Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 117 : Kebenaran Tersingkap


__ADS_3


***


Hai Beautiful Ladies,


Ini adalah 10dari 10 episode yang akan diupload oleh author secara bertahap mulai hari Jumat 22 November 2019 sampai dengan minggu 24 November 2019. Untuk lolos reviewnya kapan… sekali lagi author tidak tahu. Yang pasti, author akan post 10 episode minggu ini sesuai janji. Mudah-mudahan pihak Mangatoon cepat meloloskan Reviewnya ya.


MENGENAI SISTEM VOTE MENGGUNAKAN POIN


Sekarang ada sistem Ranking berdasarkan vote POIN di NOVELTOON ( dan akan segera menyusul di MANGATOON ).


Jadi, jika ingin memberi dukungan kepada Author, kalian boleh mendownload NOVELTOON untuk memberikan poin kamu buat vote author ya.


DI NOVELTOON, ada fasilitas untuk VOTE menggunakan POIN ke karya author ini


Untuk 3 pemberi POIN terbanyak dalam satu bulan, akan author berikan bonus sbb :


1. Ucapan terima kasih dan pengumuman di part terbaru untuk 3 orang yang akan disebutkan tertulis



Giveaway tempat minum unik/tumbler dari author yang bisa ditulisin nama by request dan akan dikirim langsung ke alamat masing-masing



3. Author akan follow akun mangatoon kamu untuk Private Chat dan meminta alamat untuk pengiriman giveawaynya juga untuk menanyakan request nama tulisan di tumblernya.


Pengumuman 3 Pemberi POIN terbanyak yang mendapatkan hadiah, akan diumumkan di awal bulan berikutnya.


Regadrs, AY


***



***


Ketika Akram memasuki ruang perawatan Elana, keningnya berkerut ketika melihat bahwa Xavier dan Nathan masih ada di dalam ruangan tersebut dan sedang bercakap-cakap dengan Elana.


“Kenapa kalian masih di sini? Bukankah aku sudah menyuruh kalian menyingkir?” ujar Akram dengan dipenuhi sikap arogan dan kejengkelan. Lelaki itu menatap tajam sambil melangkah mendekati ranjang Elana. “Keluarlah kalian dari ruangan ini. Elana butuh beristirahat,” sambungnya lagi ketika dua lelaki itu tak juga pergi.


Elana mendongak segera ke arah Akram. Lalu berucap dengan suara lembut untuk menenangkan kegusaran lelaki itu.


“Xavier dan Dokter Nathan tidak sedang menggangguku, Akram. Mereka hanya sedang mengajariku….” ucap Elana dengan nada sedikit ragu.


Akram duduk di tepi ranjang, sengaja memosisikan dirinya dekat sekali dengan Elana sehingga bisa menghalangi kedekatan Xavier dengan Elana.


“Mengajari tentang apa? Kalian tidak sedang membahas tentang pekerjaan, bukan?” Akram melemparkan pandangan penuh peringatan ke arah Xavier. Elana harus beristirahat secara jiwa dan raga, itu berarti otaknya tak boleh terlalu stres, apalagi sampai harus diganggu dengan masalah pekerjaan.


“Aku tidak mengajari Elana yang berat-berat, aku hanya sedang mengajarinya menjadi perempuan tangguh,” sahut Xavier sambil tersenyum lebar. Matanya melirik ke arah pipi Elana yang merah padam dan merasa senang karenanya.


“Kau seorang laki-laki, bagaimana bisa kau mengajari seorang perempuan untuk menjadi perempuan tangguh?” sahut Akram dengan nada mencemooh. Lelaki itu lalu menoleh ke arah Elana, dan tatapannya yang tadinya dipenuhi kegusaran, langsung berubah lembut seketika. “Kau boleh menjadi makhluk serapuh apapun, Elana. Kau tak perlu menjadi tangguh. Aku akan selalu sedia untuk melindungimu,” rayunya dengan nada menggoda nan sensual, hingga membuat pipi Elana semakin merah padam.


