
"Pistol yang digunakan oleh Dimitri benar-benar senjata yang berbahaya, pelurunya bergerigi sehingga ketika dorongan yang kuat menusuk dada dan menembus punggungmu, koyakannya begitu besar dan pendarahannya sangat parah," Nathan berucap sambil membebat luka bekas tembakan di dada kiri Akram dengan berhati-hati.
Apa yang dia ucapkan sebelumnya sungguh benar adanya. Koyakan dari pistol yang ditembakkan oleh Dimitri tersebut memang memiliki imbas mengerikan di permukaan kulit Akram, sobekannya kasar hingga Nathan harus menghabiskan beberapa waktu untuk menjahitnya. Beruntung peluru itu langsung menembus tubuh Akram hingga Nathan tak perlu melakukan prosedur bedah tambahan yang menyakitkan untuk mengeluarkan pelurunya.
"Beruntungnya lagi, peluru itu menembus di bagian atas dada kirimu. Turun sedikit saja, pistol itu akan menembus jantungmu. Kalau itu semua terjadi, bahkan dengan segenap keahlianku pun, aku tidak akan mampu menyelamatkanmu," sambung Nathan sambil mengerutkan dahi dalam, ketika dia memasang penyangga siku untuk menjaga supaya tangan kiri Akram tetap terlipat di dada dengan aman selama proses penyembuhan.
Permukaan kulit Akram masih pucat pasi, pendarahannya begitu banyak sehingga mampu mengubah rona kulitnya. Nathan sendiri sudah mengusahakan transfusi darah untuk mencegah kondisi Akram memburuk. Meskipun begitu, untuk saat ini Nathan tidak berpikir bahwa Akram akan mati dengan mudah.
Manusia kebanyakan akan memilih berbaring di ranjang dan mengerang kesakitan ketika tertembak dengan peluru dengan kemampuan besar untuk merusak seperti ini. Tetapi, Akram bahkan menolak segala jenis bius apapun dengan alasan dia ingin agar otaknya tetap jernih serta siap menghadapi situasi mendadak apapun yang mungkin terjadi di saat genting seperti ini.
Lelaki itu juga tidak mau berbaring dengan tenang, malah memilih duduk dengan kaku dan hanya mengetatkan geraham dengan tangan terkepal ketika Nathan membersihkan dan menjahit lukanya.
"Untuk sementara, kau tidak boleh mengangkat lenganmu ke atas melebihi kepala," Nathan selesai memasangkan di lengan Akram sebuah penyangga siku dari kain khusus yang berbahan tebal dan elastis "Kalau kau merasa ingin pingsan, bilang," sambungnya kemudian sambil mengerutkan kening ketika matanya menyapu kondisi Akram yang menyedihkan. Lelaki itu benar-benar pucat, bahkan rona merah pun sudah mulai menghilang dari bibirnya.
Meskipun begitu, Akram seolah-olah memiliki tenaga cadangan yang mendorongnya tetap bisa membuka mata, sadar sepenuhnya dan tetap bersikap menakutkan meskipun Nathan tahu bahwa kesakitan yang mendera Akram saat ini sungguhlah luar biasa. Akram malahan sibuk memerintahkan Elios mencari informasi, memanggil setiap saat untuk menanyakan perkembangan terbaru, lalu mengatur anak buahnya untuk bersiap-siap melakukan penyerangan kasar demi merebut Elana kembali secepatnya.
Beruntung Nathan bisa mencegah Akram agar lelaki itu menunda dan memikirkan kembali hasratnya untuk menyerang dengan kekuatan besar ke kediaman Dimitri. GPS yang dipasang di tubuh Elana memang menunjukkan bahwa Elana berada di sana dan belum dipindahkan kemana-mana. GPS itu juga akan memberikan alarm khusus semisal dia dikeluarkan dengan paksa dari tubuh. Hingga saat ini tidak ada alarma apapun sehingga mereka bisa lega karena sementara ini, Dimitri belum melakukan tindakan berdarah untuk mengeluarkan GPS itu dari tubuh Elana.
Alasan Nathan menahan Akram adalah karena selain karena Akram masih butuh menyelesaikan transfusi darah yang prosesnya memakan waktu beberapa jam, saat ini Elana berada dalam situasi berbahaya, menjadi sandera dari Dimitri yang mungkin bisa berbuat apapun jika terus diprovokasi.
Menghadapi situasi seperti ini, mereka semua tidak boleh sampai gelap mata. Strategi licik harus dilawan dengan strategi juga, sehingga pada akhirnya, Elana bisa pulang kembali ke pelukan Akram.
