
Halo,
ini adalah part 8/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumannya
Regards,
Ay
***
"Apakah kau mau meminta tolong Elios supaya meminta pelayan untuk menyiapkan kopi bagi kita sebelum kita bercakap-cakap lebih jauh?"
Craden yang membaca ketegangan suasana antara Xavier dan Maya langsung mengambil alih situasi dengan bijaksana. Saat ini Xavier masih memasang topeng ramah yang terlihat lemah di depan semua orang, tetapi Craden yakin kalau Maya terus bersikap tak tahu diri dan mendesaknya, bukan tidak mungkin Xavier akan mengeluarkan taringnya dan menyibak wajah aslinya yang mengerikan.
Meskipun tak menyukai sikap arogan dan sok tahu Maya yang sangat kental, Craden masih membutuhkan kapabilitas dan kepintaran Maya untuk membantunya sebagai asistennya. Dia tak ingin asistennya itu mengalami nasib mengenaskan kalau sampai membuat Xavier Light gusar. Cara paling baik sekarang adalah menyingkirkan Maya sementara dari tempat ini dan meredakan kemarahan Xavier yang dia tahu sudah mulai merambat naik.
Maya bukanlah orang bodoh, tentu saja dia menyadari isyarat yang dikirimkan oleh Craden kepadanya. Karenanya, tanpa membantah, dia langsung bangkit dari duduknya, mengucap permisi, lalu melangkah dengan elegan meninggalkan ruangan.
Xavier menunggu sampai Maya meninggalkan ruangan terlebih dahulu sebelum melontarkan protesnya.
"Aku tak menyukainya." ujarnya singkat, dengan tepat mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Craden mengangkat bahu. "Kepribadian Maya memang seperti itu. Kurasa, kearoganan selalu berbanding lurus dengan kecerdasan. Tetapi, bukan kepribadiannya yang kuinginkan. Aku membutuhkan kemampuan otaknya yang sangat hebat. Percayalah, dengan menjadikannya sebagai asistenku, aku berkali-kali lipat lebih efisien dibandingkan sebelumnya."
Nyala marah di mata Xavier belumlah padam. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke sofa, sementara tangannya bersedekap erat.
"Dia mengikutimu kemari bukan untuk membantumu. Dia mengincar Akram."
"Sudah tentu dia mengincar Akram, siapa yang tidak? Bagi Maya, Akram Night adalah pasangan yang sepadan untuknya. Maya sangat cerdas, jadi dia mengincar orang yang lebih cerdas darinya sebagai orang yang layak menjadi pasangannya," jawab Craden sambil lalu.
Xavier memiringkan kepalanya. "Kalau begitu, kenapa dia tidak mengincarmu... atau aku?"
Craden menggelengkan kepalanya. "Aku sudah menolak dengan tegas di awal dan Maya mengerti bahwa dia bukanlah tipeku. Jadi, dia mundur sebelum sempat melangkah maju. Mengenai dirimu... entahlah, mungkin Maya menganggapmu terlalu cantik dan feminim dan kurang gagah untuk menjadi pasangannya?" sahut Craden dengan nada bercanda.
"Sialan," Xavier mengumpat, tetapi tanpa kemarahan sama sekali. "Lagipula, aku tak membutuhkan perempuan seperti Maya untuk mengejarku. Perempuan semacam itu menjijikkan, mungkin setiap pagi dia bercermin sambil mengagumi dirinya sendiri dan menutup mata terhadap kekurangannya." gumam Xavier dengan nada jijik yang nyata.
"Meski kau tak menyukainya, jangan sampai kau melabuhkan tanganmu kepadanya, Xavier. Dia adalah asistenku dan aku masih membutuhkan kemampuan otaknya. Aku akan kesulitan kalau kau tiba-tiba memutuskan untuk membunuhnya." sahut Craden dengan nada penuh ironi.
Xavier mengangkat alisnya. "Kalau begitu, kau harus menjaga asistenmu supaya tidak bersikap berlebihan. Kalau tidak, aku tak bisa menjamin kalau aku tak akan turun tangan," jawab Xavier dengan nada mengancam.
"Apa maksudmu, Xavier?" Craden menyipitkan mata, menatap Xavier dengan penuh perhatian.
"Apa kau tak melihat sikap asistenmu itu? Dia seperti betina yang mengincar posisi puncak di sini. Dia ingin perhatian semua orang hanya terarah kepadanya. Dan karena hanya ada satu wanita lain yang mungkin mengganggunya, maka dia menjadikan Lana sebagai targetnya," ekspresi Xavier berubah mengerikan penuh ancaman. "Jika dia berani mengganggu asistenku, aku akan menghabisinya."