“Xavier tidak sedang mengajari Elana menjadi perempuan tangguh seperti kesatria berkuda atau ahli bela diri, meskipun kutahu Xavier sangat menguasai ilmu bela diri dengan sangat baik,” Nathan yang sedari tadi diam memilih untuk menengahi dengan memberikan penjelasan kepada Akram. “Xavier mengajari Elana untuk menjadi perempuan tangguh, demi melawan Maya,” sambungnya kemudian dengan nada sedikit geli.


Mata Akram langsung menyipit mendenga penjelasan Nathan. Upaya Nathan untuk menengahi antara Akram dan Xavier malahan berujung pada kegagalan total. Nathan bukannya memadamkan kemarahan Akram, dia malahan seolah menyiramkan minyak ke dalam api yang sudah mula membara.


Aura kegusaran Akram kembali menguar dari tubuhnya ketika lelaki itu melemparkan pandangan menuduh ke arah Xavier.


“Ini semua gara-gara kau. Kalau kau tak memanggil Credence kemari, dia tidak akan membawa-bawa perempuan jalang menjijikkan yang terus-terusan berusaha menempeliku tanpa tahu malu,” ujarnya dengan nada tajam yang khusus diberikannya kepada Xavier.


Bukannya merasa bersalah, Xavier malahan terkekeh.


“Bukan salahku kalau Maya menempelimu seperti orang gila. Meskipun begitu, kau harus berterima kasih, karena saat ini aku tengah mengajari Elana menghadapi kegilaan Maya.”


“Elana tidak perlu menghadapi Maya. Aku sendirilah yang akan menolak dan menyingkirkannya,” ujar Akram dengan nada marah. Lelaki itu kemudian menoleh kembali ke arah Elana, sebelum kemudian berucap dengan nada tegas meyakinkan. “Elana, kau tak perlu memikirkan apapun. Aku sudah memiliki kau, itu sudah cukup bagiku, dan aku tak akan menukar dirimu dengan apapun di dunia ini. Jadi, lebih baik kau jangan memikirkan mengenai Maya.”


Akram tidak menunggu jawaban Elana maupun reaksi Nathan dan Xavier, ketika berucap kemudian, nadanya tegas tak terbantahkan, sama sekali tidak menerima penolakan.


“Kurasa sudah cukup bicaranya. Waktunya kalian semua pergi meninggalkan ruangan,” usirnya terang-terangan.


***



***


“Kenapa Akram harus menginap di rumah sakit?”


Pertanyaan yang berkecamuk di dalam benak Maya itu terus menerus mengganggunya sehingga akhirnya, setelah melalui setengah perjalanan dalam keheningan bersama Credence yang memilih diam dan sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan dengan layar digital di tangannya, Maya memutuskan untuk mengutarakan pertanyaan itu.

__ADS_1


Credence mengangkat sedikit alisnya, tetapi matanya masih terpaku ke arah layar digital di tangannya dan menanggapi Maya sambil lalu.


“Kurasa itu sesuatu yang wajar,” sahutnya seolah tak peduli.


Seketika Maya meradang, karena apa yang begitu berat di pikirannya, teryata hanya dianggap angin lalu oleh Credence.


“Wajar bagaimana? Elana yang sedang sakit itu adalah wanita simpanan Xavier! Perempuan rendahan yang mengumpankan tubuhnya untuk dilahap Xavier. Jika Elana sakit, akan wajar jika Xavier yang merawatnya. Tetapi, kenapa Akram malahan bersedia direpotkan untuk mengurus Elana?” serunya dengan nada tinggi, membuat Credence akhirnya melepaskan perhatiananya dari layar digital di tangannya dan menatap ke arah Maya dengan saksama.


“Xavier belum menikah. Kenapa kau menyebut Elana sebagai wanita simpanan? Kalaupun mereka benar-benar berhubungan, bukankah itu wajar? Mereka berdua sama-sama lajang dan….”


“Ya, mereka sama-sama lajang, tetapi tingkatan mereka berbeda jauh. Xavier mungkin akan menerima Elana sebagai teman tidurnya, tetapi sudah tentu dia akan memilih wanita yang sederajat untuk mendampinginya. Jadi, meskipun Xavier belum menikah, perempuan dari kelas rendahan seperti Elana itu tetap saja akan berakhir hanya sebagai teman tidur saja, bukan kekasih resmi yang diumumkan kepada khalayak. Karena itulah, aku menyebutnya sebagai wanita simpanan Xavier!”