Suara pintu terbuka terdengar perlahan dan tertangkap samar oleh indra pedengaran Nathan yang tajam.
"Kenapa kau tidak menyuntiknya dengan obat bius biar dia bisa tidur saja? Toh untuk saat ini kita tidak bisa bergerak kemana-mana,"
Suara Xavier yang terdengar dari sudut ruangan membuat baik kepala Akram maupun Nathan menoleh bersamaan. Mata Akram seperti biasa berkilat dengan sinar permusuhan, sementara Nathan tampak mengangkat alis melihat sosok Xavier yang baru saja muncul di ambang pintu.
Ya, saat ini mereka masih berada di rumah Xavier yang ajaibnya sama sekali tidak menggunakan kesempatan besar yang ada untuk menyerang Akram yang sedang lemah. Lelaki itu malah menerintahkan tenaga medis di rumahnya untuk memberikan pertolongan pertama kepada Akram, yang langsung ditolak oleh Akram mentah-mentah dan memilih berteriak kepada anak buahnya supaya Nathan dan Elios dipanggil ke tempat ini. Pada akhirnya, petugas medis yang takut dengan kegarangan Akram hanya berani memberikan perfolongan luar untuk mencegah pendarahannya semakin banyak tertumpah.
Beruntung pula, Nathan dan juga Elios yang menyusul bisa tiba tepat waktu dan menyelesaikan apa yang harus diselesaikan untuk memberikan penanganan terbaik kepada Akram.
Yang lebih membuat Nathan bertanya-tanya, setelah Nathan datang untuk memberikan pertolongan, Xavier malahan memilih pergi, seolah fokusnya saat ini bukanlah pada Akram melainkan pada hal lainnya. Xavier bahkan baru muncul sekarang, beberapa jam setelah lelaki itu menghilang pergi.
Mata Akram menyipit mengawasi Xavier dengan saksama. Ada sinar pengetahuan di matanya ketika melihat setitik sinar penuh kepuasan berkelebat menyala di mata lelaki itu.
"Kau menghabisinya ya?" desis Akram, menebak tentang nasib Regas dengan tepat.
Xavier mengangkat alis, seolah berpura-pura terkejut karena ucapan Akram untuk menyambut kehadirannya itu tepat sasaran.
"Dari mana kau tahu? Aku sudah mengganti pakaianku yang penuh dengan cipratan darah dengan pakaian baru yang bersih, apakah jangan-jangan masih ada sisa cipratan darah yang lolos menempel di wajahku?' Xavier menyeringai sambil menyentuhkan jari jemari ke wajahnya. Ekspresinya tampak mengerikan, seperti orang gila yang kesenangan. "Aku terpaksa membakar pakaianku yang berlumuran darah. Padahal aku sudah melapisi pakaianku dengan baju plastik khusus untuk mencegah pakaianku kotor, tapi kau tahu sendiri, kalau aku sedang marah, aku kurang bisa mengontrol gerakan tanganku sehingga pekerjaanku berantakan."
Nathan yang sudah terbiasa dengan kekejaman Xavier mengerutkan kening dalam begitu membayangkan betapa mengerikannya proses kematian yang harus dialami oleh Regas ketika dengan malang nasibnya harus berakhir di tangan Xavier. Nathan tahu bahwa Xavier memiliki pengalaman medis yang sangat ahli, bukan digunakan untuk menyembuhkan orang, tetapi lebih kepada untuk menyiksa orang.
__ADS_1
Xavier tahu titik di mana dia harus mengiris yang akan menimbulkan rasa sakit dan nyeri luar biasa, tetapi sekaligus dia bisa menjaga korban-korbannya untuk tetap hidup dan disiksa dengan rasa sakit yang terus menerus di tambah dosisnya hingga sampai di titik mereka tak tahan lagi dan lebih memilih untuk di bunuh dengan cepat saja.
"Dia bisa menjadi sumber informasi yang berguna. Kenapa kau membunuhnya?" ketika melihat bahwa Xavier sama sekali tidak membantah bahwa Regas telah tewas, Akram langsung berucap dengan nada mencela.
Xavier menggelengan kepala tipis, matanya lekat mengawasi bahu Akram yang diperban. Akram tak bekemeja, kemejanya yang kuyup oleh darah tergeletak begitu saja bersama dengan jasnya yang juga bernasib sama di kakinya.
