Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 68 : Cemburu


__ADS_3

Meskipun Sera ingin membantah, tetapi pikiran logisnya berhasil membuatnya menahan diri untuk melakukannya.


Bagaimanapun, dia adalah perempuan dewasa yang mampu menilai situasi dan tidak hanya mengandalkan perasaan pribadinya saja. Cuaca buruk di luar menjadi pertimbangan utamanya untuk tidak mengkonfrontasi keputusan Xavier yang memilih menepi ke hotel terdekat. Saat ini, badai sudah mulai meradang, derasnya hujan yang dihamburkannya tidak main-main, menghantam kaca jendelanya dengan dibantu oleh dorongan angin yang seolah memprovokasi satu sama lain untuk bekerjasama memecahkan kaca jendela mobil itu. Jalanan menjelang tengah malam ini juga sudah sangat sepi, hanya ada beberapa taksi dan kendaraan pribadi yang berpapasan dengan mereka, selebihnya, mobil mereka sendirian di jalan raya protokol ini, membuat suasana malam semakin mencekam dan menyusupkan takut ke dalam benak Sera.


Orang-orang yang berakal sehat tentunya sudah memperhatikan pengumuman akan datangnya badai jelang tengah malam ini dan memilih tidak keluar rumah demi keamanan.


Kalau bukan karena sikap impulsif Xavier yang memaksa, saat ini Sera pasti sudah berlindung di bawah atap rumah Elana dengan aman. Sera melirik ke arah Xavier dengan sikap menuduh, membuat lelaki itu balas menatapnya sambil mengangkat alis tidak senang.


Suasana hati Xavier tampaknya sedang buruk malam ini. Lelaki itu tidak menampakkan senyum manis yang menjadi ciri khasnya sedikit pun. Bahkan, Xavier tampaknya sedikit mabuk dan mengendorkan pengendalian dirinya yang biasanya terkekang sangat kuat.


Hal inilah yang membuat Sera merasa takut. Menghadapi Xavier yang sekarang, rasanya sangat menakutkan, karena Sera jadi tidak bisa menebak serta mengantipasi apa yang akan dilakukan oleh Xavier selanjutnya. Mata Sera melirik kembali ke arah luar jendela dan kelegaan langsung melingkupi hatinya ketika menyadari bahwa mobil yang mereka tumpangi telah berhasil mencapai hotel yang dipilih oleh Xavier. Mobil itu langsung meluncur masuk ke dalam gedung parkir raksasa yang menempel dan terhubung dengan bagunan hotel mewah tersebut, melaju berputar seperti spiral, melalui lorong yang mendaki naik ke lantai parkir paling atas bangunan.


Sera menghela napas panjang untuk meneteskan kelegaan yang memenuhi dadanya. Setidaknya, mereka sudah masuk ke bawah atap bangunan dan terlindung dari badai besar yang menghantam semakin hebat di luar sana.


Keheningan yang melingkupi membuat Sera kembali mencuri-curi pandang ke arah Xavier, tetapi sayangnya, kali ini matanya harus bersirobok dengan mata lelaki itu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Xavier akhirnya bertanya, memecah keheningan yang ada di dalam kabin penumpang mobil itu.


Seketika Sera berdehem, memutuskan untuk tak mau diam menyerah dan memilih untuk mengkonfrontasi Xavier saja. Pikiran bawah sadarnya menyadari bahwa sekuat apapun dirinya berusaha memberontak, kemungkinan dia akan berakhir kalah di tangan Xavier.


Kalau begitu, lebih baik Sera kalah dengan perlawanan sehingga membuat kekalahannya lebih terhormat, bukan?


"Cuacanya semakin buruk. Seharusnya tadi kau membiarkanku menginap di rumah Elana. Paling tidak, kita tak perlu menghadapi badai semacam ini...." Perlahan Sera mengutarakan pikirannya, tak menyadari bahwa perkataannya itu jadi semacam tindakan bodoh serupa menyiramkan bahan bakar ke atas api kemarahan Xavier yang sudah memercikkan nyalanya membakar hati.


