Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 72: Racun Darah


__ADS_3

Perempuan ini bukan mengincar kepalanya, tetapi mengincar perutnya? Apakah bayinya yang menjadi sasaran?


Sera tidak sempat berpikir panjang karena matanya menangkap bahwa perempuan cantik itu sedang bergerak membidik, siap untuk menembak perutnya.


Naluri seorang ibu yang berusaha melindungi anaknya langsung bangkit ketika mengetahui bahwa jiwa anak yang sedang dikandungnya berada dalam bahaya. Sera melupakan keselamatan dirinya dan memekik pelan dalam ketakutan sebelum kemudian membungkukkan tubuh, dengan refleks memeluk perutnya demi melindungi bayinya.


Gerakan nekat Sera itu sama sekali tak diduga oleh perempuan tersebut, membuat tangannya bergetar karena terlambat mengantisipasi, sehingga tembakan pertamanya meleset hampir mengenai bahu Sera yang membungkuk, lalu akhirnya malah jatuh mendarat ke lantai.


Kenapa tembakan pistol itu tak bersuara sama sekali?


Hati Sera dipenuhi pertanyaan ketika hanya senyap yang terdengar dari pistol yang ditembakkan kepadanya. Seharusnya tidak seperti itu. Dirinya dibesarkan di dalam Keluarga Dawn dan dipersiapkan untuk menghadapi Xavier. Karena itulah Sera cukup familiar dengan suara tembakan pistol dan juga efek yang ditimbulkannya. Dia tahu bahwa meskipun menggunakan peredam, suara benturan peluru berkecepatan tinggi yang menembus permukaan lantai pastilah akan menimbulkan suara ledakan yang akan akan menggema di dalam ruang kamar mandi yang tertutup rapat ini.


Masih dilanda teror serta ketakutan, dengan sigap Sera menolehkan kepala ke arah suara denting peluru itu terjatuh tadi, dan matanya melebar ketika melihat bahwa yang ada di sana tidak ada selongsong peluru yang telah ditembakkan seperti yang terjadi pada pistol berisi peluru biasa, melainkan malahan tampak sebentuk benda kecil mirip dengan jarum logam berukuran agak tebal dan kokoh. Benda itu tergeletak jelas dan kasat mata di lantai marmer kamar mandi yang putih tersebut.


Sebuah jarum logam?


Sera bahkan belum sempat menelaah keanehan itu karena wanita yang menembakknya itu tiba-tiba mengumpat pelan dan mengejutkannya.


"Sialan! Aku tak pernah meleset sebelumnya, kenapa kau malah bergerak dan membuatku gagal? Mereka bilang ini pekerjaan yang mudah dengan bayaran yang sangat tinggi, aku hanya perlu membidik tepat ke perutmu lalu pergi!" Wanita mengumpat-umpat dengan suara rendah, matanya melirik ke arah pintu bilik tempat Elana berada dengan waspada. Didengarnya suara flush dari dalam bilik, lalu disusul dengan gemerisik suara kain pakaian Elana ketika perempuan itu bergerak di dalam sana.


"Sera? Kau masih di sana?" Suara Elana terdengar riang dari dalam bilik, membuat Sera tertegun kaku karenanya.


Mata wanita yang masih menodongnya dengan senjata itu melotot, kepalanya mengangguk keras, memberi isyarat agar Sera menjawab supaya Elana yang berada di dalam bilik itu tidak curiga.


Wanita itu tahu bahwa dia harus melakukan pekerjaannya dengan cepat lalu pergi dari tempat ini dengan segera sebelum terjadi keributan yang membuatnya tertangkap. Dia mendapatkan info lokasi dari orang dalam dan berhasil masuk ke tempat ini pagi-pagi sekali dengan menyamar sebagai petugas perwakilan pihak pusat perbelanjaan yang melakukan pengukuran luas area sewa untuk memverifikasi harga sewa area di mall ini.


Penyamarannya cukup meyakinkan, hingga manajer butik mempersilahkannya masuk tanpa curiga. Ketika pasangan yang ditunggunya datang, dia bergegas meminta izin memeriksa ke dalam toilet untuk melakukan pengukuran di area toilet. Dia sangat yakin bahwa calon korbannya akan masuk ke dalam toilet wanita dan memudahkannya untuk melakukan eksekusi. Tetapi memang ada hal yang terjadi di luar perhitungannya yang membuatnya harus berimprovisasi dengan hati-hati, seperti kedatangan tamu lain yang ikut masuk ke dalam ruang toilet ini contohnya.


Kejadian tak direncanakan ini membuatnya mengalami dilema. Calon korbannya berada di depannya, tetapi dia malahan tak bisa menembak karena adanya wanita lain di dalam bilik kamar mandi yang bisa menggagalkan semuanya.


"A-aku masih di sini, Elana. Aku sedang mencuci mukaku." Sera menjawab seketika, berusaha menjaga suaranya tetap tenang supaya Elana tak curiga lalu menghambur keluar bilik. Dia berdoa dalam hati semoga Elana tetap berada di dalam sana sehingga perempuan itu tetap aman.


