
EOTL ( Essence Of The Light ) - EOTD Season 2 - Kisah Xavier dan Sera
****
****
****
“Xavier! Jangan... aku bisa melakukannya sendiri.” Sera merasa serba salah dan tak enak karena dia sudah membuat Xavier berlutut di kakinya guna menyiapkan air hangat rendaman bagi kakinya yang bengkak. Sekarang, Xavier bahkan menyentuh kakinya di bawah sana, seolah ingin membantu Sera merendamnya.
Bagaimana mungkin Sera membiarkan suaminya berada di posisi seperti pelayan baginya?
Sera mencoba menarik kakinya dari pegangan Xavier, tetapi lelaki itu tak melepaskannya. Pegangannya kuat meskipun tak melukai.
“Biarkan aku membantumu.” Xavier mengelus kaki Sera lembut lalu mendekatkan baskom itu ke kaki Sera. Setelahnya, dia membantu menempatkan kaki Sera masuk ke dalam baskom rendaman itu. Air hangat yang melingkupi kakinya yang bengkak langsung terasa menyenangkan bagi Sera, meredakan nyeri yang ditahannya sejak tadi dan membuatnya tak mampu menahan desahan senang yang lolos dari bibirnya.
“Kuharap ini bisa mengurangi rasa sakitmu.” Xavier menyentuh kaki Sera, lalu mengusapkan jari jemarinya di sana sambil memijit lembut, berusaha melemaskan otot dan syaraf di kaki Sera dengan sangat berhati-hati supaya tidak menyakiti kaki istrinya yang bengkak.
“X-xavier... kau tidak perlu melakukannya.” Sera kembali berusaha menarik Xavier supaya berhenti berlutut di bawah kakinya, selain karena dia tak ingin membuat lelaki itu berada di posisi lebih rendah darinya, dia juga merasa malu karena pergelangan kakinya sangatlah bengkak dan pastinya tidak cantik untuk dipandang.
Namun, penolakan Sera tidaklah berarti bagi Xavier, lelaki itu tetap memijat lembut hingga Sera tak bisa menolak lagi dan membiarkan Xavier melakukannya terus hingga air rendaman di kakinya mulai mendingin.
“Ah, kurasa sudah selesai.” Xavier menyingkirkan baskom air itu dari sisi kaki Sera, lalu meraih handuk putih bersih yang sudah disiapkannya. Dengan lembut lelaki itu mengusap kaki Sera sampai kering dan bersih sebelum kemudian beranjak berdiri dan duduk di sofa di sebelah Sera.
Sera merasakan sensasi rileks yang menyenangkan di kakinya, bengkaknya mungkin masih ada, tetapi rasa sakit dan nyerinya nyaris tak terasa. Perempuan itu lalu menengadah ke arah Xavier, menatap suaminya dengan mata besarnya yang tulus dan penuh cinta.
“T-terima kasih, Xavier,” bisik Sera perlahan dengan suara tersendat penuh perasaan.
Xavier menolehkan kepala dan menatap ke arah istrinya. Senyuman kembali terulas di bibirnya ketika lelaki itu meraih dagu Sera dan semakin mendongakkan perempuan itu ke arahnya.
“Tidak perlu berterima kasih. Sudah menjadi tugas suami untuk melayani istrinya, bukan?” bisiknya dengan suara parau, menahan hasrat yang tiba-tiba menyala ketika pesona istrinya yang tak tertahankan membuatnya ingin memeluk dan menunjukkan kepemilikan kepada perempuannya.
Sera bukannya tak melihat hasrat yang menyala di mata Xavier itu. Wajahnya merona ketika dia tersenyum malu-malu penuh pengertian kepada suaminya. Dia tahu bahwa sejak kandunganya bertambah besar di trimester kehamilannya, lelaki itu sudah menahan diri sekuat tenaga untuk tak berlebihan dalam memperlakukan Sera jika menyangkut urusan seksual. Terkadang Xavier masih menyentuh Sera dan membiarkan istrinya itu membantunya, tetapi tidak pernah lebih dari itu. Lelaki itu sungguh-sungguh mengikuti anjuran dokter Nathan untuk tak menyentuh sepenuhnya demi keamanan bayi kembar mereka.