"Pengkhianat harus mati," nada suara Xavier ringan, seolah dia sedang membicarakan tentang nyamuk tak berharga. "Lagipula, aku sudah mendapatkan semua informasi yang kuperlukan," kening Xavier mengerut ketika melihat darah yang masih mengalir, menembus perban tebal di dada Akram. "Apa tidak sebaiknya kau tidur dulu sampai pulih? Menurut informasi yang kudapatkan, Elana tak akan pergi kemana-mana. Dimitri sungguh akan mengirimkan orangnya untuk datang ke tempat ini dan memberikan kita persyaratannya guna menebus Lana."
"Apakah kau pikir aku akan diam saja dan membiarkan Dimitri berbuat sesukanya?" tubuh Akram menegang sementara ekspresinya mengeras. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di benak Xavier. Akram bahkan tidak tahu kenapa Xavier bersikap seolah mau bekerjasama dengannya, sebab jika dia bisa memilih, ingin sekali rasanya dia bergegas pergi dari tempat ini sehingga dia tidak perlu merasa muak berhadapan muka dengan Xavier lagi.
Tetapi, semarah-marahnya Akram, akal sehatnya tentulah masih bekerja. Sebelum pergi, Dimitri jelas-jelas mengatakan bahwa dia akan mengajukan persyaratannya, baik kepada Akram maupun Xavier. Itu berarti, apapun persyaratan yang diajukan oleh Dimitri nanti, Akram terpaksa harus bekerjasama dengan Xavier untuk mengabulkannya. Sebab, jika Xavier menolak bekerjasama, sudah pasti persyaratan itu akan gagal dipenuhi dan nyawa Elanalah yang menjadi taruhannya.
Entah apa yang menjadi alasan Xavier masih bersedia bekerjasama hingga detik ini. Entah karena lelaki itu benar-benar ingin membantu membebaskan Elana, yang rasanya mustahil dibayangkan, atau memang Xavier ternyata memiliki motif tersembunyi di balik sikapnya sekarang ini. Bisa saja Xavier memang ingin menghancurkan Dimitri dan dia membutuhkan bantuan Akram juga untuk menyelesaikan musuh mereka bersama. Karena itulah dia bersedia untuk saat ini bekerjasama dengan Akram. Sebab, pernah ada istilah bahwa musuh dari musuh adalah teman. Mungkin itulah yang sedang diterapkan oleh Xavier pada situasi saat ini.
Tetapi, apapun itu. Akram memang tak punya pilihan lain selain berharap Xavier tetap mau bekerjasama, setidaknya sampai Elana bisa dibebaskan, aman kembali dan tidak kekurangan suatu apapun dalam pelukannya lagi.
"Kau harus mempertimbangkan lagi jika ingin menyerang Dimitri, Akram. Yang kutahu, Dimitri ingin mengajukan negosiasi tanpa kekerasan. Tetapi, jika kau memancingnya, bukan berarti dia akan melakukan tindakan kekerasan, dan saat ini Elana berada dalam kondisi paling rawan menjadi sasaran. Saat ini Dimitri membawa Elana ke rumahnya, dia tak ambil pusing untuk menyembunyikan Elana karena tujuan utamanya adalah bernegosiasi. Tetapi, siapa yang tahu jika kau mengancamnya sampai dia terdesak, dia akan menyembunyikan Elana ke suatu tempat tak terjangkau dan menyayat kulit Elana untuk mengeluarkan GPS yang kau tanam di sana, hingga Elana tidak terlacak lagi oleh kita?"
"Bagaimana kau tahu bahwa Dimitri hanya ingin bernegosiasi tanpa menginginkan pertumpahan darah?" Akram mengerutkan keningnya. Rasa sakit masih begitu ngilu merayapi dirinya, tetapi dia seolah tak merasakannya.
Ekspresi Xavier kembali berkilat penuh kepuasan. "Bukankah sudah kubilang bahwa aku telah mendapatkan semua informasi yang kuperlukan dari Regas? Kau tahu, orang yang sedang sekarat biasanya kehilangan kemampuannya untuk berbohong dan akan menjawab sejujur-jujurnya. Regas bilang bahwa obsesi Dimitri adalah menjadi yang nomor satu dalam bidang pemasok senjata perang dan militer di areanya. Dia dikalahkan oleh aku dan kau dan membuatnya menjadi posisi ketiga. Apa yang dilakukannya saat ini, bertujuan untuk mengambil alih posisi pertama di bidang pemasok senjata perang dan militer. Menurut Regas, Dimitri tidak menginginkan pertumpahan darah karena dia tahu bahwa dirinya kalah kekuatan. Dia hanya akan mengajukan akuisisi tanpa syarat untuk dua perusahaan pemasok senjata kita, sebagai tebusan untuk membebaskan Elana."
