karena Xavier sendiri saja tidak yakin apakah dia masih memiliki hati nurani atau tidak.


“Lanjutkan. Apakah sesuai dugaanku, dia adalah adik tersembunyi dari Anastasia yang datang membalas dendam untuk menuntut balas kepadaku?” tanya Xavier cepat.


Dimitri tertawa, suaranya seolah mencemooh Xavier.

__ADS_1


“Kau pikir kisahnya akan sesederhana itu? Kisah seorang adik yang menuntut balas atas kematian kakaknya? Mungkin aku harus mengecewakanmu, Xavier, karena tebakanmu salah besar. Yah, ada beberapa yang benar, tetapi selebihnya kau salah dan kau tak akan menduganya. Sera memang berhubungan dengan keluarga Dawn dan dia datang untuk menghancurkanmu. Tetapi, motivasinya menjadikanmu musuhnya, jauh berbeda dengan apa yang kau bayangkan.”



Piringnya telah kosong, dan hidangan apapun yang tadinya tersaji di sana telah tandas tak bersisa.


Hidangan itu lezat seperti dugaan, citarasanya ditata dengan artistik dan sangat berhati-hati sehingga mampu menstimulasi lidah dengan cara luar biasa yang tak pernah dirasakan oleh Sera sebelumnya.


Tetapi, hidangan seenak ini yang dinikmati sendirian dalam ruangan tertutup nan sepi dengan hati yang penasaran bercampur takut, membuat Sera tak bisa menikmatinya secara maksimal.


Meskipun begitu, Sera tetap menghabiskan makanannya sampai tandas. Hidangan ini sudah pasti harganya sangat mahal, dan akan rugi kalau Sera sampai menyisakannya.


Dimana Xavier?


Sudah begitu lama lelaki itu keluar untuk menelepon tetapi hingga Sera menyelesaikan menyantap hidangan pembuka tersebut, Xavier tak juga kembali.


Jangan-jangan, lelaki itu memiliki urusan genting yang datang mendadak, lalu meninggalkannya sendirian di sini?


Tetapi, jika itu yang terjadi, salah satu anak buah lelaki itu yang tadi Sera lihat tengah berjaga di depan pintu, pasti sudah masuk ke dalam untuk memberitahunya, bukan?


Rasa bingung entah kenapa tiba-tiba membuat Sera merasa sedikit pening. Dia mengerjapkan mata berkali-kali ketika merasakan pandangannya buram dan berputar.


Sera mengangkat tangan untuk memijit pelipisnya yang berdenyut kesakitan, tetapi hal itu tak bisa meredakan pusingnya.


Apa yang terjadi?


Pikiran logisnya masih sempat bertanya-tanya, menelaah keanehan yang menguasai tubuhnya dan hampir merenggut kesadarannya.


Rasanya seperti…. Seperti ketika dia mabuk dan keracunan alkohol.


Kepala Sera menunduk dan matanya menatap ke arah piring kosong di depannya.


Dia jelas-jelas tak meminum alkohol sama sekali. Tetapi rasa ini dikenalnya dengan pasti sama persis ketika Sera keracunan alkohol….


Apakah… apakah ada alkohol di dalam makanan ini?


Pertanyaan Sera tergantung di udara, tak beruntung bisa bertemu dengan jawabannya, karena tiba-tiba saja, kegelapan langsung merangsek masuk dan menindas kesadarannya, membuatnya lunglai dengan mata terpejam, tak berdaya di atas kursinya.


Pada saat itulah Xavier memasuki ruangan. Ekspresinya tampak kejam. Matanya melirik ke arah piring hidangan yang telah kosong, lalu matanya terpaku pada tubuh Sera yang lunglai kehilangan kesadaran di atas kursinya.


Perlahan Xavier membungkukkan tubuh, lalu meraup Sera ke dalam gendongannya.


Ketika Sera mengatakan bahwa dirinya memiliki daya tahan tubuh yang rendah terhadap alkohol, hampir saja Xavier memberitahukan bahwa hidangan pembuka mereka, bukanlah lobster yang direndam dalam jus bit biasa, melainkan lobster itu direndam dalam jus bit yang dicampur dengan anggur merah murni dengan kandungan alkohol yang cukup kuat. Tetapi, akhirnya Xavier mengurungkan niatnya untuk memberitahu Sera, karena ingin melihat secara langsung apakah perempuan itu benar-benar tak tahan alkohol, ataukah dia hanya berbohong dan menggunakannya sebagai alasan untuk menolak tawaran Xavier menuangkan anggur ke dalam gelasnya.


Sera ternyata tidak berbohong.


Perempuan itu benar-benar memiliki daya tahan rendah terhadap alkohol sehingga langsung pingsan bahkan hanya karena menelan dosis yang sangat kecil.


Bibir Xavier menguraikan senyum kejam ketika melihat wajah Sera yang tak berdaya di dalam gendongannya.


Perempuan ini menyembunyikan banyak rahasia. Pengkhianat kecil yang berani-beraninya mencoba masuk dan ingin menusuknya dari belakang, tetapi malah dengan bodoh mendeklarasikan kelemahannya di hadapan musuhnya yang berbahaya.


Mungkin sudah saatnya bagi Xavier untuk menunjukkan kepada Sera, bahwa dirinya ditakuti oleh banyak orang bukan tanpa alasan. Dengan begitu, Sera akan sadar, seberapa mengerikannya musuh yang saat ini sedang dia hadapi.




Essence Of The Light ( EOTL) adalah Season Dua dari Essence Of The Darkness yang khusus menceritakan tentang Xavier Light.


Semoga kalian semua senang menemani author dan Xavier untuk menjalani kisah hidupnya sampai ke ujung jalan.


Terima kasih untuk Vote Poin, Like, Komen, Rating bintang lima dan Koinnya


Dan yang paling penting, dukungan tulus semangat dari kalian semua adalah yang utama.


Karena sudah ada fitur grup chat di Noveltoon ( di Mangatoon belum ada ) maka Author akan membuat pengumuman upload naskah, update jadwal up dan semua hal yang berhubungan dengan novel di grup chat author. Silahkan bergabung di sana ya.


Jika suka cerita romance fantasi, baca juga novel baru author berjudul INEVITABLE WAR yang sekarang sudah dipublish di Mangatoon, ya. Untuk berkunjung, silahkan cari judul "INEVITABLE WAR" di kolom pencarian, atau klik profil author ---> pilih "KARYA' ---> Scroll ke paling bawah ----> Di bagian Contribution, ada judul-judul Novel karya author di mangatoon, dan silahkan klik cover novel INEVITABLE WAR

__ADS_1


Thank You. By AY



__ADS_2