Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 62 : Menapak Masa Lalu


__ADS_3


"Bangun,"


Akram tidak bisa menahan godaan untuk menyusup kembali ke balik selimut, memeluk tubuh Elana dari belakang, dan menghadiahkan kecupan lembut di sana.


Hari sudah terang dan sinar matahari telah menggulirkan cahayanya yang benderang menembus kaca jendela besar yang tirainya telah dibuka oleh Akram sebelumnya. Ketika tidak ada reaksi apapun dari Elana, tubuh Akram bergerak memeluk Elana makin erat, sengaja mengganggu perempuan itu supaya tersadar dari tidurnya yang nyenyak.


Kali kedua, pelukan Akram berhasil menembus alam mimpi Elana. Sejenak perempuan itu menggeliat, sedikit mengeluarkan erangan protes karena dibangunkan dengan paksa dari lelapnya. Tetapi, tak urung dia membuka mata juga dan langsung terkejut ketika menyadari bahwa Akram tengah memeluknya dari belakang dengan sikap menggoda.


Berbeda dengan Elana yang kusut masai karena baru bangun tidur, Akram sudah mandi dan segar, dengan rambut basah dan permukaan kulit lembab yang mengintip dari jubah mandi warna putih yang dikenakannya. Aroma sabun bercampur aftershave yang maskulin pun langsung memenuhi indra penciuman Elana akibat kedekatan mereka, membuatnya merasa terintimidasi dan ingin menjauh.


Semalam, setelah mereka berdua sama-sama mandi, Akram benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak memaksakan kehendaknya pada Elana. Lelaki itu membantu mengeringkan rambut Elana, lalu meminjamkan salah satu piyama tidurnya untuk dikenakan oleh Elana, sebelum dengan santai mengajaknya masuk ke dalam selimut tebal yang membungkus mereka berdua, hanya untuk tidur berpelukan dalam lelap yang penuh kehangatan.


"Lepaskan aku," Elana bergumam canggung sambil berusaha melepaskan lengan Akram yang melingkari tubuhnya. Dirinya bersiap-siap untuk meronta lebih keras jika Akram tidak mau mendengarkannya.


Tetapi, rupanya apa yang dipikirkannya itu tidaklah terjadi. Peristiwa kemarin benar-benar membuat Akram bersikap menahan diri.


Seketika Akram melepaskan pegangannya, sama sekali tidak menunjukkan niat untuk bertahan memeluk Elana di luar kehendaknya. Lelaki itu melangkah bangkit dari ranjang dan melirik ke arah meja besar yang penuh dengan menu sarapan lezat yang telah dipesannya sejak tadi.


"Mandilah, lalu sarapan sebelum hidangannya dingin. Setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat," Akram berucap dengan nada misterius nan lembut, tetapi tentu saja tersirat nada arogan di sana yang tak terbantahkan hingga meskipun enggan, mau tak mau Elana beranjak bangun dan bergerak sesuai dengan perintah Akram.


***



***


Sepanjang perjalanan, Elana menahan dirinya untuk bertanya meskipun hatinya diliputi rasa penasaran yang luar biasa. Siang ini, Akram memilih mengemudikan mobilnya sendiri tanpa supir dan meminta Elana duduk di sebelahnya saat mereka memulai perjalanan menuju tempat misterius yang seolah masih disembunyikan oleh Akram. Mobil yang mereka kendarai saat ini bukanlah jenis mobil sport yang mencolok seperti yang Akram pakai ketika kecelakaan yang menimpanya bersama Elana terjadi, itu adalah jenis mercedes benz yang cukup nyaman, berwarna hitam legam mengkilat yang berpadu dengan kacanya yang gelap pekat.


Akram mengemudikan mobilnya dengan santai, menempuh perjalanan melalui jalan bebas hambatan di tengah kota, lalu keluar di area kota penyangga sebelum kemudian melewati jalur yang lebih sepi dan mengarah ke pinggiran kota yang masih hijau dengan nuansa pedesaan yang sangat bertolak belakang dengan hiruk pikuk pusat kota yang modern.


Mereka hampir tidak bercakap-cakap sepanjang jalan. Akram memilih fokus menyetir, sementara Elana menyatukan kedua jemari berjalinan di pangkuan dan menoleh ke arah jendela luar, mencoba mengabaikan keberadaan Akram di sebelahnya.


