
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website PROJECTSAIRAAKIRA + bonus mini novel part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana
****
****
****
“Credence telah datang.”
Akram berucap memberitahu begitu Xavier melangkah masuk. Ruangan tersebut tadinya adalah ruang tamu VIP di lantai rumah sakit ini yang sekarang secara otomatis diubah menjadi ruang kerja Akram dan Xavier karena istri dan anak mereka sedang dirawat di sini.
Ini sudah larut malam dan sebagian besar manusia di gedung bangunan ini pastilah telah terlelap dalam tidurnya. Hanya dokter dan perawat serta para karyawan yang bertugas jaga malam yang tampaknya harus terus bangun sampai pagi menjelang, itu semua ditambah lagi dengan para bodyguard Xavier serta Akram yang tetap harus bersiaga untuk menghadapi berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Baik Akram maupun Xavier sudah pasti sama-sama tak bisa terlelap dengan tenang hari ini. Mereka saat ini menghadapi jalan gelap yang menemukan titik terang. Selain karena kondisi dokter Nathan yang masih belum menunjukkan perkembangan berarti, pengejaran terhadap Aaron pun belum mendapatkan pencerahan.
Ini sudah lebih dari satu hari sejak kecelakaan yang memberikan jalan bagi Aaron untuk melarikan diri kemarin pagi. Sampai sekarang, ketika malam sudah menjelang lagi di keesokan harinya, pria itu rupanya masih begitu licin sehingga tim pencari dengan kemampuan tinggi yang dikirimkan oleh Xavier belum bisa menemukan petunjuk apapun mengenai keberadaannya.
“Apakah Credence membawa Sabina bersamanya?” Xavier bertanya tenang. Credence mungkin telahmeneleponnya dalam perjalanan ke negara ini untuk memberitahukan kedatangannya. Namun, Xavier sedang bersama Sera tadi dan memutuskan untuk mematikan ponselnya supaya tidak mengganggu Sera yang tengah dipeluknya dan dibuainya supaya bisa tertidur lelap.
“Ya. Dia membawa Sabina bersamanya.” Akram menyahuti. Karena Xavier tidak bisa dihubungi, sepertinya Credence memutuskan untuk memberitahukan kedatangannya kepada Akram.
Akram lalu melirik jam tangannya dan mengerutkan kening mengira-ngira. “Private jet-nya sudah tiba di bandara setengah jam lalu. Kurasa, saat ini dia sedang dalam perjalanan kemari.”
“Bagus. Karena aku membutuhkan Sabina untuk rencanaku berikutnya.” Xavier bergumam perlahan, lalu mengambil tempat duduk di sofa besar yang ada di hadapan Akram.
Duduk di seberangnya, Akram terlihat sedang membaca laporan yang dikirimkan oleh anak buahnya. Jasnya sudah dilepas dan disampirkan secara serampangan di punggung sofa, begitupun dasinya. Sementara kemeja hitam yang dikenakannya telah dibuka dua kancing di bagian atasnya.
Akram tampak berantakan. Begitu beres bekerja, lelaki itu sepertinya langsung meluncur dari perusahaannya ke rumah sakit ini. Rambutnya tampak berantakan dan ada sedikit semu gelap melingkari matanya.
“Kau tampak lelah.” Xavier mengambil tempat duduk di depan Akram dan mengawasi adik angkatnya itu.
Bibir Akram mengulas senyuman penuh ironi. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya dan mendekus.
“Zac sedikit rewel di rumah. Dia mulai merindukan ibunya dan bersikap sangat sensitif. Ketidakcocokan sedikit saja membuatnya menangis keras-keras. Aku berpikir untuk memindahkan Zac kemari untuk sementara sampai Elana dan Xelena bisa pulang. Setidaknya kami jadi memiliki waktu yang panjang untuk dihabiskan bersama-sama di rumah sakit dan aku tak perlu bolak-balik dari kantor ke rumah, lalu kembali ke rumah sakit lagi dan berputar terus seperti itu.”
Xelena adalah nama yang dipilih oleh Akram dan Elana sebagai nama anak mereka. Pilihan itu ditentukan oleh pemikiran sederhana, bahwa nama Zachary dan Xelena memiliki arti yang sama yaitu: bulan. Mungkin, baik Akram maupun Elana menyesuaikan filosofi nama itu dengan nama keluarga Akram yang berarti ‘malam’ dan berharap kedua anak mereka menjadi bulan penerang di malam mereka, menjadi anak-anak yang mampu menerangi kehidupan mereka.
