Essence Of The Darkness

Essence Of The Darkness
Episode 46 : Membuka Masa Lalu


__ADS_3


Begitu pintu lift yang berada di depan pintu apartemen terbuka, Akram langsung melangkah cepat sambil membawa Elana yang masih dia panggul di pundaknya. Ketika berjalan memasuki apartemennya, Akram memberi isyarat pada bodyguardnya yang mengikuti supaya mereka segera undur diri dan meninggalkan tempat. Setelahnya Akram melaju menaiki tangga apartemen dengan langkah lebar, membanting pintu kamar Elana sampai terbuka dan langsung menuju ke kamar mandi.


Tubuh mereka berdua sama-sama basah kuyup, meninggalkan jejak basah dari air yang menetes-netes. Elana mulai menggigil ketika pakaiannya yang basah dan lengket menempel di kulitnya terkena hembusan angin dingin yang berasal dari pendingin ruangan.


Setelah mereka sampai di dalam ruang kamar mandi, barulah Akram menurunkan Elana saat mereka berdu berada tepat di bawah pancuran. Tanpa peringatan, Akram menyalakan keran shower air hangat hingga secara tiba-tiba, air langsung mengucur deras dari shower di atas mereka, seketika membasahi tepat di pucuk kepala dan wajah Elana hingga Elana megap-megap dan terbatuk-batuk seketika.


Akram mencengkeram bahu Elana, mendorong tubuh perempuan itu supaya bersandar pada dinding kamar mandi, menghindarkan wajah perempuan itu dari siraman shower.


"Mandi. Bersihkan dirimu sebersih-bersihnya, sampai tidak ada sisa sentuhan Xavier di tubuhmu," geramnya penuh dengan nada ancaman. Matanya lalu menelusuri seluruh diri Elana, keningnya berkerut ketika kilasan ingatan akan betapa dekatnya Elana berdiri di depan Xavier dan tampak akrab dengan berlindung di bawah payung yang sama, terasa sangat mengganggunya. "Jangan repot-repot menyimpan pakaianmu itu, pelayan akan membuangnya." sambil menyambung dalam geraman, Akram tiba-tiba melepaskan cengkeramannya pada pundak Elana hingga Elana terhuyung mundur dan hampir jatuh. Beruntung dia bisa berpegangan pada dinding kamar mandi untuk menjaga keseimbangannya.


Ditatapnya Akram yang melangkah mundur, tidak berusaha menjangkau Elana dan malah mengamati Elana dengan matanya yang berkobar oleh api kemarahan, membuat jantung Elana berdebar kencang karena diliputi oleh rasa takut.


Elana tidak pernah melihat Akram semurka ini sebelumnya, lelaki itu memang selalu galak, berucap pedas dan kadang penuh ancaman serta mengintimidasi. Tetapi, baru kali ini Elana bisa merasakan kemarahan gelap yang seolah bergolak di dalam aliran pembuluh nadi Akram, bersiap meledak dan seakan bisa mengubah lelaki itu menjadi monster mengerikan.


Elana sungguh takut Akram akan melampiaskan kemarahan dengan menyakitinya... dan ketakutan itu membuat tubuh Elana mulai gemetaran kembali.


Hal itu tentu saja tak lolos dari pengamatan Akram. Keningnya berkerut semakin dalam ketika menyadari bahwa Elana ketakutan kepadanya. Secara refleks Akram melangkah mundur untuk memberi ruang pada Elana. Meskipun begitu, ekspresi mengancam di wajahnya tidaklah surut.


"Begitu kau selesai membersihkan tubuh dan berganti pakaian, aku menunggumu di ruang bawah. Kita harus bicara, supaya kau menyadari betapa bodohnya kau karena telah menghampiri bahaya yang sangat besar tanpa kau menyadarinya!" Akram berseru dengan nada ancaman tak mau dibantah.


Lalu, lelaki itu membalikkan tubuh dan melangkah meninggalkan kamar mandi. Tubuh Akram menetes-neteskan air di karpet kamar Elana, tetapi lelaki itu seolah tak peduli dan terus melangkah menyeberangi kamar Elana, lalu keluar dari sana setelah membanting pintu di belalangnya dengan suara keras.


