Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 47 : Membuka Hati


__ADS_3


Elana begitu terkejut ketika Akram memeluknya. Dia hanya terpana, menatap kepala laki-laki itu yang entah kenapa kali ini tampak begitu rapuh dan tak berdaya di sana, sungguh berbeda dengan Akram Night yang selalu begitu kuat dan tak tergoyahkan.


Karena kerapuhan yang ditunjukkan Akram itulah Elana tidak mampu membuat dirinya mendorong lelaki itu menjauh. Yang bisa dilakukanya hanyalah meletakkan tangannya di punggung lelaki itu. Dengan canggung dia hanya bisa berdiam, menunggu sampai Akram bisa menguasai dirinya. Jantung Elana sendiri mulai berdetak oleh suatu perasaaan aneh yang sama sekali tidak dipahaminya. Seolah tercipta nuansa asing di hatinya, suatu kedekatan hati yang tidak disangkanya akan bisa dirasakannya kepada Akram.


Selama ini, Akram telah memaksakan mereka menjadi intim hanya secara fisik, tetapi tidak pernah sekalipun berhasil membuat Elana merasa intim secara emosi. Entah kenapa meskipun Akram adalah satu-satunya lelaki yang pernah menyentuhnya lebih daripada yang seharusnya, Elana selalu berhasil menjaga supaya hatinya tak tersentuh.... sampai dengan saat ini. Bukan dengan cumbuan yang ahli atau kemampuan  bercinta yang mumpuni, tetapi dengan menunjukkan sikap manusiawi dan kerapuhannyalah, Akram malahan berhasil menyentuh emosi Elana, menciptakan nuansa kedekatan yang tak pernah dirasakannya kepada lelaki itu sebelumnya.


Setelah cukup lama, Akram tiba-tiba mengangkat kepala dan menatap Elana dalam. Ada jejak rona merah di pipinya, menunjukkan bahwa Akram tiba-tiba merasa canggung karena baru menyadari bahwa dirinya telah menunjukkan sisi lain dirinya yang tak pernah ditunjukkan kepada siapapun.


"Jadi, apakah kau mau mendengarkan ceritaku?" Akram bertanya dengan suara serak. Jejak kearoganan masih terselip di nada suaranya, tetapi tersembunyi di balik suara lembutnya yang tak biasa.


Ketika Akram menunjukkan ketidakberdayaaan dan rasa  takutnya, Elana mau tak mau merasakan empati yang mendalam. Rasa empati itu cukup banyak untuk membuatnya mau duduk patuh di sana dan mendengarkan Akram bercerita.  Karena itulah Elana menganggukkan kepala, membiarkan Akram melepaskan pelukannya, lalu beralih duduk di samping Elana dan mulai bercerita.


***



***


".... aku yakin bahwa saat ini, Xavier sedang mengerahkan segala daya upaya untuk mencari sosok perempuan yang kusembunyikan. Mencarimu. Dia tidak akan berhenti sampai dia menemukanmu." Akram menyelesaikan ceritanya yang panjang dan hampir menjajah waktu sepanjang malam dengan kalimat yang cukup menakutkan bagi Elana


Mereka berdua duduk berdampingan di sofa, dengan atmosfer kedamaian yang membentang di antara mereka untuk pertama kalinya. Elana hampir-hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi, hanya Akramlah yang berbicara. Lelaki itu tidak menutup-nutupi semuanya. Akram menceritakan dengan berurutan dari awal keluarga mereka mengangkat Xavier sebagai anak, sampai dengan peristiwa penculikan yang akhirnya mengubah kepribadian Xavier menjadi mengerikan.


Suara Akram sempat tersendat ketika dia sampai di kisah tragis yang mengakhiri hidup Anastasia, kekasih pertamanya, membuat hati Elana entah kenapa ikut berdenyut oleh rasa sakit. Kemudian, Akram melanjutkan dengan cerita setelah kematian Anastasia, tentang perseteruannya dengan Xavier dan usaha mereka untuk saling mencelakai satu sama lain yang tiada habisnya, dimana insiden perseteruan mereka yang terakhir adalah kecelakaan yang menimpa Akram serta Elana yang tak sengaja terlibat di dalamnya.


