
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Sera?”
Pertanyaan Xavier membuat Sera yang sedang terpana mengagumi ketampanan suaminya jadi mengerjapkan mata karena terkejut. Butuh waktu beberapa lama bagi Sera untuk mendapatkan pikiran normalnya kembali, membuat matanya terpaku pada dua pakaian mungil yang sedang dipegang oleh Xavier dengan kedua tangannya.
Saat ini mereka duduk berseberangan di dekat jendela besar ruang tamu yang menampilkan cahaya matahari menembus dinding kaca besar yang berkilauan memantulkan bias sinar warna-warni yang memperindah suasana. Ada kotak yang setengah terbuka di tangan Sera, tetapi untuk saat ini Sera mengabaikannya dan memilih untuk menganalis sosok lelaki di depannya dengan pandangan matanya.
Jika orang lain melihat ini, mereka pasti akan terkejut setengah mati. Seorang Xavier Light yang dikenal kejam dengan tangan penuh berlumuran darah musuh-musuhnya, sekarang sedang memegang dua pakaian bayi dengan gambar hewan lucu yang disulamkan di bagian depannya.
“Kedua-duanya lucu.” Sera masih menipiskan bibir menahan tawa ketika menatap Xavier di depannya, tetapi tak urung hatinya terasa hangat ketika membayangkan sesosok bayi mungil bertubuh montok dibungkus pakaian lucu dengan sulaman hewan yang tak kalah menggemaskannya.
Xavier sendiri sedang sibuk mengerutkan kening memandang berganti-ganti dua pakaian di tangannya lalu menatap Sera lagi seolah meminta pertimbangan.
“Hmm, kurasa… lebih baik kita mengambil warna biru yang bergambar burung saja?” tanyanya kemudian.
Sera lagi-lagi harus menipiskan bibir menahan senyum lebarnya. Bagaimanapun, melihat seorang Xavier Light yang terkenal dengan kemampuan otaknya yang jenius ini jadi kebingungan hanya karena memilih baju yang tepat untuk calon anaknya, sangatlah menghibur mata dan hatinya.
“Kenapa kita tidak mengambil yang warna kuning?” Sera tak bisa menahan diri untuk bertanya.
Mata Sera memandang sekilas dua tumpukan pakaian bayi yang menggunung di belakang punggung Xavier. Seperti dugaan, Xavier sudah mengorganisir semuanya dengan rapi. Pakaian yang disepakati untuk dipilih diletakkan di sisi belakang bagian kanannya, sementara pakaian yang tidak dipilih diletakkan di kirinya. Lelaki itu bahkan sudah menumpuk pakaian-pakaian itu berdasarkan gradasi warnanya, melipatnya dengan ahli dan sangat terorganisir.
Jika Sera yang membongkar berbagai isian dalam kotak itu, dia bisa membayangkan betapa berantakannya jadinya hasil pekerjaannya.Yah, ternyata kemampuan dan ketelitian Xavier ternyata bisa membantunya juga.
Sera tak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar, sementara matanya masih menatap Xavier, menunggu jawaban atas pertanyaannya.
Xavier tidak sedang menatap Sera, karena itulah lelaki itu tidak melihat senyum lebar yang tersungging di bibir istrinya. Matanya masih menatap kedua pakaian di tangannya, menimbang-nimbang. Setelah mantap dengan keputusannya, barulah dia mendongakkan kepala untuk menatap istrinya.
“Pakaian biru dengan gambar biru, lebih fleksibel dan sifatnya universal, bisa dipakai oleh anak laki-laki dan anak perempuan. Tetapi jika yang kuning bergambar singa, sepertinya hanya menentukan satu gender, yaitu untuk dipakai anak laki-laki.” Mata lelaki itu kembali dipenuhi binar ketika menatap Sera dan menanyakan pendapatnya. “Jika anak kita perempuan, kita tentu tidak akan membiarkannya berlari-lari dengan mengenakan pakaian bersulam singa dengan surai panjangnya ini, bukan?”
Sera terkekeh. “Tidak, tentu saja tidak.” Untuk saat ini, Sera memutuskan menjaga nuansa pagi yang menyenangkan ini dan tidak membantah Xavier. “Apakah kau… sesungguhnya menginginkan anak perempuan?” tanyanya kemudian dengan nada berhati-hati.