Terkadang, Sera menyadari bahwa Xavier sedang menatapnya penuh hasrat dan lelaki itu langsung memadamkan hasrat di matanya ketika tatapan mata mereka bersirobok, seolah dia tak ingin Sera mengetahuinya.
Tangan Sera tanpa sadar menyentuh pipi Xavier dan mengusapnya, membuat lelaki itu sedikit tersentak karena sentuhan yang tak disangkanya.
Yah, wajar jika Xavier terkejut. Sebab, di sepanjang pernikahan mereka, Sera sangat jarang bernisiatif menyentuh dirinya terlebih dahulu. Lalu, kenapa perempuan ini melakukannya sekarang? Kenapa Sera menyentuhnya seolah menggoda di situasi terburuk dimana Xavier sedang menahan dirinya sekuat tenaga?
Jemari Sera menyusuri permukaan wajah Xavier, mengagumi alisnya yang tebal dan indah, menyentuh tulang hidungnya yang tinggi, menyusuri tulang pipinya yang kuat dan membentuk wajahnya layaknya tokoh malaikat dengan ketampanannya yang sempurna, mengusap bulu mata Xavier yang tebal hingga membuat lelaki itu langsung memejamkan matanya.
Kemudian, jemari itu bergerak perlahan makin berani dan menyentuh bibir Xavier, mengusapnya dengan ujung jarinya yang halus, bergerak dengan penuh rasa ingin tahu di saana.
Xavier tidak bisa menahan erangan yang lolos seketika dari bibirnya. Lelaki itu membuka mata dan menggerakkan tangannya untuk mencengkeram jemari Sera yang masih berlabuh di bibirnya. Matanya menyala, berkilauan oleh hasrat membara yang sekuat tenaga di tahannya.
“Sera.” Xavier berucap serak, lelaki itu tak mampu menahan diri hingga akhirnya mengusapkan jemari Sera di bibirnya dan mengecupi satu persatu jari lentik nan mungil itu dengan lembut. “Hentikan,” bisiknya memperingatkan dengan suara parau.
Sera melebarkan mata, menatap Xavier dengan tatapan tak berdosa yang disengaja. Ada rasa bahagia yang merayapi hatinya dan membuatnya cerah ceria.
Menyadari bahwa suaminya masih sangat berhasrat kepadanya dan mudah digodanya -padahal tubuhnya sedang hamil besar dan tak menarik seperti ini- sangat membuatnya bahagia dan merasa dicintai.
“Kau... tidak ingin menciumku?” Sera berbisik lembut, menggoda dan menatap suaminya seakan ingin dimiliki.
Xavier menipiskan bibir, ekspresi lelaki itu mengeras, namun sepertinya pertahanan dirinya tak berlangsung lama. Lelaki itu jelas tak mungkin bisa menolak godaan yang diberikan oleh Sera kepadanya. Tangan Xavier yang bebas meraih belakang kepala Sera dan mendekatkan wajah perempuan itu ke arahnya sementara dirinya pun membungkuk ke arah Sera, menautkan bibirnya dengan penuh hasrat dengan kemanisan lembut dari bibir istrinya.
Setelah mereka saling menyatakan cinta, tak terhitung berapa kali mereka saling mencium dan menikmati satu sama lain. Namun, jika ciuman-ciuman sebelumnya dipenuhi pengekangan yang kuat dari pihak Xavier, sekarang terasa berbeda. Itu semua karena Xavier seolah melepaskan tali kekangnya dan membiarkan hasratnya tertumpah pada Sera, lelaki itu menciumi bibir istrinya seolah tak ada hari esok, memperdalam ciumannya di setiap detik yang berlalu seolah ingin melahap Sera sepenuhnya tanpa menyisakan setitik pun kemanisan dalam sesapannya itu.
Tubuh dua anak manusia itu semakin merapat seiring dengan bibir mereka yang saling menikmati, mendesahkan napas tersengal yang berbaur dengan sesapan saling tergila-gila satu sama lain yang seolah tak pernah bisa berakhir.
