
\========================
Halo, beautiful ladies
ini adalah part 2 dari 6 episode yang seharusnya diupload minggu ini.
Maafkan telat ya, authornya sakit flu lagi karna kurang bisa jaga diri jadi mudah ketularan. Akibatnya otak ga bisa buat mikir.
Kondisi baru agak mendingan hari kamis. Kamis nyoba bikin bisa dapat satu part. Hari ini, jumat nyoba bikin satu lagi ternyata bisa meskipun susah payah dan ( kayanya ) semuanya banyak typo. Mohon maaf ya.
Semoga 4 episode sisanya bisa author kejar keluar semua full di hari jumat dan sabtu ini ya. Target seminggu 6 part, kalau masih gak enak badan ya kurang, kalau author sehat mudah2an bisa lebih. Kalau ga kuat, ntar di crazy update di minggu depannya, ahahahaha
Regards - AY
\=========================
Elana menggertakkan giginya jengkel. Lelaki di depannya ini benar-benar arogan. Dalam kondisi demam saja dia bisa bersikap menyebalkan. Kalau saja lelaki ini tidak sedang sakit...
Elana menenangkan dirinya, berusaha bersikap sabar di depan Akram.
"Baiklah. Tapi minumlah obatmu," sahutnya dengan penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.
Seringai Akram makin lebar.
"Kau sudah berjanji," ucapnya memberi ultimatum. Lelaki itu lalu meraih tablet-tablet obat dari telapak tangan Elana dan meminumnya dengan cepat. Setelahnya, sambil berpamitan singkat, Elana meletakkan semua wadah makanan dan minuman itu ke atas baki dan membawanya keluar untuk dicuci.
Beberapa saat kemudian, dia kembali lagi ke kamar Akam setelah membereskan semuanya. Langkahnya membeku dan tertegun di sampaing ranjang Akram dan melihat pemandangan yang terpampang di depannya.
Lelaki itu telah melepas kemejanya, dan entah bagaimana dengan kondisi pakaiannya yang berada di balik selimut yang saat ini melingkari pinggangnya, Elana bahkan tak berani membayangkannya.
"Kau sedang apa?" Elana kebingungan melihat sikap Akram. Apa lelaki ini tidak kedinginan? Orang yang demam memang harus memakai pakaian tipis dan longgar untuk menjaga supaya suhu tubuh tidak naik terus karena kepanasan, tetapi bukan berarti harus membuka baju juga, kan?
Akram menyeringai, tampak menikmati sekali kebingungan Elana sebelum kemudian lelaki itu membuka lengannya seolah meminta pelukan.
"Aku mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Nathan tadi dalam kondisi setengah sadarku. Skin to skin merupakan metode terbaik untuk menurunkan suhu tubuhku, kan?" Akram tersenyum kurang ajar. "Itulah persyaratan dariku. Tunggu apalagi? Buka bajumu, naik ke ranjang dan peluk aku."
Karena keterkejutan yang begitu nyata menghantamnya, Elana sampai terpaku di tempat dan tak bisa menahan mulutnya yang ternganga. Matanya kembali menelusuri sosok Akram, mencoba mencari tahu apakah demam tinggi membuat lelaki itu kehilangan kewarasannya.
Akram sendiri masih dengan sikap tak bersalah yang bisa, tangannya terentang, sementara sebelah alisnya terangkat, menunggu dengan sikap tak sabar yang ditunjukkan secara sengaja.
"Kau kan sedang sakit? Kenapa kau minta yang seperti itu?" tanya Elana dengan nada mencela yang kental.
Akram terkekeh, menatap Elana seolah mengejek.
"Apa yang ada di dalam kepala mungilmu itu, Elana? Memangnya aku minta apa? Aku cuma ingin kau membantu menurunkan suhu badanku," dengan sikap sengaja, Akram menyentuh kepalanya. "Aduh,” ujarnya setengah mengerang.
Segala penghalang yang membatasi kaki Elana untuk bergerak musnahlah sudah. Dia langsung melangkah duduk di samping ranjang, menyentuh lengan Akram dengan kecemasan yang nyata.
"Akram? Kepalamu sakit?" tanyanya perlahan.Ada senyum yang tersungging samar di bibir Akram, begitu samar hingga Elana yang saat ini berada sangat dekat dengannya pun tak akan bisa menelusuri jejaknya.
Dia sangat suka melihat Elana mencemaskannya. Kalau diingat lagi, sepertinya dia telah berhasil menempatkan dirinya menjadi sesuatu yang berarti dalam jiwa Elana. Kalau tidak, perempuan ini tidak akan sepanik itu melihat dirinya kesakitan, bukan?