Xavier meletakkan pakaian berwarna biru di sisi yang dipilih dan meletakkan yang warna kuning di sisi berseberangan, lelaki itu kemudian menatap langsung ke dalam bola mata Sera dan mengulas senyum manisnya.
“Kau tahu, untuk orang sakit seperti diriku… aku akan bersyukur bisa mendapatkan seorang anak, apapun jenis kelaminnya.” Xavier berucap dengan nada lembut. “Tetapi, aku ingin seorang anak perempuan yang sangat mencintaiku. Bukankah orang-orang bilang bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya?”
Nada suara Xavier terdengar riang, tetapi entah kenapa ada sendu terselip di sana. Dan sendu itu membuat jantung Sera seolah diremas oleh tangan tak kasat mata.
Ketika mendengar kalimat Xavier ini, barulah Sera menyadari bahwa yang diinginkan oleh Xavier hanyalah satu hal. Lelaki itu hanya ingin dicintai.
Sera mencintai Xavier. Perasaan itu bertumbuh tanpa disadarinya dan mekar tanpa sengaja. Pada saat dia mencemaskan keselamatan lelaki itu, pada saat dia berharap semoga lelaki itu baik-baik saja saat mereka tak bertemu, pada saat sebersit rasa rindu melintas tanpa lelah di jalur hatinya ketika Xavier jauh darinya, dan pada saat setiap sentuhan lelaki itu membuatnya bahagia, pada saat itulah Sera tahu bahwa hatinya sudah jatuh ke dalam tangan Xavier.
Tetapi, Sera sama sekali tak berniat mengungkapkan perasaanya. Perjanjian pernikahan mereka sudah jelas. Tidak ada cinta, hanya kesepakatan yang saling menguntungkan. Sera tahu bahwa saat Xavier mengetahui rasa cintanya, pada saat itulah dirinya menjadi beban yang memberatkan Xavier dan merusak hubungan baik mereka selama ini.
Cintanya tidak cukup untuk memenuhi mimpi Xavier.
Yang diinginkan Xavier adalah cinta dari anaknya, darah dagingnya, keturunannya, keluarganya. Bukan cinta dari seorang wanita malang yang terikat masa lalu dengan lelaki itu dan berakhir menjadi ibu dari anak-anaknya.
Cinta Sera tak dibutuhkan oleh Xavier, karena itulah dia akan menyimpannya baik-baik untuk dirinya sendiri.
“Ada apa?” Sentuhan tangan Xavier terasa dingin menyejukkan ketika lelaki itu menggunakan jemarinya untuk mengangkat dagu Sera dan menghadapkan wajah perempuan itu ke arahnya. “Kau tampak ingin menangis. Apakah kau tidak enak badan?”
Sera tergeragap, menyadari bahwa matanya berkaca-kaca ketika rasa sesak di dadanya mengalirkan buliran banjir yang siap merebak membasahi bola matanya. Dia langsung menggelengkan kepala, mencoba melontarkan alasan paling wajar yang tidak akan membuat Xavier curiga akan apa yang saat ini dipikirkannya.
“Bukan apa-apa. Aku hanya terharu. Mungkin pengaruh hormon kehamilanku, sehingga aku jadi lebih emosional ketika memikirkan semua hal.” Sera menjawab terbata, berharap supaya apa yang dikatakannya bisa dipercaya oleh lelaki itu.
Xavier menggeserkan duduknya supaya mereka duduk berhadap-hadapan. Lututnya bersentuhan dengan kaki Sera dan wajah lelaki itu menunduk, dekat sekali dengan dirinya.
“Aku tidak pernah menanyakan ini kepadamu sebelumnya.” Lelaki itu menyeringai dengan penuh ironi, ibu jarinya mengusap sudut mata Sera, lalu tangannya berpindah menangkup kedua sisi pipi Sera, semakin mendekatkan wajah perempuan itu ke wajahnya sendiri yang menunduk rapat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. “Bagaimana perasaanmu tentang kehamilanmu ini? Apakah kau senang… atau mungkin kau sedih dengan kehamilanmu ini? Apakah kau bisa menerima anakku tumbuh di dalam rahimmu dengan lapang dada, ataukah… kau mungkin jijik karena benih anak haram yang tak diketahui orang tuanya sepertiku bertumbuh….”
