
Sera mempercepat langkahnya untuk kembali lagi menuju ke ruang perawatan Xavier. Sementara itu, seorang bodyguard mengikutinya, menjaga pada jarak aman dan kemungkinan hal itu dilakukannya atas perintah Akram.
Xavier sadarkan diri. Xavier sadarkan diri lagi.
Sera merapalkan pengetahuan itu layaknya mantra dan saat menaiki lift khusus menuju lantai perawatan Xavier, jantungnya jadi berdebar tak terkendali, membuatnya harus menghela napas panjang berkali-kali untuk menenangkan diri.
Di saat berdiri diam seperti ini, barulah kakinya terasa lemah seperti kehilangan tenaga, membuatnya harus bersandar ke dinding lift untuk menopang tubuhnya.
"Anda tidak apa-apa, Nyonya?" Bodyguard itu mengawasi Sera dengan cemas, menatap wajah Sera yang pucat pasi.
Segera Sera menggelengkan kepala dan memaksakan diri memasang senyum lemah.
"Aku baik-baik saja," Sera menyahuti dengan suara perlahan yang tidak meyakinkan, tetapi cukup untuk menenangkan bodyguard yang penuh perhatian itu.
Mungkin rasa lemas di tubuhnya ini dikarenakan imbas shock yang baru melandanya setelah sebelumnya dia dipaksa berpacu dengan bahaya. Bayangan pistol Sabina yang ditodongkan ke arahnya dan nyawanya yang bisa saja terenggut beberapa detik setelahnya, langsung berkelebat kembali di dalam pikirannya.
Xavier benar, Sabina sangat kejam dan berbahaya. Andai saja Akram Night tadi tidak datang untuk menyelamatkannya, mungkin saja Sera saat ini sudah mati....
Tetapi, apakah keputusan Sera sudah benar? Dia menolak tawaran Sabina untuk membantunya melepaskan diri dari Xavier, sekaligus menafikan godaan pekat Sabina yang mengatakan bahwa dia akan membebaskan Sera untuk bisa bersama Aaron.
Sera tak tahu lagi bagaimana menelaah perasaannya, dia seolah diliputi kekalutan yang tertutup rapat, tak ada jalan keluarnya.
Sera tahu bahwa dia seharusnya di memprioritaskan Aaron. Lelaki itu adalah penyelamatnya di masa lampau, tanpa bantuan Aaron yang menyelundupkan makanan dan obat untuknya ketika dirinya sedang berada di dalam siksaan Samantha Dawn, mungkin Sera sudah mati kelaparan, atau bahkan mati karena infeksi saat luka cambukan Samantha Dawn menciptakan bilur berdarah menganga yang menyebabkannya demam tinggi selama berhari-hari.
Rasa bersalah menyusup ke dalam benak Sera ketika dia menyadari keputusannya yang telah menomorduakan Aaron dan malahan memilih menomorsatukan pemenuhan janjinya untuk berada di sisi Xavier.
Entah kenapa, Sera merasa tak mampu mengkhianati Xavier. Lelaki itu telah mengikatkan benang tak kasat mata yang membelit jiwa Sera hingga Sera tak memiliki keberanian untuk memutus ikatan itu.
Ikatan itu telah menciptakan sebentuk rasa simpati bercampur iba kepada Xavier, membuat Sera lebih memanusiakan lelaki itu dan memudarkan bayangan monster kejam yang sebelumnya telah terpatri di jiwanya.
Setelah mengenal Xavier, Sera jadi menyadari bahwa di balik kekejaman dan sifat mengerikannya yang keji, lelaki itu menyimpan penderitaan akibat trauma masa lalu.
Xavier sama seperti dirinya.
Mereka sama-sama pernah didera sampai batas kemampuan, tetapi mengambil langkah berbeda untuk melindungi diri. Jika Sera memilih patuh pada jalur yang ditetapkan untuknya supaya tak terluka lebih jauh, Xavier mengambil sikap ekstrim dengan menghancurkan semua penghalangnya tanpa pandang bulu sehingga dia tak bisa dilukai.
Tetapi, saat ini lelaki itu sedang sakit. Dan Sera tahu bahwa anemia aplastik yang diderita oleh Xavier bukanlah penyakit sambil lalu yang bisa sembuh dengan sendirinya. Penyakit itu bisa mencabut nyawa Xavier kapan saja. Xavier bisa mati jika tak mendapatkan transplatasi sel punca dari plasenta anaknya.
