Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 59 : Terpesona


__ADS_3

"Kenapa kau melakukan itu?"


Dimitri menyesap minumannya, menatap ke arah Aaron yang sedang duduk tenang dan melamun sambil melihat ke arah pemandangan awan mengapung di jendela luar pesawat. Perjalanan mereka kembali ke Rusia baru saja dimulai dan Dimitri bahkan tidak mau membuang waktunya untuk membahas tentang insiden yang disebabkan oleh Aaron sebelumnya. Dia masih tetap tak habis pikir kenapa Aaron memilih melampiaskan dendamnya dengan menyerang Sera secara verbal.


Aaron mengalihkan pandangannya dari jendela luar ketika mendengar pertanyaan Dimitri, lelaki itu lalu menipiskan bibir sebelum menjawab,


"Aku memang sengaja melakukannya," jawabnya dengan nada datar.


"Apa keuntungan yang kau dapatkan dengan melakukan itu, bukankah hanya kerugian saja yang akan kau peroleh? Aku masih tidak habis pikir kenapa kau memilih menyerang Serafina Moon, padahal seharusnya dia bisa menjadi pion penting yang bermanfaat bagimu jika dia masih berada di pihakmu."


"Masih berada di pihakku? Sera adalah orang yang memberitahu Xavier mengenai ponsel mini yang kuselundupkan kepadanya. Dialah yang membuat aku serta Sabina terjebak dalam lingkaran pelik ini. Kau tahu, pagi itu sebelum aku menyelamatkan diri dengan menusuk Xavier, lelaki licik itu sedang berupaya untuk membunuhku dan yang menyedihkan, tindakannya itu didukung oleh Sera!" Napas Aaron tampak terengah menahan marah. "Menurutku, Sera sudah tak ada gunanya lagi, satu-satunya fungsi yang bisa diberikannya adalah menjadi umpan untuk memancing Xavier."


"Umpan untuk memancing Xavier? Apa maksudmu?" Dimitri memiringkan kepala, menatap dengan penuh rasa ingin tahu.


"Setelah apa yang kulakukan kepada Sera tadi, perempuan itu pasti akan langsung mengadu kepada Xavier. Kau pikir setelah Xavier mengetahui bahwa aku menghina Sera dengan kasar, maka lelaki itu akan melepaskanku begitu saja?" Aaron menyeringai ironis. "Tidak mungkin. Lihat saja nanti, Xavier pasti akan mengejarku."


"Kau sengaja melukai perasaan Sera dengan kalimat kasar, karena kau ingin dikejar oleh Xavier?" Dimitri benar-benar tidak mengerti cara berpikir Aaron yang aneh, dia mulai mengira bahwa Aaron mengambil keputusan gila kemungkinan karena otak Aaron telah rusak oleh racun yang pernah menodai aliran darahnya.


"Ya. Itulah tujuanku. Xavier saat ini memang melepaskanku, terima kasih kepadamu, itu pasti karena perlindunganmu. Kurasa Xavier tidak ingin membuat masalah dengan seorang pemimpin mafia paling kuat di Rusia seperti dirimu." Aaron melemparkan pujian tanpa menyadari bahwa senyuman penuh ironi langsung muncul di bibir Dimitri.


Dia pun tetap melanjutkan kalimatnya dengan nada berapi-api.


"Namun, aku sudah mempelajari bahwa Xavier adalah seorang pendendam yang tak mungkin melepaskan calon korbannya begitu saja. Apa kau lupa bagaimana dia mengejar paman dan bibiku lalu membunuh mereka tanpa ampun? Kurasa, dia sedang menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam kepadaku. Aku sengaja merendahkan Sera demi memberikan alasan yang kuat baginya untuk tidak melupakan dendamnya kepadaku."


"Untuk apa? Apakah kau bodoh? Sudah enak kau hidup aman dan jauh dari jangkauan Xavier. Kenapa kau malah menantang Xavier Light? Apa kau lupa bahwa dia sangat berbahaya dan hampir-hampir tak pernah ada musuhnya yang bisa meloloskan diri jika dia memutuskan untuk mengejarnya? Kau mau membuang-buang usahaku melepaskanmu dari sini dan malah mencari mati?"