Meskipun hubungan mereka sudah tampak lebih tenang dan damai sejak semalam, jauh di dalam hati Elana, dia masih belum bisa memaafkan Akram. Perlakuan lelaki itu yang kasar dan merendahkannya ketika marah, serta menyamakannya layaknya wanita lacur, sungguh menorehkan luka mendalam di hati Elana yang sampai saat ini belum bisa tersembuhkan dengan benar.


Semua orang mungkin mengatainya sebagai perempuan bodoh yang tidak bisa memanfaatkan situasi padahal jelas-jelas sang taipan kaya Akram Night menaruh perhatian lebih kepadanya dalam kadar yang bukan main-main. Wanita-wanita lain mungkin akan mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya dari kemurahan hati Akram, atau bahkan mereka malahan tak bisa menjaga hati hingga dengan mudahnya jatuh dalam bujuk rayu serta rayuan Akram.


Tetapi, Elana berbeda. Dibesarkan sebatang kara tanpa orang tua dan keluarga, Elana yang merasa tidak punya apapun, menyadari bahwa satu-satunya hal yang harus ia jaga supaya dihargai oleh orang-orang adalah dengan menjaga integritas dan harga dirinya sebagai seorang perempuan. Dua hal yang telah dikoyak Akram dengan sikap arogan dan pemaksanya yang kejam.


Kalau sudah begitu.... bagaimana bisa Elana memaafkan Akram dengan begitu mudahnya?


Mobil yang mereka kendarai tiba-tiba melambat, membuat Elana tergugah dari lamunannya dan memalingkan kepala dari pemandangan jendela luar, lalu menoleh ke arah Akram.


Lelaki itu masih memandang lurus ke depan, memarkirkan mobilnya di sebuah tempat tak mencolok yang teduh terlindungi oleh pohon besar yang menaungi.


Karena Akram tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mengajaknya turun dari mobil, jantung Elana kembali berdebar, didera oleh rasa takut yang mengganggu. Kemarin, ketika lelaki itu menahannya di dalam mobil, Akram ternyata memberikan kejutan yang berakhir dengan tindakan kasar menyakiti.

__ADS_1


Kali ini, apakah Akram akan memberikan kejutan lagi untuknya?


Saat Elana memandang Akram dengan bertanya-tanya dan dipenuhi kengerian, lelaki itu tiba-tiba menolehkan kepala dan menatap ke arah Elana. Matanya yang tajam langsung menemukan kilasan ketakutan di mata Elana dan bibirnya langsung menipis karenanya. Akram tampak mencoba menguasai diri sebelum kemudian berhasil mengeluarkan kalimat pemberitahuan dengan nada datar.


"Kau lihat rumah berpagar hijau itu?" Akram menunjukkan sebuah rumah yang tampak asri dipenuhi pepohonan dan tanaman rambat yang sulur-sulurnya menutupi pagar besi di halamannya. "Itu adalah sebuah klinik bersalin yang dikelola oleh seorang bidan," mata Akram menajam ketika dia memindai reaksi Elana dengan saksama. "Rumah itu adalah tempat dimana kau dilahirkan," sambungnya kemudian.


Kalimat terakhir yang diucapkan Akram kepadanya seolah memukul Elana dalam keterkejutan yang luar biasa. Sepanjang perjalanan, Elana telah menduga-duga dengan berbagai kemungkinan mengenai tempat misterius dimana Akram akan membawanya. Tetapi, sungguh, dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa Akram akan membawanya ke tempat dirinya dilahirkan.


"Ibumu melarikan diri dari rumah dalam kondisi hamil besar.... dia ditemukan pingsan di rumah bidan itu yang langsung memberikan pertolongan sehingga kau berhasil dilahirkan secara normal. Seorang bayi perempuan yang sehat dan sempurna, dengan berat tepat tiga kilogram...." Akram memberikan penjelasan tanpa mengalihkan pandangannya dari Elana. "Dua hari kemudian, dalam kondisi yang belum pulih benar, ibumu melarikan diri dari tempat praktek bidan tersebut sambil membawamu, lalu meletakkanmu di panti asuhan yang hanya berjarak dua blok dari tempat ini."


