
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Istrimu yang sesungguhnya?”
Mata Sera melebar ketika segala pikiran yang aneh-aneh langsung terbersit di dalam kepalanya, membuat rona merah secara otomatis segera mewarnai pipinya.
Mata Xavier berkilat. “Istriku yang sesungguhnya. Kau pasti tahu apa artinya.”
Sera menipiskan bibir dengan tidak sabar. “Tidak. Aku tidak tahu artinya. Jadi tolong jelaskan kepadaku,” ucapnya lambat-lambat berusaha menantang.
Xavier terkekeh. Lelaki itu menyentuhkan tangannya ke pipi Sera, sementara jemarinya bergerak tanpa izin, mengusap permukaan lembut pipi Sera dengan sikap menggoda.
“Kalau kau tidak tahu artinya, kenapa pipimu memerah?” tanyanya kemudian dengan suara parau. “Klausulku akan memuat bahwa sepanjang perjanjian kita, kau harus berperan menjadi istriku yang sesungguhnya. Hal itu sebenarnya cukup sederhana, hanya memuat dua hal penting yang harus kau ingat. Menjadi istriku yang sesungguhnya berarti menjadi istriku secara jiwa dan raga. Secara jiwa, berarti kau harus setia kepadaku, kau tak boleh memasukkan pria lain ke dalam hatimu sepanjang perjanjian kita. Sedangkan secara raga….” Xavier menyeringai dan menatap Sera dengan penuh arti. “Itu berarti kau harus melayaniku di atas ranjang, kapanpun aku mau.”
Mata Sera melebar penuh kemarahan mendengarkan klausul yang tak tahu malu itu.
“Kau sangat tidak tahu malu, Xavier Light.” Sera mendesiskan kemarahannya dengan mata menatap tajam penuh celaan.
Xavier tertawa. “Aku memang tidak tahu malu, kau jelas sudah mengetahui itu sejak pertama kali mengenalku.”
Sera mencibir. “K-kau tidak seharusnya merasa bangga dengan itu,” sambungnya kemudian bersungut-sungut.
Xavier menyentuh dagu Sera dan mendongakkan perempuan itu ke arahnya, bibirnya menyentuh bibir Sera sebelum kemudian menghadiahkan kecupan lembut menggoda.
“Aku bangga dengan diriku apa adanya. Sebagai istriku, kau harus menerima apa adanya diriku.” Lelaki itu mengangkat alis, menatap Sera dengan sikap menggoda. “Apakah aku harus memasukkan juga klausul itu ke dalam perjanjian kita? Bahwa seorang istri harus menerima suaminya apa adanya?”
Wajah Sera kali ini benar-benar merah padam.
“Jadi, kau benar-benar akan memasukkan klausul itu ke dalam perjanjian kita? Mengenai kesepakatan di atas ranjang, juga? Apakah kau tidak malu kepada pengacaramu?”
“Kenapa aku harus merasa malu?” Xavier mengangkat bahu. “Lagipula, aku harus menuliskan persyaratanku secara terperinci, mungkin aku akan memasukkan jumlah sehari minimal tiga kali bercinta dan maksimal tanpa batas di dalam klausulku. Siapa yang tahu kalau nanti kau malah mengingkari janji dan memutuskan lari?”
Sera menatap Xavier dengan jengkel. “Aku tak akan lari,” sanggahnya cepat, seolah tersinggung.
“Kalau begitu, kita sepakat?” bisiknya parau. Xavier lalu menundukkan kepala dan menggesekkan pipinya ke pipi Sera. Lelaki itu dengan sengaja mengecup daun telinga Sera, mengirimkan senyar yang membuat tubuh Sera menggelinjang tanpa bisa ditahan. “Bagaimana kalau kita merayakannya dengan saling mencicipi? Para dokter dan perawat mungkin tidak akan melakukan visit sepagi ini, kita masih punya kesempatan beberapa jam untuk….”
“Xavier, tidak!” Sera menguatkan diri, berusaha mendorong lelaki itu menjauh. “Kau sedang sakit dan aku sedang hamil, kalau sampai ada yang memergoki kita, mereka akan berpikir bahwa kita sungguh-sungguh pasangan yang tak tahu malu, hanya memikirkan bercinta saja dan… mmmh!”
Sera memekik ketika Xavier menariknya ke dalam pelukan lalu menciumi bibirnya tanpa ampun dengan rasa lapar yang seolah tak berujung. Seluruh sisi bibir Sera tak ada yang lolos dari ciuman lelaki yang penuh hasrat itu seolah Xavier tengah mengklaim kepemilikannya kepada Sera tanpa ampun.