Ditinggalkan sendirian, barulah Elana bisa menghela napas panjang untuk menormalkan dadanya yang terasa sesak. Dia lalu melakukan apa yang harus dilakukan, melepaskan pakaiannya yang basah karena air hujan, lalu menempatkan tubuhnya di bawah shower, membiarkan air hangat yang menyenangkan mengguyur tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Mungkin mencoba melarikan diri dari Akram adalah sebuah kesalahaan besar yang telah memancing kemarahan lelaki itu sampai ke puncaknya. Tetapi, entah kenapa Elana tidak menyesalinya. Setidaknya dia sudah menunjukkan kepada Akram bahwa dirinya bukanlah sosok yang akan diam saja dan hanga bisa berlutut patuh tanpa perlawanan jika ditekan dan diintimidasi.


Akram harus sadar bahwa Elana adalah manusia, yang punya hak dan kebebasan yang harus dihormati, bukanlah sebuah benda tanpa nyawa yang bisa digerakkan sesuka hati.


Setelah menyelesaikan mandinya, mengeringkan tubuh dan berganti pakaian, Elana mengeringkan rambutnya dengan handuk, lalu melirik ke arah pintu kamarnya dengan ragu.


Akram memerintahkan Elana untuk turun ke bawah begitu dia selesai mandi. Tetapi hari ini sudah cukup melelahkan bagi Elana dan hal yang paling tidak diinginkannya adalah berkonfrontasi dengan Akram, lalu harus menghadapi kemarahan lelaki itu yang meledak-ledak tak terkendali.


Elana mengawasi pintu kamarnya dengan tatapan mata nanar. Lalu, pikiran impulsif mendatanginya lagi, membuatnya bergerak cepat ke arah pintu, bergegas mengunci pintu kamar itu untuk kemudian setengah menghambur ke arah tempat tidur. Elana lalu membanting tubuhnya di sana, berbaring meringkuk di bawah perlindungan selimut tebal yang menghangatkannya.


Pergi ke laut saja Akram dan segala kemarahannya. Yang Elana inginkan saat ini adalah tidur pulas tanpa gangguan, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang kelelahan.


***



***


Akram menyelesaikan mandinya dengan gerakan kasar, dia lalu berganti pakaian bersih dan meraih sekumpulan berkas yang tersimpan jauh di dasar lemari penyimpanannya, yang sekarang terpaksa dikeluarkannya lagi karena tingkah bodoh Elana yang telah menguji batas kesabarannya. Akram lalu melangkah keluar dari kamar sambil membawa berkas itu di tangannya. Diliriknya pintu kamar Elana yang masih tertutup rapat, membuat Akram berpikir bahwa Elana mungkin saja belum menyelesaikan mandinya.


Akram lalu turun ke lantai bawah, melemparkan berkas yang dibawanya ke sofa, lalu bergerak mengambil cangkir-cangkir yang tersusun rapi di laci dapur. Dengan cepat dia kemudian membuat kopi untuk dirinya sendiri serta tak lupa secangkir cokelat panas disiapkannya untuk Elana. Setelah berhujan-hujan begini, Akram akan lebih memilih menikmati secangkir kopi dengan gilingan kasar dan segar, tanpa gula hingga getirnya bisa membuka matanya. Tapi, Akram tentu memahami bahwa sebagian besar kaum perempuan tidak menyukai kopi dan akan memilih menikmati minuman dengan rasa lebih lembut dan manis seperti cokelat hangat.


Dibawanya dua cangkir minuman itu ke meja yang terletak di depan sofa besar di ruang santainya, lalu Akram duduk dan menunggu. Matanya melirik kembali ke arah berkas tebal yang tergeletak di atas sofa, dan tanpa sadar Akram menghela napas panjang. Tubuhnya membungkuk duduk di atas sofa, dengan kedua siku bertumpu di lututnya dan jemari berjalinan menahan dahinya yang berkerut dalam.


Mata Akram terpejam seolah menahan rasa sakit ketika dia terus menghela napas berkali-kali untuk meredakan rasa sesak yang mulai menyeruak di dadanya.


Segala sumber traumanya terkumpul di dalam berkas itu... dan sekarang dia harus membukanya kembali demi Elana...


Lama kemudian Akram menghabiskan waktu untuk menunggu dalam keheningan. Menunggu dan terus menunggu. Bahkan, minuman yang mengepul panas yang dibuatkannya untuk Elana sudah mulai mendingin tanpa uap. Sementara, kopinya sendiri sudah hampir tandas.


Akram menatap ke arah tangga, seolah bisa menembus langsung ke arah kamar Elana. Dia menajamkan indra pendengarannya dan mengerutkan kening ketika menyadari bahwa tidak ada suara sedikitpun dari dalam sana.


