Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 131 : Perencanaan Xavier


__ADS_3


Hai ini adalah episode 8/10 yang author upload sesuai jadwal. Untuk kapan lolos reviewnya, author tak tahu, tetapi sabar saja ya, karena memang untuk part yang menggunakan gambar, proses reviewnya lebih lama daripada yang tanpa gambar.


***


***


***



Oh ya sebelum membaca, jangan lupa VOTE dengan menggunakan POIN ke novel EOTD ini ya.


Untuk sementara, VOTE hanya bisa dilakukan di NOVELTOON. Jadi kalau mau bantu VOTE author dengan POIN, boleh install NOVELTOON, lalu login dengan akun Mangatoon ( sama saja) dan berikan vote untuk novel ini ya.


Tiga pemberi poin terbanyak bulan November dan Desember akumulasi akan mendapatkan hadiah tumbler  yang bisa dicustom tulisan nama di bulan Januari nanti.


***


***


***


EOTD akan tamat minggu depan - Lalu akan dilanjut session 2 ( Xavier di bulan Januari 2020)



 


***


***


***


 


Maya meringkuk di balik selimut ketika rasa nyeri meliputi sekujur tubuhnya hingga dia bahkan tak mampu menggerakkan tubuhnya karena nyeri itu akan langsung menyengat ketika dia memaksakan diri.


Seluruh tubuhnya terasa bengkak, panas dan gatal dan Maya tak tahu apa penyebabnya.


Semalam, ketika dia naik ke tempat tidur, dia merasakan nyeri di tenggorokannya yang kering, tetapi dia berpikir bahwa itu hanyalah sakit biasa dan akan segera sembuh kalau dia minum air yang banyak dan tidur yang cukup.


Sayangnya, ketika bangun di pagi hari, rasa sakitnya malahan bertambah semakin parah dan mengerikan, dirinya demam, pusing dan matanya bahkan terasa sakit ketika bertemu dengan sinar lampu sehingga dia terpaksa mematikan lampu dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


Seluruh tubuhnya berdenyut oleh rasa sakit seolah-olah permukaan kulitnya sedang disayat-sayat dengan menggunakan pisau yang telah dipanggang di atas bara, belum lagi rasa pusing yang menyerang kepalanya, membuat matanya berkunang-kunang karena di dalam rongga kepalanya seolah-olah ada drum yang ditabuh dan membuat kepalanya berdentam-dentam.


Kenapa dalam sekejap saja tubuhnya bisa sesakit ini?


Maya meringis langsung menyerah ketika rasa sakit kembali datang dan mendera tubuhnya dalam jeda tanpa ampun. Virus jahat apa sebenarnya yang sedang menyerangnya sehingga dalam satu hari saja dia langsung tumbang seperti ini?


Tangan Maya yang gemetar langsung bergerak untuk meraih ponsel yang terletak di nakas samping ranjangnya, dia menekan nomor kepala pelayan di rumahnya.


Kedua orang tuanya tengah berada dalam perjalanan berlibur  ke luar negeri untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka, dan mereka tak akan kembali dalam waktu dekat. Karena itulah, satu-satunya yang bisa dia mintai tolong adalah kepala pelayannya yang setia.


“Baron? Aku ingin kau datang menjemputku dan mengantarku ke dokter,” Maya mendengarkan sahutan suara cemas di seberang sana dan menganggukkan kepala dengan mata terpejam ketika rasa nyeri kembali menghantamnya. “Ya… aku sedang sakit. Tetapi lebih daripada itu, sebelum ke dokter, aku ada janji temu dengan seseorang… dan aku ingin kau mengantarkanku ke sana karena aku tak kuat menyetir sendiri,” sambungnya kemudian, berucap dengan susah payah.


Setelah memastikan pengaturan penjemputannya, tangan Maya yang lunglai meletakkan ponsel itu begitu saja di atas ranjangnya, dia memejamkan mata sementara benaknya yang melemah didera oleh rasa sakit, berusaha mempertahankan pikiran sadarnya.