Xavier bisa mati dan Aaron juga terancam nyawanya jika dia tak mendapatkan penawar racun dari Xavier. Kedua-duanya sama-sama penting bagi Sera. Jalan apa yang bisa Sera pilih untuk menyelamatkan kedua-duanya?
Suara denting pintu lift terbuka mengalihkan Sera dari lamunannya. Bodyguard yang mendampinginya segera melangkah keluar dari lift, lalu berhenti dan memberi isyarat kepada Sera untuk melangkah lebih dulu supaya dia bisa mengikuti.
Setelah sampai di lorong tunggal dimana kamar perawatan Xavier berada di ujung, bodyguard itu tak mengikutinya lagi dan membiarkan Sera berjalan di lorong itu sendirian untuk menuju kamar Xavier.
Di setiap langkahnya, kegelisahan Sera semakin pekat.
Tadi dia melihat sendiri bagaimana Xavier dihantam rasa sakit ketika tersadar pertama kali. Yang kali kedua ini, apakah Xavier menderita rasa sakit yang sama? Apakah Dokter Nathan dan para perawat kembali menghambur datang untuk menstabilkan Xavier dan memaksa lelaki itu jatuh kembali ke dalam tidurnya?
Tapi... kenapa suasana begitu hening?
Sambil mengerutkan kening, Sera memberanikan diri meraih gagang pintu ruang perawatan Xavier dan membuka pintunya. Keraguan masih melingkupinya, bingung apakah dia boleh masuk atau tidak ke dalam ruang perawatan ini. Lalu ketika dirinya memilih berdiam di ambang pintu untuk menilai situasi, matanya langsung tertuju pada punggung lebar Dokter Nathan yang menutupi sosok Xavier yang tengah berbaring.
Hanya ada Dokter Nathan di sini, sementara para perawat lain tidak ada....
“Apa maksudmu, Xavier?”Suara pertanyaan Dokter Nathan terdengar jelas di dalam kamar senyap itu dan langsung sampai ke telinga Sera, membuat Sera mengerutkan kening dan menajamkan pendengarannya dengan penuh rasa ingin tahu.
Tak perlu menunggu lama bagi Sera untuk mendapatkan jawaban, karena Xavier terdengar langsung menyahuti pertanyaan Dokter Nathan itu.
“Aku akan membebaskan Serafina Moon dan menyambut kematianku sendiri.” Xavier mengucapkan kalimatnya dengan susah payah, tetapi nadanya penuh tekad. “Aku tidak perlu lagi anak darinya untuk menyelamatkan nyawaku. Panggil pengacaraku, aku akan menceraikannya dan memberikan… apa yang diinginkannya,” suara Xavier tersekat seolah menahan nyeri di dadanya. “Semua yang dia inginkan…. Bahkan penawar untuk Aaronnya pun, akan kuberikan.”
Sera melebarkan mata mendengar kalimat itu. Seluruh tubuhnya menegang, bahkan tangannya yang sedang memegang gagang pintu pun mencengkeram semakin erat, menjadikan gagang pintu itu pegangannya supaya kakinya tak goyah.
Xavier... akan membebaskannya? Lelaki itu akan menceraikannya?
"Kau tidak sedang berpikir jernih saat ini." Suara Dokter Nathan juga menyiratkan keterkejutan yang sama. "Jangan mengambil keputusan dengan impulsif, Xavier. Lebih baik kau fokus pada pemulihan dirimu sendiri dulu."
"Aku ingin menyelesaikan semuanya. Semakin cepat semakin baik. Aku sudah tak menginginkan Sera lagi dalam hidupku." Xavier menyahut dengan susah payah, terdengar bersikeras.
Kalimat terakhir Xavier itu langsung menusuk ke dalam hati Sera, menyembilu hingga menyebabkan nyeri tak kasat mata yang membuat dadanya sesak.
Jika Sera menjaga hatinya dari Xavier, seharusnya kalimat lelaki itu tak menyakitinya. Tetapi entah kenapa, saat ini rasanya sakit... sakit sekali.
__ADS_1
Sera melangkah mundur dengan tubuh gemetaran, ingin menyingkir dan menjauh dari semuanya, ingin bersembunyi supaya hatinya aman dari luka.
Tapi dia harus kemana? Sera tak punya siapa-siapa, saat ini, hanya Xavier tempatnya berpulang.