"Kau... tidak pernah mencoba berbicara dengan Xavier? Jika dia berbuat seperti itu... jika dia menyerang dan menyalahkanmu... seharusnya kau mencari cara untuk berbicara dengannya, bukan? Apakah kalian akan terus saling membenci sampai mati dan tidak ada jalan untuk berkompromi?" Elana memberanikan diri bertanya setelah memikirkan semuanya.


Akram menoleh ke arah Elana dan mengangkat alis, seolah-olah Elana memberikan usulan yang sangat konyol.


"Berbicara dengan Xavier? Dia mungkin sudah terlalu gila untuk diajak berbicara. Setiap kali aku bertemu dengannya dan kami berkesempatan berbicara, yang dilakukannya hanyalah memprovokasiku supaya aku lebih membencinya sebesar kebenciannya kepadaku." Akram merenung seolah mengingat masa lalu. "Dulu Xavier menjalani ratusan konseling tanpa henti, entah kenapa hal itu tetap tak bisa menyembuhkan kegilaannya. Psikiater berkata bahwa Xavier sebenarnya membenci dan jijik kepada dirinya sendiri setelah peristiwa penculikan yang terjadi kepada dirinya. Sehingga, untuk menenggelamkan kebencian kepada dirinya sendiri itu, dia mengalihkan kebenciannya kepadaku."


Akram menghela napas panjang. "Tetapi, sebesar apapun aku ikut bersimpati atas peristiwa penculikan yang menimpanya, aku kehilangan semua simpatiku setelah dia membunuh Anastasia. Bagiku sekarang, Xavier adalah musuh yang harus kuhancurkan. Aku telah menahan diri lama karena janjiku kepada ibuku, tetapi sekarang, aku tidak akan menahan diri lagi jika dia memancingku hingga batas kesabaran." mata Akram menatap ke arah Elana dan ekspresinya berubah gelap. "Aku tidak mungkin membiarkan kau terus menerus hidup dalam kewaspadaan dan terancam bahaya. Jika Xavier harus mati demi keamananmu, maka dia akan mati."


Suara Akram begitu dingin, penuh dengan ancaman mengerikan hingga Elana begidik ngeri karenanya. Tanpa sadar kedua tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri sementara benak Elana berkelana, diliputi oleh perasaan yang berkecamuk di dalam jiwanya.


Elana merenungkan perkataan Akram, lalu dia memanggil kembali ingatannya yang masih segar tentang interaksi terakhirnya dengan Xavier malam ini. Sungguh, dia masih tidak mampu memadu padankan Xavier dalam cerita Akram dengan Xavier yang ditemuinya secara langsung. Karena Xavier yang ditemuinya secara langsung benar-benar tampak lemah dan bersikap begitu lembut kepadanya.


Akram melirik ke ekspresi Elana dan dengan tepat langsung bisa membaca menembus ke dalam benak Elana. Matanya berkilat oleh rasa cemburu ketika membayangkan bahwa mungkin Elana sudah jatuh ke dalam pesona tampilan fisik dan sikap luar Xavier yang mempesona hingga sulit untuk mempercayai keburukan Xavier yang dipaparkannya.


Tidakkah Elana menyadari bahwa tampilan luar Xavier dan sikap lemah lembutnya yang mempesona itu hanyalah tipuan untuk menjebak korbanya supaya terperangkap ke dalam cengkeramannya?


"Xavier yang berinteraksi denganmu tadi, adalah Xavier yang tidak tahu bahwa kau adalah perempuan favorit yang kusembunyikan darinya. Jika dia tahu, sikapnya kepadamu akan berubah mengerikan, dia akan menunjukkan wajah aslinya kepadamu dan tidak akan segan-segan menyiksa serta menyakitimu. Dia sudah pasti akan menghancurkanmu hanya untuk menumpahkan kebenciannya kepadaku." Akram mengambil dagu Elana dengan jemarinya dan menghadapkan perempuan itu ke arahnya. "Jangan lupa, dia adalah lelaki yang sama yang bisa menggantung seekor kucing sampai mati tercekik dan memutilasi seekor anjing di masa lalunya. Dia juga dengan kejam membayar segerombolan laki-laki untuk menghancurkan hidup seorang perempuan. Anak buahnya yang gagal mengerjakan tugas pun, dia bunuh dengan dua puluh tujuh tikaman mengerikan yang aku yakin dilakukan dengan tangannya sendiri. Di dunia bawah tanah, Xavier terkenal dengan kekejamannya dan kemampuannya untuk membunuh musuh-musuhnya dengan cara mengerikan. Apakah sekarang kau bisa membayangkan dengan mata terbuka apa yang akan dia lakukan kepadamu kalau dia sampai menangkapmu?"