Maya memberikan penjelasan panjang lebar dan tanpa jeda dengan kebencian yang berkobar di dalam nada suaranya. Dadanya tampak kembang kempis menahan emosi. Sementara itu, Credence yang menjadi lawan bicaranya, bersikap sebaliknya. Credence tampak amat sangat tenang.


Lelaki itu lalu meletakkan layar digital di tangannya, dan memusatkan perhatiannya ke arah Maya.“Kurasa kau harus mulai menelaah pikiramu sendiri, Maya. Kau terlalu pandai dan kemampuan analisismu terkadang berlebihan, membuat otakmu dipenuhi dengan segala praduga negatif yang menyesatkan,” Credence menatap Maya dengan tatapan miris. “Kau sibuk menuduh sana-sini, menganalisis segala sesuatu dan lupa diri. Sebagai seorang jenius yang sangat pandai, kau malahan terbawa emosimu dan melupakan logika yang terpampang nyata di depan matamu. Sungguh, kalau melihat tingkahmu seperti ini, aku jadi ragu apakah kau memiliki kejeniusan IQ dan EQ sekaligus, atau jangan-jangan hanya IQ saja, dan tidak ditunjang dengan EQ,” ucap Credence sambil menatap lekat ke arah Maya.


Pipi Maya memerah, sementara kemarahan bercampur ketidaksabaran tersulut di dalam jiwanya.


“Berhenti bicara berputar dan mencela serta menceramahiku, Credence!” napas Maya mulai terengah ketika berucap. “Sekarang katakan padaku, apa maksudmu dengan kata kata: wajar kalau Akram menginap di rumah sakit?”


Credence mengawasi Maya lekat-lekat, ada ironi yng nyata ketika dia akhirnya menyeringai.“


Kau benar-benar buta ya?” Credence mempertegas nada suaranya, supaya Maya bisa mendengarkan setiap kalimat yang diucapapkannya saat dia melemparkan bom kenyataan itu ke arah Maya. “Tentu saja Akram-lah yang menginap di rumah sakit untuk menunggui Elana. Karena dugaan yang mengotori pikiranmu itu sudah salah sejak awal. Elana bukanlah kekasih Xavier. Dia adalah kekasih Akram Night, calon Nyonya  besar di keluarga Night."


***



***


Akram langsung menutup pintu setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan. Kemudian, lelaki itu menoleh kembali ke arah Elana dan memasang senyumnya saat melangkah kembali mendekati perempuan itu.


"Akhirnya para pengganggu pergi juga," ucapnya dengan nada ironis. "Kau tahu, Xavier sengaja sekali berusaha mengganggu niat awalku untuk menghabiskan waktuku denganmu sepulang kerja," ujarnya sambil bersungut-sungut.


Elana tersenyum penuh pengertian. "Sebenarnya aku tidak keberatan sama sekali, dokter Nathan sering memantau kondisiku dan Xavier... dia berusaha menguatkanku,"


"Yah, tapi tanpa diduga, Xavier juga mengikutkan Credence kemari, sambil membawa Maya, pula," ucap Akram tanpa bisa menyembunyikan nada dingin dalam suaranya.


Elana memiringkan kepala. "Tapi... tapi Credence juga sangat baik, dia benar-benar terlihat dan terasa tulus, jadi..."


Suara Elana terhenti ketika tanpa peringatan, Akram bergerak maju dan langsung melumat bibirnya tanpa ampun. Lelaki itu menikmati bibir Elanan dengan penuh kerinduan, mencecap dan menjelajahi rasa manis memabukkan dari kelembutan bibir Elana dengan penuh kerinduan, seakan-akan sudah berhari-hari dia tak bertemu dengan Elana dan bukannya baru setengah hari.


"Jangan pernah menyebut atau memuji nama lelaki lain dengan mulutmu yang indah ini," suara Akram terdengar serak dan posesif. "Terutama Credence," sambungnya dengan penuh penekanan.


Elana melebarkan mata, menatap Akram dengan tatapan penuh tanya, lalu akhirnya berani mengutarakan apa yang tersimpan di hati dan menanti untuk dilontarkan oleh bibirnya.