Tetapi... lelaki itu telah membuangnya dan tak menginginkannya lagi. Kalau sudah begitu, Sera harus pergi kemana?
Kaki Sera terasa lemah, gemetaran dan kehilangan kekuatan, pun dengan tubuh Sera yang lunglai kehilangan penopang energinya. Tangan Sera berpegangan kembali pada dinding lorong, mencoba mempertahankan kesadarannya dan terseok-seok menyeret langkahnya menjauh dari tempat itu.
Sayangnya, beban hati ternyata bisa menguras kekuatan fisik sampai ke batasnya, hingga Sera tak kuat lagi menanggungnya. Tubuhnya rubuh, pandangannya gelap, dan kesadarannya hancur berkeping-keping di detik tubuhnya bersinggungan dengan karpet lorong rumah sakit itu, terkapar di sana.
***
Tubuh Sabina dibaringkan di ranjang besi yang mirip dengan ranjang rumah sakit, tetapi ranjang yang ini dipancangkan kuat pada lantai. Kedua tangannya diborgol dengan baja tebal yang rantainya menyatu dengan besi di kiri kanan ranjang. Ruangan tempat Sabina ditempatkan adalah ruangan khusus di area rahasia yang merupakan salah satu properti milik Akram Night.
Gedung bangunan ini berpenjagaan ketat, berada di lokasi rahasia yang tak terlacak dan hanya digunakan untuk menahan musuh atau penjahat yang masuk ke dalam level berbahaya.
Karena Sabina merupakan salah satu dari jajaran pembunuh top milik Dimitri dengan kemampuan hebat, maka Akram memutuskan untuk menempatkan Sabina di sini.
Setelah Sabina menyerah dan dilumpuhkan dalam kepungan puluhan anak buahnya yang menodongkan senjata, perempuan itu langsung dibawa ke tempat ini dan ditidurkan paksa dengan bius khusus supaya perempuan itu tak bertingkah dan merepotkan para penjaganya.
Akram sesungguhnya tak keberatan untuk melenyapkan Sabina secepatnya karena tahu bahwa perempuan berbisa semacam ini, bisa menjadi ancaman pengganggu di masa depan jika tak segera dilenyapkan. Tetapi, Xavier yang sudah sadarkan diri menahannya, berkata bahwa Sabina mungkin bisa berguna nanti.
Entah apa rencana Xavier nanti, Akram tidak tahu. Tetapi untuk saat ini, dia memilih percaya kepada kakak angkatnya itu dan tidak mengambil tindakan ekstrim yang sekiranya bisa merusak rencana milik Xavier.
Saat ini, fokus Akram hanyalah menemukan Aaron Dawn, bukan untuk diberi pelajaran dan dilenyapkan seperti rencananya semula, tetapi lagi-lagi karena Xavier memiliki rencana, dimana rencananya itu hanya bisa dilakukan kalau Aaron tetap hidup.
Xavier bahkan memberikan penawar khusus yang harus disuntikkan kepada Aaron begitu mereka menemukan lelaki itu. Sebuah serum penawar yang akan melenyapkan racun dari tubuh Aaron, sekaligus menyelamatkan nyawa lelaki itu.
Kenapa Xavier tiba-tiba berubah drastis dan membalikkan segalanya menjadi bertolak belakang dengan rencananya semula? Apakah otak lelaki itu terganggu setelah dijatuhkan dalam koma secara paksa?
"Kau seharusnya menyerahkan Sabina kepadaku. Dia adalah aset berhargaku." Dimitri yang sedang sibuk mengaktifkan program pelacaknya melirik ke arah Akram yang termenung sambil menatap tampilan kamera pengawas yang menampilkan sosok Sabina yang terbaring tak sadarkan diri dalam ruang tahanannya.
Akram melirik sinis kepada Dimitri, ekspresinya tampak angkuh dan berkuasa.
"Kau tidak dalam posisi setinggi itu untuk bisa bernegosiasi atau membuat penawaran denganku. Kau juga seorang tawanan di sini. Jangan lupa diri. Apa kau lupa ada racun dan bom di tubuhmu yang bisa mencabut nyawamu kapan saja?" sahut Akram dengan nada tajam menusuk, menekan harga diri Dimitri sampai ke dasar. "Jadi, untuk sekarang, tutup saja mulutmu dan lanjutkan pencarianmu untuk menemukan posisi Aaron saat ini."