Sambil mendecakkan lidah pertanda kehilangan kesabaran, Akram beranjak dari duduknya dan melangkah kembali dengan kasar menaiki tangga. Ketika sampai di depan pintu kamar Elana, dipegangnya gagang pintu itu dan dengan cepat mendorongnya untuk membuka pintu segera.


Perempuan keras kepala itu mungkin sedang merajuk dan menolak untuk menemuinya. Akram berniat menyeret Elana turun dan memaksa perempuan itu jika memang Elana menolak dan memberontak kepadanya.


Ketika Akram mendorong pintu itu, tak ada gerakan sama sekali yang terjadi. Pintu itu tetap bergeming tak bisa dibuka.


Bibir Akram menipis sementara rahangnya mengeras akibat gerahamnya yang berpadu menahan marah.


Elana mengunci pintunya!

__ADS_1


Akram memiliki semua kartu cadangan untuk membuka kunci pintu di rumahnya. Tetapi, saat ini Akram terlalu marah untuk hanya sekedar mengambil kartu kunci cadangan itu di kotak penyimpanannya. Alih-alih, dia malah bergegas masuk ke dalam kamarnya, mengambil pistolnya dan bergegas kembali lagi ke depan kamar Elana, lalu mengambil jarak aman sebelum kemudian membidik tepat di sistem penguncian kamar, menghancurkannya hingga menciptakan lubang besar di sana hingga membuat pintu kamar Elana otomatis terbuka lebar tanpa perlawanan.


***



***


Suara letusan keras langsung membangunkan Elana yang sudah setengah tertidur, hampir saja jatuh terbuai dalam alam mimpi yang melingkupi. Dia begitu terperanjat hingga langsung terduduk dari posisinya berbaring, menatap langsung ke arah pintu yang terbuka lebar dan langsung ternganga begitu matanya menemukan sosok Akram yang berdiri di ambang pintu, masih membidik dengan pistolnya.


"Apa-apaan...." suara Elana terdengar kaget, rasa takut merayapi kembali jiwanya ketika menatap ekspresi Akram yang begitu serius dengan mata tajam yang seolah menembus ke dasar jiwanya.


"Di dalam rumahku, ada dua peraturan yang harus kau patuhi. Satu, kau tidak boleh mengalihkan pandangan ketika aku berbicara denganmu dan Dua, tidak boleh ada pintu terkunci yang tidak bisa kulewati. Camkan itu baik-baik, karena kali kedua kau melakukannya, aku tidak akan menjamin kau bisa lepas tanpa terluka," Akram berucap perlahan, tetapi nadanya cukup tegas untuk sampai di telinga Elana.


Elana mencengkeram selimut di dadanya, jemarinya gemetar ketika memandang Akram yang masih membidikkan pistol ke arahnya.


"A... aku hanya lelah, aku hanya ingin tidur...." Elana mengucapkan pembelaan dirinya dengan cepat. Meskipun dia memang sengaja ingin membangkang dan menghindari Akram, tetapi dia tidak bohong ketika mengatakan bahwa dirinya kelelahan.


Mendengar jawaban Elana itu, seketika Akram menyipitkan mata ke arahnya seolah berusaha menilai kejujurannya.


"Kau bisa tidur nanti, bersamaku," Akram berucap dengan nada arogan. " Sekarang, bangun dan turunlah dari tempat tidurmu," Akram menggeram dari sela kertak giginya yang merapat. "Bersegeralah! Aku menunggumu di bawah!" perintahnya kasar sebelum kemudian membalikkan tubuh dan meninggalkan ambang pintu.


***



***


Dengan langkah enggan dan penuh kehati-hatian, Elana melangkah menuruni tangga. Ketika sampai di ujung tangga, Elana berdiri meragu sambil menatap Akram yang sudah menunggu. Ekspresi Akram tampak makin muram ketika lelaki itu memberi isyarat dengan tangannya ke arah Elana.


"Duduk," perintahnya dengan nada tegas.


Pada detik itu, Elana menyadari bahwa dia akan semakin memperburuk situasi kalau dia memberontak dan melawan Akram. Lelaki itu sudah seperti bom yang siap meledak dan Elana tak mau menjadi pemantik api yang menyulutnya hingga akan membuatnya menyesal nanti.


Perlahan Elana mengambil tempat duduk di sofa panjang itu. Dia duduk di sebelah Akram tetapi tetap menjaga jarak aman demi keselamatannya.