“Bagaimana kondisi Xelena?” Xavier bertanya dengan penuh perhatian. Terakhir, bayi yang luar biasa cantik itu masih berada di ruang NICU bersama kedua putri kembarnya. Namun, hari ini Xelena rupanya telah diperbolehkan keluar dari inkubator dan bisa tidur di boks bayi di dalam kamar perawatan bersama ibunya.
Akram menyeringai lebar, ekspresinya tampak melembut dan berseri-seri. Jika orang melihat wajah Akram yang sekarang, mereka pasti tak akan menyangka bahwa lelaki ini adalah pria gelap dengan aura kelam yang sama yang ditakuti oleh banyak orang.
“Xel benar-benar putri cantik yang sesungguhnya,” Akram rupanya terbiasa bersikap serampangan dengan menyebut singkat bagian depan nama anaknya saja. “Dia sangat tenang, dan menghabiskan waktunya dengan tidur pulas. Dia hanya bangun untuk menyusu, memamerkan mata beningnya yang indah saat menatap orang-orang, lalu tidur lagi dengan pulas. Aku tak akan pernah puas menimang dan menggendongnya. Elana sampai memarahiku karena katanya aku akan membuat Xelena terbiasa digendong dan nantinya tak mau jika diletakkan di dalam boksnya.” Akram menjawab cepat dan matanya tampak melembut. “Perkembangan anak itu sangat pesat sehingga berat tubuhnya meningkat cepat aku rasa, dia akan bertumbuh besar dalam sekerjapan mata.”
Senyuman Akram tampak melebar ketika membicarakan anaknya. Lelaki itu kemudian mengawasi Xavier dan bertanya, “Kau sendiri, bagaimana dengan si kembar?”
Kali ini, gantian wajah Xavier yang berseri-seri dan lelaki itu juga memasang seringai senang seperti orang bodoh, mirip seperti yang ditampilkan oleh Akram tadi.
“Mereka tumbuh cepat dan baik-baik saja.” Xavier menyahuti dengan nada pasti, kalimatnya singkat tapi tak bisa menyembunyikan nada penuh syukur yang terpatri di sana. Dia baru saja mengunjungi ruang bayi sebelum menghampiri Akram di ruangan ini, dan hatinya mengembang penuh rasa bahagia melihat kedua putrinya tengah tidur dengan tenang dan pulas di dalam inkubator. “Aku harap, sama seperi Xelena, si kembar juga bisa cepat keluar dari inkubator dan bisa dipeluk dengan bebas oleh kami.”
Situasi damai dari dua pria yang sedang membicarakan anak-anaknya yang tengah melingkupi Akram dan Xavier ini tentu tak akan mungkin terbayangkan oleh mereka berdua di masa lalu. Baik Akram maupun Xavier, dulunya pasti berpikir bahwa meskipun mereka berdamai pun, saat mereka menghabiskan waktu berdua untuk bercakap-cakap, percakapan mereka sudah tentu menyangkut sesuatu yang gelap dan menyeramkan, seperti pembahasan mengenai pasokan senjata, dunia bawah tanah, atau bahkan mengenai pembunuh bayaran dan metode kejam tapi efektif untuk mengalahkan musuh.
Siapa yang akan menyangka kalau Akram dan Xavier akan duduk bersama dan saling tersenyum layaknya ayah bahagia dan membahas mengenai anak-anak serta keluarga mereka?
Masa depan memang tak ada yang tahu, terkadang ada satu titik balik yang ternyata memberikan efek besar dan menciptakan perubahan yang tak terduga dalam hidup seseorang. Begitupun dalam kehidupan Akram dan Xavier saat ini, kehadiran wanita yang memiliki hati mereka dan membuat mereka jatuh cinta, telah mengubah mereka menjadi sosok pria yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Satu yang pasti, Akram dan Xavier untuk saat ini memiliki tujuan yang sama: melindungi keluarga mereka.
__ADS_1
“Aku mendapatkan laporan dari seluruh CCTV di semua area yang melingkupi perimeter dengan titik pusat di jalan tol dimana kecelakaan yang disengaja oleh Aaron itu terjadi. Anak buahku sedang memeriksa semua rekapan yang terjadi dalam jeda setelah kecelakaan itu sampai sekarang, tapi mereka tidak menemukan pergerakan Aaron sama sekali. Entah dia bersembunyi di bawah tanag, atau dia mengubah wajahnya lagi dalam penyamaran sehingga tak dikenali.” Suara Akram terdengar serius kemudian. Dia tahu bahwa mereka harus menuntaskan masalah ini dengan segera kalau mereka mau kehidupan keluarga mereka tenang di masa depan. Aaron adalah sejenis pengganggu keras kepala yang secara tak terduga, ternyata luar biasa licin dan sulit ditangkap.