Dimitri tak bisa menyembunyikan kejengkelannya ketika berucap. Banyak hal yang harus diurusinya, termasuk kondisinya sendiri masih terkontaminasi racun Xavier, ditambaj masih ada bom di tubuhnya yang bisa meledak kapan saja. Belum lagi, masalah Sabina yang masih 'ditidurkan' paksa dalam pengawasan Akram Night.


Seharusnya Dimitri bisa fokus membereskan kepentingannya sendiri saja, akan tetapi, dia malah harus menjadi baby sitter Aaron yang bodoh dan tak tahu bersyukur.


Seandainya saja Aaron fokus dengan masa depannya sendiri dan melupakan Xavier atau Serafina, maka masalah selesai, Dimitri tak perlu repot-repot lagi mengurusinya. Namun, dengan Aaron yang lupa diri dan malah ingin menantang Xavier, sepertinya tugas Dimitri akan lebih berat ke depannya.


Akram benar, Aaron memang akan menjadi ganjalan di masa depan. Lelaki ini tak sadar, bahwa jika bukan karena Xavier yang memberinya serum penawar demi Serafina Moon, maka Aaron pasti sudah sekarat dan mati.


"Jadi, apa rencanamu untuk menbalas dendam? Kau akan mengumpulkan kekuatan lalu mendatangi Xavier?" Dimitri bertanya kembali, tak bisa menyembunyikan nada penasaran dalam suaranya. Dia sedang menimbang-nimbang apakah ada kesempatan baginya untuk membujuk Aaron supaya membatalkan niatnya saja.


Aaron menggelengkan kepala, matanya berkilat jahat.


"Aku sudah membangun kekuatanku sendiri sejak lama. Aku memiliki pasukan yang kubentuk diam-diam dan memiliki kekuatan sangat hebat. Memang tidak sebanyak pasukanmu, karena dulunya mereka kurancang untuk merebut warisan dan kekuasaan dari Roman Dawn secara paksa jika pamanku itu tak mau memberikannya kepadaku secara sukarela. Tetapi sekarang hal itu tidak perlu dilakukan karena pamanku sudah ****** sendiri dan otomatis meninggalkan warisannya kepadaku. Jadi, aku akan menggunakan pasukanku untuk hal lain." Aaron menyeringai lebar. "Untuk menyerang Xavier," sambungnya dengan tatapan penuh dendam.


Kerutan di kening Dimitri semakin dalam.


"Kau ada dalam daftar blacklist negara karena masuk tanpa izin dan sekarang kau telah dideportasi. Bahkan, untuk dirimu sendiri masuk ke negara tempat Xavier berada saja akan sangat sulit, bagaimana bisa kau menyelundupkan pasukanmu ke sana?" sanggahnya dengan nada skeptis.


"Aku sudah memperhitungkannya. Karena itulah aku tadi menyerang Sera." Mata Aaron berkilat penuh bahaya. "Bukan aku yang akan mendatangi Xavier tetapi lelaki itulah yang akan mendatangi dan mengejarku ke Rusia. Pada saat itu, aku dan pasukanku, tentu saja dengan dibantu pasukanmu juga akan meringkusnya. Kita berada di negara kita sendiri dengan kekuatan terpusat yang besar, sementara Xavier hanyalah tamu yang pasti hanya akan membawa sumber daya terbatas. Bukankah itu situasi yang sangat ideal? Kita bisa membantai Xavier habis-habisan hingga tak ada yang tersisa dari dirinya yang bisa dibawa pulang ke negaranya."


***


Sera ingin memelototi Xavier, menendang tulang keringnya untuk memperingatkan lelaki itu supaya tidak bertingkah berlebihan. Sayangnya, dia tahu bahwa dirinya tak bisa melakukan hal itu depan begitu banyak orang, terutama di depan Liliana yang saat itu mengawasi dengan tatapan tercengang seolah tak percaya.


"Anda sudah beristri?" Liliana berdehem sejenak, berusaha menguasai diri dari shock yang melanda. Matanya kembali melirik ke arah Sera dengan pandangan menilai setengah ragu, seolah-olah berpikir bahwa Xavier mungkin sedang bercanda atau sedang mengerjainya.


Akhirnya Liliana memutuskan menyanggah untuk memastikan lagi.


"Tetapi, tidak ada berita satu pun yang membahas pernikahan Anda. Bukankah orang seperti Anda seharusnya merayakan pernikahan secara besar-besaran dan diumumkan kepada khalayak?" Liliana segera menunjukkan ketidakpercayaannya dengan suara tegas yang sengaja dikeraskan. Dia masih tidak bisa menerima kalau Xavier Light yang dipujanya, ternyata sudah menikah.