Akram sendiri langsung mengangsurkan cangkir cokelat di meja yang hangatnya mulai memudar itu ke depan Elana.


Elana menurut, mengatupkan kedua telapak tangannya di cangkir yang masih menyisakan jejak kehangatan yang nyaman, lalu mendekatkan cangkir itu ke mulutnya. Aroma harum cokelat nan khas langsung menggoda hidungnya, membuatnya tak sabar untuk mencicip.


Elana menyesap cokelat itu dan matanya melebar ketika lidahnya dilumuri oleh rasa lezat nan kental yang hampir tak terdeskripsikan. Cokelat itu manis, terasa lembut dengan jejak rasa getir yang membuatnya makin nikmat. Kenikmatan rasa bercampur nuansa hangat menenangkan dari cokelat itu, membuat Elana tanpa sadar terus menyesap lagi dan lagi, meneguk dalam tegukan besar yang akhirnya menandaskan isi cokelat tersebut.


Elana menatap gelasnya yang sudah kosong, dan dengan malu dia meletakkan gelasnya itu kembali ke meja, menyadari bahwa Akram tengah mengawasinya sejak tadi.


"Aku mungkin tidak bisa memasak bubur, tetapi aku ternyata bisa membuatkan cokelat hangat yang sesuai seleramu," Akram menyeringai dengan nada ironi. Suasana hatinya tampak membaik ketika melihat Elana menghabiskan cokelat hangatnya tanpa perlawanan.


Tanpa menunggu reaksi Elana, Akram kemudian mengangsurkan berkas tebal itu ke pangkuan Elana. Kilasan gelap tampak membayangi wajah Akram ketika mengedikkan bahu ke arah berkas itu.


"Ini apa?" Elana menatap berkas di pangkuannya dan tak berani menyentuhnya, ditatapnya Akram dengan penuh rasa ingin tahu.


"Bukalah," desak Akram sambil mengerutkan kening.


Sikap Akram yang aneh mendorong rasa ingin tahu Elana. Digerakkannya tangannya untuk membuka berkas itu. Matanya langsung melebar serta bibirnya ternganga menghiasi wajahnya yang memucat, dipenuhi oleh rasa syok luar biasa.


Halaman pertama berkas itu menampilkan seorang perempuan yang sudah menjadi mayat. Terbaring beku di atas meja besi dengan permukaan kulit pucat membiru dan tertutup kain putih dari dada hingga ke kaki. Perempuan itu pastilah cantik di masa hidupnya, tetapi sekarang, kecantikannya terbunuh oleh noda-noda memar mengerikan di seluruh wajah, leher dan juga di sekujur tubuhnya yang tidak tertutup kain.


Seolah-olah perempuan ini mengalami penyiksaan luar biasa sebelum menemui ajalnya....


***



****


Xavier tengah duduk di kursi besar di belakang meja berukuran besar yang berlapis kaca hitam, memantulkan ekspresi seiriusnya ketika duduk. Dia saat ini sedang berada di ruang perpustakaan besar dalam area mansionnya yang sekaligus menjadi ruang kerjanya.


Xavier mungkin tidak pernah terlihat bekerja kantoran atau menjalankan bisnis besar seperti yang dilakukan oleh Akram setiap hari. Kepribadiannya yang tertutup membuatnya memilih bekerja di balik layar dan menghindari interaksi seminim mungkin dengan orang lain. Meskipun begitu, kekayaan Xavier bisa dibilang cukup melimpah dengan perputaran uang yang menguntungkan hingga membuat Xavier bisa duduk dengan santai sepanjang hidupnya tanpa harus memikirkan sisa uang di rekeningnya.

__ADS_1


Ketika ayah angkatnya membuangnya dari keluarga, Baron Night tetap bersikap adil dengan memberikan jumlah warisan yang cukup banyak sesuai dengan hak Xavier sebagai anak angkatnya. Jumlah uang itu bisa saja digunakan oleh Xavier berfoya-foya hingga tua. Tetapi, tentu saja Xavier tidak melakukan itu.


Dengan kejeniusannya yang luar biasa, dia memutar uang itu dalam lingkup investasi dan permainan saham hingga menghasilkan keuntungan berkali-kali lipat yang tentunya semakin melipatgandakan uang itu dalam jumlah yang tak terbayangkan. Sebagai bisnis sampingan, Xavier juga bergerak di bidang bisnis jual beli senjata baik senjata fisik maupun senjata biologis di pasar gelap, sengaja mengambil bisnis yang bersinggungan dengan bisnis Akram yang berkutat di bidang pengembangan teknologi senjata.