Akram langsung terdiam mendengarkan penjelasan Xavier itu. Perusahaan penelitian senjata perang untuk kepetingan militer berbasiskan teknologi modern miliknya sangatlah besar, perusahaan itu juga menyumbangkan keuntungan cukup besar dalam kerajaan bisnis miliknya. Jika saat ini dia menyerahkan perusahaannya untuk dipindahtangankan ke Dimitri, sudah tentu keputusan itu akan menciptakan kehilangan aset yang cukup besar bagi bisnisnya. Begitu hal tersebut terjadi. Bukan hanya dalam hal keuangan, dia juga harus diperhitungkan mengenai ribuan karyawan yang kesemuanya merupakan tenaga ahli yang sebagian besar mendedikasikan ilmunya untuk bekerja di sana. Akram harus bekerja keras menstabilkan kembali keseimbangan dalam perusahaannya sehingga dia bisa menjaga kerajaan bisnisnya secara keseluruhan supaya tetap menjadi kerajaan bisnis yang stabil dan juga mampu mensejahterakan banyak orang.
Dia mungkin akan kerepotan menghadapi semua pergolakan dan menyelesaikan semua permasalahan setelah ini. Tetapi, sungguh Akram tidak keberatan.
Tetapi, bagaimana dengan Xavier? Apakah lelaki itu mau berkorban sedemikian besarnya? Karena perusahaan penelitian senjata biologis miliknya, Akram tahu merupakan satu-satunya sumber keuangan Xavier dalam wujud perusahaan fisik, sebab yang lainnya berasal dari kejeniusan Xavier bermain di bidang saham dan investasi.
"Aku tidak keberatan jika harus kehilangan perusahaanku yang itu," Akram mengangkat kepala dan menatap Xavier lekat, menyuarakan pertanyaan dalam hatinya. Sebab, jika Xavier sampai menolak, maka Akram terpaksa akan menggunakan kekerasan demi membuat Xavier menerima. "Bagaimana denganmu?"
***
***
Tubuh Elana diseret dengan kasar memasuki sebuah rumah megah yang ditempuh cukup lama menggunakan helikopter. Begitu helikopter itu mendarat, Lelaki bernama Dimitri itu menjejak turun sambil membawa Elana, lalu mencengkeram lengannya dan dengan kasar melangkah lebar sambil memaksa Elana terseok-seok mengikuti.
Ketika mereka memasuki rumah dengan lantai marmer bergurat keemasan itu, tampak seorang wanita yang tengah menuruni tangga dari lantai dua langsung membelalakkan mata ketika melihat Dimitri datang sambil menyeret Elana dan diikuti oleh beberapa anak buahnya.
"Sayang?" mata perempuan itu melebar ketika menatap Elana, tatapannya penuh pertanyaan. "Ada apa? Siapa...?"
"Ini adalah perempuan kesayangan Akram Night dan Xavier Light. Perempuan yang diperebutkan oleh mereka berdua. Dia adalah kunci bagiku untuk menjadi nomor satu dan mengalahkan mereka berdua!" Dimitri menyela Michaela sebelum perempuan itu bisa menyelesaikan pertanyaannya. Dia menjawab cepat dengan penuh semangat, sementara tubuhnya dibanjiri adrenalin yang menderas. Tak sabar untuk meraih kemenangan yang sudah di depan mata.
Michaela terperangah tak percaya mendengar kalimat Dimitri tersebut. Matanya menelusuri keseluruhan diri Elana dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan sikap meremehkan yang tak disembunyikan. Bibirnya yang bergincu merah mengerucut penuh hinaan ketika akhirnya dia bersuara.
__ADS_1
"Kau tidak salah, Dimitri? Perempuan sejelek ini menjadi bahan rebutan Xavier Light dan Akram Night? Aku tidak tahu tentang Xavier Light, yang aku tahu dia memiliki ketampanan sempurna sehingga dia bisa membuat perempuan secantik apapun yang dia mau untuk bertekuk lutut di kakinya. Dan Akram Night..." mata Michaela meredup ketika membayangkan aura kuat Akram Night dan juga malam-malam bergelora yang pernah mereka lewatkan bersama. "Akram Night memiliki selera sangat tinggi. Dia hanya bersedia berdampingan dengan wanita-wanita berkelas yang luar biasa cantik seperti diriku. Akram Night tidak akan mau melirik perempuan kurus, dekil dan sama sekali tak cantik ini!" sambungnya kemudian sambil melemparkan tatapan sinis ke arah Elana.
Mata Dimitri berkilat oleh kecemburuan yang nyata. Dia memiliki obsesi untuk menjadi nomor satu dan saat ini sedang berusaha merebut posisi itu dari Akram Night dan Xavier Light. Sekarang, kekasihnya malahan membanding-bandingkannya dengan kedua lelaki itu!
