Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 127 : Terima Kasih


__ADS_3


Ini adalah Part 4/10 dan part 5/10 ( di up author jumat sore ) yang akan author post untuk crazy update secara bertahap di hari jumat dan sabtu. Kemungkinan bisa lolos review di hari jumat malam atau sabtu atau senin kalau molor ahahaha.


Part 6,7,8,9 dan 10 di up hari sabtu sore kelima-limanya, dan kemungkinan bisa lolos review hari itu juga, atau masuk ke lolosan reviwe hari senin ( karena minggu libur )


Author up sesuai jadwal, tetapi masalah LOLOS REVIEW kapan, tentu tergantung pihak admin MT yang menentukan, jadi jangan anggap author PHP ya, saat ini author bersungguh-sungguh memenuhi target up sesuai jadwal yaitu 10 PART BERTAHAP hari JUMAT dan SABTU


Oh ya sebelum membaca, jangan lupa VOTE dengan menggunakan POIN ke novel EOTD ini ya.


Untuk sementara, VOTE hanya bisa dilakukan di NOVELTOON. Jadi kalau mau bantu VOTE author dengan POIN, boleh install NOVELTOON, lalu login dengan akun Mangatoon ( sama saja) dan berikan vote untuk novel ini ya.


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


EOTD akan tamat minggu depan - Lalu akan dilanjut session 2 ( Xavier di bulan Januari 2020)


***



***


 


Dokter Nathan melangkah melalui lorong rumah sakit sambil melagukan senandung dari bibirnya. Dia mendengar bahwa Akram telah datang untuk menjenguk Elana siang ini, lebih cepat daripada yang seharusnya, sehingga dia memutuskan untuk berkunjung melakukan visit pemeriksaan Elana kembali sambil menawarkan apakah pasangan itu ingin melakukan pemerksaan USG lebih cepat mumpung mereka sedang bersama-sama.


Dokter Nathan sendiri juga ingin melihat dan memastikan kondisi kehamilan Elana, sehingga dia bisa memastikan kesehatan kandungan Elana dan menentukan perawatan terbaik apa yang harus diterapkan supaya kehamilan Elana sehat sampai akhir.


Senandungnya masih terdengar ketika dia sampai di depan pintu ruang perawatan Elana. Tangannya bergerak untuk membuka pintu itu. Tetapi kemudian senandungnya berhenti dan keningnya berkerut seketika.


Pintunya dikunci?Jenis pintu ruang perawatan Elana, karena terletak di kamar super vvip, adalah pintu tebal yang memiliki pengaturan privasi tinggi. Tidak ada cara untuk mengintip ke dalam, apalagi untuk menguping suara yang terjadi di dalam ruangan itu.


Kenapa pintunya dikunci?


Sedikit bingung, Nathan mengulurkan tangan, hendak mengetuk tersebut. Beruntung pikiran logisnya cepat mengambil kesimpulan sebelum ketukannya terjadi.


Akram mengunci pintu dan mengurung dirinya berdua dengan Elana di kamar rumah sakit. Apakah itu berarti mereka berdua sedang….Astaga. Akram tidak akan sesembrono itu dengan meminta Elana melayaninya ketika kondisi Elana masih sebegitu lemahnya, bukan?


Nathan mengingatkan dirinya untuk menegus Akram nanti atas kesembronoannya. Sebelum kondisi kehamilan Elana bisa dipastikan dan sebelum janin di dalam rahim Elana dipastikan benar-benar kuat, ada baiknya hubungan intim dihindari lebih dulu.


Nathan menghela napas panjang sambil menatap pintu besar di depannya itu. Tetapi, tak ada yang bisa dilakukan sekarang. Dia tak mungkin menggedor pintu ini dan menghentikan apapun yang sedang terjadi di balik pintu yang tertutup rapat itu. Sebab, Akram mungkin akan marah besar dan membuat segala sesuatunya lebih sulit baginya.


Kalau begitu, untuk saat ini, yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu.


Nathan melirik ke arah jam tangannya, membanting tubuhnya ke sofa besar dengan lapisan kulit mewah berwarna cokelat tua yang terletak di area lorong tak jauh dari pintu kamar Elana, dan menunggu.


***



***


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Suara sapaan yang menembus alam tidur Nathan yang tak terlalu nyenyak itu membuat Nathan terperanjat dan langsung menegakkan punggungnya dengan waspada.Matanya terbuka lebar, memastikan kondisi lingkungan di sekelilingnya sebelum kemudian mendongakkan kepala dan bertatapan langsung dengan Akram yang tengah berdiri tepat di depannya.


