Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
EOTL eps 99 : Kesempatan Langka


__ADS_3

EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera


****


****


****


Keheningan itu sudah berlangsung entah berapa lama, melarutkan malam dalam senyap di dalam ruangan kamar yang dibasahi oleh perasaan campur aduk makhluk-makhluk yang ada di dalamnya. Ketika air mata itu mengering hinga tak ada lagi yang bisa dikeluarkannya, Xavier mengangkat kepalanya yang tertunduk dan menghela napas panjang.


Dia telah sekuat tenaga berusaha supaya tidak bersuara dan tidak mengganggu istirahat Sera, untungnya, sepertinya kelelahan Sera membuatnya tidak mudah terganggu dengan suara-suara di sekelilingnya. Xavier mengangkat tangan untuk mengusap wajahnya yang basah, dia menghela napas panjang lalu perlahan menggerakkan tubuhnya bangkit dari posisinya berlutut.


Kepalanya terasa sakit dan apa yang bergolak di dadanya masih terasa menyesakkan, seperti luka yang tak pernah mendapatkan kesempatan untuk disembuhkan. Namun, Xavier tahu bahwa dia tak boleh terlalu lama berkubang dalam penyesalan masa lalu. Dia harus bergerak maju demi Sera dan demi anak-anak yang akan dilahirkannya nanti.


Xavier berdiri di sisi Sera yang tertidur pulas. Ada sedikit senyum yang terulas di bibirnya ketika menyadari bahwa  meskipun Sera tampaknya habis menangis habis-habisan setelah bertemu ayahnya, wajah tidur perempuan itu tampak penuh kedamaian berbaur lega dan bahagia karena telah bertemu dengan ayahnya.


Sekali lagi rasa bersalah mendera hati Xavier ketika mengingat bahwa dengan dingin dia bermaksud melenyapkan Salvatore saja supaya tidak menjadi pengganjal hubungannya dengan Sera. Saat itu, dia tak sadar tentang bertapa kuatnya hubungan seorang ayah dan anak yang saling mencintai. Saat itu dia sibuk memikirkan kepentingannya sendiri dan mengabaikan perasaan Sera.


Xavier tahu bahwa jika dia hendak mengungkapkan seluruh permintaan maafnya, mungkin kalimatnya itu tak akan bertemu dengan ujungnya karena dosa dan penyesalannya yang menggunung. Dosa Xavier atas kekejamannya di masa lalu terlalu besar, jika dia terus menenggelamkan diri pada penyesalan, maka itu mungkin tak pernah berakhir. Saat ini, dia harus melakukan penebusan atas dosa-dosanya kepada Sera.


Xavier meraih helaian rambut Sera lalu mengecupnya, setelah itu dia merengkuh tubuh Sera dan mengangkatnya ke dalam gendongan. Sera sedang hamil besar mengandung dua bayi yang  membuat perutnya sangat besar, tetapi dia tetap terasa ringan di dalam gendongan Xavier.


"Xavier?" Sera mengerjapkan mata dan membuka matanya sedikit ketika merasakan tubuhnya berayun terangkat dalam pelukan lelaki itu. Ketika matanya bertemu dengan wajah Xavier, Sera langsung mengerutkan keningnya cemas. "Kau kenapa?" tangan Sera menyentuh pipi Xavier yang basah dan tatapannya terpaku pada mata Xavier yang sembab. "Kau menangis? Apakah kau sakit?"


Bahkan di saat seperti ini pun perempuan ini masih memikirkan dan mencemaskannya. Apakah Xavier pantas menerima kebaikan hatinya?


Xavier menundukkan kepala dan mengecup kening Sera lembut, berusaha mengalihkan perhatian Sera dari matanya.


"Aku tidak apa-apa, hanya lelah dan mengantuk," jawabnya dengan nada meyakinkan, dia lalu menoleh ke arah ayah Sera dan berucap lembut. "Ucapkan selamat tinggal pada ayahmu. Malam ini sudah larut, kita harus pulang."


Sera tergeragap dan segera menoleh ke arah ayahnya. Tentu saja posisi ayahnya sama sekali tak bergerak sejak tadi. Salvatore Moon berbaring membujur kaku di tempatnya dengan mata terpejam tanpa bergeser seinci pun, hanya bunyi konstan dari mesin penunjang kehidupan dan gerakan naik turun perlahan di dadanyalah yang bisa menjadi penunjuk kehidupannya.


Kesedihan melumurkan sendu di mata Sera ketika dia menghela napas panjang sebelum kemudian menoleh kembali ke arah Xavier.