"Kenapa kau sangat ingin menginap di rumah Elana? Apakah kau sedang menantikan esok hari dimana Credence Evening mengantarkanmu membeli perlengkapan bayi yang adalah anakku? Sepertinya, kau tak sabar untuk segera berpindah haluan dan meloncat ke ranjang Credence Evening. Jangan-jangan kau bahkan sudah menyesal karena telah mengandung anakku, hmm?"


Pada detik itulah, Sera menyadari bahwa Xavier memang benar-benar mabuk. Lelaki ini begitu berbeda, seolah-olah pagar terkunci yang selama ini membentengi luapan emosinya tiba-tiba terbuka lebar dan membuat emosi yang selama ini tersembunyi pada topeng penuh senyum milik Xavier jadi bebas menghambur dan lolos dari penjagaan.


Xavier nyaris kelihatan seperti cemburu kepada Credence Evening. Padahal Sera tahu bahwa Xavier yang sedang dalam keadaan sadar dan terkendali, akan terlalu angkuh bahkan untuk merasakan cemburu sepercik pun.


"Kau tidak sedang dalam keadaan baik untuk bersilang pendapat denganku. Aku tak ingin kau menyesali apapun yang telah terlanjur kau lontarkan di saat pikiran sadarmu sudah kembali nanti. Jadi, untuk saat ini, lebih baik aku tidak menyanggah apapun ucapanmu." Sengaja mengabaikan, Sera langsung memalingkan kepala ke jendela luar mobil, tak mau menatap lelaki itu demi menjaga suasana tetap damai.


Sayangnya, tindakan Sera yang seolah meremehkan lelaki itu malah memberikan efek yang sebaliknya bagi Xavier, bukannya mereda tenang, lelaki itu makin tersulut oleh nyala api yang membakar. Tubuhnya seketika bergerak, mendesak dan memerangkap Sera hingga ke ujung kabin mobil, sementara sebelah tangannya terangkat, bertumpu pada jendela mobil di sisi Sera duduk.


"Jadi begitu? Baru beberapa hari saja kau lepas dari kendaliku, sekarang kau tak mau mendengarkan lagi suamimu?" geram Xavier dengan suara mengancam. Ketika Sera tak juga menoleh, lelaki itu meraih dagunya dan menghadapkan wajah Sera ke arahnya. "Buka mulutmu dan jawab aku!"


Dipaksa seperti itu, mau tak mau Sera terpaksa menatap langsung pada kedalaman mata Xavier yang menusuknya tajam. Ada sebersit ketakutan di dalam jiwanya saat melihat Xavier menunjukkan kemarahannya tanpa ditutup-tutupi lagi. Lelaki itu selalu tak lupa mengulas senyum seperti apapun suasana hatinya, tetapi sekarang Xavier tampak mengetatkan gerahamnya dengan kuat seolah-olah akan meledak jika dia tak berhasil menahan diri.


Meskipun Xavier tidak pernah melukainya, dan juga biarpun lelaki itu adalah ayah dari bayinya, Sera tidak akan melupakan kenyataan bahwa Xavier Light dikenal sangat kejam kepada musuh-musuhnya. Selama ini Xavier bersikap baik kepada Sera karena menganggap Sera masih berguna baginya. Tetapi, bukan tidak mungkin Xavier akan memindahkan Sera di posisi sebagai musuhnya, lalu mencelakai Sera dengan kejam.


Bagaimanapun, Sera tahu bahwa dia harus sangat berhati-hati kepada suaminya ini.


"A-Aku tidak ingin berdebat denganmu." Sera akhirnya berhasil mengeluarkan suara perlahan. Bibirnya sedikit bergetar, tetapi dia berhasil menyamarkannya dengan sikap tenang palsu yang membentengi dirinya.


Sera pernah membaca, bahwa untuk menghadapi manusia yang tantrum, entah itu anak kecil ataupun manusia dewasa, satu-satunya cara adalah bersikap tenang, terkendali dan tidak memancing reaksi emosional apapun dari lawan bicaranya. Dia berharap cara itu juga berhasil untuk menghadapi Xavier saat ini.