“Kenapa kau tidur di sofa ini?” Akram bertanya lagi ketika Nathan masih tampak linglung dan belum menyadari situasi kondisi secara penuh.


Nathan mengusap rambutnya yang sedikit berantakan. Yah, dia mungkin kelelahan karena kemarin ada beberapa panggilan darurat yang membuatnya tak mendapatkan kesempatan tidur hampir sepanjang malam. Jadi, ketika dia duduk di sofa, ditengah keheningan lorong tanpa ada gangguan suara benda atau manusia lain, serta tidak melakukan apa-apa, maka dengan mudah, tubuhnya yang kelelahan langsung melakukan mekanisme alaminya, beristirahat untuk menggantikan waktu tidurnya yang hilang semalam.


“Aku menunggu kalian,” Nathan menyipitkan mata dan menatap Akram dengan tatapan curiga. “Hal terlarang apa yang kau lakukan di dalam sana hingga kau merasa harus mengunci ruang perawatan itu?”


Sejenak Akram tertegun mendengar pertanyaan itu, tetapi sedetik kemudian, lelaki itu menyeringai, matanya berbinar dengan sinar kepuasan yang sangat nyata, membuat Nathan membelalakkan matanya tak percaya.


“Kau melakukan itu dengan Elana? Apa kau lupa mengenai saranku kemarin untuk tak menyentuh Elana dulu sampai kondisi kesehatan kehamilannya bisa dipastikan?” suara dokter Nathan terdengar mencela. “Apakah kau sebegitunya tak bsia menahan nafsumu hingga mengambil resiko menyakiti anak kalian berdua?” sambungnya lagi dengan nada menuduh.


Akram menggelengkan kepala seketika. “Hei, aku tidak menyentuh Elana dengan cara itu,” bantahnya tegas. “Akulah yang paling menginginkan anak ini dilahirkan dengan sehat dan ibunya juga sama baiknya. Tidak mungkin aku mencelakakan mereka demi kepentinganmu.”

__ADS_1


Nathan mengerutkan kening. “Kalau begitu, kenapa kau mengunci pintunya?” tuduhnya curiga.


Akram tergelak, dan kali ini, Nathan bahkan bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Akram tampak puas dan bahagia. Lelaki ini sudah jelas-jelas menyentuh Elana dan memuaskan diri, tetapi tidak mengakuinya?


“Oke. Oke, aku memang menyentuh Elana. Tetapi bukan dengan cara seperti itu,” ucap Akram sedikit tidak nyaman. Dia berdehem ketika menatap ke arah Nathan dan memutuskan untuk menjelaskan dengan lebih terperinci. “Aku meminta bantuan Elana… untuk meredakan frustasi seksualku dengan cara-cara lain,” sambungnya dengan kalimat tersirat.


“Dan Elana mau melakukannya? Atau kau memaksanya?” suara dokter Nathan dipenuhi keterkejutan. Dia tahu bahwa Elana sudah melembutkan hatinya terhadap Akram, tetapi dia sama sekali tak menyangka kalau kemajuan hubungan mereka sudah sejauh itu.


Akram mendongakkan dagunya, sedikit bersikap sombong sementara bibirnya menyunggingkan senyuman penuh kepuasan yang tak ditutupinya.


“Menurutmu, kenapa aku harus mengunci pintunya dan mengurung diriku hampir dua jam dengan Elana di dalam sana?” Akram menyeringai. “Aku tak menyangka kalau itu akan sangat menyenangkan…. Jadi aku sedikit terlena dan lupa waktu,” sambung Akram kemudian sambil menyelipkan nada suara penuh rasa bersalah dalam kalimatnya.


Seketika Nathan melirik jam tangannya dan mengangkat alis. Astaga! Benar yang dikatakan oleh Akram. Ternyata hampir dua jam Nathan menunggu di luar sini dan tertidur


.“Kalau kau menyalurkan kebutuhanmu dengan cara itu, kurasa itu tak apa-apa,” Nathan menganggukkan kepala dengan sikap serius. “Tetapi, sampai kita melakukan USG dan memastikan lebih jelas kondisi bayinya, jangan meminta Elana melayanimu lebih dulu,” ujarnya memberi saran.


Akram menganggukkan kepala. “Aku juga tak berniat melakukannya sampai aku menikahi Elana minggu depan.” Sahutnya cepat.


Nathan mengangkat alisnya. “Minggu depan? Jadi kau tak membuang-buang waktumu setelah Elana setuju untuk mempercepat pernikahan kalian?”