"Apakah kita bisa kembali lagi nanti jika aku rindu?" tanyanya hati-hati.


Sesungguhnya Sera tak ingin pergi dari rumah sakit ini. Beberapa jam yang dihabiskannya di samping ayahnya terasa sangat kurang jika dibandingkan penantiannya bertahun-tahun selama ini, tetapi Sera juga tahu bahwa dia tak boleh bersikap egois dan mengabaikan kondisinya hanya demi memenuhi kemauannya. Dia sedang hamil besar, kehamilan yang berisiko pula. Akan sangat tidak bijaksana jika dia memaksakan diri untuk menginap di rumah sakit ini.


Bahkan jika Xavier bisa mengusahakan sebuah kamar untuknya pun, fasilitas kesehatan tempat ayahnya diperuntukkan untuk pasien-pasien dengan penyakit kronis dan beberapa di antaranya mengidap penyakit menular, maka bukan langkah yang tepat bagi Sera jika menghabiskan waktu terlalu lama di tempat ini.


Meskipun memutuskan untuk menekan keinginannya tak meninggalkan ayahnya sedetik pun, Sera ingin memastikan bahwa dia bisa melihat ayahnya kapan saja dan sesering mungkin. Semua itu tergantung kebaikan hati Xavier, karena itulah Sera mendongakkan kepala, menatap Xavier dengan segenap permohonannya, berharap supaya Xavier mengasihaninya.


Melihat ekspresi Sera, Xavier mendesah dan menyunggingkan senyuman putus asa bercampur sayang. Lelaki itu mengecup pucuk hidung Sera sekali lagi, seolah tak bisa menahan diri untuk tak menciumi istrinya itu.


"Kau bisa kembali kapan saja kau mau. Aku akan mengantarmu." Xavier memberikan jawaban yang menenangkan Sera, tetapi sebelum Sera terlalu bergembira, dia langsung menambahkan persyaratannya. "Asalkan kau berjanji untuk selalu sehat. Sebelum kau kemari, dokter Nathan akan memeriksamu dulu. Jika dokter Nathan bilang oke, maka kita berangkat. Aku tahu kau sangat ingin berada di dekat ayahmu, tetapi kau tidak boleh memaksakan kondisimu. Apakah kau mau menerima pengaturan ini?"


Suara Xavier terdengar lembut dan itu membuat hati Sera menghangat. Entah kenapa, semakin hari Xavier semakin berubah. Lelaki itu bersikap lembut, lebih bersahabat dan membuka dirinya. Xavier yang dulu akan memaksakan peraturannya tanpa mempedulikan perasaan Sera, tapi sekarang Xavier menanyakan apakah Sera mau menerima peraturannya atau tidak dan menunjukkan bahwa dia akan mempertimbangkan jika Sera ternyata tidak setuju.


"Aku menerimanya, Xavier. Terima kasih." Sera menjawab perlahan, tak bisa menyembunyikan matanya yang berbinar tulus.


"Baiklah. Kalau begitu, kita pergi sekarang." Xavier memberikan kesempatan kepada Sera untuk kembali menatap ayahnya dan mengucapkan pamit di dalam hati, lalu lelaki itu membalikkan tubuh menuju pintu sambil tetap membawa Sera ke dalam gendongannya.


"Apakah kau tak ingin menurunkanku?" Sera berbisik malu ketika mereka melangkah melalui lorong panjang rumah sakit dengan diikuti dengan beberapa bodyguard di belakang mereka, salah satu bodyguard bahkan tampak membawa kursi roda Sera yang dilipat dan mengikuti mereka tanpa suara. "A...aku pasti sekarang sangat berat." Sera melirik ke atas perutnya yang membuncit, lalu menatap Xavier dengan cemas. "Kau... kondisimu juga... tidak seharusnya mengangkat yang berat-berat," tambahnya kemudian.


Xavier terkekeh, menikmati pipi Sera yang memerah.


"Meskipun aku sakit, tapi kondisi tubuhku cukup baik. Lagipula, kapan lagi aku mendapatkan kesempatan ajaib ini? Sebentar lagi mungkin kesempatan seperti ini menjadi sesuatu yang mustahil bagiku," tambahnya dengan nada misterius.


Sera melebarkan matanya. "Kesempatan ajaib?" ulangnya bingung.