Lama kemudian, ketika akhirnya Xavier mendapatkan kekuatan untuk memisahkan pertautan bibirnya dengan perempuannya, matanya tampak meredup terbakar hasrat dan napasnya terengah. Lelaki itu begitu dekat dengan Sera, setengah memeluk perempuan itu dalam rengkuhan tangannya. Wajahnya masih berada di dekat Sera, seolah tak mampu menjauhkan dirinya dari perempuan itu. Dengan lembut, Xavier menyusurkan bibrnya di sudut bibir Sera, menghadiahkan kecupan-kecupan kecil di sana sambil menikmati desah napas Sera yang sama tersengalnya seperti dirinya.
Sayangnya, tindakannya itu malah membuatnya merasa lebih buruk. Hasratnya menggelegak hingga tubuhnya terasa nyeri dan rasa nyeri itu terasa menusuk tajam karena kesadaran bahwa dia tidak mungkin melakukan yang lebih jauh dari ciuman terasa menghantamnya dan menyiksanya luar biasa.
Xavier menghela napas panjang kembali untuk menenangkan dirinya, demi keselamatannya, dia menjauhkan wajahnya dari wajah Sera yang begitu cantik lalu menunduk, membungkukkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di bahu Sera, berusaha menenangkan diri sambil menempelkan wajahnya di kelembutan kulit bahu Sera nan lembut.
“Xavier,” Sera berucap perlahan, suara perempuan itu bergetar, sama-sama dihantam oleh hasrat yang tak berbelas kasihan, sama seperti dirinya.
“Jangan,” Xavier mengerang. Tubuhnya terasa nyeri menahan diri, seolah ingin meledak tanpa peduli. “Jangan bergerak.” Xavier menyambung lagi dengan suara parau. “Biarkan aku seperti ini selama beberapa saat untuk menenangkan diri,” sambungnya kemudian, memberikan penjelasan dengan lembut supaya Sera mengerti.
Sejenak Sera terdiam, berusaha mengikuti kemauan lelaki itu. Namun, suara napas Xavier yang sedikit terengah di pundaknya membuatnya merasa sedikit iba. Lelaki ini menahan diri sekuat tenaga demi dirinya. Tadi tanpa belas kasih, Sera malahan menggoda Xavier. Sekarang, dia tidak mungkin membiarkan suaminya tersiksa tanpa pelepasan, bukan?
Tangan Sera bergerak perlahan, menyentuh suaminya dengan berani, membuat Xavier terkesiap karena terkejut.
__ADS_1
“Sera....” Xavier seolah kesulitan berkata-kata, suara yang keluar dari bibirnya bercampur baur dengan erangan tersiksa. “Jangan,” ujarnya lagi memberikan peringatan supaya Sera berhenti.
Namun, Sera tak mau berhenti. Tidak di saat dilihatnya Xavier sudah sampai di batas pertahannya dan membutuhkan bantuannya.
Dengan lembut Sera mengecup pucuk kepala Xavier yang masih menempelkan wajah di bahunya, tangannya bergerak lembut menggoda dan menyentuh hasrat lelaki itu.
“Kau sudah membantuku tadi. Sekarang, akulah yang akan membantumu. Kau bilang tugas seorang suami adalah melayani istrinya, bukan? Tidakkah kau pikir pernikahan itu berjalan dua arah? Kurasa sebagai seorang istri, aku tidak keberatan melayani suamiku.” Kalimat Sera diucapkan dengan nada tegas dan penuh keyakinan. Bagi Xavier sendiri, itu adalah titik pendorong terakhir baginya untuk menabrak pagar pembatas yang dia bangun untuk dirinya sendiri.
Xavier tidak punya kekuatan yang tersisa untuk melawan. Dia mengangkat kepala dan langsung mencium Sera lagi dengan penuh hasrat.
***
“Kau bisa duduk di sana dan menunggu.” Dokter Nathan mengantarkan Xavier ke ruang konferensi untuk meeting yang ada di lantai empat gedung rumah sakit itu. Sayap paling kiri di gedung lantai empat rumah sakit ini memang diperuntukkan untuk area konferensi dan pertemuan.
