
“Tidak!”
Sera menggunakan kedua tangannya untuk mendorong tubuh Xavier menjauh. Sayangnya, lelaki itu terlalu kokoh, terlalu kuat untuk bisa didorong menjauh hanya dengan menggunakan tangan lemahnya. Tubuh lelaki itu mendesak di atas tubuh Sera, menempatkan dirinya dengan tepat, menekan di titik-titik tertentu yang mengunci tubuh Sera supaya perempuan itu tak bisa melawan. Belum lagi guncangan mobil yang membuat tubuh Xavier bergerak tanpa bisa ditahan dan menekan Sera di titik-titik sensitifnya dengan kurang ajar.
Lelaki itu tak menghentikan ciumannya sekuat apapun Sera melawan, seolah-olah pikirannya dipenuhi oleh kabut kemarahan yang merenggut logikanya.
Ciuman Xavier kali ini begitu memaksa dan entah kenapa berbeda dari biasanya. Sebelum-sebelumnya, lelaki itu menciumnya dengan tujuan untuk merayu dan menggoda, jenis ciuman yang meskipun dipenuhi oleh hasrat, tetapi masih tetap dipagari oleh pengendalian diri yang kuat. Tetapi, sekarang seolah-olah pagar itu telah rubuh.
Xavier seakan melepaskan setitik kendali dirinya, menyeruak menerobos pagar dan tertakhlikkan menjadi gerakan sedikit kasar, menjajah bibir Sera tanpa ampun seolah-olah ingin membuat gadis itu tunduk dengan paksa.
Ciuman itu berlangsung lama, seolah selamanya. Xavier menjelajah, menyelisik, menguasai dan mencicip setiap jengkal mulut Sera, meninggalkan tanda dengan lidahnya, dengan kehangatan mulutnya, dengan rasa dirinya seolah-olah ingin jejaknya tetap tertanam di sana dalam waktu tak berbatas. Tak ada yang bisa Sera lakukan selain menerimanya. Tangannya yang semula mendorong kemeja Xavier, berubah jadi mencengkeram kain kemeja itu, menjadikannya pegangan di kala tubuhnya dan pikiran logisnya tak mampu bersinkronisasi membentuk sinergi.
Pikirannya ingin memberontak, ingin melawan, ingin menunjukkan kepada Xavier bahwa dirinya bukanlah perempuan yang bisa seenaknya dijajah dan diperlakukan semaunya. Sayangnya, tubuhnya yang tak berpengalaman dengan sentuhan lelaki dipaksa merasakan senyar di sekujur permukaan kulitnya akibat ciuman Xavier yang begitu berpengalaman dan ahli.
Lelaki itu benar-benar memuaskan dirinya atas Sera, menciuminya tanpa ampun hingga ketika akhirnya dia berhasil mendapatkan kendali dirinya dan melepaskan pertautan bibir mereka lalu mengangkat wajahnya, matanya menemukan bahwa bibir Sera sudah begitu pucat dan bengkak karena ciuman tak berbelas kasihan yang diberikannya.
Xavier terpana, tak menyangka bahwa dia akan kehilangan kontrol hingga menggunakan Sera sebagai pelampiasan kemarahannya atas rencananya yang berjalan tak sesuai dengan kemauannya.
Sera selalu berhasil membuatnya melakukan hal-hal di luar rencana.
Perempuan ini berbahaya karena memiliki pengaruh yang tak bisa dijelaskan dengan pikiran nalar terharap Xavier. Tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa Sera juga memiliki pesona yang membuat Xavier ingin mendekati kemudian memiliki.
Kepala Xavier sedikit menurun ke bawah, dan dia menyadari bahwa dalam hasratnya yang tak terbendung tadi, tangannya telah bersikap kurang ajar, menarik kancing kemeja Sera hingga terlepas semua dari jahitannya dengan kancing yang sudah berhamburan entah kemana. Xavier bahkan telah menurunkan pakaian wanita itu sampai lolos dari pundaknya, menampakkan sedikit bagian atas tubuhnya yang menggoda.