"Bagus. Kau memang tidak boleh mendebatku." Dengan suara kaku yang menjengkelkan, Xavier menjawab, memamerkan kearoganannya tanpa tahu malu. Mata lelaki itu lalu menyusuri seluruh rupa wajah Sera, seolah ingin memaku struktur wajah wanita itu ke dalam ingatannya. Kemudian, cengkeramannya di dagu perempuan itu mengencang, mendekatkan wajah Sera supaya semakin mendongak dan mendekat ke wajahnya yang menunduk rapat.


"Mengenai Credence Evening, jangan coba-coba bermimpi. Aku tak ingin bayi yang ada di kandunganmu dicemari oleh lelaki lain. Selama masih ada bayiku yang bertumbuh besar di dalam perutmu, maka kau tidak boleh berada di dekat lelaki lain, siapapun itu." Mata Xavier menusuk tajam ke arah Sera. "Apakah kau mengerti?" tanyanya kemudian dengan nada menuntut.


Seharusnya, demi keamanan dirinya, Sera memilih untuk diam saja, menganggukkan kepala dan tidak membantah seperti sikap seorang istri yang patuh. Tetapi, kelakuan Xavier yang arogan itu entah kenapa membuat Sera jadi tersulut, sehingga akhirnya, dia membiarkan emosi yang menguasai dirinya, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri, lalu menatap Xavier dengan sikap menantang yang disengaja.


“Tetapi, jika aku sudah melahirkan anakmu dan menyelesaikan tugasku, maka aku bebas, bukan?” tantangnya tanpa pikir panjang.


Ekspresi gelap Xavier yang muncul setelahnya langsung membuat Sera menyesali perkataannya di detik pertama setelah dia melontarkan ucapannya.


Tangan Xavier mengencang, dan mata lelaki itu menajam, suaranya bahkan terdengar seperti geraman hewan buas yang terluka ketika lelaki itu menempelkan wajahnya ke wajah Sera, membuat hidung mereka beradu dan napas mereka berpadu.


“Kau akan menyesal karena telah menantangku, Serafina Moon.”


Ucapan itu bagaikan sebuah janji mengerikan yang langsung menyesakkan napas. Beruntung, pertikaian itu tak berlanjut lebih membakar karena tiba-tiba saja mobil berhenti setelah menaiki beberapa lorong melingkar hingga mencapai bagian paling atas gedung parkir hotel tersebut.


Perhatian Xavier teralihkan dari Sera. Lelaki itu bergerak mundur dan melepaskan pegangannya di rahang Sera, lalu menegakkan punggungnya dalam posisi duduk yang formal. Tak lama kemudian, ketika supirnya turun dari mobil dan berdiri di dekat pintu serta menunggu instruksi, Xavier melirik sedikit ke arah Sera tanpa menghilangkan tatapan tajam penuh kemarahannya.

__ADS_1


“Ayo turun.” Perintahnya singkat, lalu membiarkan supirnya membukakan pintu mobil baginya dan melangkah turun dari mobil. “Ayo.” Dengan kening berkerut dan sikap tak bersahabat, Xavier mengulang kembali perintahnya sambil membungkuk di dekat pintu mobil dan mengulurkan tangannya.


Sera mendekus perlahan, tetapi dia akhirnya menerima juga uluran tangan dari Xavier dan membiarkan dirinya dibantu turun dari mobil.


Ketika mereka sudah berdiri bersisian, Sera berusaha melepaskan pegangan tangannya dari lelaki itu, tetapi Xavier tidak membiarkannya lepas. Genggaman lelaki itu malahan semakin erat hingga hampir-hampir menyakiti. Seolah-olah, Xavier ingin menunjukkan kuasanya di atas Sera dan memaksa Sera terjebak hingga tak bisa melarikan diri.


Sera melirik ke arah Xavier dengan jengkel, sekuat tenaga menahan dorongan untuk menginjak kaki lelaki itu lalu berbalik pergi.


Tetapi sekali lagi, memangnya dia mau pergi ke mana? Di luar sana hujan badai menghantam dan saat ini mereka berada di area paling tinggi dari gedung parkir ini yang sangat sepi tanpa orang lain di sekitar mereka.