Akram menyeringai. “Tentu saja, semakin cepat aku mengikat perempuan itu, maka akan semakin baik,” jawabnya dengan nada penuh keyakinan angkuh yang membuat Nathan menipiskan bibir menahan senyum.


Yah, setidaknya, saat Akram menemukan cara untuk menyenangkan dirinya dan Elana tanpa melukai bayinya, suasana hati Akram yang gelap itu jadi sedikit tercerahkan.


“Apakah aku sudah boleh masuk ke ruangan itu? Kau tahu, aku menawarkan pemeriksaan USG kepada Elana untuk melihat kondisi kehamilannya dan dia memintaku menunggu kedatanganmu karena dia ingin kau ada di sana ketika pemeriksaan itu dilakukan,”


Akram sedikit terperangah mendengar perkataan Nathan, tetapi dia berhasil menyembunyikannya dengan baik. Pengetahuan bahwa Elana memutuskan untuk menunggunya supaya mereka bisa melalui saat-saat penting yang menjadi titik awal kebersamaan mereka sebagai orang tua calon anak mereka ini, membuat hatinya terasa hangat.


Setidaknya, untuk saat ini dia bisa memastikan bahwa Elana benar-benar menginginkan bayi mereka, dan perempuan itu juga mengakuinya sebagai ayah dari bayi itu.


“Bisakah kau menunggu sedikit lebih lama lagi.” Akram berucap perlahan. “Elana sedang… eh… membersihkan diri. Aku akan masuk untuk memastikan kondisinya, nanti aku akan memberitahumu kalau kau sudah bisa masuk,” dengan cepat, tanpa menunggu Nathan memberikan reaksi atau mengatakan apapun, Akram berbalik cepat dan masuk kembali ke dalam ruang perawatan Elana dan meninggalkan Nathan sendirian di lorong.


***



***


Ketika Elana membersihkan diri tadi, Akram sedang menerima panggilan telepon bisnis sehingga melangkah keluar ruangan. Sekarang lelaki itu melangkah memasuki ruangan lagi, dan ketika tatapan mereka bertemu, senyum langsung terkembang otomatis dari bibir mereka berdua.


Akram tersenyum puas, dalam kelegaan yang membanjiri tubuhnya karena frustasi seksual yang mendera tubuhnya selama ini dan membuatnya merasa nyeri dan memperburuk suasana hatinya, telah tersalurkan dengan cara yang amat memuaskan. Elana benar-benar sempurna baginya dalam segala hal, dan Akram benar-benar yakin bahwa tak akan ada wanita lain yang bisa memuaskannya sampai sedalam ini seperti yang telah dilakukan oleh Elana kepadanya.


Sementara itu, senyuman malu-malu muncul di bibir Elana ketika dia teringat kembali bagaimana Akram telah mengajarkannya pengalaman baru dengan sikap lembut luar biasa, membawa Elana ke nuansa menyenangkan yang dulu bahkan tidak akan mungkin berani dibayangkan oleh otaknya nan polos ini.


“Kau baik-baik saja?” dengan cepat Akram melangkah mendekati Elana, berdiri tepat di tepi ranjang tempat Elana duduk di pinggirannya. Hari ini dokter Nathan memutuskan untuk melepaskan infus Elana, karena melihat kondisinya yang sudah tidak mengkhawatirkan lagi dalam hal asupan nutrisi, karena sudah tidak mual muntah lagi dan bisa makan banyak tanpa masalah, karena itulah Elana bisa bergerak dengan lebih bebas tanpa harus terikat dengan selang infus yang membatasi.


Mata Akram menelusuri wajah perempuan yang dicintainya itu, dan rasa bersalah langsung terselip ke dalam jiwanya ketika menyadari bahwa dalam kondisinya yang sangat berhasrat tadi, dia telah meninggalkan jejak-jejak sentuhan di permukaan kulit Elana, menciptakan tanda kemerahan yang tampak mencolok di leher perempuan itu, di pundaknya, dan mungkin di sekujur permukaan kulitnya.


Akram mencatat bagi dirinya sendiri di dalam hati. Dia harus selalu mengingat kondisi permukaan kulit Elana yang rapuh dan menjaganya baik-baik.


Akram menyelipkan dirinya di antara kedua kaki Elana, untuk semakin mendekatkan dirinya kepada perempuan itu, sementara tangannya bergerak melingkari tubuh Elana dan menekan kepala Elana ke dadanya untuk dia peluk dengan erat.