Semalam, secara impulsif dia sudah menelepon dan membeberkan semua, serta membuat janji temu dengan Edward, direktur keuangan di perusahaan Akram Night. Dia tahu bahwa Edward adalah pembuka jalan baginya untuk menemui sosok lain yang lebih kuat untuk melawan Akram Night.

__ADS_1


Meskipun tubuhnya terasa sakit, tetapi dendamnya masih membara.


Maya tak akan pernah membiarkan Akram dan Elana lolos begitu saja, pun dengan Xavier dn Credence, dia akan menghancurkan mereka dengan menggunakan kepandaian yang dimilikinya.


***



***


“Kau sangat kejam.”


Hari masih sangat pagi di ruang kerja Xavier di perusahaan Akram. Tetapi lagi-lagi dua makhluk yang sama tampak menjadi penghuni tetap ruangan itu.


Mereka pulang larut di malam harinya, dan pagi-pagi sekali, Xavier sudah memaksa Credence untuk datang dan melihat perkembangan terbaru dari hasil pengawasannya.


Saat ini, mereka melihat tampilan kamera pengawas di ruang pribadi apartemen Maya yang dipasang dengan teknologi canggih oleh Xavier. Mata Credence mengerut ketika melihat betapa Maya sedang menderita menahan sakit, tampak bertolak belakang dengan Xavier yang tersenyum-senyum tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Dia menuai apa yang dia tanam,” Xavier mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Credence dengan marah. “Kau masih berbelas kasihan kepadanya? Tidakkah kau lihat, bahkan ketika Maya didera oleh rasa sakit yang parah pun, hatinya masih dipenuhi dengan rencana licik dan culas untuk membalas dendam?” tanyanya cepat.


Mereka memang sudah mengetahui bahwa semalam, seperti dugaan Xavier yang tentu saja sangat akurat, Maya memang menghubungi Edward, direktur keuangan perusahaan Akram dan meminta janji temu.


Apa yang dibicarakan oleh Maya  ditelepon tersebut sudah bisa ditebak. Perempuan itu membocorkan hasil pemeriksaan Credence diam-diam atas Edward yang masih belum menyadarinya dan memastikan bahwa mulai detik itu, Edward akan bersikap waspada sehingga mempersulit Credence untuk melanjutkan penyelidikannya. Maya juga menawarkan bantuannya kepada Edward untuk menghapus semua bukti yang masih ada di tangannya sehingga Credence kehilangan sebagian besar bukti untuk menjebloskan Edward ke dalam penjara.


Yang lebih parah lagi, dalam teleponnya semalam, Maya mengatakan bahwa dia mengetahui kalau ada kekuatan besar di belakang Edward dan sebagai ganti dari bantuan yang ditawarkannya kepada Edward untuk meloloskan diri dari penjara dan tuduhan penggelapan dana perusahaan, Maya ingin dipertemukan dengan sosok kuat itu untuk diajak bekerjasama melawan Akram Night dan semua orang yang berada di pihaknya.


“Yah, aku memang tak menyangka kalau Maya akan bertindak sejauh ini.” Credence menghela napas panjang, mengurungkan niatnya untuk mencela Xavier karena telah dengan kejam menyuntikkan virus itu dan membuat Maya menderita. “Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Apakah kau berencana untuk membiarkan pertemuan antara Maya dengan Edward?” tanya Credence dengan penuh rasa ingin tahu.