__ADS_1


Xavier tertawa. "Ya, kesempatan untuk menggendong istri dan dua anakku sekaligus, kesempatan untuk menggendong kalian bertiga dengan mudah. Ketika si kembar nanti lahir, akan sangat sulit melakukannya, bukan? Jadi jangan protes dan nikmati saja kesempatan ini. Kau tidak berat dan tidak pernah terlalu berat." Xavier memutuskan dengan tegas sambil melangkah memasuki lift yang membawa mereka turun ke lantai satu.


Sikap Xavier itu menularkan senyuman di bibir Sera, membuatnya akhirnya terdiam pasrah dan tak memprotes lagi ketika Xavier semakin erat memeluknya dalam gendongan. Hari ini, meskipun dipenuhi dengan air mata, tetapi dia merasa bahagia. Dia bisa bertemu dengan ayahnya, dia bisa melampiaskan rindunya, dia mendapatkan janji untuk menjenguk ayahnya kapanpun dia mau, dan suaminya menggendongnya seperti seorang putri kerajaan dengan sikap penuh sayang.


Mungkin tidak ada wanita lain yang sebahagia dirinya seperti saat ini.


Pintu lift itu terbuka dan Xavier membawa Sera menyeberangi lobby raksasa yang telah sepi itu. Langit sudah gelap ketika mereka melangkah menuju mobil mereka yang sudah menunggu di halaman depan lobby dan Xavier yang memasuki kursi belakang di kabin penumpang dari mobil tersebut, ternyata tak memiliki niat sama sekali untuk menurunkan Sera.


Lelaki itu duduk dengan tenang di mobil sambil tetap memangku Sera!


***


Aaron tak beranjak pergi. Dia masih di sana, menunggu dengan kesabaran yang nyaris melebur dengan jiwanya. Berjam-jam dia menunggu, dipenuhi harapan supaya dia bisa membasuhi matanya dengan pemandangan wajah Sera yang sangat dirindukannya sekali lagi.


Harapannya memang terkabul, tetapi dengan cara paling buruk. Dua makhluk itu sibuk dengan satu sama lain sehingga tak menyadari kehadirannya yang duduk di sofa besar yang terletak di salah satu sisi ujung lobby besar fasilitas kesehatan itu, sedikit tersembunyi di balik bayang-bayang pilar marmer yang mampu menyembunyikannya dengan baik.


Mata Aaron terus mengikuti ketika sosok Xavier melangkah keluar dari lift itu sambil menggendong Sera dalam pelukannya. Lengan Xavier melingkupi Sera, tampak melindunginya dengan posesif dan protektif, sementara Sera tampak memegang tubuh Xavier dan mencengkeramkan tangan mungilnya di kemeja lelaki itu.


Tak ada penolakan dari Sera, perempuan itu tampak menengadahkan kepala ke arah Xavier dan tersenyum lebar ketika Xavier tampak membisikkan sesuatu kepadanya. Mata Sera tampak sembab, tetapi pipinya merona merah dan berseri-seri ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Xavier kepadanya.


Senyuman Sera... senyuman yang ditujukan kepada lelaki lain yang sekaligus musuh besarnya itu, layaknya hujaman anak panah yang terbakar bara yang langsung menancap menusuk ke hati Aaron. Dia langsung merasakan kesakitan yang amat sangat melingkupinya, menerbitkan rasa nyeri karena cemburu bercampur perasaan dikhianati.


Bagaimana mungkin Sera bisa tersenyum seperti itu? Bagaimana mungkin perempuan itu bisa bersikap ringan tanpa beban seperti itu? Apakah Sera tak memikirkan tentang Aaron yang didesak ke persembunyiannya karena sayembara kejam yang dilemparkan oleh Xavier sehingga membuat seluruh pembunuh bayaran di dunia ini menggila dan mengejarnya untuk dibunuh? Tak pernahkah Sera memikirkan bagaimana nasib Aaron saat ini?


Apakah Sera telah melupakannya? Apakah Sera benar-benar telah mengkhianatinya dan tak mempedulikan Aaron lagi? Atau jangan-jangan kalimat terakhirnya yang dia ucapkan waktu perpisahan  di bandara kepada Sera, membuat perempuan itu tak mencintainya lagi?


Mata Aaron membara ketika Xavier yang sedang menggendong Sera melintas tepat di depannya tanpa sedikit pun menyadari keberadaannya. Dilihatnya musuhnya itu menundukkan kepala sehingga wajahnya dekat sekali dengan Sera seolah ingin menciumnya tapi menahan diri sekuat tenaga. Tangan Aaron langsung terkepal ketika kebencian meledak di dalam jiwanya, membuatnya mengucapkan sumpah serapah penuh makian keji kepada Xavier di dalam hatinya.