“Kau tak menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau baik-baik saja? Apakah dalam kegiatan yang kita lakukan tadi, aku telah menyakitimu tanpa sadar?” bisiknya perlahan, menenggelamkan kepalanya ke kelembutan rambut Elana dan menciumnya.


Elana mendongak, menatap Akram dengan malu-malu. “Kau… tidak menyakitiku,” jawabnya dengan suara lirih, tetapi di penuhi keyakinan.


Akram menunduk menatap Elana, lalu menyusurkan jarinya ke bibir Elana, sebelum kemudian mengecup bibir perempuan itu karena tak tahan ingin menyentuhnya lebih dekat.


Ciuman mereka berlangsung lama, dan berbeda dari ciuman yang dihadiahkan sebelumnya oleh Akram yang dipenuhi oleh hasrat menggebu yang menggila dan seolah hendak meledak dari tubuhnya, ciuman Akram kepada Elana yang sekarang terasa lebih lembut, lebih penuh kasih sayang dan dimaksudkan untuk memuja, bukan untuk melampiaskan hasrat.


Ketika Akram selesai menyenangkan dirinya dengan menciumi Elana, lelaki itu mengangkat kepalanya, mengusap bibir Elana yang memerah dan lembab akibat lumatannya, lalu mengecup ujung hidung Elana dengan penuh kasih sayang.


“Aku bisa menciumimu selama berjam-jam, sepanjang hari, dan tak akan pernah bosan melakukannya,” bisiknya parau dengan nada bersungguh-sungguh, dan langsung terkekeh ketika melihat rona merah mulai menjalari wajah Elana. Dengan lembut, dikecupnya lagi bibir Elana, lalu bibirnya berlabuh ke pipi Elana untuk mencium rona merah yang menghiasi di dana. “Dan kau bahkan masih bisa tersipu malu dan memerah seperti anak perawan, setelah semua hal yang telah kita lakukan bersama,” suara Akram berubah parau dan hasrat mulai mewarnai matanya lagi.


Lengannya memeluk semakin erat dan lelaki itu kembali menundukkan kepala dan mendekatkan wajahnya dengann wajah Elana, hendak menciumnya kembali untuk meredakan percikan hasrat yang membakar tubuhnya, tetapi sebelum bibirnya menyatu dengan bibir Elana, barulah dia tersadar bahwa dia tak bisa mencumbu Elana lagi karena ada Nathan yng tengah menunggu mereka di luar lorong.


“Dokter Nathan ada di luar sana,” bisik Akram dengan nada lembut.

__ADS_1


Elana melebarkan mata. “Kenapa… kenapa kau tak membiarkan dokter Nathan masuk?” tanya Elana bingung.


Akram terkekeh. “Karena aku ingin bisa menciumimu tanpa gangguan,” godanya dengan nada rendah merayu. Suara tawanya terdengar lagi ketika Elana malahan memukul lengannya sebagai jawaban atas rayuannya.


“Dokter Nathan hendak melakukan USG karena aku sudah ada di sini. Kau ingin melihat bayi kita bersama?” suara Akram berubah serius, dipenuhi oleh antisipasi dan sedikit harap-harap cemas.


Dan hal itu menular, membuat jantung Elana berdegup kencang, sedikit takut tetapi juga tak sabar.


“Aku… aku tak sabar melakukannya,”ucap Elana kemudian menyatakan perasaannya.


***



***


Dokter kandungan yang direkomendasikan oleh dokter Nathan adalah dokter Sandra, seorang dokter perempuan berusia setengah baya, sesuai dengan permintaan Akram bahwa dia tak ingin ada dokter lelaki yang menangani kandungan perempuan itu.


Akram duduk di pinggir kursi yang ditarik mendekat hingga di pinggir ranjang. Elana berbaring di ranjang periksa dengan jantung berdebar. Dua anak manusia itu sama-sama terpaku, menatap seluruh kegiatan yang dilakukan oleh dokter yang bertugas untuk mempersiapkan proses USG.


Ketika dokter itu mengoleskan gel bening ke permukaan perut Elana, Akram langsung mengerutkan kening, merasa perlu bertanya karena gel itu dioleskan langsung ke perut dan langsung dekat dengan kandungan Elana.


“Itu apa?” tanya Akram dengan nada tajam, membuat tangan dokter Sandra yang sedang mengoleskan gel membeku sejenak.