Xavier tidak senang berbisnis, dia lebih senang menganalisa data investasi lalu memperoleh kepuasan tersendiri ketika prediksinya selalu tepat hingga membuatnya semakin kaya. Tetapi, dia sengaja berbisnis di bidang senjata untuk memprovokasi Akram dan membuat adiknya itu semakin membencinya.


Karena, kebencian ataupun cinta sama-sama memiliki efek yang sama di otak manusia. Membuatnya selalu diingat dan tak mudah dilupakan.


"Apakah ada perkembangan terbaru?" tanya Xavier cepat. Upaya pembuktian teorinya mengenai kekasih favorit Akram yang disembunyikan sepertinya masih menemui jalan buntu. Hal itu sungguh membuat Xavier frustasi tak terkira.


Entah kenapa Xavier merasakan firasat bahwa wanita itu -jika memang dia ada- akan menegang peranan penting dalam upayanya untuk menghancurkan Akram.


"Kami mendapat petunjuk yang cukup menarik, Tuan. Mungkin tidak berhubungan langsung, tapi cukup sepadan bila ingin diselidiki lebih lanjut," Regas menjawab hati-hati, menilai suasana hati tuannya yang selalu sulit untuk ditebak.


"Dan, apakah itu?" Xavier mengetuk-ngetukkan jarinya di meja dengan tidak sabar.


"Anda tahu model internasional bernama Gabriella? Akram Night beberapa kali tampak bersamanya, menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang cukup intim. Tetapi, mata-mata kita mengatakan bahwa beberapa saat yang lalu, Gabriella pernah datang untuk menemui Akram Night, lalu pulang dengan berurai air mata, dikawal keluar perusahaan oleh para bodyguard Akram. Ada beberapa saksi yang tak sengaja melihat kejadian itu di dekat parkiran dimana Gabriella memarkir mobilnya."


"Lalu? Apa hubungannya itu dengan pencarian kita?" Xavier mengerutkan kening semakin dalam, masih tidak menemukan benang merah dari apa yang dipaparkan kepadanya.


"Kabar berkembang bahwa saat itu Akram Night telah mencampakkan Gabriella dari jajaran kekasihnya. Tetapi, satu hal yang aneh, Akram Night selalu meninggalkan kekasihnya dengan adil dan memberikan hadiah besar kepada mereka, seperti apartemen mewah ataupun berlian mahal. Berbanding terbalik dengan Gabriella, perempuan itu seolah membangkitkan kemarahan Akram Night karena kehidupan dan karirnya benar-benar dihancurkan setelah itu." Regas melapor dengan suara tegas dan cepat, penuh harapan agar tuannya ini senang mendengarnya.


"Apakah kau yakin bahwa Akramlah yang ada di belakang semua kehancuran Gabriella?"


Regas mengangguk kuat. "Tidak ada yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan karir seseorang sampai di titik terendah seperti yang dialami oleh Gabriella. Pertama, kontraknya dengan Night Entertainment dibatalkan sepihak, lalu Gabrielle kehilangan semua kontraknya sebagai model dan bahkan agencynya pun memecatnya dengan keji. Seolah-olah tidak ada yang berani menggunakan Gabriella lagi sebagai seorang model karena mereka ketakutan dengan orang kuat yang mengerikan dibalik semua ini."


Bibir Xavier mengulas senyum dan lelaki itu menganggukkan kepala. "Kalau begitu ceritanya, sudah pasti Akram Nightlah pelakunya. Ketika menyimpan dendam kepada seseorang, adikku itu bertindak laksana mesin buldozer yang menghancurkan semuanya hingga rata tak bersisa." Xavier lalu menatap ke arah Regas dengan tajam. "Kau tahu di mana Gabriella saat ini?"


"Gabriella terusir dari apartemen mewahnya dan terpaksa tinggal di rumah kontrakan kecil yang kumuh. Dia bekerja sebagai hostess di kelab malam kelas rendah karena hanya pekerjaan itulah yang menerimanya. Bahkan dia tidak bisa menjual tubuhnya untuk menjadi simpanan lelaki kaya karena semua orang takut pada Akram Night," Regas menghela napas sebelum melemparkan bagian terbaiknya ke hadapan Xavier. "Yang menarik adalah, ketika Gabriella bekerja sambil teler dan mabuk-mabukan, saksi kami mendengar dia menceracau tentang iblis wanita yang menyihir Akram sehingga dia dicampakkan,"


Xavier langsung menyeringai lebar, matanya berkilat oleh kekejaman gila nan mengerikan.