Lelaki psikopat itu pasti telah menutup mata Sera hingga gadisnya tak tahu apa-apa. Ya, Xavier pasti telah merahasiakan sayembara pengejarannya dari Sera, membuat Sera berpikir bahwa Aaron tengah baik-baik saja dan hidup bahagia di Rusia.


Itu benar! Sera pasti tak tahu apa-apa tentangnya. Sebab, jika perempuan  itu tahu, pasti Sera akan memasang badan untuk melindunginya. Aaron yakin bahwa cinta Sera kepadanya masih sangat besar sehingga melindungi Aaron akan menjadi nomor satu di benak Sera.


Ketika punggung Xavier menghilang di balik pintu keluar berkaca gelap lobby fasilitas kesehatan itu lalu masuk ke dalam mobil yang membawanya melaju pergi, Aaron menipiskan bibirnya dengan penuh tekad.


Nanti ketika mata Sera sudah terbuka, perempuan itu pasti akan kembali kepadanya.


"Dokter Oberon."


Suara panggilan dari seseorang yang tiba-tiba saja berdiri di dekatnya membuat Aaron sedikit terkesiap dan langsung menolehkan kepalanya dengan waspada. Ekspresinya melembut seketika ketika menyadari bahwa yang memanggilnya itu bukanlah orang yang berbahaya melainkan hanyalah manajer keuangan di fasilitas kesehatan ini.


"Apakah sudah selesai?" Aaron bertanya dengan senyum tenang tersungging di bibirnya.


"Maafkan kami karena membuat Anda menunggu selama ini. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan print out terhadap semua data ini." si manager keuangan itu menolehkan kepala ke belakang dan tampak seorang pegawainya membawa setumpuk kertas tebal di tangannya. Jika orang lain yang meminta, maka si manajer keuangan itu tak akan repot-repot mengantarkan sendiri berkas ini, tetapi karena yang meminta adalah direktur keuangan dari rumah sakit pusat yang menaungi fasilitas kesehatan ini, maka si manajer keuangan itu pun rela pulang terlambat demi mengantarkan sendiri berkas ini kepada dokter Oberon.


"Bukan masalah, malahan saya yang meminta maaf karena tidak ingin menerima data dalam bentuk softcopy." Aaron memasang senyuman meminta maaf di bibirnya. "Anda tahu, karena kondisi mata saya yang tidak begitu baik, dokter melarang saya untuk terlalu lama melihat layar perangkat dawai. Jadi, saya lebih memilih membaca berkas dalam bentuk print out cetakan kertas secara langsung. Maafkan saya jadi merepotkan."


Sikap Aaron yang meminta maaf terdengar tulus, tetapi sesungguhnya, alasannya meminta supaya data itu di-print out dalam bentuk cetakan hardcopy dan bukannya dalam bentuk softcopy adalah alasan palsu. Data dalam bentuk cetakan kertas mudah untuk dibakar atau dimusnahkan hingga tak bersisa untuk mengilangkan jejak, berbeda dengan data dalam bentuk softcopy yang meninggalkan jejak digital tak terhapuskan meskipun sudah dilenyapkan. Aaron tahu bahwa Xavier sangat ahli di dalam hal teknologi dan Akram Night juga memiliki perusahan berbasis teknologi yang sangat mutakhir. Jika Aaron tak berhati-hati dan meminta data dalam bentuk softcopy, bisa saja jejak digital pemindahan data itu terlacak dan menciptakan kecurigaan. Aaron juga tak ingin mencampurkan perangkat teknologi miliknya dengan data softcopy yang suatu saat mungkin bisa digunakan oleh Xavier untuk meretas dan melacaknya.


Si manajer keuangan itu langsung menggelengkan kepala dengan cepat mendengar sikap Arron yang merendah.


"Bukan masalah! sama sekali bukan masalah! Apakah Anda ingin berkas ini diantarkan ke mobil?" tanyanya kemudian dengan sikap hormat.


"Ya." Aaron mengangukkan kepala. "Saya parkir cukup dekat dari lobby. Saya akan pulang sekarang. Terima kasih atas semuanya." Aaron mengulurkan tangannya dengan sikap formal, lalu menjabat tangan berkeringat si manajer keuangan tersebut sebelum kemudian membalikkan tubuh dan membiarkan pegawai fasilitas kesehatan yang membawakan tumpukan kertas berkas itu melangkah mengikutinya di belakang.