"Siapa yang mengharuskannya?" Xavier mengangkat alis, sengaja bersikap menjengkelkan.


Liliana menelan ludah. Tadinya dia menyangka Xavier akan memberikan penjelasan atau menyanggah kesimpulannya habis-habisan. Tetapi ternyata lelaki itu malah melempar balik pertanyaan kepadanya dengan sebuah pertanyaan retorika yang sesungguhnya tidak memerlukan jawaban.


Karena bingung hendak menyahuti apa, Liliana langsung melirik ke arah Sera, memindai dengan tatapan sinis, mencari kelemahan. Matanya menemukan bahwa tak ada yang istimewa dari perempuan itu, apalagi perempuan itu tampak pucat dan bermata sembab tanpa riasan.

__ADS_1


Apa yang dilihat Xavier dari perempuan itu? Tidak mungkin wanita seperti itulah yang dipilih Xavier menjadi istrinya, kan?


Seorang Xavier yang memiliki penampilan fisik cemerlang, seharusnya berpasangan dengan orang yang bisa mengimbanginya, contohnya adalah dirinya sendiri, dialah yang lebih sepadan dengan Xavier jika dilihat dari sudut pandang manapun. Liliana membatin dengan sedikit marah, merasa tersinggung karena dikalahkan oleh perempuan yang dia anggap berada jauh di bawah levelnya.


Alis Liliana terangkat ketika dirinya tak bisa menahan diri untuk melemparkan lirikan menghina terang-terangan kepada Sera. Setelahnya, barulah dia mengembalikan tatapannya ke arah Xavier sambil tak lupa menghadiahkan senyum palsunya.


"Meskipun saya masih tak bisa mempercayai bahwa Anda sudah menikah... tetapi, melihat bagaimana penampilan perempuan yang anda akui sebagai istri Anda, maka saya bisa mengerti kenapa Anda merahasiakan pernikahan Anda...," desisnya dengan nada mengejek yang kental.


Tubuh Xavier menegang dan aura berbahaya langsung menguar darinya ketika mendengar hinaan tersirat Liliana yang langsung ditujukan kepada Sera.


"Apakah kau hendak bilang bahwa aku merahasiakan pernikahanku karena aku malu dengan istriku?" Suara Xavier terdengar menggeram, ketenangannya memudar, tersulut kemarahan.


Nuansa menegangkan langsung menganga di antara Xavier dan Liliana, seolah-olah Xavier sedang menahan nafsu membunuhnya dan tidak mencekik Liliana saat itu juga.


Lalu secara tiba-tiba dan tanpa disangka, Serafina memutuskan mengambil langkah sedikit maju ke depan, sebelah tangannya kemudian memegang lengan Xavier seolah meminta Xavier mundur. Sera menciptakan kesan bahwa dirinyalah yang akan mengambil alih, hingga membuat kemarahan Xavier yang tadinya siap meledak, langsung tertahan.


Sebelah tangan Sera yang bebas digerakkannya hingga terulur ke arah Liliana, membuat Liliana terkejut dan bingung karenanya.


"Nona Liliana." Suara Sera terdengar tenang tanpa emosi."Apakah Anda melihat cincin di jari manis saya ini?"


Sera mendekatkan jarinya supaya Liliana bisa lebih jelas melihat sebentuk cincin pernikahan yang diberikan oleh Xavier kepadanya. Senyum puas tersungging di bibirnya ketika melihat mata Liliana melebar, mengenali keindahan cincin itu sebagai sesuatu yang dipesan khusus dan tiada duanya di dunia ini yang memiliki harga sangat mahal. "Cincin ini adalah cincin pernikahan kami, ada nama Xavier yang tertulis di sini, begitupun dengan cincin yang dipakai oleh suami saya, Xavier Light. Sebentuk cincin yang mengikat kami berdua ini tentu saja sudah menegaskan pernikahan kami." Sera menatap tajam ke arah Liliana.


Dilihatnya Liliana tertegun, seolah perempuan itu sama sekali tak menyangka bahwa gadis pemalu yang bersembunyi di belakang Xavier dan tampak lemah, ternyata bisa maju dengan garang layaknya singa betina yang siap menyerang mangsa.