“Xavier.” Sera menyela cepat, matanya menyala penuh peringatan. Perempuan itu bahkan menyelipkan telapak tangan mungilnya untuk menutup mulut suaminya supaya tak melanjutkan berbicara. “Tidakkah kau lihat? Aku senang dengan kehamilanku.” Sera menatap langsung ke kedalaman mata jernih suaminya. Namun, ketika menyadari ada keraguan yang masih terpatri jelas di sana, Sera akhirnya menundukkan kepala, lalu menggerakkan tangannya untuk mengusap perutnya sendiri. “Kau mungkin tidak menyadarinya. Tetapi aku bisa dibilang juga hampir sebatang kara di dunia ini. Satu-satunya keluargaku adalah ayahku yang sedang koma di rumah sakit. Ibuku sudah meninggal dan aku tidak memiliki saudara. Jadi, kehadiran seorang anak di perutku, tentunya menyenangkan untukku. Aku juga senang mendapatkan keluarga baru.”
Mata Xavier tajam, menatap kedalaman pandangan Sera seolah ingin menyelami hatinya. Tak lama kemudian, lelaki itu akhirnya menghela napas panjang, mengulas senyum, lalu mengetukkan ujung hidungnya ke hidung Sera.
__ADS_1
“Kalau aku menciummu di sini, apakah kau akan menolak?”
Pertanyaan itu dibisikkan dengan nada pelan dan sensual, mengirimkan senyar tak terbantahkan yang membuat Sera langsung melirik ke sekeliling untuk menilai situasi.
Saat ini mereka berada di ruang tamu yang sangat luas dimana seluruh dindingnya dipenuhi oleh jendela-jendela besar yang dibuka tirainya serta membiarkan hujan sinar matahari yang hangat masuk ke dalam ruangan. Meskipun kaca itu tebal dan sudah pasti anti peluru, tetapi kaca itu bening dan menampilkan pemandangan taman di luar yang sangat indah dan hijau, bahkan dengan selintas melihat, Sera bisa menemukan beberapa bodyguard dan pelayan yang lalu lalang di jalan setapak berdekorasi indah yang membelah taman tersebut.
Kalau dia bisa melihat ke luar dengan begini jelasnya, sudah pasti orang-orang di luar sana juga bisa melihat ke dalam tanpa penghalang. Belum lagi, meskipun pintu besar yang menghubungkan ke lobby luar rumah saat ini tertutup rapat, tetap saja ada pintu besar lain yang menghubungkan ruang tamu ini dengan ruangan lain di rumah ini.
Dan pintu kaca itu sekarang sedang terbuka lebar, membuat siapapun yang ada di dalam rumah ini bisa masuk ke dalam ruang tamu tanpa sengaja.
Xavier sendiri tampaknya tak peduli dengan situasi yang terjadi. Napas lelaki itu berat dan terasa hangat di permukaan bibirnya ketika lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sera dan mulai menggesekkan bibirnya dengan menggoda di sana.
Sera menggerakkan tangannya mendorong dada Xavier dengan panik. Xavier tidak pernah bermain-main ketika mencium Sera, padahal seseorang bisa saja masuk dan Sera tidak sanggup menahan malu ketika salah satu pegawai tanpa sengaja menemukan mereka dalam situasi memalukan, asyik berciuman dan lupa diri di ruang tamu terbuka yang bisa diakses siapa saja pada siang hari bolong seperti ini.
“Tunggu!” Sera berusaha menahan bibir Xavier yang mulai membuka, siap untuk melahap bibirnya. “K-kita tidak bisa melakukannya di sini!” serunya kemudian dengan nada mendesak.
Xavier mengangkat alis, tetapi lelaki itu tidak memaksakan dirinya terhadap Sera. Lelaki itu malahan memasang senyum menjengkelkan tanpa rasa bersalah dan menggesekkan bibirnya kembali di permukaan bibir Sera sambil berbisik menggoda.
“Kenapa tidak? Kita suami istri, sudah sewajarnya suami istri berciuman. Kenapa kau harus malu?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja aku malu... kita kan sedang ada di ruang tamu.” Sera menyahuti cepat, melemparkan tatapan memperingatkan ke arah Xavier.