"Apakah... apakah kau cemburu?" suara Elana terbata dan begitu pelan ketika bertanya. Tetapi, langsung bisa membuat ekspresi Akram berubah dah matanya langsung menyipit, mengamati Elana dengan saksama.


Tangan Akram lalu bergerak, menangkupkan telapaknya di sisi kiri dan kanan wajah Elana, dan menjaganya tetap menghadap ke arahnya, seolah-olah khawatir perempuan itu akan menoleh kemana-mana ketika berbicara dengannya.


"Ya. Aku cemburu. Keinginanku memilikimu, keinginanku mengklaim dirimu begitu besar sehingga aku cemburu pada semua lelaki, ah tidak, pada siapapun yang mungkin bisa menarik perhatianmu lebih dari pada kau memprhatikan aku," ekspresi Akram berubah berbahaya ketika lelaki itu menatap Elana dengan pandangan menghujam nyata. "Kalau saja aku bisa melakukannya, aku akan memilih mengurungmu di suatu tempat di mana hanya aku saja yang bisa kau lihat, hanya aku saja yang bisa menikmati senyummu dan mengagumi kecantikanmu..."


Elana tampak terkejut. "Kau... kau akan... mengurungku lagi?" tanyanya terbata.


Akram menyeringai. "Itu adalah keinginan terdalamku, memilikimu untuk diriku sendiri," mata Akram melembut ketika berucap kemudian. "Tapi aku tahu, kalau sampai aku melakukannya, kau tak akan bahagia. Jadi, karena kebahagiaanmu berada di atas keinginanku, maka aku memilih membiarkanmu bebas tapi terikat," sambungnya berteka-teki.


Elana mengerutkan kening. "Bebas tapi terikat? Apa maksudmu?" tanyanya lemah.


Akram terkekeh. "Itu adalah persis yang terjadi kepadamu saat ini. Kau bebas, tapi kau terikat kepadaku," kembali Akram mengecup bibir Elana sekilas. Berhadapan dengan perempuan ini, Akram memang tak tahan dan selalu ingin menyentuh serta mencium. Meskipun hal itu benar-benar layaknya sebuah penyiksaan kepada diri Akram sendiri, karena dia tak bisa bertindak lebih lanjut, dan bahkan sekarang pun, tubuhnya sudah mulai merasa nyeri akibat hasrat yang tertahan.


"Saat ini aku membebaskanmu, tetapi tetap dengan mengikatmu," Akram berucap dengan nada kepemilikan yang kental. "Di masa kecil, aku sudah merasa terbiasa ketika hal-hal yang kusukai, hal-hal yang kusayangi dan kuinginkan, direnggut dengan keji oleh Xavier dari tanganku. Aku bahkan sampai di titik di mana aku kehilangan hasrat untuk menginginkan sesuatu lagi," Akram memaku Elana dengan tatapannya yang posesif. "Sampai aku bertemu dengan kau dan seluruh sel tubuhku bahkan berteriak, ingin mengklaim kepemilikan kepadamu. Kau milikku dan satu-satunya wanita yang kuinginkan di dunia ini, dan aku adalah kekasih yang sangat pencemburu, Elana. Melihatmu menatap lelaki lain saja hatiku bergolak oleh rasa tak aman yang menyesakkan dadaku," sekali lagi Akram menunduk dan mengecup bibir Elana.


"Jadi, kumohon, demi kesehatan jantung dan hatiku, jangan pernah menatap pria lain dengan penuh kekaguman, atau memuji pria lain dengan mulutmu ini.... mulutmu yang juga milikku," kecupan Akram berubah penuh hasrat ketika lelaki itu kembali melumat bibir Elana, memagut bibir Elana supaya membuka dan menyusupkan lidahnya untuk mencecap Elana.


Napas mereka berdua saling berkejaran ketika akhirnya ciuman itu terlepas. Dan kali ini Elana mendongakkan kepala, memberanikan diri menatap ke arah Akram, sementara pikirannya terngingang kembali akan apa yang dikatakan oleh Xavier sebelum melangkah pergi tadi.


Bahwa Elana harus mulai jujur kepada dirinya sendiri, dan belajar untuk tidak lagi memendam semua hal yang membebani pikirannya, lalu mengungkapkan seluruh ganjalan di hatinya terhadap Akram....