Ketika lelaki itu mengangkat kepalanya lama kemudian untuk memberikan kesempatan kepada Sera supaya bisa bernapas, Sera langsung menghirup oksigen dalam-dalam agar bisa langsung masuk dan membanjiri paru-parunya yang menjerit kesesakan.
Seluruh tubuhnya terasa panas hanya dari ciuman ahli lelaki itu, betapa lemahnya dia!
Ketika rengkuhan Xavier di tubuhnya melonggar, Sera mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri dan menggulirkan tubuhnya turun dari ranjang. Kali ini, Xavier tak menahannya, lelaki itu berbaring di atas ranjang, seolah-olah sudah lupa bahwa semalam dia habis pingsan karena sakit dan sekarang malahan duduk di sana dengan sikap arogan yang berbaur dengan biar percaya diri yang menjengkelkan yang melingkupi ekspresi angkuhnya.
“Aku benar-benar berhasrat padamu sekarang,” Xavier mengedikkan dagunya pada tubuhnya yang berhasrat tanpa tahu malu, membuat wajah dan seluruh permukaan kulit Sera merah padam karena malu. “Kau juga merasakan hal yang sama, bukan? Apakah kau yakin kau akan menolakku? Kita bisa bercinta sekarang dan melegakan diri….”
“Kau sedang sakit Xavier dan kau harus beristirahat! Aku harus pergi dari sini, kalau tidak akau akan mengganggu istirahatmu! Jadi S-selamat pagi dan selamat tinggal! Aku akan kembali lagi nanti!” Sera mengucapkan kalimatnya dengan terengah-engah, lalu langsung membalikkan tubuh dan terbirit-birit meninggalkan ruangan kamar itu.
Masih didengarnya suara kekehan Xavier dari dalam ruangan kamar perawatannya, membuat Sera menipiskan bibir, antara menahan jengkel dan menahan senyum yang tiba-tiba terulas begitu saja tanpa bisa ditahan dari bibirnya.
***
Aaron menatap ke kegelapan remang yang memenuhi nuansa kamarnya. Ruang bunker yang berada ratusan meter di bawah ini, sudah tentu tak memungkinkan untuk memberikan fasilitas jendela yang bisa memberinya pemandangan bersalju di luar ruangan yang bisa melegakannya.
Aaron hanya bergantung pada kalender untuk menghitung hari. Dia bahkan kesulitan untuk membedakan siang dan malam karena tak bisa melihat matahari. Tetapi Aaron tetap bersabar, karena hanya itu yang bisa dilakukannya.
Sepanjang terkurung di ruang bawah tanah itu sambil menunggu proses pemulihan, yang bisa dilakukan Aaron hanyalah memantau dunia luar dari televisi yang terpasang di kamarnya, dia mengikuti perkembangan ekonomi negara, dia memantau perkembangan politik dan tampaknya dunia di luar sana sedang damai tanpa goncangan apapun.
Asistennya selalu melapor dengan bantuan dokter Rasputin sebagai perantara sukarela, dan dia senang mengetahui perusahaanya tetap berjalan dengan baik tanpa adanya krisis yang serius yang diakibatkan oleh kepergian lama pemilik perusahaan yang -menurut informasi yang mereka terima- sedang berlibur keliling dunia.
__ADS_1
Para pembunuh bayaran itu pasti masih kelimpungan mencarinya dan mereka tak akan menyerah semudah itu. Aaron benar-benar membutuhkan wajah barunya jika dia memang ingin bergerak dengan leluasa.
Mata Aaron menatap bayangan dirinya di cermin besar dari lemari pakaian yang terletak tepat di seberang posisinya berbaring di kamar kecil ini. Dokter Rasputin sepertinya sengaja menempatkan cermin itu di sana, supaya ketika perban Aaron dibuka nanti, dia bisa melihat refleksi wajah barunya dengan jelas di kaca besar itu.
Ah, betapa tak sabarnya Aaron menanti kesembuhannya sehingga dia bisa melenggang bebas dengan wajah barunya untuk menemui cinta sejatinya.
Bersabarlah Sera, sayangku… aku akan segera datang menjemputmu.
Bibir Aaron mengulas senyum ketika membayangkan wajah Sera ketika menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan Aaron. Perempuan itu mungkin akan terkejut dan shock ketika melihat wajah baru Aaron, tetapi Aaron bahkan sudah menyusun kalimat permintaan maaf dan penjelasan yang akan dilontarkannya kepada perempuan itu.