“Tentu saja, apalagi yang bisa kita lakukan? Aku ingin Maya memancing Dimitri supaya datang kemari. Saat itu dia berhasil melarikan diri dan aku terlalu malas untuk mengejarnya. Tetapi, ketika dia datang lagi dan mengancam, maka aku sendirilah yang akan menghabisinya,” Xavier melirik ke arah Credence dan melanjutkan. “Virus Cacar Api yang kutanamkan ke tubuh Maya telah dimodifikasi, bukan untuk membunuh tetapi untuk menyiksa. Rasa sakitnya akan bertahan lama dan berkali-kali lipat lebih sakit dan tak ada vaksin atau antivirus apapun yang bisa digunakan untuk melawannya. Maya akan menderita cukup lam sehingga dia kehilangan kewarasannya. Dia akan tertahan di rumah sakit sampai dia bisa sembuh dan aku akan tetap mengawasinya. Jika bahkan dalam kondisi sakitnya dia masih bertingkah lebih dari ini, maka aku tak akan segan-segan menyuntikkan racun pembunuh ke tubuhnya yang tentu saja lebih mengerikan dari virus cacar api yang telah dimodifikasi ini.”


Credence menatap ke arah Xavier dan mempelajarinya. “Kurasa, dengan hobimu membawa-bawa suntikan racun dan virus itu, tak akan ada wanita yang mau berada di dekatmu,” ucapnya setengah mengejek.


Credence menganggukkan kepala. “Sampai dengan detik ini, Maya hanya mengetahui bahwa aku baru menyelesaikan setengah dari tugasku untuk mengumpulkan bukti guna menjerat Edward.”


“Padahal kau sudah menyelesaikan penyelidikanmu seratus persen,” Xavier menyimpulkan dengan cepat.


Credence menyeringai. “Sudah siap dan selesai semuanya. Bahkan jika hari ini kita menyeret Edward ke pengadilan seluruh data dan bukti yang kumiliki sudah lebih dari cukup untuk memastikan dia dipenjara seketika itu juga,” ucapnya penuh kepuasan.


Xavier terkekeh. “Aku memang selalu bisa mengandalkanmu, kawan,” ucapnya memuji. “Karena Maya berpikir kau belum selesai melakukan penyelidikan itulah, maka dengan percaya diri dia menawarkan bantuan kepada Edward sebagai ganti supaya dia bisa dihubungkan ke Dimitri. Aku akan menunggu sampai Maya bertemu dengan Edward dulu sehingga Edward bisa menghubungkan Maya dengan Dimitri dan memancing Dimitri datang kembali ke negara ini, setelah itu akan kubiarkan kau menjebloskan Edward ke penjara.”


“Bagaimana dengan Maya dan Dimitri?” tanya Credence penasaran.


Xavier menyeringai. “Aku yang akan mengurusnya,” jawabnya penuh percaya diri.


“Apakah menurutmu kita seharusnya segera memberitahukan kepada Akram mengenai perkembangan ini?” Credence mempertimbangkan dengan bijaksana, meskipun hari ini Akram tidak datang ke perusahaan karena memutuskan untuk menggunakan harinya secara penuh untuk dihabiskan bersama Elana di rumah sakit, tetap saja segala hal yang berlangsung saat ini, berhubungan erat dengan Akram, baik perusahaan Akram, rasa cinta Maya kepada Akram yang berujung pada rasa ingin membalas dendam, juga mengenai konfliknya dengan Dimitri.


Xavier menggelengkan kepala. “Untuk saat ini, aku saja bisa mengatasi semuanya,” Xavier menopangkan kedua tangannya ke dagu. “Lagipula, kurasa kita tak perlu membebani Akram dengan urusan kecil semacam ini, kau tentu tahu bahwa Akram sedang sibuk mengurusi kehamilan Elana dan mempersiapkan upacara pernikahannya dengan Elana,” ujarnya memutuskan.


***



***


“Tunggu di sini,”


Maya berucap kepada kepala pelayan yang menyupiri mobilnya, lalu melangkah turun dari mobil dan merapatkan mantel tebalnya yang gelap.


Dengan waspada, dia menatap ke kiri dan kanan sebelum melangkah dan merasa lega karena tak menemukan orang yang dia kenal atau sosok orang yang mencurigakan di sekitarnya.