***



***


Akram mengawasi ekspresi Elana yang tampak kalut setelah mendengarkan kalimat terakhirnya. Ekspresinya mengeras dipenuhi ketidaksukaan ketika membayangkan bahwa Elana masih memikirkan tentang Xavier di dalam kepalanya.


"Sekarang, karena kau sudah tahu semuanya. Kita bisa beralih ke hal yang lain." Akram berucap tenang, mencoba membuat perhatian Elana teralih sepenuhnya kepadanya.

__ADS_1


Dan dia berhasil. Elana langsung menatap Akram dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.


"Hal yang lain?" tanya Elana terbata.


Akram menyeringai. "Janjimu kepadaku," desisnya lambat-lambat.


Mendengar itu, pipi Elana langsung merah padam. "Kau... kau ingin sekarang?" tanya Elana seolah tak percaya.


"Aku bercinta denganmu bukan hanya untuk mendapatkan kepuasan jasmani saja, tetapi juga untuk ketenangan jiwaku. Apakah kau tidak menyadarinya selama ini? Hanya kaulah satu-satunya perempuan yang bisa memberikan kedua hal itu sekaligus kepadaku. Karena itulah kau begitu berharga untukku," Akram menundukkan kepala lalu mengecup dahi Elana lembut


Lelaki itu bergerak hendak mencium Elana, tetapi seolah tersadar kemudian dan menarik kepalanya menjauh dengan segera. "Tidak, aku tidak akan menciummu. Kaulah yang harus melakukannya kepadaku."


Akram menyandarkan kembali dirinya di sofa dan menatap Elana dengan tatapan penuh hasrat, membiarkan Elana balas menatapnya kebingungan.


"Kau harus menunjukkan itikad baikmu, Elana," Akram berucap menggoda ketika Elana seolah masih tak juga paham maksudnya. Suaranya lembut meskipun tersirat tuntutan kuat di sana. "Kau sudah berjanji," sambungnya lagi.


Elana menelan ludah. Dia tahu bahwa Akram tidak akan semudah itu melepaskanya begitu saja. Sepertinya sudah merupakan sifat Akram untuk menuntut sesuatu yang telah dijanjikan kepadanya tanpa ampun. Ketika Elana sudah berjanji, maka lelaki itu akan mengejarnya sampai ke ujung bumi sampai Elana mewujudkan apa yang dijanjikannya.


Akram merasa sudah memberikan keuntungan pada Elana dengan mengizinkannya keluar dan pergi bekerja, jadi, lelaki itu sudah pasti akan merasa rugi jika Elana tidak memberikan timbal balik yang sepadan baginya.


"Kau ingin aku melakukan apa?" Elana berusaha mengangkat dagunya, menunjukkan tekad serta harga diri yang dimilikinya.


Akram menyeringai. "Kau berjanji sudah berjanji, bukan?" tatapan Akram tampak menyelidik. "Aku jadi curiga, jangan-jangan kau mengucap janji tanpa tahu apa yang harus kau lakukan? Jangan-jangan kau tidak tahu seperti apakah yang dimaksud dengan bersikap aktif  itu?" tanya Akram dengan nada mengejek yang tidak ditutup-tutupi.


Elana memang tidak tahu. Selama ini Akramlah yang selalu bersikap aktif, memimpin semuanya dan Elana hanya mengikuti. Dia hanyalah perempuan polos yang tidak memiliki pengalaman apapun selain yang diberikan oleh Akram kepadanya. Karena itulah pipinya memerah malu, sebab Akram seolah selalu bisa menebak kelemahannya dan mempermalukannya dengan telak.


"Aku memang tidak tahu," Elena berucap pelan sedikit ketus. "Jadi katakan padaku, kau ingin aku melakukan apa dan aku akan melakukannya. Aku bukan orang yang suka mengingkari janji, jadi kau bisa pegang perkataanku," sambungnya penuh tekad.