Dia yakin bahwa hati Sera yang lembut pasti akan mempertimbangkan perasaannya dengan baik. Dia yakin, bahwa lelaki sesungguhnya yang dicintai oleh Sera adalah dirinya, dan dia yakin bahwa Sera akan luluh kepadanya.
Dirinya adalah cinta pertama Sera, sudah pasti perempuan itu akan memaafkan dan memilihnya jika dibandingkan dengan Xavier yang memaksakan kehendaknya kepada Sera, menjadikan Sera sebagai sandera dengan menggunakan ancaman melawan kehendak Sera sendiri.
Pintu ruang kamarnya terbuka, dan secara refleks, Aaron langsung menarik kembali pikirannya yang sempat melayang, lalu meraih pistol di bawah bantalnya untuk perlindungan diri, dan menunggu dengan sikap tegang penuh waspada sampai sosok yang membuka pintu itu muncul.
Napasnya berembus lega ketika melihat dokter Rasputinlah yang muncul. Diletakkannya kembali pistolnya dan ditatapnya sang dokter dengan penuh rasa ingin tahu.
“Apakah asistenku menitipkan informasi kepadaku?” tanyanya dengan nada sopan.
Dokter Rasputin telah begitu banyak membantunya dan Aaron sungguh menaruh hormat atas integritas sang dokter yang luar biasa.
“Ya. Dia menitipkan surat ini. Bagaimana keadaanmu? Apakah rasa sakitnya masih terasa?”
Wajah Aaron sedikit bengkak di balik perban dan rasanya berdenyut-denyut menyakitkan ketika efek obatnya habis. Tetapi infus dengan kandungan penghilang sakit yang diberikan oleh dokter Rasputin kemudian berhasil mengeliminasi rasa sakit itu dengan baik.
“Tidak, dokter. Infus ini berhasil.” Aaron menjawab lugas sambil melirik ke arah infus yang terhubung ke tubuhnya.
“Bagus. Sebentar lagi kau akan sembuh.” Dokter Rasputin menyerahkan surat itu ke pangkuan Aaron, lalu melangkah kembali ke pintu. “Aku akan meracik obat di ruangan sebelah. Jika kau butuh bantuan, seperti biasa tekan saja tombol di sebelah ranjangmu.”
Aaron menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, dokter,” ujarnya tulus sementara matanya menatap ke arah pintu yang kembali menutup rapat di depannya.
Perhatian Aaron kemudian teralih kepada surat yang ada di tangannya dan keningnya langsung berkerut penuh rasa ingin tahu. Tangannya segera bergerak dan membuka surat itu, lalu mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya.
Sebuah foto jatuh ke atas ranjang dan Aaron mengambilnya dengan penuh rasa ingin tahu. Kerutan di keningnya bertambah semakin dalam ketika memandang sosok yang ada di foto itu.Itu adalah Sabina.
Perempuan itu mengenakan kaca mata dan mantel hitam dan berjalan di lobby salah satu hotel. Wajahnya kosong dan tak sedang melihat ke arah kamera.
Sudah jelas foto itu diambil secara diam-diam oleh mata-mata Aaron yang disebarnya di seluruh penjuru Rusia.
***
“Salah satu pelayan di acara makan malam itu?”
Xavier menipiskan bibir dengan mata membara, mendongak menatap Akram yang menarik kursi ke arahnya dengan sikap muram.
“Pelayan itu sebenarnya tidak berniat untuk berkhianat. Salah satu pembunuh bayaran itu menjangkaunya di malam hari ketika dia berniat pulang ke rumah dan mengancamnya dengan pistol jika dia tak mengungkapkan informasi menyangkut Sera dan kau yang makan malam di rumahku. Siang hari setelah insiden itu, dia datang menghadap dan mengaku. Aku memilih menahan mengatakannya kepadamu sampai situasi membaik.” Akram berucap tenang sementara matanya menatap tajam ke arah Xavier.
“Apakah kau sudah membereskan pelayan itu?” Xavier seolah tidak bisa melepaskan perkara ini begitu saja.
“Apa kau tidak mendengarku? Pelayan itu tidak berniat untuk berkhianat, pilihannya adalah nyawanya juga anak istrinya atau memberikan informasi. Dia hanya mengatakan bahwa kalian berniat mengunjungi butik perlengkapan bayi esok pagi dan karena dia tahu bahwa Elana hanya membeli di satu butik perlengkapan bayi langganannya, maka dia memberitahukan nama butik itu kepada si pembunuh bayaran. Setelah itu, pembunuh bayaran itu bertindak sendiri, dia mengkonfirmasi pesananmu untuk menutup butik itu secara ekslusif dengan menyamar sebagai perwakilan dari petugas dari pusat perbelanjaan itu.”