Xavier memandang ke sekeliling. Lorong yang mereka lalui dari lift menuju ruang konferensi ini sepi dari para karyawan. Nathan rupanya telah menjalankan perannya dengan baik untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.
“Sepertinya semua akan berjalan dengan baik. Bagaimana dengan dokter Oberon sendiri? Apakah dia sudah tiba untuk menghadiri meeting?”
“Dokter Oberon sudah tiba di kantornya seperti biasa dan bekerja di sana sejak pagi hari. Dia adalah orang yang tepat waktu, jadi kurasa dia akan segera datang ke area sini untuk menghadiri meeting.” Nathan tampak mengerutkan keningnya dan berpikir. “Xavier, jika ternyata hasil hari ini menunjukkan bahwa dokter Oberon bukanlah Aaron, kuharap kau tidak melakukan hal yang buruk kepadanya.”
Xavier membuka pintu ruang konferensi itu dan melangkah masuk dengan diikuti oleh para bodyguard-nya. Sebagian dari para bodyguard-nya berjaga di dalam ruangan ini dan sebagian lagi ditempatkannya di sepanjang lorong untuk menjaga keamanan.
Dengan santai lelaki itu duduk di salah satu kursi besar di ujung meja bulat tempat meeting tersebut dan menyandarkan punggungnya.
“Dia mendekati istriku dan berusaha berkomunikasi dengan Sera menggunakan cara kuno seperti menjatuhkan saputangan. Jika dia memang bukan Aaron, berarti dia adalah lelaki yang cukup berani untuk mendekati istri seorang Xavier Light.” Mata Xavier tampak menajam dan bersinar sekilas oleh sinar posesif di sana. “Sebagai seorang suami, aku tak mungkin membiarkannya lolos begitu saja, bukan?”
Dokter Nathan yang bersandar di ambang pintu langsung mendekus.
“Jika dia bukan Aaron, maka tindakannya tidak melebihi batas. Mungkin dia hanya ingin bersikap baik pada istri atasannya.” Mata Nathan menyipit penuh peringatan. “Dia adalah salah satu aset penting perusahaan. Jangan berlebihan jika kau ingin memberi peringatan kepadanya supaya menjauhi istrimu.”
Xavier terkekeh. “Itu semua tergantung hasil penilaianku nanti, Nathan. Lebih baik kau menunggu dan melihat rencanaku selanjutnya,” sambungnya kemudian dengan nada misterius penuh teka-teki.
***
Ketika melangkah keluar dari lift, Aaron langsung dikejutkan oleh kehadiran bodyguard berpakaian hitam-hitam yang berdiri menjaga di titik-titik tertentu pada lorong yang dilaluinya untuk menuju ruang konferensi tempat meeting bulanan akan dilaksanakan.
Biasanya ketika menghadiri meeting-meeting semacam ini, Aaron melaluinya dengan hati ringan dan tanpa beban, menganggap itu hanyalah sebagian kecil dari peran penyamarannya yang sempurna. Namun, ketika melihat para bodyguard yang berjajar di sepanjang lorong dengan pakaian hitam-hitamnya yang khas, jantung Aaron langsung berdebar dan dirinya segera dipenuhi oleh firasat buruk yang menyeruak dan menguasainya.
Hanya Akram dan Xavier yang membawa bodyguard seperti ini.
Aaron berpikir sambil menelan ludah, dia mengangguk sedikit ke arah para bodyguard yang dilewatinya dan menyadari bahwa tak ada yang menghentikannya untuk melangkah melewati ruang konferensi tersebut.
Dia datang untuk menghadiri meeting keuangan dan sepertinya, salah satu dari Akram dan Xavier ternyata datang juga untuk mengikuti meeting yang sama.
Siapa yang datang? Apakah Akram Night? Namun, lelaki itu sedang disibukkan oleh kelahiran anak keduanya, bukan? Kalau begitu... apakah Xavier? Apakah dia sudah dicurigai oleh Xavier?
Ketika mendekati Sera di lift itu dan mengatakan mengenai kondisi sesungguhnya ayah Sera yang disembunyikan oleh Xavier, Aaron memang mengakui bahwa dia melakukannya dengan impulsif. Waktu itu, dia cemburu melihat kedekatan Sera dengan Xavier dan dirinya haus akan rasa kemenangan saat dia berhasil menciptakan pertengkaran dan permusuhan di antara Sera dan Xavier. Harapannya adalah membuat kepercayaan Sera kepada Xavier hancur dan mereka saling membenci.