“Oh, ini?” dokter Sandra menunjukkan gel di tangannya. “Tenang saja, Tuan Akram. Gel ini aman untuk ibu hamil, tidak bersifat abrasif dan korosi pada kulit,  dan fungsi gel khusus ini adalah untuk menghindari gesekan alat USG langsung ke kulit juga untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh dalam proses USG,” perlahan tangan dokter Sandra membalurkan gel itu ke permukaan kulit Elana, bibirnya tersenyum ketika tampilan layar besar di sebelah ranjang mulai memunculkan gambar.


Semula tampak gelap dengan guratan-guratan putih yang bergerak tak stabil, lalu tampak jelas di sana, warna putih yang ada di sekeliling dan sesuatu berbentuk lingkaran berwarna putih dengan warna gelap di bagian tengahnya.


“Nah, lihat ini. Untuk usia kandungan sekarang embrio masih belum terlihat jelas. Tetapi terlihat jelas di sini, kantong kehamilannya,” dokter Sandra menunjuk pada layar. “Pada usia kehamilan dini, yang tampak pertama kali adalah kantong kehamilan atau kantong kuning telur, untuk saat ini, embrio masih seukuran biji wijen, masih di bawah tujuh milimeter sehingga masih belum bisa tampak jika dilihat dari USG perut,” dokter Sandra menarik garis pada lingkaran tersebut, mengukurnya dengan saksama, “Tetapi ukuran kantong kehamilannya bagus, bentuknya bulat dan semua normal sesuai dengan perhitungan. Kita bisa melihat lagi sekitar dua atau empat minggu lagi untuk memastikan apakah janinnya berkembang dengan baik,”


Mata Akram terpaku pada layar, dan sinar ketakjuban tampak menghiasi wajahnya. Dulu, sungguh dia tak peduli dengan apapun yang berhubungan dengan siklus kehidupan manusia. Dia tahu manusia lahir, hidup dan mati, hanya itu. Sama sekali tak ada penghargaan dari hatinya menyangkut kehidupan manusia, sama sekali tak ada penghargaan darinya menyangkut nyawa manusia. Tetapi sekarang, melihat kehidupan manusia diawali dari sesuatu yang begitu kecil…. Dan makhluk kecil itu adalah anaknya, membuat dada Akram terasa sesak oleh suatu emosi yang tak bisa dijelaskan.


“Saya akan mencetak hasil USG pertamanya dan melaporkan seluruh hasil pemeriksaan ini kepada Dokter Nathan,” setelah perawat yang membantu membersihkan perut Elana dari gel, Dokter Sandra menyerahkan hasil cetak foto berwarna hitam putih ke tangan Elana.


Mata Akram mengikuti foto yang dibawa oleh Elana dan terpaku di sana. Sementara itu, setelah memeriksa, Dokter Sandra menggumamkan ucapan selamat dan berpamitan.


“Terima kasih, dokter.” Elanalah yang mengucapkan terima kasih ketika Akram hanya terpaku diam dan tak mengucapkan apa-apa.


Ketika Akram masih saja diam, Elana mendongakkan kepala dan menatap ke arah lelaki itu.


“Lihat ini, foto USG pertama anak kita,” bisik Elana sambil tersenyum lebar.


Senyumnya menular, mata Akram sedikit berbinar, lalu lelaki itu melirik ke arah foto di tangan Elana.


“Anak kita,” ucapnya dengan suara parau. “Kau pikir dia akan menjadi seperti aku kalau besar nanti?” tanya Akram perlahan.


Elana menatap ke arah Akram, dan barulah dia menyadari kalau sikap diam Akram tadi itu adalah karena lelaki itu merasakan haru, tercermin dari matanya yang berbinar ketika berucap.


Ekspresi Akram pun tampak lembut membuat Elana merasakan haru yang sama. Haru karena bayi di dalam perutnya, juga haru karena sosok keras seperti Akram Night ternyata bisa dibanjiri oleh kelembutan sedemikan rupa.


Elana mengangkat tangannya, menyentuhkannya ke pipi Akram, memasang senyum penuh sayang di bibirnya.


“Tentu saja dia akan mirip dirimu. Dia adalah anakmu,” bisik Elana dengan mata berkaca-kaca.


Akram tersenyum, mengambil tangan Elana dan mengecupnya lembut, lalu lelaki itu bangkit dari duduknya dan merengkuh Elana ke dalam pelukannya, memeluknya erat dengan seluruh perasaan.


“Terima kasih. Terima kasih karena telah mengandung anakku, Elana,” bisiknya parau, sesak oleh air mata.


***



***



__ADS_1


__ADS_2