“Apakah kau akan melepaskan pelayan itu begitu saja? Apa kau lupa? Karena informasi pelayan itu, pembunuh itu bisa masuk dan lolos menunggu di dalam toilet itu. Kau pikir apa yang akan terjadi jika aku tak bertindak? Sera… bahkan juga Elana bisa terbunuh.” Xavier menolehkan kepalanya, menatap Akram dengan tajam. “Aku tak akan mentolelir tindakan pengkhianat sekecil apapun. Jika hatimu terlalu lemah untuk membereskan pelayan itu, maka akulah yang akan maju.”
Kemarahan Xavier saat ini sama dengan kemarahan Akram yang ditujukan kepada Elana pada saat perempuan itu memohon supaya Akram mengampuni pelayan yang berkhianat itu. Akram juga mengatakan hal yang sama, bahwa pelayan itu bisa menyebabkan Elana dan Sera terbunuh jika saja Xavier dan yang lainnya terlambat bertindak. Tetapi kemudian, perkataan Elana berhasil membuat Akram luluh. Menurut Elana, pelayan itu bukanlah pengkhianat, dia didesak demi nyawa dan keselamatan kelurganya.
Jika sebuah pistol ditodongkan ke kepalanya dibarengi ancaman kepada keluarganya, bagaimana mungkin lelaki itu tak memilih berkhianat demi melindungi dirinya dan keluarganya? Bagaimana jika hal itu diterapkan kepada Akram sendiri? Tidakkah Akram akan memilih pilihan yang sama?
Akram mengawasi mata Xavier yang menyala oleh kemarahan. Xavier selalu mudah tersulut jika hal itu menyangkut pengkhianatan. Sejak peristiwa penculikan mengerikan yang menimpanya, lalu Xavier menemukan bahwa hal itu digerakkan oleh orang-orang yang mengaku teman ayah mereka tetapi menusuk di belakangnya, Xavier seolah tak mampu mentolerir pengkhianatan sekecil apapun yang ditemukannya. Kakak angkatnya itu mungkin telah berhasil membalas dendam dengan membabat habis semua orang yang terlibat dalam penculikan itu tanpa kecuali, tetapi jejak dendam berlapis trauma itu masih tetap ada, menciptakan monster gelap yang tertidur di dalam jiwa Xavier dan baru akan terbangun ketika dipantik oleh pengkhianatan yang terjadi di depan matanya.
Mempertimbangkan itu semua, Akram jelas tak bisa mengatakan bahwa Elanalah yang menahannya untuk menghukum pelayan itu dengan hukuman berdarah. Alih-alih melakukan tindakan keji sebagai hukuman, Akram akhirnya hanya memecat pelayan itu dengan pesangon yang cukup, lalu memberikan peringatan supaya pelayan itu dan keluarganya menjauh dari urusan kelurga Night demi keselamatan nyawanya.
Sebuah hukuman yang pasti sangat ringan menurut Xavier, lelaki itu mungkin akan meledak marah kalau sampai mengetahuinya.
“Aku sudah membereskan masalah pelayan itu. Bagaimanapun, dia adalah pelayanku dan ini adalah permasalahan internalku, jadi kurasa, kau tak perlu ikut campur dengan urusan keluargaku, Xavier.” Akram benar-benar tak ingin membahas masalah ini.
Xavier mungkin belum pernah merasakan memiliki anak yang berharga dan istri yang sangat dicintai seperti dirinya, karena itulah, mencoba menjelaskan apapun kepada kakak tirinya ini tak akan ada gunanya.
Xavier menipiskan bibir, keningnya berkerut seolah tidak puas. Tetapi, sama seperti halnya Akram, lelaki itu memutuskan tidak akan memperpanjang masalah ini. Xavier sadar bahwa masih ada banyak hal lain yang harus dia pikirkan.