"Kalau begitu, rupanya aku harus mengajarimu terlebih dahulu." Akram menepuk pahanya perlahan. "Kita mulai dari hal yang mudah dulu, dari apa yang pernah kuajarkan padamu di masa lampau. Cium aku,"


 


***



***


Kelab malam itu benar-benar kelab malam rendahan seperti yang diucapkan oleh Regas. Begitu mereka melangkah memasuki ruang kelab, bau asap bakaran tembakau yang menusuk hidung langsung tercium, berbaur dengan aroma alkohol murahan yang menguar di udara. Suasana kelab itu gelap dan remang, tertutup oleh kabut asap rokok yang tebal, dan suara musik yang berdentam-dentam terdengar keras dari ujung ruangan, memekakkan telinga siapapun yang berada di sana.


Penampilan para pengunjung kelab tidaklah lebih baik, mereka semua kotor dan berbau busuk, layaknya pemabuk murahan yang rela merusak tubuh mereka sendiri dengan meminum alkohol murahan dan membakar paru-paru mereka dengan asap rokok yang mencemari udara.


Xavier menggunakan saputangan untuk menutup hidungnya dengan rasa muak ketika dia melangkah masuk ke dalam kelab itu, diikuti oleh para pengawalnya, mengabaikan tatapan mata ingin tahu dari orang-orang yang berada di dalam kelab itu.


Tentu saja penampilan Xavier yang terang benderang, begitu rapi dan mempesona, sangat mencolok jika dibandingkan dengan penampilan semua orang di kelab yang gelap dan kumuh. Karena itulah, banyak mata dari para manusia yang melebar diikuti ketidakpercayaan ketika melihat sosok Xavier memasuki kelab ini.


Beberapa perempuan muda yang menjual diri tampak hendak bergerak merayu ke arah Xavier, tetapi dengan sigap segera disingkirkan oleh para bodyguard yang mengawal Xavier. Para bodyguard itu langsung mendorong siapapun yang mencoba mendekat dengan sikap kasar, demi menjaga supaya tuannya tetap tak tersentuh tangan-tangan kotor yang sungguh tak sepadan dengan kesempurnaan fisik tuan mereka.


Regas yang berjalan di samping Xavier tampak bergegas berjalan mendampingi tuannya dan tergopoh-gopoh menunjukkan jalan. Mereka melangkah membelah ruangan itu dan akhirnya sampai di bar besar yang berada di ujung ruangan. Regas langsung menunjuk ke sosok yang saat ini duduk di salah satu kursi bar itu.


"Itu dia, Gabriella." seru Regas dengan suara keras, berusaha mengalahkan suara musik yang memekakkan telinga.


Seperti yang dikatakan oleh Regas, Akram benar-benar membuat Gabriella berada di titik paling rendah kehidupannya. Perempuan itu seolah juga kehilangan gaun-gaun indah rancangan desainer terkenal yang pernah dimilikinya, dan sekarang berakhir mengenakan gaun murahan yang dihiasi oleh manik-manik mencolok mata. Potongan gaun itu sendiri seolah dimaksudkan untuk menggoda para lelaki hidung belang, menampilkan dengan jelas dada dan pahanya yang indah.

__ADS_1


Xavier tidak menahan langkah lagi untuk mendekati Gabriella. Dia berdiri di samping Gabriella yang tampak duduk di kursi bar dengan tatapan mata kosong, dengan segelas besar alkohol murahan yang isinya hanya tersisa sepertiga di depannya. Tubuh Gabriella tampak sempoyongan dan perempuan itu terlihat sekuat tenaga bertahan supaya tidak jatuh dari posisinya duduk.


"Nona Gabriella?" Xavier menyapa dengan suara lembut. Dia harus mendekatkan diri ke telinga Gabriella kalau ingin suaranya terdengar, karena musik yang memekakkan telinga itu tak juga berhenti.


Tidak ada jawaban. Kepala Gabriella tampak menunduk lunglai, lalu tiba-tiba tubuh perempuan itu ambruk dan kepalanya jatuh menimpa meja bar di depannya, menunjukkan kalau perempuan itu hampir kehilangan kesadarannya karena sedang mabuk berat.