Karena Dimitri bilang bahwa mereka bisa menemukan Aaron dari rekam jejak perjalanan Sabina, maka Akram memutuskan untuk langsung membius Sabina saja tanpa melakukan interograsi. Saat ini dia sudah tak sabar menunggu, berharap bisa langsung melakukan penyerbuan dan meringkus cecunguk bodoh yang merepotkan itu.
Jadi untuk sekarang, Dimitri tahu bahwa cara paling tepat untuk menyelamatkan nyawanya adalah dengan berdiam diri dan meminimalisasi kemungkinan bisa menyulut kemarahan Akram Night yang membuat lelaki itu terdorong menekan tombol peledak yang bisa langsung menghancurkan kepalanya dalam hitungan detik.
Saat ini prioritas utamanya adalah menyelamatkan nyawanya dulu. Nanti setelah dia bisa bebas dari semua kemelut ini, dia akan memastikan bahwa di masa depan, dirinya akan berusaha menghindar sejauh mungkin dari dua bersaudara yang mematikan itu.
Mata Dimitri kembali tertuju pada layar digital di depannya yang menampilkan rekam jejak perjalanan Sabina dari pelacakan microchip di tubuhnya. Alat ini sangat susah dioperasikan oleh dirinya yang kurang ahli, hingga membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari seharusnya untuk memunculkan hasil.
Sekarang setelah hasil yang ditunggunya muncul, matanya melebar sebelum kemudian berucap dengan bersemangat.
"Kurasa aku tahu di mana Aaron berada saat ini."
***
"Sera sudah sadar sepenuhnya dan bertanya kepadaku apakah dia boleh mengunjungimu."
Dokter Nathan yang datang untuk mengunjungi Xavier langsung berucap begitu memasuki ruang perawatan lelaki itu.
Tadi, ketika mereka bercakap-cakap, terdengar suara ribut-ribut di luar. Saat dokter Nathan keluar untuk melihat situasi, ternyata Seralah yang menjadi sumber keributan itu. Perempuan itu tergolek pingsan di lorong dan para bodyguard sedang merubungi tubuhnya untuk memberikan pertolongan.
Dengan sigap Dokter Nathan segera memberikan pertolongan, dan Sera langsung dirawat di kamar yang tadinya disiapkan baginya untuk beristirahat, di sebelah kamar perawatan Xavier.
Tekanan darah perempuan itu rendah, dan kemungkinan beban streslah yang membuatnya pingsan. Ketika Sera bilang bahwa dia ingin berbicara dengan Xavier, Dokter Nathan memaksa Sera beristirahat lebih dahulu lalu memberikan obat supaya Sera bisa tidur selama beberapa jam untuk menenangkan dirinya.
Tadi, begitu terbangun dan merasa lebih baik, Sera langsung menagih janji, hingga Dokter Nathan tak bisa melakukan hal lain selain menyampaikan keinginan Sera kepada Xavier.
Dirinya dan Xavier sudah pasti tahu sama tahu bahwa Sera kemungkinan besar telah mencuri dengar percakapan mereka sebelum perempuan itu pingsan. Keinginan Sera untuk berbicara kepada Xavier, pastilah untuk membicarakan mengenai hal tersebut kepada lelaki itu.
Pengacara Xavier baru saja meninggalkan ruangan ketika Dokter Nathan melangkah masuk, dan mata sang dokter mau tak mau langsung melirik ke berkas yang tertumpuk rapi di meja samping ranjang. Dia langsung bisa menduga berkas apa yang ditinggalkan oleh pengacara Xavier itu.
"Kau yakin dengan keputusanmu?" Dokter Nathan berucap dengan hati-hati, matanya mengawasi Xavier yang berbaring diam dengan ekspresi mengeras.
Xavier hampir-hampir tak mengaduh selama berjam-jam dia sadarkan diri dan hanya sempat tidur-tidur ayam dalam waktu singkat selama beberapa kali akibat pengaruh obat penghilang rasa sakit di infusnya. Lelaki itu bersikeras untuk tetap sadar dan tak mau ditidurkan paksa. Padahal, Dokter Nathan tahu pastilah sangat sakit rasanya bernapas dengan paru-paru yang terluka seperti itu.
Xavier menganggukkan kepala untuk menanggapi pertanyaan Dokter Nathan. Lelaki itu melepaskan masker oksigennya dan berucap pelan dengan suara parau.