Udara mulai mendingin ketika langit mendung mulai menggumpalkan awan hitam seolah bersiap untuk menumpahkan air hujannya ke bumi. Suara gemuruh bahkan mulai terdengar di ujung langit di kejauhan sana, sementara angin dingin yang berputar-putar meniup dedaunan mulai menghembuskan udara dinginnya yang menyiksa.

__ADS_1


Bagi orang biasa, itu semua mungkin terasa menyejukkan, tetapi bagi Maya yang sedang demam, hal itu begitu menyiksa dan menimbulkan rasa ngilu sampai ke tulang dan memperkuat rasa sakit di kepalanya.


Pertemuan ini harus berlangsung singkat tetapi padat, dan setelahnya, baru Maya akan ke dokter untuk memeriksakan diri.


Semalam, sudah banyak hal yang dia bahas bersama Edward, dan pertemuan ini hanyalah untuk memastikan bahwa semuanya telah disepakati tanpa adanya pengkhianatan satu sama lain. Maya juga akan memastikan bahwa dia dipertemukan dengan Dimitri secepatnya untuk menjanjikan kerjasama demi menghancurkan Akram Night.


Perlahan, Maya memasuki café kecil berlokasi di pinggiran kota yang sengaja dipilihnya sebagai tempat pertemuan. Café itu cukup sepi siang ini, hanya berisi beberapa pelanggan yang tampak sengaja duduk-duduk bersantai dikursi masing-masing sambil menikmati kopi dan makanan pendamping yang terhidang di meja mereka.


Maya memutar matanya dengan waspada sekali lagi dan menarik napas lega ketika kembali dirinya tak menemukan orang yang dikenalnya atau orang yang melemparkan sikap dan tatapan mencurigakan ketika melihatnya memasuki ruangan itu.


Setelahnya, dia melempar pandangannya ke ujung ruangan, tempat posisi meja yang berada di sudut paling ujung café itu dan segera dia menemukan sosok yang dicarinya.


Edward, lelaki tua itu datang dengan penyamaran yang lebih parah dari dirinya. Dengan topi hitam yang menutup rambut beruban dan kacamata hitam yang tak dilepas di dalam ruangan, penyamaran lelaki tua itu malah terlihat konyol dan menggelikan bagi Maya.


Namun tak urung, Maya melangkah juga mendekati sosok Edward. Tanpa basa basi, Maya langsung duduk di depan lelaki tua yang tampak membungkuk takut itu, lalu memperkenalkan dirinya dengan gamblang.


“Perkenalkan saya, saya Maya, asisten dari Credence Evening yang diperintahkan oleh Akram serta Xavier Night untuk menyelidiki Anda,” ucap Maya tanpa memberikan jeda bagi lawan bicaranya untuk menanggapi.


Tangannya meletakkan kotak kecil berisi data digital hasil penyelidikan Credence ke atas meja.


“Di dalam perangkat elektronik ini, terdapat data hasil penyelidikan Credence terhadap Anda. Dia sudah menemukan bukti-bukti akurat, meskipun sampai saat ini Credence Evening baru menyelesaikan lima puluh persen dari pekerjaannya, tetapi saya yakin bahwa dan dalam beberapa hari, dia akan membuat Akram Night berhasil menyeret Anda ke penjara tanpa ampun. Untuk saat ini, dengan bantuan Saya, Anda bisa menghindari itu semua. Anda tentu sudah tahu bukan, ganti apa yang saya inginkan sebagai imbalan untuk membantu Anda?” tanya Maya kemudian dengan nada sinis.


Edward berdehem. Jantungnya berdebar karena pertemuan terlarang ini dan hal itu membuat suaranya parau serta gemetaran ketika berucap.


“Aku sudah memberitahukan kepada Tuan Dimitri semuanya. Beliau sedang dalam perjalanan ke negara ini untuk bertemu dengan Anda. Sambil menunggu itu… bagaimana kalau kita bahas cara menyelamatkan saya dari situasi ini?”