"Kalau memang selera Akram Night adalah perempuan sepertimu, lalu kenapa dia mencampakkanmu, Michaela?" Dimitri berucap dengan nada sinis merendahkan yang membuat Michaela terpaku kehabisan kata-kata dengan wajah memerah karena dihina. Perempuan itu memang pantas ditampar sesekali supaya tak terlalu tinggi hati. Tetapi, untuk saat ini, Dimitri tidak mau memikirkan tentang Michaela dulu, karena masih banyak hal penting lain yang harus dia lakukan untuk mempersiapkan kemenangan besarnya. "Perlu kau tahu, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Akram Night dan Xavier Light rela berlutut mengaku kalah demi menyelamatkan perempuan ini. Itu berarti perempuan ini sungguh berharga dan menjadi kesayangan bagi mereka berdua. Sekarang diamlah dan minggir! Masih banyak hal yang harus kulakukan!"
Dimitri memberi isyarat kepada Michaela supaya pergi dan tidak ikut campur dalam urusannya kali ini, lalu berjalan cepat sambil menyeret Elana kembali menuju sayap sisi belakang rumahnya yang megah untuk mengurung Elana dalam kamar pengap berpenjagaan khusus yang sudah disiapkan di sana.
Ditinggalkan sendirian, wajah Michaela memerah oleh sakit hati dan cemburu tak terperi.
Perempuan kesayangan Akram Night? Bagaimana bisa dirinya yang begitu cantik dan sempurna ini dikalahkan oleh makhluk kurus seperti itu? Bagaimana mungkin Akram mencampakkannya demi makhluk yang jelas-jelas lebih jelek darinya?
Harga diri Michaela seolah dibakar dengan kobaran api raksasa, membuat dadanya terasa panas dan jiwanya dipenuhi rasa dengki yang mendorongnya untuk menyakiti.
Perempuan kesayangan Akram Night? Lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Akram Night ketika peremuan itu telah terjamah oleh tangan-tangan kotor lelaki lain!
Dia akan memastikan bahwa Akram Night akan jijik sejijik-jijiknya dengan perempuan itu, dan kemudian mencampakkannya dengan cara yang lebih kasar daripada ketika Akram Night mencampakkannya dulu!
***
***
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Hello karena banyaknya yang meminta up, maka author membuat pengumuman di bawah ini supaya tidak membuat pembaca kelelahan menunggu-nunggu tanpa kepastian ( maaf pakai tulisan, jika pakai gambar ternyata ada sebagian pembaca yang gambarnya tidak bisa muncul )
Target posting episode author adalah 6 episode setiap minggunya. TIDAK HARUS SETIAP HARI postingnya, bisa juga sekali post langsung 3 episode atau bahkan 6 episode sekaligus. Yang penting dalam SEMINGGU ADA 6 EPISODE (Kalau author lagi senggang, bisa dilebihkan episodenya seperti minggu kemarin)
Sebagai**Reminder, setiap episode dari seluruh Novel yang di up di mangatoon, TIDAK BISA langsung terupdate sebagai episode baru yang bisa dibaca. Episode tersebut harus melalui sistem REVIEW oleh admin editor mangatoon dalam JANGKA WAKTU TAK TENTU, kadang cepat bisa satu jam langsung lolos review, kadang lama bisa sampai tiga hari bahkan seminggu, tergantung kesibukan adminnya dan juga banyaknya antrian episode novel semangatoon yang harus direview oleh pihak mangatoon**
INFO PART TERBARU :
(1) Part 70 yang saat ini kalian baca, di up kemarin Senin 23 September 2019. Jika kalian sudah bisa membacanya, berarti part ini sudah lolos review Mangatoon saat ini
(2) Mohon maaf, karena kondisi kesehatan mental author, maka Part 71 dan 72 baru akan di up oleh author pada hari Selasa, 24 September 2019 dan nantinya akan berada dalam tahap review dari pihak Mangatoon. Untuk waktu lolos reviewnya tidak pasti, bisa hari ini, bisa juga besok hari Rabu atau malah Kamis. Doakan saja semoga segera lolos review dan secepatnya bisa dibaca ya.
Terimakasih atas dukungan yang diberikan selama ini. Semoga author semakin semangat menulis dan ada kesempatan untuk menghadiahkan**crazyupdate lagi kepada pembaca**
*Ps: Bagi yang gambar tidak bisa muncul di part novel ini, coba update aplikasi Mangatoon ke versi yang terbaru di google play ya***.**
***
__ADS_1
***