Xavier terdengar memberikan instruksi kepada supirnya, lalu tanpa menoleh lagi, lelaki itu menarik tangan Sera, setengah menyeretnya dan menghelanya untuk mengikuti masuk ke dalam lift yang berada di sisi gedung tempat mobil mereka terparkir tadi.


Sebelum Sera sempat memberontak atau membantah, dirinya sudah terjebak, berada di dalam satu lift dengan lelaki itu dengan tangan tergenggam rapat pula. Sebelah tangan lelaki itu menekan kode khusus dengan penguncian sidik jari sebagai penutupnya di tombol lift tersebut dan membuat lift itu bergerak naik.


Setelahnya, lelaki itu memilih berdiam diri, sementara gerahamnya merapat seolah menahan diri supaya tak meledak.


“Kenapa kita tidak ke lobby dan bertemu resepsionis?” Sera bertanya dengan hati-hati, kembali berusaha memecahkan keheningan yang menegangkan di kotak sempit yang membawa mereka naik ke satu lantai khusus yang berdiri sendiri, tidak menyambung dengan gedung parkir. Dia membandingkan dengan terakhir kali Xavier membawanya menginap ke salah satu hotel milik Akram. Pada waktu itu, mereka melalui prosedur biasa dengan melewati meja resepsionis untuk memesan kamar.


Kenapa yang ini berbeda? Seolah-olah mereka melalui jalur belakang rahasia yang tidak diketahui oleh banyak orang.


“Aku memiliki satu lantai penuh di bagian paling atas gedung hotel ini.” Xavier menyeringai ke arah Sera. “Ini adalah properti yang kumiliki karena investasi cerdas yang kulakukan di waktu muda. Pemilik hotel ini mengalami ancaman pailit karena sengketa keluarga yang tiada habisnya. Dia lalu datang kepadaku meminta nasehat kebijakan keuangan untuk melepaskan dirinya dari kebangkrutan. Aku bersedia membantunya, dan sebagai ganti atas bantuanku yang telah menyelamatkan hotel ini, dia memberiku hadiah satu lantai khusus di bagian paling atas gedung ini. Tetapi, bukan hal itu yang penting untuk saat ini.” Tanpa diduga, Xavier mengangkat tangan Sera yang sejak tadi digenggamnya, lalu menghadiahkan kecupan sensual di sana. “Yang terpenting adalah, kita memiliki saat-saat pribadi berdua tanpa gangguan untuk menghabiskan malam ini bersama-sama.” Lelaki itu menyeringai dengan sikap mendesak sekaligus memaksa. “Aku berjanji malam ini akan sangat menyenangkan untukmu, Serafina Moon.”


Sera membuka mulutnya hendak menyerukan ketidaksetujuannya. Perkataan Xavier itu mengejutkannya. Tadinya dia mengira, bahwa meskipun sedang mabuk dan marah, lelaki itu masih punya akal sehat untuk memperlakukannya dengan wanita terhormat dan tidak memanfaatkan tubuhnya sebagai pelampiasan nafsu dan kemarahan saja.


Tetapi rupanya, dugaan Sera salah besar. Sungguh bodoh dia mengharapkan kebijakan moral dari seseorang seperti Xavier. Lelaki itu jelas-jelas membawanya ke hotel ini, bukan untuk berteduh, tetapi untuk bercinta.


Sayangnya, sebelum Sera sempat berucap, pintu lift itu terbuka dan lelaki itu kembali menyeretnya menyeberangi ruang duduk indah yang langsung terbentang di hadapan mereka setelah keluar dari lift. Xavier seolah tak memedulikan itu semua, lelaki itu langsung membawa Sera memasuki sebuah kamar besar dengan nuansa putih monokrom yang menciptakan nuansa sederhana klasik berbaur dengan keeleganan murni.


Mereka berada di dekat ranjang ketika Xavier menarik Sera ke dalam pelukannya, lalu kembali membawa tangan Sera ke bibirnya. Lelaki itu kini bukan hanya mengecup, tetapi juga menjulurkan lidahnya dan mencicip permukaan kulit punggung tangan Sera yang lembut.