Sayangnya, harapannya itu sepertinya tak menjadi kenyataan. Aaroon pernah mencuri sekilas pandang ketika Xavier sedang berinteraksi dengan Sera saat lelaki itu mengantarkan istrinya ke dokter kandungan. Mereka berdua tampak dekat dan rukun.... sama sekali tidak ada percikan pertengkaran ataupun permusuhan di antara mereka.
Hal itu membuat Aaron menyesal luar biasa telah melakukan tindakan impulsif dengan mendekati Sera untuk mengadu domba perempuan itu dengan Xavier. Rencananya gagal total, dan sekarang dia malahan berada dalam kondisi dicurigai.
Xavier memiliki penilaian yang sangat tajam dan pengawasan saksama yang sulit untuk dikelabuhi. Apakah saat ini dia akan kalah dan ketahuan?
Aaron merasakan bulu kuduknya berdiri ketika membayangkan kemungkinan itu, namun dia berusaha menenangkan hatinya sekuat mungkin.
Biarpun Xavier sudah curiga, lelaki itu tak punya bukti. Aaron sudah berlatih keras untuk menghadapi lelaki itu dengan sempurna, dia tak akan memberi kesempatan bagi Xavier untuk mendapatkan bukti atas kecurigaannya. Tidak di saat dia belum berhasil melakukan apa yang sudah direncanakannya dengan sempurna untuk Sera nantinya.
***
Meskipun sudah menyiapkan hatinya, tetap saja Aaron tak bisa menahan keterkejutannya ketika apa yang menjadi dugaan di dalam kepalanya ternyata terwujud menjadi kenyataan.
Xavier duduk di kursi besar yang ada di ujung meja oval itu, sedangkan di belakangnya, tampak para bodyguard berpakaian hitam-hitam yang berdiri dengan setia berjaga di belakangnya dengan ekspresi kaku seperti batu. Xavier yang tadinya sibuk mengamati data-data di atas meja tampak mengangkat kepala ketika menyadari bahwa Aaron telah membuka pintu ruang konferensi itu. Lelaki itu langsung memasang senyum ramahnya yang palsu.
“Kenapa kau tampak begitu terkejut, dokter Oberon?” Mata Xavier yang tajam mengawasi dengan saksama ekspresi yang muncul di wajah Aaron ketika lelaki itu may tak mau akhirnya melangkah masuk ke ruang rapat tersebut.
Aaron mengerjapkan mata. Dia tahu bahwa dirinya harus segera menguasai diri dan membunuh keterkejutannya. Xavier adalah lelaki dengan naluri yang sangat tajam, jika dia salah bergerak sedikit saja, bisa jadi Xavier akan langsung mencurigainya.
__ADS_1
Tetapi, apa yang dilakukan oleh lelaki sialan itu di tempat ini?
“Ah, bukan begitu, Tuan Xavier.” Aaron langsung membuat alasan sebagai jalan keluar untuknya. “Saya hanya tak menyangka akan melihat Anda di sini. Bagaimanapun, Anda tidak pernah hadir di rapat laporan keuangan yang sebelum-sebelumnya.”
“Aku memang tidak pernah hadir sebelumnya karena aku tidak berkonsentrasi dengan perusahaan Akram Night yang ini. Tetapi, karena sekarang urusan rumah sakit ini lekat berhubungan denganku, maka aku merasa bahwa aku sebaiknya sedikit campur tangan dalam kebijakan rumah sakit ini, terutama menyangkut keuangan.” Mata Xavier menyipit, mengawasi Aaron dengan penuh perhitungan. “Kau tentu tahu bahwa aku adalah seorang jenius jika itu menyangkut perhitungan dan perencanaan keuangan, bukan?”
Bibir Arron menipis kesal karena Xavier tidak mau repot-repot menyembunyikan sikap sombongnya. Yang lebih mengesalkan lagi adalah kenyataan bahwa apa yang dikatakan oleh Xavier itu benar adanya.