Jika dibandingkan dengan dahulu kala, ketika Akram tahu jelas bahwa Elana lebih mendoakan Akram celaka sehingga dia bisa membebaskannya, maka perkembangan hubungan mereka bisa dibilang sudah maju amat pesat.
"Kepalaku sedikit sakit," Akram melepaskan tangannya yang memegangi dahi, menaikkan pandangannya supaya dia bisa menatap langsung ke mata Elana. Tidak ada kebohongan dalam kalimatnya, karena pada detik ini, kepalanya memang terasa berdentam-dentam seperti dipukuli dengan palu yang menghentak tanpa kenal ampun.
"Mungkin karena suhu tubuhku terasa amat panas saat ini," Akram mengernyitkan alis dan menghela napas panjang. Ditatapnya kembali Elana dengan tatapan tajam penuh makna. "Kalau kau tak berminat memenuhi janji persyaratanmu, kurasa aku akan tidur saja." Dengan gerakan kaku yang disengaja, Akram membaringkan tubuhnya, lalu hendak bergerak tidur memunggungi Elana.
Seketika itu juga, dipenuhi oleh rasa bersalah, tangan Elana bergerak menyentuh lengan Akram dan menahannya.
“Akram...," Eana berbisik dengan ragu dan menelan ludahnya.Sama sekali tak disadarinya bahwa Akram sedang menyembunyikan senyum kemenangannya karena berhasil menempatkan Elana pada situasi yang tepat dia inginkan.
“Kau bisa beristirahat Elana, aku juga akan tidur." Akram menjawab kembali, sengaja menyiratkan nada kaku di suaranya.
Elana menelan ludah, dipenuhi keraguan ketika menatap punggung Akram yang kali ini bergerak membelakanginya. Entah kenapa di matanya sekarang, Akram terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk karena tak mendapatkan mainan yang dimintanya. Sekali lagi Elana menghela napas panjang, lalu dia bergerak naik ke atas ranjang.
Keraguan masih memenuhi dirinya saat matanya memandang punggung Akram yang tak bergerak sama sekali, seolah-olah lelaki itu memilih diam dan membiarkan Elana yang mengambil inisiatif.
Elanapun ikut berbaring miring di belakang Akram, mendekat rapat hingga tubuhnya langsung bisa merasakan hawa panas menusuk di permukaan kulit Akram yang telanjang. Semakin dirapatkan tubuhnya ketika dia tidak merasakan penolakan sama sekali dari Akram, dan tangannya pun bergerak, menyelip di bawah lengan Akram dan berlabuh di dada lelaki itu yang sama panas membaranya seperti punggungnya.
Akram sama sekali tak menolaknya, lelaki itu menghela napas sedikit, lalu menolehkan kepalanya ke arah Elana.
"Apakah ini berarti kau akan memelukku?" tanyanya dengan nada menuntut.
Elana mengerucutkan bibir. Luar biasa. Seorang Akram Night yang sangat kuat dan ditakuti semua orang, ternyata berubah drastis seratus delapan puluh derajat menjadi anak laki-laki yang luar biasa manja ketika sedang sakit.
__ADS_1
"Ya. Aku akan memelukmu. Apakah kau senang?" sahut Elana cepat.
Akram terkekeh, lalu dengan sekali putar, lelaki itu membalikkan tubuhnya dengan efisien dan langsung menempatkan Elana dalam rengkuhan pelukan di dadanya.
"Tentu saja aku senang," Akram mengetatkan pelukannya hingga tubuh Elana tenggelam dalam, lekat di pelukannya. "Kau terasa sejuk dan menyenangkan," bisiknya sambil memejamkan mata.
Elana mendongakkan kepala, lalu digesekkannya pipinya di permukaan kulit dada Akram yang telanjang.
"Kau panas sekali, Akram. Apakah tidak lebih baik kalau aku mengompresmu lagi..."
"Shh... diamlah, tidak ada yang lebih baik dari ini, memelukmu di sini.... bukankah Nathan bilang kalau metode skin to skin adalah yang paling efektif?" tanyanya sedikit menggoda.
Elana kembali mengerucutkan bibirnya. "Baiklah, aku akan memelukmu selama beberapa saat. Kalau demammu tak juga turun, aku akan mengompresmu dan membuatmu meninum obat turun panas."
"Demamku akan turun, segera..." tangan Akram bergerak menurunkan bagian bahu gaun tidur Elana. "Kalau kau melepaskan pakaianmu dan menerapkan metode skin to skin yang sesungguhnya kepadaku...." sambungnya menggoda.