Mata Sera otomatis bergerak mengikuti arah pandangan Xavier. Meskipun perempuan itu tampak begitu acak-acakan dan tak berdaya di bawah tubuh Xavier yang kuat, gerak refleksnya patut diacungi jempol. Di detik Xavier menurunkan pandangannya untuk melihat bagian tubuh Sera yang terbuka, di detik itulah Sera langsung menyilangkan lengannya di tubuhnya, menghalangi pandangan Xavier, sekaligus melemparkan tatapan membelalak penuh kemarahan dan pandangan mencela.
“Menyingkir dari tubuhku,” Sera menggertakkan gigi sambil berucap dengan nada mengancam.
Sebenarnya, ancamannya hanyalah ancaman kosong karena Sera sudah jelas kalah tenaga. Tetapi, tak ada salahnya menggertak, bukan? Dia bisa saja mencakar dan mengigit wajah sempurna lelaki itu kalau terdesak. Saat ini, kemarahan sudah menggelora di darahnya, layaknya singa yang kakinya tertusuk duri.
Xavier tampak tertegun. Lelaki itu tak bergerak, matanya masih menatap Sera, membuat Sera semakin tersulut kemarahannya.
“Menyingkir!” Sera berteriak kembali. Dengan kasar dia memukul tubuh Xavier, mendorong sekuat tenaga, berusaha menjauhkan tubuh lelaki itu dari tubuhnya.
Kali ini Xavier tak bertahan. Lelaki itu dengan gerakan tenang beranjak dari atas tubuh Sera, menggeser tubuhnya kembali duduk di tempatnya semula, sementara Sera langsung melenting bangun, bergegas duduk dan menaikkan kembali kemejanya yang sempat diturunkan.
Napas Sera masih terengah karena luapan emosi bercampur sisa reaksi atas stimulasi Xavier sebelumnya. Lalu, seakan itu belum cukup membuatnya tersengal, apa yang terjadi kemudian membuatnya tak berhasil menormalkan napas, malahan berubah menjadi isakan ketika menyadari bahwa kancing kemejanya sudah hilang berjatuhan dan dia tak bisa mengancingkan kemejanya menutupi tubuhnya.
Sera hanya mengenakan pakaian dalam di balik kemejanya, dan saat ini kedua tangannya menangkupkan ujung dua sisi kemejanya menjadi satu di bagian dada untuk melindungi tubuhnya supaya tetap tertutup.
Sera menggigit bibirnya, perasaannya seperti diaduk-aduk antara malu karena telah dilecehkan, bercampur dengan panik, bingung dan juga marah luar biasa. Buliran bening sudah terkumpul di sudut matanya, bersiap untuk menerjunkan diri dari sana dan mengguliri pipinya untuk menciptakan jejak basah menuruni wajahnya.
Sera tak mau dilecehkan lagi, sayangnya, nasib baik sepertinya masih belum berpihak kepadanya.
Sikap diam Sera membuat Xavier menolehkan kepalanya sedikit, melirik ke arah tubuh Sera yang tampak begitu tegang dengan dengkusan napas keras yang memenuhi kabin. Alisnya naik ketika melihat Sera yang tengah mencengkeram kemejanya dan tampak seolah sedang menahan gelombang tangis yang hendak meruap dalam sedu sedan.
Ketika matanya memperhatikan kembali kondisi Sera dengan awas, barulah Xavier menyadari bahwa perbuatan tangannya yang lepas kendali saat dikuasai hasrat tadi telah menyebabkan kancing kemeja Sera berhamburan hingga sekarang pakaian wanita itu terbuka, hanya mampu disatukan oleh kedua tangan rapuhnya.
“Maafkan aku.” Xavier berusaha berucap dengan nada tulus, tetapi dengan kasar Sera langsung mendongakkan kepala dan menatapnya dengan penuh kebencian. Menunjukkan dengan jelas bahwa dia tak mau menerima permintaan maaf Xavier.
Hal itu membuat Xavier mengangkat bahu, sedikit menggoda tetapi tetap menyiratkan penyesalan.
“Aku menjadikanmu pelampiasan kemarahanku. Aku sudah mengakuinya dan aku minta maaf.” Xavier menyambung kalimatnya dengan nada hati-hati, tahu bahwa emosi Sera sudah hampir tandas di titik penghabisannya. “Aku akan membantumu, oke?” sambil berucap, Xavier membuka kancing kemejanya hingga terlepas seluruhnya, membuat wajah Sera pucat dengan mata membeliak syok karenanya.