Setelah duduk di belakang kemudi dan mengucapkan terima kasih pada pegawai yang meletakkan berkas itu di kursi belakang mobilnya dan menutup pintu mobilnya, Aaron pun menggerakkan mobilnya dan melajukannya melewati gerbang rumah sakit. Matanya melirik ke arah tumpukan berkas di kursi belakang mobilnya dan senyum tipis langsung tersungging di bibirnya.


Berkas itu adalah seluruh catatan biaya yang dikeluarkan untuk pasien pindahan dari penjara yang merupakan titipan khusus dari pemilik fasilitas kesehatan ini. Dengan kata lain, itu adalah berkas milik Salvatore Moon, ayah Serafina. Orang lain mungkin tak bisa mendapatkan berkas itu dengan mudah, tetapi Aaron, dengan kedudukannya sebagai direktur keuangan rumah sakit pusat, tentu memiliki privilege tersendiri untuk mendapatkan akses mudah ke data apapun di fasilitas kesehatan ini.


Malam ini Aaron mungkin tidak akan tidur karena dia akan sibuk menenggelamkan diri dalam catatan berkas itu untuk menemukan senjata, celah dan petunjuk apapun yang bisa digunakannya untuk melawan serta menjatuhkan citra Xavier Light di mata Sera.

__ADS_1


Dia sangat yakin bahwa ketika dia menyelesaikan seluruh rencananya nanti, Sera pasti bisa diubahnya menjadi perempuan yang akan memandang Xavier dengan kebencian yang sangat besar dan dendam yang tak terpadamkan.


***


Sera mendongakkan kepalanya ketika mobil yang mereka tumpangi melaju mulus melewati gerbang fasilitas kesehatan itu dan akhirnya  tak mampu menahan dirinya untuk bertanya.


"Apakah kau juga tak ingin menurunkanku sekarang?" tanyanya dengan pipi merona malu.


Xavier terkekeh. Lalu bukannya menurunkan Sera, lelaki itu malah mengetatkan rangkulan lengannya, membuat Sera semakin tersuruk di dadanya.


"Aku ingin memelukmu jadi duduklah dengan tenang di pangkuanku dan puaskan kemauanku. Kau tahu kan kalau memangkumu saat ini juga termasuk kesempatan langka?" tanyanya menggoda.


"Kesempatan ini langka karena kau bisa memangkuku bersama dua anak kita sekaligus?" Sera menyahuti sambil memutar bola matanya dengan geli, mulutnya menyunggingkan senyum lebar, tak bisa menyembunyikan suara tawa yang menyelip dari sana.


Sikapnya menular dan Xavier tertawa. Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya, menatap Sera dengan tatapan menggoda yang kental.


"Tentu saja ini kesempatan langka. Coba bayangkan kalau si kembar sudah lahir, lalu aku memaksa untuk memangkumu di depan umum sekaligus bersamaan dengan si kembar. Orang-orang akan menganggap aku gila," sahutnya dengan nada ringan penuh canda.


Perkataan Xavier itu membuat Sera akhirnya melepaskan tawa keras dari bibirnya hingga mereka kemudian tertawa bersama dengan riang.


Setelahnya, Xavier melabuhkan kecupan lagi di dahi Sera. Lelaki itu menangkup kedua sisi wajah Sera dengan telapak tangannya sebelum kemudian menggulirkan kecupannya ke pelipis Sera dan berpindah ke pipinya dan berakhir di mulut Sera yang terbuka menanti. Xavier menanamkan mulutnya di tangkupan mulut Sera yang lembut tanpa perlawanan. Dipejamkannya matanya, dinikmatinya sentuhan perempuannya yang selalu membuatnya dahaga tanpa penawar dan disesapnya kemanisan yang selalu dipersembahkan oleh bibir merekah yang sangat dipujanya itu.


Ciuman itu menenggelamkan mereka berdua di dunia mereka sendiri,melarutkan dua hati dengan tangan saling berangkulan dan mulut saling bertaut penuh hasrat dan keinginan untuk menyatu.


Begitulah adanya, di dalam kabin penumpang yang temaram, di atas mobil yang melaju menembus keramaian jalanan kota, dua makhluk saling memeluk dan menguatkan, mencurahkan cinta tak terucap yang hanya bisa disenandungkan secara rahasia oleh hati mereka, hati yang sama-sama dibungkam oleh rasa tak pantas memiliki satu sama lain.


***


***


***


***


Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book


EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana


EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.


DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.


Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt


Yours Sincerely


AY


***

__ADS_1


***


***


__ADS_2