Sayangnya, itu semua tidak berguna, Xavier hanya terkekeh perlahan untuk menanggapi larangan Sera, lalu tanpa peringatan lelaki itu menyambar bibir Sera, setengah menggigit bagian bawah bibirnya dan membuat Sera mengerang terkejut dan membuka mulutnya tanpa peringatan. Kesempatan itu digunakan oleh Xavier untuk menyelipkan bibirnya di antara bibir Sera, lalu menciumi perempuannya tanpa ampun, tidak memberi kesempatan Sera untuk memberontak.
Sera terpana oleh ciuman penuh hasrat yang berlangsung tiba-tiba itu sehingga dia kehilangan daya untuk melawan. Lelaki itu mendesakkan bibirnya untuk menyesap bibir Sera seolah tak ada hari esok. Tangan Xavier sendiri bergerak ke belakang kepala Sera sebelum kemudian tubuhnya mendorong Sera supaya berbaring di lantai, dengan hati-hati lelaki itu membiarkan berbaring dengan kepala Sera aman beralaskan telapak tangannya yang kuat, sebelum kemudian Xavier menyusul di atas perempuan itu, menaungi tubuh mungil Sera dengan tubuh mungilnya yang kuat.
Pipi Sera tampak memerah, dan bibir perempuan itu sedikit bengkak akibat ciumannya yang kuat. Mata Xavier terpaku pada bibir Sera, dan lelaki itu tak bisa menahan diri untuk mengulas senyum ketika merasakan hasratnya bangkit saat melihat betapa bibir yang tergoda itu terbuka, melontarkan engahan yang membuatnya terbakar oleh keinginan untuk mendominasi perempuan itu.
“X-xavier.” Sera langsung sadar bahwa mata Xavier membiaskan kilat penuh hasrat seorang lelaki yang ingin memiliki perempuannya.
Kebersamaan mereka membuat Sera mengenali Xavier, lelaki itu mungkin lebih sering menampilkan ekspresi penuh senyum palsu yang menyembunyikan emosinya. Akan tetapi, ketika Xavier ingin bercinta dengannya, ekspresinya selalu sama, bibir menipis, geraham mengeras dan mata berkilat penuh hasrat membakar yang seolah ingin menghanguskan Sera bersama kobaran hasratnya. Saat ini Xavier menatap Sera dengan tatapan yang sama dan kepanikan melanda Sera ketika menyadari bahwa mereka masih berada di tengah ruang tamu yang terbuka di semua sisi.
Tangan Sera bergerak naik, berusaha menyentuh bibir Xavier yang sedang menunduk dan berusaha meraih bibirnya lagi untuk dicicipi.
“K-kita tidak bisa melakukannya. Ini ada di ruang tamu… para pelayan atau bodyguard-mu bisa saja masuk….”
“Mereka tidak akan masuk kemari kalau tidak diperintahkan.” Xavier menyahuti dengan suara parau. Lelaki itu mengambil tangan Sera di bibirnya, lalu menekannya ke bibirnya sendiri dan menghadiahkan kecupan pas dengan sedikit godaan sentuhan lidah di telapak tangan Sera. “Mereka tidak akan berani.” Xavier menyambung kembali kalimatnya, sedikit menyeringai ketika menyadari bahwa Sera terkesiap dengan bibirnya yang bergerak turun dan mengecup menggoda di pergelangan tangannya.
Jadi, pergelangan tangan dan bagian dalam lengan Sera adalah area yang sensitif baginya. Xavier menyimpan pengetahuan itu dalam hati, bertekad menggunakannya untuk membuat perempuan itu gemetar di dalam pelukanya setiap mereka bercinta.
“Kenapa kau tak mau di sini?” Xavier tak mau menyerah ketika menggoda. Lelaki itu sesungguhnya tidak berniat untuk bercinta di ruang tamu yang terbuka ini, tetapi melihat betapa merahnya pipi Sera karena malu, betapa khawatirnya dia dan betapa menggemaskannya perempuan itu ketika mencoba membuatnya mengubah pikirannya, semua itu malahan membuat Xavier jadi ingin melakukannya. “Kalau kau bisa memberikan alasan yang bagus, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk berhenti,” tambahnya lagi memberikan pancingan ketika dilihatnya Sera kelu kehilangan kata-kata.
“K-karena…. Ini tempatmu menerima tamu! Kita tidak boleh bercinta di sini, a-aku akan selalu teringat nanti kalau ada tamu datang ke rumah ini….” Sera yang kebingungan menjawab cepat, matanya yang lebar menatap Xavier penuh harap.