"Akram!" Elana berseru memberi peringatan, sementara sebelah tangannya bergerak untuk mempertahankan gaunnya supaya tetap di tempatnya. "Kau sedang demam tinggi.... bisa-bisanya kau..."
"Elana, sepertinya kau salah menilai diriku," Akram menyela dengan suara yakin. "Aku tak sedang mencoba bercinta denganmu, aku hanya sedang mengikuti saran Nathan. Dia bilang bahwa skin to skin adalah metode menurunkan demam dengan menempelkan kulit manusia yang normal ke kulit manusia yang demam. Kalau kau masih memakai pakaianmu, bagaimana caranya kita menerapkan metode itu dengan benar?' jemari Akram kembali menurunkan pakaian Elana, kali ini tanpa perlawanan. "Buka bajumu, ya?"
Elana mengerutkan kening, menahan rasa ingin mencubit Akram yang saat ini begitu kuat menderanya. Astaga! Lelaki ini sedang sakit, tetapi entah kenapa kemesumannya terdengar begitu kental saat dia meminta Elana membuka pakaiannya.
Atau jangan-jangan... bukan Akram yang memiliki pikiran kotor di kepalanya... melainkan Elana? Jangan-jangan Akram memang hanya berniat menurunkan suhu tubuhnya dengan cara paling efektif, sedang Elana malahan memikirkan hal yang tidak-tidak di kepalanya?
"Tapi tidak boleh melepaskan pakaian," dengan tegas Elana memberikan syarat kepada Akram.
Akram terkekeh, tetapi nyatanya lelaki itu memilih untuk tidak memaksakan kehendaknya. Dikecupnya dahi Elana lembut, lalu dipeluknya Elana erat-erat, menenggelamkan perempuan itu ke tubuhnya yang membara.
"Kau bersikap malu-malu seolah-olah lupa kalau tak ada bagian tubuhmu yang belum kupuja. "Tak tahukah kau kalau itu malah menyiksaku?" erangnya menahan siksa.
Lelaki itu menghela napas berkali-kali, dan Elana bahkan bisa mendengar degup jantungnya yang tak teratur. Lama kemudian, Akram akhirnya mampu menguasai diri, menunduk menatap Elana dan memasang senyum. "Aku akan menahan diriku sekuat tenaga. Jadi, malam ini, kita hanya akan tidur," ucapnya dengan nada penuh ironi, seolah-olah sedang mengultimatum dirinya sendiri.
***
***
Bukan, bukan untuk tidur ataupun untuk merayu. Perempuan itu memang mengenakan lingerine hitam yang tampak menggoda, tetapi dia menghabiskan waktunya di atas ranjang sendirian. Duduk bersila di sana, dan ironisnya hanya ditemani oleh sebuah laptop hitam yang tengah menyala.
Maya duduk di depan komputernya dan mengerutkan keningnya dalam. Matanya masih terpaku pada data-data yang ada di layar komputernya.
Karena keingintahuan dan didorong oleh rasa cemburu yang lekat, dirinya mencoba mencari tahu mengenai asisten Xavier yang sangat mengganggu pemandangan mata itu. Tadi, sempat dilihatnya nama lengkap Elana tertulis di kartu karyawan yang terpasang layaknya pin di dada lelaki itu. Di sana tertulis, Elana Layl.
Malam ini, setelah berendam air panas dan bersantai di kamarnya, Iseng, dia memasukkan nama Elana Layl ke mesin pencarian untuk mendapatkan informasi lebih tentang perempuan itu.
Sebab, siapa yang tak bertanya-tanya bagaimana caranya seorang perempuan yang kelihatannya biasa-biasa saja, bisa menjadi asisten seorang Xavier Light yang jenius?
Sayangnya, tak ditemukan apapun dari hasil temuan mesin pencari di depannya. Ada beberapa orang bernama sama, tetapi ketika Maya menelusuri lebih jauh, orang itu bukanlah Elana. Bahkan, dari penelusuran gambar yang dilakukannya, sama sekali tak terpampang foto Elana di sana.
Sungguh aneh. Di jaman modern ini, semua orang pasti memiliki sosial media atau akun dalam platform online lain yang terkait dengan nama lengkapnya. Tetapi... data tentag Elana Layl sama sekali tak memiliki jejak di internet.
Seolah-olah... seluruh datanya dihapus.... atau... Elana Layl benar-benar nama baru yang belum tersentuh oleh jejak mesin pencari sama sekali.