__ADS_1
“Sekarang, setelah kau tahu bahwa seluruh pegawaimu, baik yang berasal dari rumah Sera dan dari rumahmu sendiri terbukti bersih dan tak berkhianat, apakah kau akan mengembalikan Sera ke rumahnya? Seharusnya tidak ada masalah, bukan? Kupikir rumah Sera akan lebih aman dari rumah sakit ini. Rumah itu berada di komplek elit yang dijaga ketat, kau bisa menempatkan penjagaan dua puluh empat jam di seluruh penjuru ruangan dan sistem kuldesak atau hanya ada satu pintu masuk sekaligus pintu keluar di perumahan itu, cukup menguntungkan bagimu dari segi sistem keamanan." Akram berucap dengan nada serius. "Aku lebih setuju kalau kalian segera meninggalkan rumah sakit ini. Meskipun di sini kalian berada di area VVIP dengan akses khusus dan penjagaan ketat, tetap saja kalian berada di rumah sakit umum yang bisa dijangkau oleh siapapun. Kau masih ingat kejadian di mana Maya bisa menyelinap masuk, bukan? Aku tak ingin kalau sampai hal itu terjadi lagi jika kalian tetap di rumah sakit ini.”
Akram memang mengenal villa tempat dulu dia menempatkan Nolan sebelum adik iparnya itu berangkat sekolah ke luar negeri, dia tahu bahwa membawa Sera di sana sampai mereka bisa membereskan masalah ini, adalah pilihan terbaik dibandingkan dengan perlindungan terbuka di rumah sakit ini. Mereka tidak bisa memandang remeh masalah sayembara yang melibatkan para pembunuh bayaran dari seluruh dunia ini. Sayembara tandingan Xavier memang membuat para pembunuh bayaran beralih sisi dan mengejar Aaron.
Namun, hal itu bukan berarti Sera aman sepenuhnya. Akan ada satu atau dua atau bahkan lebih pembunuh bayaran yang masih memandang bahwa sayembara yang mengincar Sera lebih mudah dieksekusi daripada memaksakan diri bersaing dengan begitu banyak orang untuk mengejar Aaron.
“Tidak.” Ekspresi Xavier sangat serius ketika menjawab. “Sera tak akan pulang ke rumahnya. Dia akan pulang bersamaku dan tinggal di rumahku. Kurasa itu adalah pilihan yang paling aman,” jawab Xavier kemudian memutuskan. “Lagipula, kau pasti sudah mendengar kesepakatan baru dengan tambahan klausul baru dari kami berdua yang kuajukan kepada pengacaraku barusan.”
Akram langsung menyeringai. “Jadi kau akan tinggal bersama istrimu lagi, apakah itu berarti kau sudah berbaikan?” tanyanya cepat.
Bibir Xavier menipis. “Jangan berpikir bahwa kami sama seperti dirimu dan Elana yang menjadi pasangan suami istri berbahagia dan saling mencintai lalu bergandengan tangan seperti cerita-cerita roman picisan dengan embel-embel hidup bahagia selamanya di ujung cerita. Kisah kami tidak seperti itu, kami bukanlah pasangan yang saling mencintai, setidaknya Sera tidak mencintaiku.” Xavier berucap parau, seolah-olah dirinya tersiksa ketika membahas itu.
Sayangnya, Akram tak mau melepaskan begitu saja. Lelaki itu memandang ke arah Xavier dengan tatapan tajam penasaran.
“Menurutmu Sera tidak mencintamu. Sedangkan kau sendiri? Bagaimana perasaanmu?”
Mata Xavier berubah tajam ketika membalas tatapan Akram.
“Perasaanku adalah urusanku sendiri. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, Akram. Kenapa sekarang kau berubah dari lelaki berjiwa kelam menjadi semacam wanita-wanita pecinta gosip yang mengendus dengan penuh semangat dan berusaha mencari jejak atas kisruh rumah tangga orang lain?” tanya Xavier dengan nada mencela yang terang-terangan.
Akram mengangkat alis, sama sekali tak tersinggung dengan pertanyaan Xavier yang menyerangnya.
“Kau dulu mencampuri hubunganku dengan Elana. Kenapa sekarang aku tidak boleh melakukan hal yang sama?” sahut Akram sambil bersedekap, sengaja menantang Xavier. “Lagipula, aku tak memerlukan jawaban atas pertanyaanku. Tanpa kau menjawab pun, perasaanmu sudah terlihat gamblang dan nyata. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Sera menyadarinya. Sampai kapan kau akan terus keras kepala dan menyembunyikannya?”
Akram mengawasi Xavier dan memiringkan kepala. “Bukankah klausul yang diajukan Sera ini selayaknya kesempatan kedua untukmu? Kalian sudah sepakat untuk menjalankan kesempatan kedua ini tanpa menyia-nyiakannya, bukan? Kau bisa menggunakan segala cara untuk memenangkan hati perempuan –yang katamu tak mencintaimu itu- saat kalian tinggal bersama. Kurasa, kalau kau bermain cantik, kau akan berhasil,” ucap Akram kemudian sambil menyeringai lebar.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***