Jika Aaron tak bisa dibereskan, mereka tak akan bisa menghirup napas lega dan akan selalu dipenuhi rasa was-was sepanjang waktu.
“Kau bilang, kau membutuhkan Sabina. Apa rencanamu?” Akram bertanya lagi ketika melihat ekspresi Xavier yang tampak sedang berpikir.
“Aku sedang berpikir untuk melancarkan perang umpan.” Xavier menyahuti tenang.
“Perang umpan? Apa maksudmu?”
“Kau tahu, Aaron tidak mungkin akan bersembunyi selamanya. Tujuan utamanya melakukan semua usaha ini, adalah untuk mendekati Sera dan bahkan mungkit merenggut Sera dariku. Saat ini aku yakin dia tidak sedang bersantai-santai atau beristirahat dalam persembunyian. Aaron pasti telah bergerak sigap menjalankan rencananya dengan satu tujuan yaitu mendapatkan Sera.”
Akram mengerutkan keningnya dalam.
“Kau bilang perang umpan?” Ekspresi Akram tampak menggelap. “Jangan bilang bahwa kau hendak menggunakan istrimu sendiri sebagai umpan untuk memancing Aaron?” tanyanya dengan nada tidak percaya.
Xavier menyeringai.
“Yah, meskipun bisa dibilang bahwa Sera adalah umpan terbaik bagi Aaron, tetap saja aku tak mungkin menggunakannya sebagai umpan langsung. Aku terlalu mencintai istriku untuk tega mengumpankannya pada penjahat brengsek seperti Aaron.”
“Lalu, apa maksudmu dengan perang umpan?” Akram menyahuti lagi dengan nada tak sabar.
“Karena aku tak mungkin menggunakan Sera secara langsung, maka aku akan menjadikannya umpan tak langsung.” Ada sebersit rasa bersalah di benak Xavier, tetapi lelaki itu menelannya. “Dengan memanfaatkan Sabina.”
“Sabina tidak memiliki efek terhadap Aaron. Kau tahu sendiri, bukan? Meskipun mereka memiliki ikatan emosional yang terbentuk ketika Aaron terjebak di negara ini dan Aaron memiliki hutang budi kepada Sabina yang menyelamatkan nyawanya serta membantunya melarikan diri, nyatanya itu tak cukup untuk memancing Aaron datang mendekat dan memunculkan dirinya.” Akram mengulang penjelasannya sambil menatap Xavier setengah bingung. “Selama berbulan-bulan Sabina berada di Rusia, di lokasi-lokasi mencolok yang sudah pasti diketahui oleh Aaron, tapi lelaki itu sama sekali tidak mencoba menghubungi dan mendatangi Sabina.”
“Kurasa, Aaron memilih keputusan paling aman dengan tidak menghubungi Sabina ketika di Rusia. Dia menjalani operasi wajah dan dia hendak masuk ke negara ini dengan identitas palsu yang dicurinya. Menghubungi Sabina hanya akan membuat risiko penyamarannya terkuak. Bagaimanapun, dunia bawah tanah Rusia dikuasi oleh Dimitri yang memiliki hubungan erat dengan kita.” Xavier mengutarakan pendapatnya dengan sikap tenang. “Namun, semua akan berbeda dengan rencanaku ini. Aku yakin, jika kita memanfaatkan Sabina dan menggunakan Sera sebagai umpan tak langsung, kita bisa memancing Aaron datang kepada kita.”
“Bagaimana rencanamu?” Akram memajukan tubuhnya untuk mendengar lebih lanjut, mulai tertarik dengan apa yang hendak dikatakan oleh Xavier.
“Dengan kehadiran Sabina di sini, aku akan menyebarkan berita bahwa Sabina datang untuk membunuh Sera karena dendam. Aku akan memastikan berita itu sampai kepada Aaron. Bagaimanapun, aku yakin Aaron memiliki kontak di dunia bawah tanah yang membantunya, kalau tidak lelaki itu tak mungkin bisa menemukan tempat persembunyian yang aman di negara ini dengan mudah. Sabina masih kita kendalikan dengan chip di batang otaknya. Jadi, jika Aaron mendengar bahwa Sabina akan datang untuk membunuh Sera, dia pasti akan terpancing untuk menghubungi Sabina. Pada saat itulah kita akan membuat rencana untuk menyergapnya.”
“Kupikir itu rencana yang bagus. Aku akan mulai menyebarkan desas-desus kedatangan Sabina yang datang untuk menuntut balas kepada Sera di dunia bawah tanah. Kuharap itu bisa segera mencapai telinga Aaron dan membuatnya muncul.”