“A-apa yang kau lakukan?” Sera setengah berteriak, refleks dia mendorong tubuhnya sendiri menjauh hingga ke ujung mobil, berusaha menjaga jarak dari Xavier sambil menatap ngeri ketika lelaki itu benar-benar mulai menanggalkan pakaiannya.
Sikap takut Sera itu membuat Xavier menyeringai.
__ADS_1
“Kau tak bisa memakai kemejamu lagi, bukan? Jadi aku akan meminjamkan kemejaku. Bukankah itu bantuan yang sangat adil? Kau seharusnya berterima kasih kepadaku, bukannya malah marah-marah.”
Sera ternganga. Bayangan dia harus memakai kemeja yang baru saja dipakai oleh Xavier membuat perasaan ngeri bercampur takut bergolak di dalam dirinya.
Kemeja Xavier yang penuh dengan aromanya dan masih menyisakan hangat tubuhnya menempel di sana….
Pipi Sera langsung merah padam, dan bibirnya berteriak dengan refleks.
“A-aku tak mau memakai kemejamu!” penolakannya berubah sedikit histeris, membuatnya langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat. “Aku tak mau! Jangan buka bajumu! Singkirkan kemejamu, aku tak mau!” suara Sera semakin meninggi ketika melihat bahwa teriakan peringatannya sama sekali tak diindahkan oleh lelaki itu. Xavier telah selesai menanggalkan kemejanya dan sekarang sedang membawanya dalam genggaman tangan.
Sera segera mengalihkan mata meskipun wajah dan sekujur tubuhnya terasa panas membara. Lelaki itu telanjang dada dengan penuh percaya diri di depannya, menampilkan struktur tubuh ramping tapi keras berotot di tempat-tempat yang tepat dan sangat enak untuk dipandang.
Dahulu Sera tak pernah memperhatikan, tetapi sekarang dia tahu persis bahwa lelaki di depannya ini sangat rajin berolahraga untuk menjaga stamina dan membentuk otot-otot tubuhnya dengan sempurna, tidak berlebihan pun tidak kekurangan.
Astaga… apa yang dia pikirkan?
Sera langsung menyingkirkan semua hal menyangkut otot tubuh Xavier yang indah dan berusaha memfokuskan pandangannya ke wajah Xavier saja. Dia sangat malu karena tahu bahwa Xavier pasti menyadari wajahnya yang merah padam.
Tetapi sayangnya, di kabin penumpang dalam mobil yang sempit ini, tak ada yang bisa dilakukan oleh Sera untuk menyembunyikan diri dari tatapan menyelisik Xavier.
“Kau tak punya pilihan lain.” Dengan tenang Xavier berujar, lelaki itu tampak menahan geli melihat reaksi malu Sera atas pemandangan tubuh setengah telanjangnya yang terpampang nyata di depan mata.
Seharusnya Sera tak perlu merasa malu, toh nanti setelah mereka menikah, Xavier akan memastikan menghadiahkan pemandangan tubuh telanjangnya setiap saat kepada wanita itu.
Tangan Xavier bergerak mengangsurkan kemeja itu ke dekat Sera yang sedikit tersentak dan beringsut.
“Kemejamu sudah tak bisa dipakai lagi. Kau tak mungkin memamerkan pakaian dalam ke orang-orang, bukan?”
“Itu semua salahmu!” Sera menyahuti dengan marah. Tetapi, tak urung tangannya akhirnya bergerak juga untuk merenggut kemeja itu dari tangan Xavier, sengaja bersikap tak tahu terima kasih karena memang lelaki itu tak pantas untuk diberi ucapan terima kasih.
“Memang. Aku juga sudah meminta maaf, bukan? Aku merusakkan kemejamu, karena itulah aku bertanggung jawab dan memberikan kemejaku untukmu.” Xavier tiba-tiba memalingkan muka ke arah berlawanan dengan Sera, memusatkan matanya ke pemandangan bersalju di luar jendela. “Berganti pakaianlah. Aku akan mengalihkan mataku selama kau berganti pakaian,” sambung Xavier kemudian dengan nada tegas mengultimatum.