"Dia terlalu mabuk, Tuan." Regas berucap perlahan, memberitahu apa yang sudah Xavier ketahui.


Xavier menganggukkan kepala, lalu memberi isyarat kepada para bodyguardnya. "Kita tidak bisa melakukan interograsi di sini. Bawa perempuan itu. Sepertinya dia harus menjadi tamu kita di rumah," ucapnya dengan nada tegas yang diiringi seringai mengerikan.


Tanpa diperintah dua kali, salah seorang anak buah Xavier langsung mengangkut perempuan itu di pundaknya dan mereka melangkah membawa Gabriella keluar dari kelab kumuh tersebut.


Tidak ada yang berani menghentikan Xavier dan anak buahnya sampai mereka pergi.Para pengunjung kelab bahkan menyingkir untuk memberi jalan supaya Xavier dan anak buahnya bisa lewat dengan lancar keluar dari kelab ini. Sedangkan pemilik kelab yang mempekerjakan Gabriella pun, hanya berani mengintip dan bersembunyi sambil menatap semuanya. Ketika Xavier memasuki kelab, pemilik kelab itu langsung menyadari siapa yang datang dan mengetahui betapa mengerikannya orang itu. Karena itulah, dia tidak mau mencari masalah dan memilih bersembunyi.


Kalau dia tidak ingin berakhir mati dengan kondisi mayat tak utuh lagi, lebih baik dia tidak mencoba-coba menentang Xavier Light yang mengerikan.


***



***


"Siramkan air ke wajahnya,"


Xavier memberi perintah dengan tenang. Lelaki itu tengah duduk santai di kursi sambil menyilangkan kaki, sementara di depannya, Gabriella yang masih lunglai tampak didudukkan begitu saja di lantai dengan punggung bersandar ke dinding.


Pagi sudah mulai menjelang, ditandai dengan semburat cahaya yang menghiasi kaki langit, memberikan jalan bagi matahari untuk menapak langit dan naik ke puncaknya guna menjalankan tugas menyinari bumi. Xavier sudah kehabisan kesabaran untuk menunggu. Perempuan itu masih saja tak sadarkan diri karena otaknya telah digerus oleh pengaruh alkohol. Padahal, Xavier sangat ingin mendengar keterangan dari mulut perempuan rendahan itu tentang wanita favorit Akram yang menciptakan rasa penasaran begitu besar di dalam jiwanya.


Anak buahnya langsung bergerak mengambil seember kecil air, lalu tanpa perasaan mengguyurkan air yang sedingin es itu tepat ke wajah Gabriella. Seketika, tubuh Gabriella memberikan reaksi. Pertama perempuan itu terbatuk-batuk, tampak megap-megap ketika kesadarannya dibangunkan secara paksa. Kemudian, perempuan itu mulai membuka matanya yang berkabut. Awalnya, Gabriella tampak kebingungan dengan keadaan sekelilingnya yang asing. Dia mengerutkan kening sambil terus memandang ke sekeliling, untuk kemudian berhenti ketika menatap Xavier yang duduk dengan tenang di atas sebuah kursi, tepat di depannya, tak jauh darinya.


Ada keterpesonaan yang terlintas dari ekspresi Gabriella ketika menemukan betapa tampannya lelaki di depannya itu. Seolah-olah dia sudah mati dan berhadapan dengan malaikat yang penuh kesempurnaan. Tetapi mengingat saat ini kepalanya terasa berdenyut sakit seolah-olah dipukul dengan palu tanpa henti, Gabriella sadar bahwa dia belum mati.


"Kau... kau siapa?" Gabriella berhasil mengeluarkan suara serak penuh rasa ingin tahu dan bertanya dengan terbata.


Lelaki luar biasa tampan di depannya itu tersenyum miring, sementara matanya menelusuri seluruh diri Gabriella dengan tajam. Tak lama kemudian, lelaki itu berdiri, mendekat ke arah Gabriella dan berdiri menjulang di atasnya.


"Aku bisa menjadi penyelamatmu, tetapi aku bisa juga menjadi hukuman mati untukmu," jawabnya lembut, tetapi menyiratkan ancaman yang sungguh mengerikan.


***



***


JUST REMINDER 😗😗😗





__ADS_1


__ADS_2