Xavier menyeringai. Lelaki menundukkan kepala dan menghadiahkan kecupan ke dahi Sera.
“Kalau di ruang tamu tidak boleh, bagaimana menurutmu kalau di tempat lain? Kita selalu melakukannya di atas ranjang di dalam kamar, bukankah kadang-kadang variasi diperlukan untuk menambah percikan di antara suami istri? Bagaimana kalau di ruang makan? Atau di perpustakaan?”
“Tidak mau!” Suara Sera mengeras, menunjukkan kejengkelannya atas godaan Xavier.
Sayangnya, lelaki itu tetap tak mau mundur. “Bagaimana kalau di taman? Di dekat air mancur itu? Aku ingin mencoba melakukannya di luar ruangan.”
“Apa kau sudah gila?” Sera membeliak, menatap Xavier seolah tak yakin apakah Xavier sedang serius ataukah sedang bercanda.
Xavier sendiri berusaha menahan tawanya sekuat tenaga. Dia sangat menikmati melihat wajah Sera yang dipenuhi kepanikan ketika dirinya mendesak perempuan itu sampai ke ujung.
Ternyata, menggoda Sera bisa membuatnya lebih relaks dan bahagia, sebab reaksi perempuan itu benar-benar menghiburnya.
“Kenapa tidak boleh?” Xavier bertanya lagi, senang ketika melihat pipi Sera semakin dipenuhi rona merah yang mulai menjalar hampir ke seluruh permukaan kulitnya.
“I-itu tempat umum! Kita bisa dilihat orang-orang!” Sera menyahuti cepat dengan nada keras, berusaha mengembalikan kewarasan Xavier yang sepertinya telah terbang entah kemana.
Sayangnya, mata Xavier malahan berubah semakin tajam penuh hasrat, masih ditambah pula dengan kilatan sensual yang menghanyutkan.
“Jadi, dari tadi kau tidak mau melakukannya karena takut dilihat banyak orang.” Xavier pura-pura berpikir keras sebelum melemparkan tawarannya kepada Sera. “Bagaimana kalau suatu saat, kita liburkan semua orang yang bekerja di rumah ini sehingga mereka pergi selama beberapa waktu dan hanya tinggal kita saja di dalam rumah? Kau dan aku bisa melakukan apa saja yang kita mau entah itu di ruang tamu entah itu di taman, asalkan tidak ada yang melihat, bukan?”
Sera ternganga, sama sekali tak menyangka bahwa tawaran itu akan meluncur keluar dari mulut Xavier.
Apakah lelaki itu benar-benar putus asa ingin mencoba bercinta di luar ruangan selain di dalam kamar mereka sehingga mengajukan perencanaan gila seperti itu?
Sera memang tidak berpengalaman dengan kaum lelaki. Apakah mungkin… seorang lelaki memang butuh variasi dan perubahan suasana seperti itu?
Sera berpikir keras dan menimbang-nimbang. Memikirkan dari sisi keamanan dan estetika, jika mereka tinggal berdua saja di dalam rumah tanpabodyguard, apakah itu akan berisiko? Tetapi, jika para penjaga menjaga di lingkar luar, itu akan cukup aman, bukan? Lagipula, karena tidak ada orang di dalam rumah, berarti kemungkinan besar ada yang akan melihat mereka sangatlah kecil… kalau begitu, mungkin tidak apa-apa mengikuti kemauan Xavier untuk bercinta di luar ruangan?
Mata Xavier mengikuti perubahan ekspresi Sera dan dirinya langsung tahu apa yang sedang bergolak di dalam pikiran perempuan itu. Tadinya Xavier menduga bahwa Sera akan shock dengan tawarannya dan langsung menolaknya mentah-mentah. Tetapi perempuan itu malahan terlihat benar-benar mempertimbangkan tawarannya dengan serius, dan hal itu membuat hasrat yang mengaliri pembuluh darah Xavier semakin mengobarkan api yang membakarnya sampai ke batas kendali dirinya.
__ADS_1
“Berpikir nanti saja. Mungkin kita sebaiknya bercinta dulu supaya pikiran kita benar-benar jernih,” Xavier menggumamkan alasan tak jelas sebelum kemudian lelaki itu mendekatkan kepalanya lagi ke arah Sera dan langsung menciumi bibir perempuan itu penuh hasrat. Ciuman itu terasa manis dan menyenangkan, seolah-olah bibir Sera mengandung sari buah matang yang siap diperas untuk dicecapnya. “Dan kau tak perlu khawatir. Tidak akan ada yang bisa masuk.”