Ketika beberapa lama kemudian dirasakannya Sera masih terpatung ragu dan tak mermberikan reaksi, Xavier akhirnya berucap kembali,
“Aku biasanya tidak bersikap sopan. Jadi, ketika aku sedang bersedia bersikap sopan, sebaiknya kau ambil kesempatan itu Serafina Moon. Karena bisa saja beberapa detik lagi aku memutuskan bahwa kau lebih baik tidak memakai apapun dan akan kunikmati pemandangan itu….” Sambil bekata, Xavier menggerakkan kepalanya sedikit, sengaja bersikap seolah-olah hendak menolehkan kepala.
“Jangan berani-berani menoleh!” Sera berteriak penuh peringatan. Tubuhnya melenting, bergegas melepaskan kemejanya yang rusak dengan panik, lalu dengan tergesa-gesa dia memakai kemeja Xavier yang kebesaran itu, mengancingkannya secepat kilat dan merapikan dirinya sebisanya dengan segera. Mungkin itu adalah proses berganti pakaian paling cepat yang pernah Sera lakukan seumur hidupnya.
Ketika kemeja itu terpasang di tubuh Sera, efeknya lebih mengerikan dari yang diduganya.
Harum parfum bercampur dengan aroma alami tubuh lelaki itu yang penuh feromon langsung melingkupi Sera dengan kuat.Seolah-olah tubuh lelaki itu menempel kuat di setiap jengkal kulitnya, merapat erat tanpa jeda, menyentuhnya dan melingkupi dengan hasrat untuk menyatu….
Sera terkejut dengan pikirannya sendiri. Segera digelengkannya kepalanya kuat-kuat untuk membuang jauh-jauh pikiran mesum tak terkendali yang tak disangka bisa terpikir oleh pikirannya yang kurang pengalaman itu.
“Sudah selesai?” Xavier tiba-tiba berucap, mengalihkan Sera yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Refleks Sera menganggukkan kepala, tetapi dia kemudian sadar bahwa Xavier tak bisa melihatnya. Sambil menggigit bibir jengkel, Sera akhirnya memaksakan dirinya untuk menjawab.
“Sudah,” jawabnya dengan nada ketus.
Tak mau menunggu lama, Xavier langsung menolehkan kepala dan mengamati Sera dengan ketertarikan yang tak disembunyikan. Lelaki itu mengangkat alis melihat tubuh Sera yang tenggelam di balik kemejanya yang kebesaran. Dia menilai sejenak, mengawasi Sera yang tampak merona membara. Matanya dengan kurang ajar menikmati pemandangan tubuh Sera dari ujung kepala hingga ujung kaki. Xavier bahkan dengan sengaja menahan pandangannya beberapa detik lebih lama di bagian dada Sera, hingga Sera dengan reflek kembali menyilangkan tangannya di dada untuk melindungi dirinya dari tatapan tak tahu malu lelaki itu.
Akhirnya, setelah puas mengamati, Xavier memberikan seriangaian berhias senyum kepada Sera.
Dia memutuskan bahwa dia sangat menyukai penampilan Sera yang sedang mengenakan kemejanya. Perempuan itu tampak sangat cantik dan menggemaskan ketika ditenggelamkan oleh kemeja Xavier saat ini. Mungkin nanti, saat mereka bersantai bersama, Xavier akan meminta Sera untuk mengenakan kemejanya di atas tempat tidur, menggodanya dengan pemandangan indah sebelum kemudian mengizinkan dirinya untuk melepas kemeja yang dikenakan Sera lalu bercinta dengannya.
“Kau terlihat… menyenangkan.” Xavier mengucapkan pujian dengan nada menjengkelkan, tak mempedulikan mata Sera yang melotot mendengar kalimatnya itu.
__ADS_1
Sera sendiri masih tak mau melirik ke arah tubuh Xavier yang masih tak berbaju. Dengan gugup, dia meremas kemejanya sendiri yang telah dilepas dan dalam kondisi telah kehilangan kancing, lalu kembali mengusahakan untuk fokus di wajah Xavier saja dan tak mau melirik sedikit pun ke tubuhnya.
Sera mendongak, menatap Xavier dengan ragu.
“A-apakah kau hendak mengenakan kemejaku sebagai gantinya?” Sera akhirnya menawarkan dengan suara pelan.