Tetapi, tentu saja Liliana tak akan menyerah begitu saja diintimidasi seperti itu. Jika perempuan bernama Sera itu menantangnya layakya singa betina, maka Liliana dengan mudah bisa berubah menjadi harimau yang sama kuatnya. Dia tak mau kalah, dirinya tidak akan bisa menjadi menduduki posisi top di hotel ini kalau dia bisa digertak dengan mudah oleh gadis biasa seperti Sera.


"Ah, tentu saja sebentuk cincin bisa menjadi bukti pernikahan, dan tentu saja saya wajib mengucapkan selamat kepada Anda berdua atas pernikahan Anda berdua." Liliana menghela napas dengan gaya dramatis yang dibuat-buat. "Tetapi, saya hanya menyayangkan karena seorang Xavier Light yang begitu terkenal, harus melakukan pernikahan sembunyi-sembunyi hanya karena ingin menyembunyikan pengantinnya. Memangnya Anda tidak sedih disembunyikan seperti itu? Seolah olah, Anda ini tak diakui. Kalau saya jadi Anda, ketika saya menjadi pengantin seorang Xavier Light yang luar biasa, saya pasti sedih karena tidak bisa memamerkan pernikahan saya kepada khalayak... rasanya seolah-olah, suami saya malu mengakui saya sebagai istrinya." Liliana memasang wajah tak berdosa berhias senyum manis, tetapi kalimat terakhir yang ditambahkannya bermakna jahat dan merendahkan.


Sera tidak mundur. Perempuan itu malah mendongakkan kepala dan menatap ke arah Liliana dengan keangkuhan yang disengaja.


"Tapi saya bukanlah Anda. Sayalah istri Xavier Light dan bukan Anda. Saya tidak perlu memamerkan pernikahan saya kepada khalayak hanya demi mendapatkan pengakuan atas apa yang telah saya miliki. Suami saya mutlak telah menjadi milik saya dan tidak bisa lepas dari saya." Sera menjawab lembut dengan kalimat menghujam. "Lagipula, kami melakukan upacara pernikahan sakral yang sengaja hanya dihadiri oleh orang-orang penting saja, termasuk atasan Anda, Tuan Akram Night dan Nyonya Elana Night. Mohon maaf jika Anda tidak termasuk ke dalam daftar orang penting yang layak menghadiri pernikahan kami. Namun, Anda harus ingat bahwa suami saya ini adalah salah satu pemegang saham terbesar dari Night corporation, dan berdasarkan status Anda yang hanyalah salah satu karyawan dari cabang kecil milil Night Corporation, maka anda tidak layak untuk menerima kabar bahagia dari kami."


"Oh, tetapi karena Anda telah memberi ucapan selamat, tentu saja saya dan suami saya wajib menerimanya dengan baik." Tangan Sera yang tadinya hanya menyentuh lengan Xavier tiba-tiba bergerak melingkar di sana, dan tubuhnya menyusul kemudian, bergelayut manja sambil mendongakkan kepala dan menatap suaminya dengan mesra. "Bukan begitu, sayang? Satu ucapan selamat, meskipun hanya dari karyawan biasa, harus kita hargai, bukan?"


Xavier terpana. Lebih tepatnya lagi, dia terpesona. Tak pernah disangkanya perempuan canggung yang selalu lari bersembunyi karena kalah darinya itu, bisa menjadi berapi-api dan kuat seperti ini saat melawan wanita lain, demi memenangkannya.


Seringainya melebar, menunjukkan suasana hatinya yang dipenuhi rasa senang dengan gamblang. Xavier lalu merangkul pinggang Sera erat dan menghadiahkan kecupan lembut penuh hasrat di pelipis perempuan itu.


"Tentu saja harus kita hargai." Kepala Xavier mengangguk, menunjukkan persetujuannya. Lelaki itu lalu menoleh kembali ke arah Liliana yang seolah tercengang. Perempuan itu kehabisan kata-kata, hanya berdiri pucat di sana seolah baru saja ditampar habis-habisan. Xavier sendiri segera memasang senyumnya yang paling manis. Tangannya lalu terulur ke arah Liliana, menengadah dengan sikap menuntut. "Terima kasih atas ucapan selamat atas pernikahan kami Nona Liliana. Sekarang, dimana kartu kunci kamar kami? Anda tahu, istri saya telah membuat saya jadi makin terburu-buru dibandingkan dengan sebelumnya."