"Aku... ada yang ingin kutanyakan kepadamu..." Elana berusaha memupuskan keraguannya demi mengajukan sebentuk pertanyaan kepada Akram.


"Tanyakan saja," Akram mengangkat sebelah alis ketika melihat kegugupan Elana. Dirinya jadi semakin penasaran.


"Di... di restoran waktu itu... kau... kau tampak akrab dengan seorang wanita bergaun biru... kau bahkan memeluknya ketika dia jatuh. Di...dia siapa?" Elana berhasil melontarkan pertanyaannya, lalu duduk menunggu sambil harap-harap cemas menanti tanggapan Akram.


Akram sendiri tampak terperangah, tidak menyangka Elana akan mengajukan pertanyaan itu kepadanya.


"Kau melihatnya?" tanyanya kemudian untuk memastikan.


Elana langsung tertunduk malu.


"Ya, aku sempat melihatnya ketika aku keluar dari ruang toilet wanita. Aku langsung mengurungkan langkahku ketika menyadari kehadiran wanita itu, lalu ketika melihatmu berpelukan dengan wanita itu... aku mual dan kemudian berlari lagi masuk ke ruang toilet untuk muntah, selebihnya.. kau sudah tahu ceritanya," ucap Elana dengan nada lemah bercampur malu.

__ADS_1


Akram menyeringai, tiba-tiba saja, matanya berbinar.


"Apakah kau cemburu?"godanya kesenangan.


Pipi Elana langsung merah padam karenanya..Dia berusaha mengalihkan pandangan matanya tetapi tentu saja Akram tak membiarkannya. Lelaki itu malahan tampak senang melihat Elana begitu salah tingkah.


"Kau cemburu karena aku didekati wanita itu, ya?" Akram berucap lagi, memgambil kesimpulan sambil berbangga hati.


Elana menggigit bibir, dengan wajah panas menahan malu setengah mati.


"Katakan... katakan saja siapa wanita itu?" tanyanya kemudian, menolak untuk menjawab.


Beruntung Akram memutuskan untuk memaksa Elana menjawab. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arah Elana, tersenyum simpul seolah menahan geli.


"Jangan khawatir, dia cuma Maya," jawabnya sambil lalu.


Mata Elana melebar. Maya? Jadi waktu itu... waktu itu, orang yang merayu Akram dan berpura-pura jatuh hingga memaksakan kedekatan fisik dan dipeluk oleh Akram... adalah Maya?


Seketika bayangan tentang lengan-lengan Akram yang dicengkeram oleh jemari lentik itu terpampang jelas dalam gambaran ingatannya. Bagaimana dada perempuan itu sudah pasti menempel di dada Akram...dan bagaimana lekuk tubuhnya yang indah menempel panas di tubuh Akram....


Perut Elana langsung bergolak dan rasa mual yang amat samgat seketika menyerangnya dengan cepat, membuat keringat dingin mengalir di dahinya karena menahan rasa ingin muntah.


"Itu cuma Maya. Kau pasti sudah mendengar dari Xavier kalau Credence telah bercerita bahwa Maya memiliki kekaguman berlebihan kepadaku hingga menjadi obsesi. Dia mabuk malam itu di restoran dan bertingkah kurang ajar. Ketika dia melemparkan tubuhnya kepadaku, aku mendorongnya menjauh dan memberinya peringatan. Tadi pagi dia meminta maaf kepadaku meskipun kurasa permintaannya hanya di bibir saja, karena tadi sore dia masih berusaha melemparkan dirinya kepadaku," Akram mengerutkan kening ketika melihat ekspresi Elana yang memucat.


"Kau bisa tenang, Elana. Aku tidak akan pernah tertarik dengan wanita-wanita lainnya, sebesar apapun mereka mencoba merayuku. Mereka semua bukan seleraku. Kau sendiri yang paling tahu seleraku seperti apa," Akram melemparkan tatapan sensual sambil menelusuri tubuh Elana dengan sikap menggoda, tetapi ekspresinya berubah terkejut ketika menyadari betapa pucatnya Elana.


Darah seolah surut dari wajah Elana dan perempuan itu berkeringat dingin di pelipisnya, dengan ekspresi seolah menahan sakit.