Elana langsung memandang ke sekeliling ketika mendengarkan kalimat Akram itu. Karena terlalu sibuk dengan pikiran dan dugaannya, Elana tidak menyadari bahwa Akram membawanya ke area yang cukup dekat dengan panti asuhan tempat dirinya dibesarkan.


Jantung Elana disesaki oleh perasaan haru ketika memandang bangunan tempat praktek bidan itu. Bagi mereka yang memiliki orang tua yang bisa memeluk, mencurahkan kasih sayang dan mengasuh sampai mereka besar, lokasi tempat dilahirkan mungkin bukanlah merupakan sesuatu yang penting. Tetapi, bagi Elana yang ditemukan di panti asuhan tanpa asal muasal, lalu dibesarkan dengan pengetahuan bahwa dirinya sebatang kara, tanpa tahu siapa ibu dan ayahnya, pengetahuan dan kepastian tentang dimana dirinya dilahirkan juga kapan tepatnya tanggal dirinya dilahirkan, merupakan sesuatu yang luar biasa berharga.


Akram mengawasi mata Elana yang mulai berkaca-kaca, tanpa suara tengah menatap nanar rumah bidan tempat dirinya dilahirkan. Lekaki itu  kemudian berdehem dengan canggung. Akram yang dulu tidak akan pernah mau menghadapi perempuan yang hendak menangis sebelumnya. Dan saat ini, dia dihadapkan di situasi yang membuatnya bingung karena Elana tampak hampir meledak karena tangis.


Untuk memecahkan kebuntuan itu, Akram terpaksa mengeluarkan kalimat ringan yang terlintas begitu saja di pikirannya.


"Yah... setidaknya.... sekarang kita tahu bahwa hari ulang tahunmu yang diberikan oleh panti asuhan berdasarkan hari ketika kau ditemukan di panti, ternyata berselisih dua hari dengan hari ulang tahunmu yang sesungguhnya. " Akram tetap mencoba berucap dengan nada riang untuk menetralkan suasana haru menyesakkan yang memenuhi kabin mobil ini. "Tahun depan, kita akan merayakan ulang tahunmu tepat waktu, tidak salah tanggal lagi seperti tahun-tahun yang lalu," sambung Akram kemudian, menyeringai canggung setengah tersenyum ketika dia melemparkan candaan kering untuk membuat suasana hati Elana lebih baik.


Candaan Akram tidak lucu, tetapi ketulusan dan niat baik yang ditunjukkan Akram dengan kalimatnya telah menyentuh hati Elana sampai ke dasar. Dia mendongak, menatap Akram dengan mata basah penuh air mata haru tak tertahankan. Tetapi, berkebalikan dengan air mata yang membanjiri pipinya, bibir Elana malahan membentuk senyuman lebar penuh tawa.


Bisa dibilang saat itu Elana sedang tertawa sekaligus menangis.


"Kau benar Akram, terima kasih kepadamu...," suara Elana gemetar karena rasa yang campur aduk di dalam hatinya. "Mulai... mulai sekarang, kita tidak akan salah tanggal lagi, mulai sekarang hari ulang tahunku sudah dikoreksi... jadi... jadi... terima kasih...," suara Elana hilang oleh tangis haru nan pekat, membuat pundak mungilnya berguncang karena tak mampu menahan luapan perasaannya.


Lama Akram tetap mengeratkan lengannya untuk memeluk perempuan kesayangannya itu. Kemudian, setelah dirasakannya guncangan tubuh Elana mulai mereda dan isakannya tidak lagi menyesakkan dada, Akram melepaskan pelukannya dari Elana.


Kedua tanganya bergerak memegang bahu perempuan itu dengan lembut, sementara wajahnya menunduk untuk menatap ke mata Elana yang masih basah.


Jemari Akram bergerak mengusap air mata di sudut mata Elana, sementara dirinya menatap perempuan itu dengan penuh tanya.


"Ayah kandungmu meninggal di usia muda, tanpa sanak saudara dan dimakamkan jauh di luar pulau di tempat asal muasal keluarganya. Sementara ibumu..." Akram berhenti sejenak,tampak ragu. "Kalau kau masih sanggup melanjutkan perjalanan menelusuri masa lalumu, aku akan membawamu melihat makam ibumu," tawar Akram perlahan dengan niat memastikan.