Kemeja Sera memang berpotongan feminim dengan kerah lancip dan jahitan khusus di pinggang yang menyesuaikan diri bentuk tubuhnya. Tetapi setidaknya, kemeja ini tidak dilengkapi dengan pita, bordiran bunga atau hal mencolok lainnya yang menunjukkan kefeminiman nyata.
Meskipun kemeja itu tak berkancing, tetapi jika yang menggunakannya adalah seorang lelaki, maka tak jadi masalah, bukan?
Lelaki tidak punya area yang harus ditutupi dan dilindungi di bagian dada, jadi memamerkannya sedikit sepertinya tidak akan menjadi sesuatu yang memalukan.
Tetapi, reaksi Xavier ketika mendengar tawaran itu ternyata tak seperti dugaan Sera. Lelaki itu menghela napas beberapa kali seolah ingin menahan dirinya. Kemudian, dia sepertinya tak tahan lagi. Xavier akhirnya melepaskan kendali dirinya dan membiarkan dirinya tertawa terbahak-bahak dengan bebas hingga suaranya memenuhi kabin penumpang itu. Kepalanya bahkan sedikit terlempar kebelakang karena kuatnya intensitas gelombang tawa yang melandanya.
Sementara itu, Sera hanya bisa terpaku, menatap Xavier yang tengah tertawa dengan pandangan sedikit tersinggung karena tahu pasti bahwa lelaki itu sedang menertawakannya.
“Apa… apa yang kau tertawakan?” rajuk Sera dengan marah, merasa konyol padahal dia tak tahu sebabnya.
Xavier menutup jemarinya ke mulut sedikit seolah ingin menenangkan diri sekaligus melenyapkan tawanya, sementara matanya menatap Sera dengan geli.
“Kau benar-benar perempuan polos dengan pemikiran sederhana yang kadang membuatku ingin menggoncang otakmu. Serafina Moon, ketika kau menawarkan kemejamu kepadaku, tidakkah kau terpikirkan betapa berbedanya ukuran tubuhku dengan tubuhmu? Apakah kau membayangkan seperti apa diriku ketika memakai kemeja sempit dengan potongan feminim itu?” Xavier menyadarkan Sera dengan mengajukan pertanyaan, membuat Sera tertegun, lalu kembali pipinya memerah karena dipenuhi rasa malu yang amat sangat.
Xavier benar. Sera sama sekali tak memikirkan itu semua. Mungkin ciuman Xavier sebelumnya telah memutus beberapa syaraf otaknya hingga dia menjadi bebal dan bodoh. Mungkin juga Sera sudah terlalu lelah menghabiskan kemampuan pikirannya untuk berdebat dengan Xavier dan berjuang melawan lelaki itu, sehingga otaknya melambat.
Pantas saja lelaki itu menertawakannya. Sungguh tindakan yang bodoh menawarkan kemejanya kepada Xavier.
Untuk menutupi rasa malunya, Sera langsung menyambar dengan kalimat menyalahkan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan bertelanjang dada seperti itu?” tanya Sera kemudian dengan nada jijik, untuk mengalihkan perhatian Xavier dari tingkah konyolnya yang sebelumnya.
**** ****
***** *****
****** ******
******* *******
***** *****
**** ****
___PRAKATA DARI AUTHOR___
- Terima kasih atas sumbangan POIN yang digunakan untuk VOTE author sehingga EOTD bisa masuk ranking.
-Terima kasih atas dukungan semangat, favorite, like, poin, komentar, dan juga rating bintang limanya
- Baca novel lain author judulnya INEVITABLE WAR, klik aja profil author, lalu cari karya dan scroll bagian paling bawah.
- Kenapa tak ada gambar seperti dulu? Karena novel bergambar itu lama lolos reviewnya. Sementara, novel tanpa gambar sangat cepat lolos reviewnya.
Jadi, author upload naskah polos tulisan doang tanpa gambar dulu, biar cepat lolos review dulu.
Kalau dah lolos dan bisa dibaca kalian, baru author edit dan ditambahi gambar ( kalau ga percaya, silahkan cek episode 1 sd 20 an, sudah full gambar visualisasi semua).
Sincerely Yours - AY
__ADS_1