"Ah, iya. Kau tidak bersuara, jadi kupikir kau meninggalkan ruangan," Elana menyahut pelan. "Tunggu sebentar, ya? Aku berbuat kesalahan sehingga pakaian dalamku basah kena air, untung aku membawa pakaian dalam cadangan di tasku untuk berjaga-jaga. Kau tahu, di pengalaman kehamilanku dulu, aku sering tidak bisa menahan buang air kecil karena posisi kandunganku menekan kandung kemihku, karena itulah aku selalu membawa pakaian dalam cadangan kemana-mana." Elana terkekeh perlahan seolah menertawakan dirinya sendiri. "Tunggu sebentar, aku harus mengganti pakaian dalamku dulu, ya."


"Santai saja, Elana. Aku menunggu di sini." Sera menjawab perlahan, matanya melirik waspada ke arah wanita misterius yang masih membidik ke arahnya. Tubuh Sera sendiri masih membungkuk, dengan kedua tangan memeluk perut untuk melindungi bayinya.


Wanita itu semakin terlihat gugup, matanya melotot sementara ekspresinya dipenuhi ketidaksabaran ketika menatap Sera.Waktunya sempit, ia harus segera menjalankan tugasnya untuk menembakkan jarum beracun itu ke perut korbannya lalu berusaha meninggalkan tempat ini secepatnya. Karena semakin lama dirinya berada di sini, semakin besar risiko dan bahaya yang harus ia tanggung.


"Cepat berdiri tegak, sialan! Cepat! biar aku bisa membidik perutmu!" geram wanita itu dengan suara rendah supaya Elana yang berada di dalam bilik toilet tidak mendengar perkataannya.


"T-tidak!" Sera melakukan hal yang sama, merendahkan nada suaranya demi menjaga supaya Elana yang berada di dalam sana tetap aman, tetapi dia tetap berusaha menolak perintah wanita di depannya itu dengan keras kepala, berusaha melindungi anaknya sekuat tenaga.


Sebuah gerakan yang tiba-tiba tertangkap oleh sudut matanya membuat Sera secara refleks menoleh ke arah sumber gerakan itu. Matanya tertuju ke pintu yang ada di belakang wanita misterius tersebut, dan dia terkesiap ketika melihat pintu utama ruang toilet di belakang punggung wanita itu tampak terbuka dengan geseran yang amat sangat pelan. Lalu, sosok Xavierlah yang muncul di sana.

__ADS_1


Lelaki itu pasti langsung melihat bagaimana perempuan di depan Sera tengah membidik ke arah perut istrinya. Kemampuan Xavier mempelajari situasi dengan cepat juga membuat Xavier langsung tahu bahwa Elana masih aman terlindungi di dalam bilik toilet dengan pintu tertutup dan kemungkinan besar sedang tidak tahu apa yang terjadi di luar bilik itu.


Xavier menatap Sera penuh arti, lelaki itu menggerakkan jari telunjuknya ke depan mulutnya, memberi isyarat kepada Sera supaya tetap diam agar wanita pembunuh bayaran itu tidak mengetahui keberadaannya.


Sera menelan ludah, dirinya dibanjiri dengan kelegaan luar biasa karena melihat kehadiran Xavier di dalam ruangan ini.


Xavier sudah ada untuk menolongnya, dia pasti akan selamat!


Sekarang tinggal tugasnya melindungi bayinya dari bidikan wanita misterius itu.


Berusaha menenangkan dirinya, Sera mengalihkan pandangan matanya kembali ke arah wanita itu. Beruntung si pembunuh bayaran itu tampaknya sedang memfokuskan pandangannya ke arah perut Sera sehingga tidak menyadari gerakan mata Sera yang tadi sempat tertuju pada Xavier di belakangnya.


Wanita itu akhirnya memutuskan tidak peduli apakah Sera akan membungkuk atau tidak, toh tembakan apapun, asalkan mengenai bagian perut Sera, akan memberikan efek yang sama seperti yang diharapkannya. Dia kemudian membidik ke arah perut Sera dengan fokus supaya kali ini dia tidak meleset lagi.


Tepat saat jarinya bergerak menarik pelatuk, dengan cepat Sera berucap untuk mengalihkan perhatiannya karena dilihatnya Xavier mulai bergerak masuk ke dalam ruang toilet dan mendekat tanpa suara.


"Tunggu dulu!" Tubuh Sera masih sedikit membungkuk dan memeluk perutnya dengan kedua tangan untuk melindungi buah hatinya. "K-kenapa kau mengincar perutku?" Sera sengaja bertanya dengan nada rendah untuk memberi kesempatan kepada Xavier yang telah melangkah semakin dekat tanpa ketahuan.


Usahanya berhasil karena wanita itu menggentikan gerakan tangannya yang hendak menarik pelatuk, lalu terkekeh pelan seolah menertawakan Sera.