Lelaki itu tersenyum penuh arti, lalu tangannya bergerak menekan salah satu tombol yang ada di jam tangannya. Tombol itu ternyata terhubung dengan sistem mekanik di dalam rumah ini sehingga secara tiba-tiba, sebuah lapisan baja tipis yang terlihat kuat berwarna hitam tiba-tiba muncul, turun perlahan dari bagian atas ambang pintu dan ambang jendela yang terbuka, juga dari seluruh dinding ruang tamu, lalu terus bergerak turun mengelilingi setiap inci mereka sampai ujung dan menutup semua celah sepenuhnya hingga tak ada sisa untuk sinar matahari masuk ke dalam rumah, dalam sekejap ruang tamu pun menjadi gelap gulita.Ketika kegelapan menyapa ruangan, secara otomatis lampu redup yang tertanam di langit-langit ruangan menyala, menciptakan nuansa berwarna kuning remang yang entah kenapa saat ini terasa romantis.
Sera membeliak, menelan keterkejutannya dan menatap Xavier dengan ekspresi tak percaya.
“Rumahmu… punya fasilitas semacam ini?” tanyanya dengan suara bergetar.
Xavier menyeringai. “Ini adalah sistem penguncian ruangan. Setiap ruangan dirumah ini disekat dengan baja tak tertembus yang menutupi seluruh jalur masuk dan baru akan teraktivasi di bawah kendaliku. Sistem penguncian ini bisa digunakan untuk menjebak penyusup supaya tak bisa keluar dan melarikan diri, atau berfungsi ganda sebaliknya, menjadi semacam kotak perlindungan yang aman di saat terjadi serangan berbahaya yang mendesak kita untuk mundur.” Xavier menjelaskan dengan suara tenang, matanya meredup sementara senyumnya berubah lembut penuh sayang ketika dirinya berusaha menarik perhatian Sera dari ketakjuban ekspresinya dan mencoba memfokuskan kembali perhatian Sera kepadanya.
“Sekarang, karena persyaratanmu sudah terpenuhi, kurasa kita bisa melangkah ke tahap berikutnya.”Mata Sera melebar kebingungan.
“P-persyaratanku?” tanyanya tak yakin.
Xavier melabuhkan bibirnya di bibir Sera dan menggigitnya sedikit dengan sikap sensual menggoda.
“Kau tak ingin bercinta karena tak ingin ada yang melihatmu, bukan? Sekarang kau bisa tenang. Tak akan ada yang bisa melihat kita sama sekali.” Tangan Xavier bergerak perlahan melepaskan t-shirtnya melewati kepalanya dan membuangnya ke lantai, secara terang-terangan sengaja mencoba menggoda Sera dengan tubuhnya. “Kurasa kita harus menunda membuka kotak-kotak perlengkapan bayi itu sampai nanti.”
Tanpa menunggu sampai Sera bisa membantahnya, Xavier membungkus tubuh Sera di bawahnya dalam pelukan, sementara dia menggunakan seluruh keahliannya untuk menghanyutkan perempuan itu dengan sentuhannya yang berpengalaman.
Xavier mencintai Sera, tetapi dia tahu bahwa dirinya tak cukup baik untuk dicintai oleh Sera. Tidak apa-apa. Sudah cukup Sera berada di sisinya, jadi dia memutuskan tak akan menuntut Sera balas mencintainya.
Xavier bertekad akan memuaskan setiap inci tubuh Sera dengan tubuhnya. Sebab, jika dia tak bisa memiliki hati Sera, sudah cukup baginya bisa menawan tubuh perempuan itu ke dalam pesonanya, hingga Sera tak ingin melepaskan diri darinya lagi.
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook BELUM tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Yours Sincerely
AY
***
***
***
Mohon maaf atas keterlambatan posting selama seminggu lebih ini dikarenakan ada gangguan sedikit yang menghalangi author untuk bisa menulis. Part ini adalah PART BONUS SELINGAN, tanda author akan mulai up rutin lagi. Semoga diterima dengan senang hati. Thank You.
__ADS_1