***


Begitu pintu lift khusus tamu VVIP yang membawa mereka ke lantai paling atas bangunan megah hotel ini menutup, tubuh Sera yang tegang langsung lunglai seolah kehilangan kekuatan penyangganya. Perempuan itu kemudian menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke dinding lift.


Xavier yang bersandar di sisi berseberangan dari lift tersebut tampak menumpukan tubuhnya ke tongkat yang dipegangnya, sementara wajahnya terlihat dihiasi senyum saat mengawasi Sera dengan saksama.


Sera sendiri mengerutkan keningnya, membalas tatapan Xavier dengan bingung.


"Kenapa kau menatapku sambil tersenyum seperti itu?" tanyanya cepat.


"Karena aku terpesona kepadamu." Xavier langsung menjawab dengan nada lugas tak tahu malu. "Baru kali ini, ada seorang perempuan yang dengan gagah berani membusungkan dada demi mengklaim kepemilikannya atas diriku. Aku merasa tersanjung karenanya."


Pipi Sera langsung memerah karena malu, tetapi dia berusaha keras menyembunyikannya dengan memasang sikap ketus sebagai topeng perlindungan.


"Jangan besar kepala Xavier Light. Aku bukanlah salah satu dari perempuan-perempuan pemujamu yang rela saling cakar dan sikut untuk bisa memilikimu. Aku menyerang Liliana karena dia menyerangku secara personal, tidak ada hubungannya denganmu," sahut Sera membela diri.


Xavier terkekeh. "Tetap saja kau membuatku terpesona, Serafina Moon. Aku senang ketika seorang wanita dengan gigih mempertahankanku sebagai hak miliknya. Itu membuatku sangat bergairah."


Mata Sera membeliak, jengkel setengah mati kepada Xavier yang bersikeras.


"Sudah kubilang aku melakukan itu bukan untukmu...." Suara Sera mendecit terkejut ketika Xavier tiba-tiba melangkah maju mendekatinya.

__ADS_1


Meskipun menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya, tetap saja lelaki itu memancarkan aura mengintimidasi yang membuat nyali Sera menciut karenanya. "K-kau mau apa?"


"Aku ingin menciummu. Sudah sejak tadi aku ingin merenggutmu dalam pelukan dan menjajah bibirmu." Xavier menjawab kurang ajar. Sebelah tangannya menangkup pipi Sera sementara dirinya sudah berdiri dekat sekali di depan Sera, hampir-hampir menekan punggung Sera merapat ke dinding lift di belakangnya.


"J-jangan lakukan itu!" Sera berteriak. Tanpa sadar tangannya terangkat dan menutup ke bibir Xavier yang sudah menundukkan kepala rapat ke arahnya dan bersiap untuk menciumnya. Hanya tangan itulah penyelamat bibirnya yang membatasi, sehingga bibir Xavier tak bisa menjamahnya. "Kau gila, ya? Ini di lift. Apa kau tak melihat ada kamera dipasang di sudut ruangan?" hardik Sera kesal, masih dengan telapak tangannya menutup bibir Xavier.


Xavier tersenyum. Lelaki itu kemudian meraih pergelangan tangan Sera dan menghadiahkan kecupan di telapak tangan Sera yang menangkup mulutnya. Ciuman mesra nan panas itu membuat Sera terkesiap dan seketika berusaha menarik tangannya dari genggaman Xavier. Sayangnya, Xavier tak berniat melepaskannya dalam waktu dekat. Lelaki itu memang menurunkan tangan Sera dari bibirnya, tetapi tetap menggandengnya erat.


"Kau benar. Untuk apa aku menciumimu di lift kalau aku punya kamar bagus di atas sana yang bisa kugunakan sepuasnya untuk menuntaskan hasratku kepadamu?" Tepat saat Xavier menyelesaikan kalimatnya, pintu lift itu pun terbuka.


Lelaki itu langsung menarik tangan Sera keluar dari lift, menghela Sera supaya mengikuti langkahnya.


"Ayo kita ke kamar dan bercinta," ujar Xavier kemudian dengan nada bersemangat.


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih pembaca semua atas like, favorit, komentar, rating bintang lima dan juga vote poin yang diberikan kepada novel ini sehingga EOTD masuk ranking mingguan.


AY

__ADS_1


__ADS_2