"Kenapa katamu? Aku adalah seorang pembunuh bayaran. Aku mendapatkan perintah bukan untuk membunuhmu, tapi membunuh bayi di perutmu." Mata Sera melihat Xavier yang melesat tanpa suara hingga hanya tinggal sejangkauan saja dari perempuan pembunuh itu. Jantung Sera berdebar begitu keras ketika melihat gerakan Xavier yang sangat ahli, terus mendekat tanpa wanita pembunuh di depannya itu sadar, dan masih terus mengoceh dengan suara rendah. "Terima saja nasibmu. Kau mungkin tidak ditakdirkan untuk melahirkan anak sialanmu itu." Wanita pembunuh itu memberikan ultimatum, lalu tangannya membidik lagi, menekan pelatuknya.


Di detik yang sama, dengan gerakan yang sangat gesit dan ekspresi membunuh yang sangat dingin dan kejam, Xavier menggapai leher wanita pembunuh bayaran itu mencekiknya dari belakang dengan lengannya yang kuat, sebelah tangannya lalu menancapkan jarum suntik yang sangat mungil langsung ke lekuk antara leher dengan bahu perempuan itu, membenamkan jarumnya sampai tenggelam dan mengalirkan racun darah, salah satu senjata biologis Xavier yang paling mengerikan untuk masuk dan mencemari darah yang ada di dalam pembuluh darah perempuan itu.


Xavier Light, si ahli racun yang terkenal itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam menusuk, sementara bibirnya menyeringai buas, laksana seorang predator yang senang karena telah berhasil menaklukkan mangsa yang akan dicincangnya hidup-hidup.


Ada racun yang ditusukkan pada dirinya!


Wanita pembunuh itu terperangah, keputusasaan dan ketakutan langsung merayapi dirinya ketika merasakan kesakitan yang luar biasa hebat meletup dari dalam tubuhnya, lalu melebar lebih luas lagi, menjadi ledakan besar yang menyebarkan kerusakannya tanpa ampun, merasuki seluruh bagian tubuhnya dengan rasa sakit yang luar biasa dahsyat.


Sudah terlambat! Jika berhadapan dengan Xavier Light... sudah pasti dia akan mati!


Bodohnya dia, seharusnya dia tak mengambil pekerjaan ini yang melibatkan istri dan anak Xavier Light yang sangat berbahaya. Sekarang keputusan impulsifnya telah membawa kematian bagi dirinya sendiri.Sudah terlambat! Tak ada cara untuk melarikan diri...


Sera mengawasi dengan ngeri ketika darah mengalir keluar dari mata, hidung dan mulut wanita pembunuh itu. Mata wanita itu melotot, mulutnya ternganga seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi darah terlalu banyak mengalir dari mulutnya, membanjiri pita suaranya sehingga hanya erangan mengerikan berbalur darah yang menyembur yang keluar dari mulut itu. Tak lama kemudian, seolah kehilangan kekuatannya, tubuh wanita itu rubuh di lantai dengan lengan dan kakinya mengejang lemah. Darah tak juga berhenti mengucur dari seluruh tubuhnya, menciptakan genangan merah darah di lantai yang sangat kontras dengan lantai marmer putih yang mereka pijak.


Xavier menipiskan bibir, ekspresinya dingin mengerikan, seolah-olah mencabut satu nyawa dengan cara yang sangat mengerikan bukanlah masalah besar baginya. Lelaki itu kemudian bergerak melangkahi tubuh wanita yang akhirnya berhenti bergerak itu, dengan tanpa belas kasihan. Xavier kemudian berdiri menjulang di hadapan Sera dan memindai kondisinya.


"Kita keluar dari sini." Xavier mengulurkan tangan, menatap Sera tajam seolah tak mau ditolak.


Sera menoleh ke arah pintu bilik kamar mandi tempat Elana berada yang masih tertutup, lalu dengan ngeri dia melirik kembali ke arah tubuh tak berdaya yang berkubang darah itu.


Bagaimana reaksi Elana ketika melihat ini? Sementara Sera sendiri....

__ADS_1


Sera memejamkan mata ketika merasakan mual yang melanda dirinya.


Pada saat yang sama, Credence muncul dari pintu masuk. Sama seperti Xavier, ekspresinya tampak dingin, lelaki itu bahkan tak berkedip sama sekali ketika melihat mayat berkubang darah di lantai.


"Sudah selesai? Aku sudah mengosongkan ruangan butik toko dan menyingkirkan semua pegawai. Petugas pembersih khusus akan datang sebentar lagi untuk membereskan tempat kejadian perkara dan membersihkannya tanpa jejak." tanya Credence pelan, menilai situasi.


"Situasi udah aman. Tolong bawa Elana keluar dari sini dan tutupi itu, aku tak ingin Elana shock melihatnya."


Pada saat Xavier selesai berucap, pintu bilik toilet tempat Elana berada terbuka. Perempuan itu membeliak kebingungan ketika menyadari kehadiran Xavier dan Credence di ruangan toilet perempuan tersebut, ditambah lagi ekspresi Sera yang pucat pasi di bawah pegangan Xavier.


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


Yours Sincerely


AY


***


***


***

__ADS_1


__ADS_2