"Kurasa kira harus mengunjungi Nona Gabriella ini," tubuhnya yang ramping bergerak cepat dan berdiri dari duduknya. "Siapkan mobilku, Regas. Aku akan menemui Gabriella malam ini dan mengucapkan salam perkenalan."


***



***


Elana menengadah ke arah Akram. Bibirnya bergetar, dipenuhi kengerian ketika membalas tatapan lelaki itu. Akram sendiri seolah menghindar menatap berkas di di pangkuan Elana dan memilih fokus menatap Elana dengan matanya yang tajam. Seolah ingin menelisik reaksi Elana sampai sekecil apapun


"Apa... apakah ini?" suara Elana tersekat di tenggorokan. Tetapi, di memberanikan diri bertanya.


Akram bergeming. "Lanjutkan, baca dengan saksama sampai halaman terakhir," perintahnya tegas, membentengi segala penolakan yang mungkin terjadi.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Elana. Meskipun tangannya gemetar oleh kengerian yang amat sangat, dia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh Akram, membuka halaman demi halaman dan membacanya dengan seksama.


Foto-foto berikutlah lebih mengerikan dan terperinci lagi, menampilkan hasil visum ketika wanita itu diselamatkan dari peristiwa yang menimpanya, juga hasil otopsi terhadap mayatnya kemudian. Seluruh gambar memar di sekujur kulitnya difoto dengan jelas dan diberi keterangan terperinci. Wanita itu masih hidup ketika diselamatkan, dan dari hasil visum menunjukkan bahwa wanita itu telah mengalami penyiksaan dan pelecehan luar biasa keji yang meninggalkan jejak mengerikan di tubuhnya. Yang lebih menyedihkan lagi, wanita itu meninggal segera setelah sadarkan diri karena bunuh diri akibat tak kuat menanggung trauma atas apa yang terjadi pada tubuhnya.


Elana menengadah lagi, menatap Akram dengan mata berkaca-kaca. Rentetan pertanyaan tak terucap berkelebat di matanya.


Kenapa Akram menunjukkan berkas-berkas ini kepadanya? Akramkah yang telah begitu keji menghancurkan perempuan ini? Apakah Akram menunjukkan ini semua para Elana untuk memberikan peringatan dan ancaman pada Elana... bahwa mungkin dia akan berakhir seperti ini kalau terus-terusan melawan Akram?


Ketakutan yang melumuri pandangan Elana membuat geraham Akram kembali mengetat. Lelaki itu memberikan jawaban tegas melalui gelengan tipis setelahnya.


"Bukan aku yang melakukan itu," Akram melambatkan nada suaranya dan mengamati reaksi Elana dengan saksama. "Perempuan yang ada di berkas itu adalah kekasih pertamaku, sementara Xavier adalah kakak angkatku. Ada hubungan rumit di antara kami sehingga Xavier memiliki obsesi untuk menghancurkan apa yang berharga bagiku. Xavierlah yang membuat Anastasia berakhir mengenaskan seperti itu."


Ketika melihat ekspresi tak percaya yang bergulir di wajah Elana, Akram beranjak dari duduknya dengan ekspresi muram, lalu tanpa diduga berlutut di depan Elana yang masih duduk. Tangan Akram kemudian bergerak meraih tangan Elana, menyelipkan jari-jarinya yang kuat di sela jari rapuh Elana. Membuat tangan mereka saling berjalinan.


"Aku akan menceritakan semuanya sampai sedetail mungkin, memuaskan rasa ingin tahumu sampai tak tersisa lagi," suara Akram tersekat dan ketika lelaki itu menengadahkan kepala untuk menatap Elana, tanpa diduga, seberkas ketakutan yang menunjukkan kelemahannya, muncul di mata lelaki itu."Hanya saja, setelah ini selesai, kumohon, jangan pernah pergi dari jangkauan pandanganku. Tetaplah di sampingku dan kau akan aman. Xavier telah menghancurkan segala yang pernah kuanggap berharga dihidupku, aku tidak akan membiarkannya menghancurkanmu juga."


Lalu Akram bergerak, melingkarkan lengannya di tubuh Elana dan menenggelamkan wajahnya di pelukan Elana yang terlalu terkejut untuk menolak.


***


__ADS_1


***



__ADS_2