Xavier Light memang dikenal sebagai dewa di bidang perencanaan keuangan, lelaki itu bermain di pasar saham dan investasi dengan lihai hingga satu keputusanya saja akan mempengaruhi semua orang karena besarnya kepercayaan mereka akan kemampuan Xavier. Dari permainan di pasar keuangan itulah, Xavier mendapatkan kekayaan berlimpah yang terus diputarnya dengan cerdik sehingga memberikannya penghasilan yang nyaris tak pernah putus dalam jumlah luar biasa besar.
“Saya tahu Anda sangat hebat.” Aaron berhasil menutupi ekspresi tidak sukanya dan menggantikanya dengan tatapan kagum yang diperhitungkan. Dia sadar bahwa dia harus berperan sebagai dokter Oberon yang dingin, jadi dia tidak boleh berlebihan, kalau tidak dia akan ketahuan. “Karena itulah, saya sangat tersanjung Anda mau bergabung di sini dan memberikan masukan-masukan meyangkut kebijakan keuangan yang pastinya akan membawa kebaikan perusahaan.”
Sambil berucap, tak lupa Aaron memasang senyuman tipis nan tulus. Setelahnya, dengan sikap tenang, Aaron menarik kursi untuknya dan duduk di sana.
Kening Aaron berkerut ketika memandang bahwa di dalam ruang rapat yang luas dengan meja besar dan puluhan kursi yang melingkari meja tersebut, hanya ada Xavier dan Aaron saja di ruangan itu.
“Bukankah meeting ini seharusnya dihadiri oleh semua divisi?” Aaron bertanya ke arah Xavier sambil melirik jam tangannya.
Sudah jam sepuluh, tidak lebih dan tidak kurang. Undangan meeting itu jelas-jelas mengatakan bahwa meeting pembahasan laporan keuangan akhir tahun dan perencanaan keuangan tahun depan, akan dilakukan hari ini tepat pukul sepuluh pagi.
Atau jangan-jangan Aaron salah baca tanggal atau undangan meeting sehingga dia datang di saat yang salah?
Tetapi, ada Xavier di tempat ini dan bersiap mengikuti meeting yang sama.
Kalau begitu, Aaron tidak salah lihat, bukan?
Xavier yang mengawasi ekrpresi kebingungan Aaron dan bibirnya langsung membentuk senyuman.
“Perwakilan divisi yang lainnya sudah meminta izin kepadaku. lainnya datang terlambat karena ada hal penting yang harus diselesaikan lebih dulu. Mungkin kita harus menunggu sekitar setengah jam lagi hingga mereka semua bisa hadir di sini.” Xavier menyahuti seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran Aaron. Lelaki itu kemudian menyeringai dan memberi isyarat kepada Aaron supaya lelaki itu mengambil tempat duduk di hadapannya. “Setengah jam adalah waktu yang lama, dan kita pasti akan bosan jika hanya berdiam diri. Kurasa, kita bisa menghabiskan waktu dengan mengobrol? Kurasa, banyak hal menarik yang bisa kutanyakan kepada Anda untuk membuat setengah jam ini berlangsung lebih cepat, dokter Oberon.”
***
***
***
***
Hello.
Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author selalu masuk ke ranking.
Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD SUDAH tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book
EOTD / Essence of The Darkness ---> Kisah Akram dan ELana
EOTL / Essence of The Light ---> Kisah Xavier dan Sera ( Ebook SEGERA tersedia)
Kata kunci di g00gle book :
Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt
JIKA ANDA MENDAPATKAN EBOOK INI BUKAN DARI GOOGLE PLAYBOOK, BERARTI ANDA TELAH MELAKUKAN TINDAKAN KRIMINAL PENCURIAN DAN BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUNUHAN KREATIVITAS PENULIS.
DUKUNG PENULIS KESAYANGANMU SUPAYA BISA TERUS BERKARYA DENGAN TIDAK MENGAKSES DAN MENYEBARKAN BUKU BAJAKAN.
Follow instagram author jika sempat ya, @anonymousyoghurt
Yours Sincerely
AY
***
***
__ADS_1
***