"Astaga, Elana! Kau kenapa?" tangan Akram dengan sigap hendak menekan tombol untuk memanggil perawat, tetapi seketika Elana bergerak menahannya dengan tangan mungilnya yang mencengkeram lengan Akram, sementara sebelah tangannya yang lain menutup di mulutnya dengan panik.


"Tidak... tidak perlu," ucap Elana terbata dengan susah payah. "Aku... aku cuma ingin...muntah!"


***



***


Perawat sedang mengganti pakaian Elana di dalam ruangan, sementara Akram dan Nathan memilih berbicara di luar ruangan, di dekat pintu kamar tempat Elana dirawat yang tertutup rapat.


"Jadi, muntah-muntah ini berhubungan dengan kehamilannya?" tanya Akram memastikan.


Nathan menganggukkan kepala. "Konsentrasi hormon hSG yang tinggi membuat perempuan hamil merasa mual, pusing dan muntah. Dan karena konsentrasi hormon hSG biasanya paling tinggi di pagi hari, mual dan muntah ini sebagian besar terjadi di pagi hari...."


"Tapi ini sudah malam, dan seingatku, beberapa waktu yang lalu, Elana muntah malam-malam juga," sela Akram dengan nada tak puas.


"Mual dan muntah pada wanita hamil terjadi karena banyak hal. Konsentrasi tinggi hormon hSG yang muncul saat penyempurnaan plasenta adalah salah satunya. Selain itu, ada hal-hal lain, seperti kekacauan hormon yang mempengaruhi juga kondisi emosional dan suasana hati wanita hamil," Nathan tampak berpikir keras. " Aku merasa Elana selalu memendam pikirannya hingga itu mempengaruhi tubuhnya. Kau bisa menanyakan kepada Elana nanti, apa yang dia pikirkan sebelum tubuhnya kemudian terdorong untuk merasa mual,"


Nathan menatap Akram lekat-lekat, lalu kembali menjelaskan dengan tenang. "Wanita hamil adalah makhluk paling kompleks yang pernah diciptakan di dunia ini. Sebagai kaum lelaki, yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka adalah dengan bersikap sabar, tidak meremehkan, tidak menertawakan tingkah aneh mereka, dan tidak menghakimi," sambung Nathan kemudian.


Akram menganggukkan kepala. "Baik, aku akan menanyakan pada Elana," dengan cepat Akram membalikkan tubuh, hendak menghampiri perempuan itu dan memastikan suasana hatinya. Kalau dipikir-pikir, Elana selalu muntah ketika sedang bersama Akram.


Apakah jangan-jangan, mual muntahnya itu berhubungan dengan Akram? Apakah... apakah kehamilan Elana membuat rasa benci dan jijiknya terhadap Akram yang sudah pudar muncul kembali, sehingga membuat perutnya bergolak?



***



***




***



Kisah Essence Of The Darkness dengan Akram dan Elana sebagai pelaku utama kisah akan segera berakhir kurang lebih dalam dua minggu ke depan (TAMAT SAMPAI PERTENGAHAN DESEMBER 2019), karena itu… ikuti terus kisahnya dan jangan sampai terlewatkan.


Tapi… kisah ini tidak akan berakhir sepenuhnya. Setelah kisah Akram dan Elana tamat, author akan melanjutkan dengan SEASON KEDUA.


Ya, SEASON KEDUA. Yang akan dimuli di awal BULAN JANUARI AWAL TAHUN YANG BARU


Tentu saja di SEASON KEDUA yang diceritakan tidak berpusat pada Akram dan Elana lagi. Kali ini di Essence Of The Darkness SEASON KEDUA ( yang masih akan dilanjutkan di novel ini ) akan berpusat pada XAVIER LIGHT dan pasangannya ( entah siapa wanita malang itu ahahahaha )


Kalau begitu, dukung terus author dengan memberikan VOTE dengan memberikan POINMU ( yang untuk saat ini baru bisa melalui aplikasi NOVELTOON dan akan segera menyusul di MANGATOON ) dan nantikan Essence OF The Darkness SEASON KEDUA di sini dengan Xavier Light sebagai bintangnya!


Regards. AY

__ADS_1


__ADS_2