“Xavier!” Sera terkesiap ketika kecupan dan sentuhan lidah yang panas itu mengirimkan senyar yang merayapi sekujur tubuhnya, dia berusaha menarik tangannya menjauh, tetapi tentu saja Xavier tidak melepaskannya.


Tangan Xavier bergerak merengkuh Sera ke dalam pelukan, lalu bibirnya menyentuh bibir Sera, belum memagut tetapi hanya menggesek lembut, sementara, suaranya terdengar parau ketika berucap.


“Jangan menolak suamimu. Aku hanya membersihkan bekas ciuman lelaki lain di permukaan kulitmu.” Sedetik setelah berucap, Xavier langsung mencium Sera tanpa ampun, mengerahkan keahliannya merayu dalam sebentuk ciuman panas membakar yang langsung menghalau akal sehat Sera, membuat pikirannya berkabut.


Sera bisa merasakan bahwa Xavier sedang tersenyum di dekat telinganya. Ketika akhirnya lelaki itu berbisik pun, suaranya tedengar dipenuhi kepuasan angkuh yang menginjak Sera sampai ke dasar.


“Camkan kata-kataku ini, Serafina Moon. Aku tak akan membiarkan lelaki manapun menyentuhmu selama kau masih terikat pernikahan denganku dan mengandung anakku. Setiap bekas yang disentuhkan oleh lelaki lain kepadamu, maka aku akan menghapuskannya dengan menggunakan tubuhku.” Xavier menggigit telinga Sera perlahan, memanfaatkan ketidakberdayaan Sera di bawah mantra sensualnya dengan menghela tubuh Sera yang lunglai hingga terbaring ke atas ranjang.


Tanpa memberikan kesempatan bagi Sera untuk menghalau kabut yang menguasai pikirannya, Xavier langsung beranjak menyusul naik ke atas ranjang hingga memerangkap tubuh Sera di bawah tubuhnya, berhati-hati supaya tidak menekan perut Sera yang sedang mengandung anaknya.


Tanpa ampun lelaki itu membungkuk kembali, menghujani Sera dengan ciuman memabukkan yang mengancam untuk menundukkan Sera di bawah kakinya. Lelaki itu tak berniat untuk berhenti, pun dia sama sekali tak berniat untuk melepaskan Sera.


“Kau istriku, maka kau adalah milikku.” Xavier menggulirkan tangannya untuk mempersiapkan perempuannya baginya, seringai puas langsung muncul di bibirnya ketika merasakan penerimaan Sera yang tak berdaya di bawah kuasanya. “Dan kau sudah siap untuk menerimaku.”


Tanpa menunggu lagi, Xavier bergerak penuh hasrat, menyatakan kepemilikkannya kepada Sera tanpa mau menerima penolakan.


***


Ketika Sera terbangun, hari sudah bergulir meninggalkan nuansa pagi. Sudah hampir jam sembilan pagi dan Sera rupanya terlelap kesiangan karena tubuhnya yang kelelahan menagih istirahat.


Kening Sera berkerut ketika merasakan pegal di sekujur badannya, sisa dari percintaan semalam. Dia berusaha bangkit dan duduk di atas ranjang itu sambil menarik selimut yang menggumpal di pinggangnya untuk menutupi tubuh telanjangnya. Lalu, setelah hampir berhasil mendapatkan seluruh kesadarannya sepenuhnya, Sera mengangkat wajah dan memandang ke sekeliling ruangan.


Dia seorang diri di kamar ini. Xavier tidak ada.


Sera berusaha bergerak turun dari ranjang dan membungkuskan selimut itu ke tubuhnya. Pakaiannya sendiri sudah tercerai berai di karpet, berserakan di sana sebagai akibat tindakan Xavier yang serampangan ketika melepasnya semalam.


Astaga. Sialan Xavier. Sekali lagi lelaki itu berhasil mendapatkan apa yang dia mau dan membuat Sera luluh lantak, lemah akibat sentuhannya yang ahli hingga tak mampu melawan suaminya. Memang seperti biasanya, Xavier tetap bersikap lembut kepadanya, bahkan semalam, meskipun mereka bercinta sampai terang tanah jatuh di buliran lantai bumi, lelaki itu tetap memperlakukannya dengan sangat lembut dan berhati-hati.