Seketika itu juga Elana menganggukkan kepala. "Aku mau. Aku mau melihat makam ibuku," ujarnya kemudian dengan tangan terkepal penuh tekad.


***



***


Mereka sampai di apartemen Akram ketika hari telah menjelang malam. Tak ada suara di antara keduanya, seolah-olah bibir mereka terkatup rapat untuk menjaga hati yang tengah membengkak dipenuhi oleh rasa campur aduk yang mulai menyesakkan dan mencari jalan untuk meledakkan diri.


Ketika sampai di makam ibunya. Elana duduk dan menyentuh nisan sang ibunda yang tak pernah bisa ditemuinya bahkan sampai ajal menjelang. Air matanya tertumpah lagi, menangisi takdir mereka berdua yang ternyata tak bisa bersimpangan jalan hingga akhir. Sementara itu, Akram hanya berdiri di sana, menunggu dengan ekspresi datar tetapi bersikap penuh pengertian, tahu bahwa saat itu, Elana membutuhkan waktu pribadi untuk meluruskan jalannya di masa lalu, membersihkan semua ganjalan dan kerikil yang dulu menghantui, supaya dia bisa menoleh kembali ke masa depan dan melangkah maju tanpa digayuti lagi oleh beban masa lalu yang memberati.


Akram membuka pintu apartemen dan membiarkan Elana masuk terlebih dahulu. Dia lalu menutup pintu dan menatap punggung Elana yang hendak melangkah menaiki tangga untuk menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Elana," Akram memanggil dengan suara yang terdengar serius. Semalam dan hari ini dia menahan diri untuk tidak mengganggu perempuan itu. Tahu bahwa Elana masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan hati akibat luka tak terperi yang ditorehkannya dengan kasar kepadanya.


Seandainya ada lebih banyak waktu, mungkin Akram akan memutuskan untuk mendiamkan Elana sampai sembuh benar, barulah mengangkat masalah ini ke permukaan kembali untuk diselesaikan. Tetapi, tidak ada waktu. Esok hari Elana harus pergi lagi ke rumah Xavier, menjalani proses pemberian serum penawar tahap dua, dalam dua puluh jam yang membahayakan.


Akram tahu bahwa dia harus menyelesaikan segala ganjalan di hati mereka saat ini juga. Karena esok hari, siapa yang tahu racun macam apalagi yang akan disebarkan oleh Xavier ke dalam hati Elana untuk mengganggu dan merusak hubungan mereka?


Langkah Elana terhenti, tubuhnya terpaku dan meragu. Tapi, tak urung perempuan itu membalikkan tubuh juga menghadap ke arah Akram, matanya menatap dengan canggung, seolah ingin apapun yang hendak dikatakan Akram kepadanya segera diselesaikan dengan cepat.


Perempuan itu kembali bersikap layaknya kura-kura penakut yang menderita trauma karena telah dilukai sebelumnya. dipenuhi kewaspadaan dan siap untuk bersembunyi ke dalam cangkang ketika merasa terancam.


Tetapi, tentu saja Akram tidak akan membiarkan Elana bersikap seperti itu seterusnya. Dia tidak akan membiarkan Elana menghindarinya terus menerus seperti wabah penyakit berahaya,


Dengan langkah tegas, Akram melangkah mendekati Elana hingga jarak yang terbentang di antara mereka hanyalah tinggal satu jangkauan saja.


"Aku telah bertindak salah kepadamu kemarin dan itu adalah sebuah kesalahan besar yang mungkin tak bisa termaafkan," Akram memulai kalimatnya dengan nada tegas. "Meskipun begitu, aku tetaplah memohon maaf dan berjanji kepadamu untuk mengatur kendali diriku demi mencegah hal yang sama terulang kembali di masa depan," sambungnya kemudian, menunjukkan keseriusan atas janjinya dengan meyakinkan.


Elana menatap ke mata tajam Akram, lalu menghela napas panjang untuk menenangkan diri. Kalimat Akram membawa kembali ingatan menyakitkan yang masih segar tentang seluruh peristiwa kemarin yang melukai hati. Hal itu membuat tangan Elana mengepal menahan rasa.