Maya mengawasi layar laptopnya dan keningnya berkerut semakin dalam. Craden telah memperingatkannya supaya tak bertindak di luar kapasitasnya di perusahaan milik Akram Night. Tetapi, entah kenapa kecurigaan yang kental malahan memenuhi jiwa Maya, kecurigaan akan adanya suatu rahasia yang mengganggu, membuat kuduknya terasa gatal karena tak bisa memecahkannya.
Bagaimana mungkin seorang manusia tidak mempunyai jejak digital sama sekali di dunia yang sudah modern ini?
Pepatah bilang bahwa untuk memenangkan sebuah pertarungan, kita harus mengenali musuh-musuh kita. Tetapi, untuk saat ini, tidak ada petunjuk apapun bagi Maya untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang Elana.
Ya, Maya memang sudah menganggap Elana sebagai musuh pengganggu yang harus disingkirkan. Jadi, meskipun saat ini langkahnya tertahan oleh ketiadaan informasi, Maya tak akan menyerah dengan mudahnya.
Akan ditemukannya borok buruk perempuan itu, sehingga dia bisa membuat Elana disingkirkan dan tak memiliki kesempatan untuk muncul dan mengganggu pemandangan matanya lagi.
***
***
"Ibu...,"
Elana mengerutkan kening ketika mendengar suara erangan parau dekat sekali dengan telinganya. Dia akhirnya membuka mata, terbangun lambat-lambat dan beranjak dari tidur lelapnya yang dalam.
Butuh waktu sejenak bagi otaknya untuk memahami situasi, hingga akhirnya dia mengingat semuanya. Dengan sigap, Elana bangkit dari tidurnya dan beranjak pada posisi duduk di atas ranjang, sementara matanya menatap lurus ke arah Akram.
__ADS_1
Lelaki itu masih terpejam, tetapi ekspresinya tampak teriksa dengan alis berkerut dan bibir yang terbuka mengeluarkan suara erangan.
"Ibu...,"
Sekali lagi erangan itu terdengar, kali ini berhasil cukup jelas dicerna oleh telinga Elana yang telah sadar sepenuhnya. Elana langsung menggerakkan tangannya untuk menangkup dahi Akram dan dia berjingkat ketika merasakan permukaan kulit Akram yang panas membara.
Padahal ketika mereka tidur sambil berpelukan tadi, suhu tubuh Akram akhirnya menurun dan membuat lelaki itu bisa jatuh tertidur dengan tenang, memberikan kelegaan luar biasa pada Elana sehingga tak lama kemudian, dia menyusul jatuh tertidur bersama Akram.
Tetapi, kenapa sekarang lelaki itu malahan demam lagi? Dan Akram tampak mengigau dalam tidurnya, seolah-olah panas tinggi telah membuatnya meracau.... Akram memanggil-manggil ibunya, apakah saat ini Akram tengah bermimpi mengenai ibunya?
Pada detik itulah, Elana menyadari bahwa dia masih belum mengenal Akram dengan mendalam. Lelaki itu pernah beberapa kali menyebut tentang ibunya ketika membahas masa lalunya dengan Xavier, atau ketika memberikan cincin pertunangan untuknya. Tetapi, Akram tak pernah menjelaskan bentuk hubungannya dengan ibunya, apa yang dia rasakan kepada ibunya, dan seberapa dalam ikatan emosional di antara mereka sebagai seorang ibu dan anak.
Satu-satunya sikap penuh emosi yang diungkapkan Akram dengan mata berkilat dan ekspresi menahan kesakitan waktu itu, adalah ketika Akram berbicara kepada Xavier tentang bagaimana Xavier telah merenggut seluruh kasih sayang dan perhatian ibunya karena kondisi Xavier yang hancur lebur setelah penculikan yang menjadikannya secara tak langsung sebagai pengganti Akram, telah membuat ibunya didera oleh rasa bersalah yang begitu besar sehingga akhirnya mengorbannkan anak kandungnya sendiri demi mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Akram, demi penebusan dosa.
Karena itukah Akram memanggil ibunya saat ini? Di saat dia demam dan sakit?
Tiba-tiba saja, di benak Elana langsung terbayang sosok anak kecil yang meringkuk dalam gigilan keras di tengah demam tinggi, dengan para pelayan yang mondar-mandir mengurusnya, tetapi tak ada seorang ibu untuk memeluk dan mencurahkan perhatian baginya di sana.
Rasa belas kasihan langsung membanjiri jiwa Elana, hingga membuat dadanya terasa penuh, menekan jalur napasnya hingga Elana harus menghirup udara dalam-dalam untuk membasuh paru-parunya dan menetralkan napasnya yang mulai terasa sesak.