Xavier mengawasi wajah Akram yang tampak lelah, lalu lelaki itu akhirnya berucap dengan nada tulus yang tak ditahan-tahannnya.
“Terima kasih, Akram.”
Akram mengangkat alis, terkejut karena Xavier tiba-tiba saja mengucapkan terima kasih kepadanya.
“Aku senang menerima ucapan terima kasih darimu, tetapi kenapa kau tiba-tiba mengatakannya?” Akram mengenal Xavier, lelaki itu lebih memilih berterima kasih dengan menggunakan tindakan dan selalu merasa canggung jika harus mengungkapkannya dengan kata-kata. Kenyataan bahwa Xavier mengucapkan terima kasih kepadanya, menunjukkan bahwa lelaki itu benar-benar merasakan apa yang dikatakannya itu dengan tulus.
Xavier tersenyum. “Mungkin lebih benarnya, aku harus mengatakan terima kasih sekaligus maaf kepadamu.” Lelaki itu menghela napas panjang saat berucap. “Seharusnya kau bisa tenang bersama Elana, Zac dan juga Xel tanpa perlu disibukkan dengan urusan bedebah Aaron ini. Tapi lihatlah kau sekarang, kau tampak lelah karena harus merangkap sebagai pemimpin perusahaan, ayah yang baik dan juga harus membantuku melakukan pengejaran terhadap Aaron.”
“Bukan masalah untukku. Apa kau lupa bahwa dulu aku adalah pria workaholic yang menghabiskan hampir dua puluh jam dalam sehari untuk bekerja? Mungkin aku sudah bertobat demi keluargaku dan lebih melonggarkan jam kerjaku demi kesehatanku juga. Namun, sekali-sekali kembali ke masa kerja yang lama bukan masalah. Anggap saja aku sedang berolahraga dan menguji kekuatan fisikku.” Akram terkekeh, tetapi tak lama kemudian ekspresinya berubah serius ketika menatap ke arah Xavier. “Kau dan Sera serta anak-anak kalian adalah keluargaku, Xavier. Kau tentu masih ingat prinsip yang diajarkan oleh ayah kita, bukan?”
Kenyataan bahwa Akram menyebut Baron Night sebagai ‘ayah kita’ membuat Xavier tersenyum lebar.
“Tentu saja aku ingat,” Xavier menyahuti dengan nada penuh arti. “Musuh salah satu dari anggota keluarga adalah musuh dari seluruh keluarga,” jawabnya kemudian, menyebutkan prinsip yang ditanamkan oleh ayah mereka di masa lampau dengan tepat tanpa kesalahan.
***
Malam sudah menjelang dan Aaron belum beristirahat sama sekali sejak dia keluar dalam penyamarannya tadi siang.
Saat ini dia sedang duduk di sebuah kursi taman dan mengawasi. Dirinya saat ini memang belum memasang wajah dari sang kepala perawat di fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat.
Dia tahu bahwa dia tak boleh terburu-buru melakukannya.
__ADS_1
Bagaimanapun, kepala perawat itu masih hidup, masih sehat dan masih berangkat bekerja seperti biasa setiap harinya. Dengan kehadiran si kepala perawat bernama Thomas itu yang selalu masuk bekerja di fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat, sudah tentu Aaron tidak bisa datang tiba-tiba dengan memakai penyamaran wajah Thomas terpasang di mukanya.
Sebab, jika ada dua Thomas terpergok di tempat ini, penyamarannya akan ketahuan dengan segera dan menggagalkan segalanya.
Karena itulah, Aaron memutuskan untuk memasang di wajahnya salah satu topeng wajah yang disediakan oleh dokter Rasputin sebagai penyamarannya hari ini. Wajah yang dipakainya adalah wajah pria setengah baya yang dibuatkan oleh dokter Rasputin baginya.
Wajah pria ini tak beridentitas, dan tidak dibuat meniru manusia manapun di negara ini. Dokter Rasputin membuat wajah ini dengan pertimbangan dan ilmu tinggi, menerapkan garis wajah yang dimiliki manusia pada umumnya di negara ini dengan penampilan rata-rata yang tak menonjol dan sudah pasti sama sekali tak mencolok.
Dengan semua hal itulah maka wajah ini adalah wajah yang paling tepat digunakannya untuk saat ini, ketika dia memutuskan untuk menguntit si kepala perawat sejak siang tadi sampai sekarang saat malam menjelang.