***



***


Pertemuan Maya dan Edward berikutnya berlangsung singkat dan berada di bawah pengawasan penuh Xavier.


Dia telah menugaskan beberapa anak buahnya untuk menyamar dan membawa kamera berukuran nano yang amat sangat kecil untuk mengambil rekaman gambar pertemuan dua orang itu secara tersembunyi, tak mencolok, sekaligus menyadap percakapan mereka dengan peralatan teknologi paling mutakhir yang dikembangkan oleh Xavier sendiri.


Segalanya berjalan sesuai rencana. Tindakan Maya telah memancing Dimitri untuk datang kembali ke negara ini, bersemangat karena menemukan rekan untuk membantunya menyerang Akram dan Xavier, tanpa lelaki itu menyadari bahwa Xavier telah menunggunya seperti singa lapar yang mengintai mangsa secara diam-diam dan sabar sampai waktunya menerkam tiba.


Dimitri yang bodoh dan impulsif itu, akan mengantar dirinya sendiri ke dalam maut tanpa dia sadari.


Xavier mendengarkan setiap patah kata dan merekamnya ke dalam ingatannya yang luar biasa, sementara itu, otaknya bergerak aktif untuk mencerna serta memilah setiap informasi yang masuk ke sana, membuat analisa lalu mengambil kesimpulan tepat.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Credence kembali bertanya ketika akhirnya, layar monitor menampilkan perpisahan jalan antara Maya dan Edward.


Jika ini menyangkut perusahaannya sendiri, maka Credence tak akan ambil pusing dengan semua pekerjaan lalu segera menggilas musuh-musuhnya tanpa ampun. Tetapi, sekarang yang sedang mereka urus adalah perusahaan milik Akram Night, sehingga, karena Akram Night tak ada di sini, Credence memutuskan untuk selalu mempeharhatikan pertimbangan Xavier dan menurutinya.


“Maya menyarankan Edward untuk mengambil cuti perjalanan ke luar negeri sementar dia akan membereskan borok-borok Edward menggunakan manipulsi data. Malam ini, siapkan seluruh bukti dan aku tahu bahwa kau memiliki kedekatan dengan petinggi dari pihak berwajib yang bisa bekerjasama denganmu guna memastikan bahwa Edward tak akan lolos di pengadilan. Aku akan mengirimkan orang untuk menjemput dan meringkus Edward di kediamannya sebelum dia sempat melarikan diri. Dia akan menerima hukumannya karena telah mengkhianati Akram.”


“Kau tidak akan membunuhnya?” tanya Credence kemudian.


“Siapa? Edward?” Xavier menyeringai ketika Credence menganggukkan kepala. “Aku berpikir akan membiarkan Edward menjalani sistem pengadilan terbuka lebih dulu untuk mempermalukan dirinya. Peristiwa penggelapan uang di perusahaan Akram Night akan menjadi berita heboh yang menghiasi kolom berita utama, dan hukuman apa yang lebih mengerikan daripada sanksi sosial yang dijatuhkan oleh masyarakat kepada seseorang?”


Xavier terkekeh ketika melihat Credence melebarkan mata seolah tak percaya bahwa Xavier bisa berbuat sebaik itu dan hanya memberikan hukuman ringan bagi sosok yang mengkhianati Akram. Mata lelaki itu menggelap setelah tawanya habis, dan sosoknya yang tadi tampak santai dan menyenangkan berubah gelap dan mengerikan seketika.


“Tentu saja, akan ada banyak waktu bagiku untuk membayar penjaga penjara atau sesama tahanan, yang bisa membantuku nanti untuk menyuntikkan racun paling mengerikan yang pernah ada kepada Edward ketika dia sudah divonis penjara dan menjalani hukumanya nanti. Aku akan memastikan, jika Edward mati nanti, dia akan mati dengan cara yang amat sangat menyakitkan,” ucapnya tenang seolah sedang berjanji.


***



__ADS_1


__ADS_2