Elana langsung meloncat turun dari tempat tidur dan meraih termometer digital yang sudah disiapkannya di nakas samping ranjang. Ketika diperiksanya suhu Akram, keningnya langsung berkerut saat melihat suhunya sudah mencapai 39.5 derajat.
Dokter Nathan bilang kalau suhu sudah mencapai angka itu, maka dibutuhkan bantuan obat untuk menurunkannya, karena suhu terlalu tinggi bisa sangat berbahaya, bisa mengakibatkan kejang atau paling parahnya adalag syok pada otak
Elana bergegas menyiapkan obat dan membawa segelas air untuk Akram. Dia duduk kembali di samping ranjang dan mengguncang lembut bahu lelaki itu untuk menarik kesadarannya ke permukaan.
"Akram... kau harus meminum obatmu," Elana berbisik pelan dengan nada putus asa ketika lelaki itu tak juga bangun. Diusapnya wajah Akram sejenak, seolah ingin menyerap hawa panas dari tubuh Akram.
Beruntung sentuhannya akhirnya berhasil membangunkan lelaki itu. Mata Akram mengerjap, beberapa detik dipenuhi kekosongan seolah kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
"Akram, demammu tinggi sekali, kau harus meminum obatmu..." Elana mendekatkan bibirnya, berbisik di telinga Akram untuk menarik perhatian lelaki itu.
Akram menolehkan kepala ke arah Elana, dan kali ini kesadarannya tampaknya sudah kembali. Lelaki itu mengangguk, lalu berusaha untuk mengangkat tubuhnya supaya beralih ke posisi duduk agar bisa meminum obatnya.
Elana berlutut di atas ranjang, sehingga posisinya lebih tinggi dari Akram, disangganya punggung Akram dari belakang untuk membuatnya duduk. Tubuh Akram sedikit lunglai, sehingga Elana harus menggunakan seluruh tenaganya untuk menyangga lelaki itu tetap duduk. Beruntung Elana akhirnya berhasil, membuat Akram berada pada posisi duduk setengah tidur di atas ranjang. Posisi Akram yang sedikit melorot membuatnya mudah menyandarkan kepala ke dada Elana, menghela napas panjang, lalu mulai terpejam lagi.
Elana mengguncang bahu Akram sedikit, kali ini nadanya sedikit menuntut, sementara tangannya yang lain meraih tablet obat itu dan menggenggamkannya di tangan Akram nan lunglai.
"Jangan tidur dulu, Akram... minum obatmu dulu," dengan lembut Elana berbisik, lalu menyodorkan gelas air putih yang dibawanya ke bibir Akram.
Akram menurut dan memasukkan tablet obat itu ke mulutnya, lalu menerima air minun yang disorongkan oleh Elana dari gelas air yang menempel ke bibirnya.
Setelahnya, Elana meletakkan gelasnya kembali Kedua lengannya bergerak memeluk kepala Akram, mengusapmya lembut hingga dirasakannya tubuh Akram kembali lunglai hingga bersandar sepenuhnya ke tubuh Elana.
Suasana kamar itu kembali hening, hanya deru napas Akram yang teratur itulah yang terdengar perlahan memenuhi ruangan. Elana memejamkan mata, dan entah kenapa merasa nyaman luar biasa.
Elana akhirnya memejamkan mata, dengan kesadaran sepenuhnya bahwa... hatinya begitu mencemaskan Akram sehingga dia ingin lelaki itu baik-baik saja dan selalu berbahagia.
Ketika Elana akhirnya tenggelam dalam pulasnya tidur bersama Akram, ada sebuah pertanyaan tak terjawab menggantung di udara, berputar-putar di putus asa sambil meneriakkan pertanyaan berulang hingga tersesat dan belum mampu menemukan jawabannya.
*Apakah dia.... telah jatuh cinta kepada Akram?
***
***
\========================
Halo, beautiful ladies
ini adalah part 2 dari 6 episode yang akan diupload minggu ini.
Maafkan telat ya, authornya sakit flu lagi karna kurang bisa jaga diri jadi mudah ketularan. Akibatnya otak ga bisa buat mikir.
Kondisi baru agak mendingan hari kamis. Kamis nyoba bikin bisa dapat satu part. Hari ini, jumat nyoba bikin satu lagi ternyata bisa meskipun susah payah dan ( kayanya ) semuanya banyak typo. Mohon maaf ya.
Semoga 4 episode sisanya bisa author kejar keluar semua full di hari jumat dan sabtu ini ya. Target seminggu 6 part, kalau masih gak enak badan ya kurang, kalau author sehat mudah2an bisa lebih. Kalau ga kuat, ntar di crazy update di minggu depannya, ahahahaha
Regards - AY
\=========================
__ADS_1