Mungkin itu semua dilakukannya demi anak di dalam kandungannya, bukan demi Sera.


Sera menghela napas panjang ketika kepalanya menunduk dan menatap bekas-bekas yang ditinggalkan oleh Xavier di kulit pucatnya. Lelaki itu seolah-olah ingin menunjukkan klaim kepemilikannya dengan menandai tubuh Sera, seolah-olah kondisi mabuknya semalam telah melepaskan sisi primitif dirinya yang posesif.

__ADS_1


Sera tahu bahwa dia tak boleh membiarkan hubungan mereka berdua terus seperti ini. Dia tak boleh membiarkan harga dirinya diinjak-injak terus oleh Xavier. Seolah-olah dia dianggap sebagai batu tak berharga, ditinggalkan berhari-hari semaunya saat tak dibutuhkan, lalu diajak bercinta dan dimiliki dengan paksa ketika sisi posesif Xavier merasa terancam.


Sera tidak tahu apa yang memicu Xavier menjadi semarah dan secemburu itu kepada Credence Evening. Dia tahu pasti Credence Evening hanya sedang bersikap sopan tanpa maksud lebih kepadanya.


Kenapa Xavier seolah-olah menganggap Credence sebagai ancaman baginya?


Sera belum sempat menelaah pertanyaannya sendiri karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, dan sosok Xavier melangkah masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan kecil di tangannya. Ada minuman panas dalam cangkir putih yang mengepul di atas nampan tersebut. Tanpa kata, lelaki itu meletakkannya di nakas samping ranjang dan barulah dia melabuhkan tatapannya ke arah Sera yang duduk di atas ranjang, menunggu dalam diam.


“Minuman panas untukmu. Minumlah sebelum mandi. Lalu kita sarapan, makanan sudah ada di ruang makan.” Xavier berucap dengan ekspresi datar dan menunggu. Ketika Sera tak juga bergerak, lelaki itu mengambil cangkir panas di atas nakas tersebut dan menyerahkannya ke tangan Sera hingga mau tak mau Sera menerimanya.


Cangkir itu hangat, tidak melukai tangan ketika berada di dalam genggaman dan malahan menyalurkan kehangatan yang menyenangkan di kulit telapak tangan Sera.


Sera menggenggam cangkir itu di antara kedua tangannya, lalu melongok isi dari minuman itu.


C**angkir itu bukan berisi kopi atau teh seperti yang diharapkannya untuk menyegarkan diri di pagi hari, melainkan susu putih hangat.


Sera mendongakkan kembali, hendak menyuarakan protesnya melalui tatapan kepada Xavier dan matanya bertemu dengan mata Xavier yang langsung bisa menebak protesnya dengan tepat.


Tanpa diduga, Xavier menggerakkan tangannya, lalu mengusap kepala Sera dan berbicara dengan nada lembut, seolah sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk.


“Tidak boleh terlalu banyak kafein untuk ibu hamil,” ucapnya kemudian, menyahuti protes Sera dengan tegas.


Lelaki itu kemudian melangkah mundur, seolah-olah menyesal telah menunjukkan kelembutannya dengan mengusap kepala Sera.


“Lekas bersiap-siap, mandi lalu sarapan. Kita pergi setelah sarapan,” ujarnya kemudian, membalikkan tubuh dan hendak melangkah pergi keluar dari kamar.


“Pergi ke mana?’ Sera berhasil menyuarakan pertanyaannya sebelum Xavier keluar dari kamar.


Apakah yang sebelum-belumnya akan terulang kembali? Setelah Xavier memuaskan dirinya terhadap Sera, maka Sera akan dibuang dan dijauhi lagi?


Pertanyaan Sera membuat Xavier menghentikan langkahnya di depan pintu yang telah dibukannya, lalu menoleh sedikit ke arah Sera dan berucap dengan sikap menjengkelkannya yang khas.


“Pergi berbelanja perlengkapan bayi. Kau ingin melakukannya bukan? Aku sedang luang, jadi aku yang akan mengantarkanmu.”


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2