Saat menentukan wajah Thomas sebagai salah satu pesanan wajah yang dia minta dibuatkan oleh dokter Rasputin, Aaron tentu saja sudah melakukan pengecekan latar belakang terhadap tokoh yang ingin dia curi identitasnya dalam penyamaran. Thomas dipilihnya karena selain lelaki itu adalah kepala perawat yang memegang peranan penting dalam perawatan ayah Sera di fasilitas kesehatan ini. Lelaki itu juga hidup sendirian di sebuah apartemen mini yang berada di dekat lokasi fasilitas kesehatan tempat ayah Sera dirawat. Istri dan kedua anak laki-laki Thomas tinggal di luar kota bersama mertuanya, dan Thomas mengunjungi mereka sekitar sebulan sekali di tiap awal bulan.
Saat ini belumlah tengah bulan, jadi Aaron memiliki banyak waktu untuk menyamar sebagai Thomas sebelum lelaki itu melakukan kegiatan rutinnya untuk mengunjungi keluarganya.
Mata Aaron mengikuti diam-diam sosok Thomas yang keluar dari mini market tempatnya membeli makanan instan sepulang dari shift siangnya hari ini. Kemudian, saat Thomas berjalan menyusuri trotoar sepi dengan toko-toko yang telah tutup di kiri kanan jalan, Aaron pun bergerak bangkit dan mengikuti dalam jarak yang aman serta tak mencurigakan.
Karena malam telah larut, tidak banyak kendaraan lalu lalang di jalanan, manusia pun hampir tak ada. Hanya beberapa orang yang keluar masuk mini market di dekat fasilitas kesehatan itu dan satu dua orang yang berpapasan dengan mereka di trotoar, selebihnya, tidak ada lagi.
Mata Aaron tetap waspada, mengawasi dan menemukan setiap kamera CCTV yang terpasang baik CCTV pribadi yang dimiliki oleh para pemilik toko, maupun CCTV keamanan yang ditempatkan oleh pemerintah untuk pengawasan keamanan publik.
Dia tahu bahwa baik Xavier maupun Akram memiliki perusahaan teknologi canggih yang kemungkinan bisa mengakses seluruh kamera keamanan di negara ini tanpa kecuali, karena itulah, dia harus sangat berhati-hati.
Aaron terus mengikuti dalam diam, matanya mencari demi menemukan blind spot, tempat yang tak tertangkap oleh CCTV manapun yang cukup aman untuk melancarkan aksinya. Beruntung penampilannya sebagai pria setengah baya berwajah rata-rata tampaknya tak terlihat menonjol dan memudahkannya berjalan-jalan di malam hari seperti ini tanpa mencurigakan, meskipun ketika dia tertangkap kamera CCTV sekalipun.
Mereka akhirnya sampai di gedung apartemen yang ditinggali oleh Thomas.
Gedung ini sesungguhnya tidak layak disebut apartemen. Gedung ini adalah apartemen yang disubsidi oleh pemerintah untuk para karyawan kelas menengah yang membutuhkan tempat tinggal layak dengan harga murah, tidak ada fasilitas keamanan di lobby-nya karena memang kelas dari apartemen ini lebih seperti rumah susun yang dipoles tampilan luarnya supaya tampak lebih berkelas. Thomas sesungguhnya bisa memiliki tempat tinggal yang lebih baik dengan gajinya sebagai kepala perawat, namun dari penyelidikan Aaron, lelaki itu lebih memilih memberikan sebagian besar pendapatannya untuk anak istrinya di luar kota dan memilih tempat tinggal sederhana bagi dirinya sendiri.
Hal itu tentu saja menguntungkan Aaron. Tanpa penjagaan keamanan di tempat ini, Aaron sudah pasti leluasa mengikuti Thomas hingga ke lantai dua tempat kamar apartemen tempat tinggalnya berada.
Ketika Thomas yang tak sadar diikuti sudah berada di depan pintu kamarnya dan membuka kunci pintunya, ketika itulah Aaron muncul di belakang Thomas.
“Selamat malam.” Aaron menyapa dengan sengaja, mengejutkan lelaki itu dan membuat Thomas refleks membalikkan tubuh untuk melihat sumber suara yang menyapanya tiba-tiba itu.
Pada saat itulah, Aaron bergerak cepat, membekap tubuh Thomas sebelum lelaki itu bisa melawan dan menempelkan saputangan yang telah dibasahi dengan cairan kloroform menutup hidung dan mulut Thomas, memaksa lelaki malang itu untuk menghirupnya.
***
***
***
***
Hello.
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera. Akses baca ebook akan tersedia di bulan November hanya di website projectsairaakira + part eksklusif yang hanya bisa dibaca di sana
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Follow instagram author jika sempat yak, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
__ADS_1