__ADS_1
"Bawa Sera kemari. Kurasa waktunya sudah tepat untuk berbicara dengannya."
"Sera tampak sakit dan menderita saat ini. Keputusanmu yang berubah mendadak ini sudah pasti mengejutkannya." Dokter Nathan menyela cepat, mengutarakan pikirannya.
Xavier sendiri tersenyum tipis. "Dia seharusnya senang. Aku akan membebaskannya."
"Kenapa kau lakukan ini, Xavier? Kau berjuang keras sebelumnya untuk mengikatnya dan memberinya anak. Kau bahkan bertekad untuk melakukan segala cara supaya sembuh. Aku mungkin tak berada dalam posisi dekat denganmu sehingga bisa menelaah pikiranmu, tetapi orang awam sepertiku pasti bisa melihat bahwa Serafina Moon adalah perempuan istimewa di matamu. Kenapa tiba-tiba saja menyerah dan melepaskannya begitu saja?"
Mata Xavier dipenuhi kilasan penuh ironi.
"Karena aku sudah terlalu lelah untuk berjuang. Tidak ada artinya, pada akhirnya aku akan mati." Xavier berucap dari kertak giginya yang mengatup kuat. "Aku tak ingin ada yang membebani jalanku untuk mati."
"Kau pasti sudah diberitahu oleh Akram bahwa Sera menolak tawaran Sabina untuk bekerjasama, kan? Perempuan itu tidak mau menerima bantuan Sabina. Sera menolak mengkhianatimu, tidakkah itu memberi arti untukmu?" Kembali Dokter Nathan berucap, mencoba melembutkan kekerasan hati Xavier.
"Tidak ada gunanya. Sekarang aku sudah tak peduli lagi." Xavier menyahut dingin, menyembunyikan baik-baik kesedihan penuh rahasia di matanya.
"Xavier." Dokter Nathan menyela dengan suara penuh peringatan, memberikan teguran. "Serafina Moon bisa saja sudah mengandung anakmu saat ini. Kau tidak bisa melepaskannya begitu saja. Apakah kau tidak memikirkan kemungkinan itu?" Dokter Nathan mengawasi wajah Xavier dan membaca makna yang tersirat di sana. Tiba-tiba saja ekspresinya berubah ngeri. "Kau tidak berencana untuk memusnahkan anak itu jika dia ternyata sudah terbentuk di dalam perut Sera, kan?" serunya dengan mata membeliak, dipenuhi keterkejutan.
***
Setelah mengamankan pasangan suami istri tua pemilik motel kecil itu, pasukan yang dikirimkan oleh Akram bergegas menyerbu ke lorong kecil tempat kamar-kamar penginapan ditempatkan.
Mereka melangkah hati-hati dan tenang, tak ingin jika penyergapan ini sampai mengganggu tamu yang lain.
Beruntung di saat seperti ini, motel ini sepi pengunjung dan hanya menerima tiga orang tamu termasuk Aaron yang berada di kamar paling ujung, sehingga mereka tak perlu melakukan strategi ekstra untuk menjamin penangkapan Aaron tetap menjadi penangkapan rahasia.
Pasukan itu berdiri di sepanjang lorong, mengepung pada semua posisi di sekitar pintu, lalu salah seorang anak buah Akram yang mendapatkan kunci dari pemilik motel melangkah maju dan membuka pintu tersebut dengan hati-hati.
Di dalam sangat sepi tanpa ada suara, dan pemimpin pasukanlah yang bergerak terlebih dahulu memasuki kamar dengan diikuti oleh anak buahnya yang menjaga di belakangnya.
Tetapi, tak ada siapapun yang menyambut mereka di dalam ruangan. Kamar itu kosong di setiap sudutnya yang sempit. Seluruh pasukan memeriksa ke semua sisi, dari lemari hingga kamar mandi, tetapi mereka tak bisa menemukan apa-apa.
Entah sejak kapan dan tanpa diketahui bagaimana caranya, Aaron telah berhasil melarikan diri dari tempat ini sebelum mereka datang.
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
Diterbitkan oleh projectsairaakira.
Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :
EOTD Bonus 1 : Morning Sick
EOTD Bonus 2 : Penyesalan
EOTD Bonus 3 : Anti Akram
EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak
EOTD Bonus 5 : Perpisahan
EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi
EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi
EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri
EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah
EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia
Terima Kasih.
__ADS_1
AY