"Kalau... kalau kau berjanji untuk tidak akan....melakukan itu lagi...," Elana tak mampu menyebut mengenai kejadian kemarin. Dia menelan ludah dan memalingkan wajah, tak mampu membalas tatapan tajam Akram. ".....maka aku... aku mungin bisa memaafkanmu," jawab Elana perlahan akhirnya.


Seberkas kelegaan langsung mewarnai raut wajah Akram. Meskipun begitu, sikap mengintimidasinya tak juga sirna, malahan semakin mengental ketika lelaki itu menggerakkan jemari untuk mengusap dagu Elana sebelum kemudian menghadapkan wajah perempuan itu supaya mendongak tepat ke arahnya.


"Tetapi, dengan meminta maaf bukan berarti aku melunak kepadamu. Aku tidak akan melepaskanmu, Elana. Kau adalah milikku, dan jika kau nekat menerima tawaran Xavier..." suara Akram merendah ketika lelaki itu mengawasi ekspresi Elana, memastikan perempuan itu mendengar seluruh perkataannya dan mengerti ancaman tersirat dalam suaranya. "Jika kau sampai berani mengkhianatiku, maka, akan ada banyak darah manusia yang tertumpah karenamu, entah itu darah manusia berdosa besar seperti Xavier, atau bahkan darah orang-orang tak berdosa,"


Akram tidak menyebut tentang Nolan adik Elana, tetapi sudah jelas bahwa adiknyalah yang dimaksudkan oleh Akram ketika menyebut akan menumpahkan darah orang yang tak berdosa.


Pemikiran bahwa Akram mungkin akan menyakiti Nolan  membuat tubuh Elana begidik diserang ketakutan yang amat sangat. Dia menatap mata Akram dengan bersungguh-sungguh, memutuskan untuk mengambil tanggung jawab layaknya seorang kakak penuh cinta yang bersedia memberikan segalanya, untuk menyelamatkan nyawa seorang adik yang sudah begitu dicintainya meskipun dia bahkan belum diberi kesempatan untuk menemuinya.


"Aku mengerti, Akram." Elana berucap dengan nada lemah, tahu bahwa dia tidak bisa berbuat lain. "Apapun yang akan ditawarkan Xavier kepadaku, aku akan menolaknya."


"Dan kau tidak boleh goyah oleh rayuannya, meskipun aku tahu kalau Xavier bisa luar biasa mempesona dan sulit ditolak kalau dia tengah berusaha," Akram menggumam dengan nada getir, lalu kembali menatap Elana dengan nada serius. "Apakah kau mengerti?" tanya Akram sementara jemarinya yang masih memegang dagu Elana sedikit mengencang ketika menunggu kepastian.


Elana mengerjapkan mata, lalu menganggukkan kepala dengan patuh. "Aku mengerti, Akram," jawabnya kemudian.


Lagi. Sinar kelegaan tampak melintas di bola mata Akram. Lelaki itu lalu semakin menunduk hingga wajahnya dekat sekali dengan Elana. Sinar matanya berubah berkabut dan sensual, ketika Akram kemudian menyentuhkan bibirnya dalam sentuhan tipis seringan jaring laba-laba, dan berbisik tepat di atas bibir Elana dengan menggoda.


"Sekarang. Apakah aku boleh menciummu?" Akram berbisik parau, menahan hasrat.


Ketika Elana tak mampu menjawab dan bibirnya hanya bergetar di bawah bibir Akram, lelaki itu tak mampu menunggu lebih lama lagi dan langsung menciumnya dengan penuh kerinduan. Tangannya bergerak untuk menarik perempuan itu ke dalam lingkupan pelukannya, mendekatkan tubuh mereka sedekat mungkin sehingga mereka bisa bertukar kehangatan menyenangkan yang saling melengkapi satu-sama lain.


"Jangan mencoba lari dariku, Elana," Akram berucap parau ketika melepaskan ciumannya, berusaha untuk bersikap lembut dan menahan diri. "Berikan aku sedikit waktu lagi, dan aku akan membuatmu menginginkanku sama besarnya seperti aku menginginkanmu. Berikan aku sedikit waktu lagi untuk membuatmu mencintaiku," Akram seolah mengucapkan janji kepada dirinya sendiri. Lalu, tanpa menunggu raksi dari Elana, lelaki itu membungkuk dan membawa tubuh Elana ke dalam gendongan, kemudian berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


***



***

__ADS_1



__ADS_2