"Aku akan berusaha supaya dia tidak mengganggu asistenmu," Craden menyeringai, menyadari bahwa Xavier serius dengan perkataannya. Jika orang lain mengancam akan menghabisi musuhnya, maka bisa dipastikan orang itu hanya menggertak. Tetapi, jika Xavier yang bilang begitu, itu jelas disertai dengan niat membunuh yang kuat dan tak main-main. "Kau bisa tenang Xavier. Terlebih lagi, aku ingin membahas hal lain yang ingin kutanyakan kepadamu sejak tadi. Kita tidak membahasnya dengan jelas di telepon. Jadi, aku ingin tahu kenapa hubunganmu dengan Akram bisa berkembang pesat menjadi sebaik ini. Dulu kalian tidak pernah berhenti saling mencoba membunuh satu sama lain, kenapa sekarang kalian bisa menjadi rekan kerja dengan ruang yang bersebelahan pula. Aku tadi menunggu kalian saling menyerang satu sama lain, tetapi ajaibnya itu tidak terjadi." tanya Craden dengan penuh rasa ingin tahu, menatap Xavier dengan penuh minat.
"Aku akan menceritakan perinciannya kepadamu nanti, saat kita keluar minum sepulang kerja. Tetapi intinya, semua itu karena Lana." jawab Xavier dengan nada misterius.
__ADS_1
Craden mengangkat alisnya. "Karena Elana?" ujarnya tak percaya.
"Ya. Lana. Dia mungkin kelihatan lemah dan polos, seperti yang dikatakan oleh asistenmu. Tetapi kau dan juga asistenmu harus berhati-hati memperlakukannya. Karena perempuan itu, adalah perempuan yang sangat penting bagi aku dan Akram. Keinginan untuk melindungi Lanalah yang mempersatukan kami dan membuat kami menghentikan permusuhan untuk saat ini. Tetapi, jika nanti Lana terluka, bukan hanya aku yang akan menuntut balas, kurasa Akram akan menuntut balas dengan cara berkali-kali lipat lebih mengerikan dari diriku."
***
***
Ketika Elana melangkah dari salah satu bilik toilet yang terletak di ruang toilet perempuan berukuran luas di sebelah lift, dia langsung memekik terkejut ketika tubuhnya didorong cepat ke dinding dan sesosok tubuh yang kuat mendesaknya sampai tak bisa bergerak.
Seketika, karena insting untuk melindungi dirinya, Elana berusaha meronta, tetapi kemudian, aroma khas yang melingkupinya membuatnya tersadar dan menyadari siapa yang saat ini sedang mendesaknya dengan kuat.
"Akram!" Elana memekik setengah terkejut dan setengah marah. Tidak disangkanya Akram akan melakukan tindakan tercela dengan masuk ke area toilet perempuan tanpa tahu malu. "Apa yang kau lakukan di sini?" serunya dengan suara meninggi.
Akram terkekeh, lalu mendaratkan kecupan lembut di dahi Elana. "Aku akan pergi untuk meeting di luar dan baru selesai sore nanti. Jadi, kau akan pulang dengan supir. Nanti setelah meeting selesai, aku akan langsung ke rumahmu untuk makan malam bersama," bibir Akram bergerak menelusuri sisi pipi Elana. "Jadi, aku di sini untuk meminta ciuman selamat tinggal karena setelah ini aku tak akan bisa melihatmu seharian."
"Ciuman selamat tinggal?" Elana menoleh panik ke arah pintu ruang toilet itu. "Astaga, Akram... bagaimana kalau ada orang masuk kemari?" tanyanya ketakutan.
"Tidak akan ada orang yang masuk kemari, Elios sudah menjaga di depan," kali ini bibir Akram sudah mendarat tepat di atas bibir Elana. "Mana ciumanku, hmm?" lalu ketika Elana membuka mulut untuk berucap, tiba-tiba saja Akram sudah menciumnya.
***
***
Dengan harap-harap cemas, Elios terus menatap ke arah ruang kerja Xavier, berharap tak ada siapapun yang tiba-tiba keluar dari sana dan memergoki Elios. Dia juga mengawasi lift dengan hati-hati, menjaga supaya tak ada tamu yang tiba-tiba datang tanpa reservasi.
Jangan sampai Akram memutuskan untuk bercinta dengan Elana di dalam sana....
Beruntung tak lama kemudian Akram tampak keluar dari ruang toilet perempuan itu, sepertinya atasannya hanya ingin menggoda Elana sebelum pergi, dan sepertinya itu berhasil jika dilihat dari senyum puas yang menghiasi wajah Akram ketika lelaki itu melangkah keluar dari ruang toilet perempuan tersebut.
"Siapkan berkas-berkas dan data untuk meeting. Aku akan turun duluan, kau menyusul nanti." dengan sikap tegas, Akram melemparkan perintahnya ke arah Elios sebelum kemudian menekan tombol lift dan masuk ke dalam lift tanpa menoleh lagi.
Elios sejenak masih terpaku menatap lift tempat atasannya itu menghilang, setelahnya seolah tersadarkan dia bergegas bangkit, mengambil laptop dan beberapa berkas yang memang sudah disiapkannya di meja, lalu melangkah cepat menuju lift untuk mengikuti Akram.
Tetapi, ketika berada di depan lift, Elios menghentikan langkahnya, dia teringat bahwa dia harus berbicara kepada Elana dulu sebelum pergi, ada beberapa berkas yang disiapkannya untuk disusun oleh Elana, dan beberap data yang harus diinput untuk membantu Elana berlatih mengorganisir beberapa data. Elios memang sudah meninggalkan catatan di meja Elana, dan sekarang dia berdiri meragu, bingung mengambil keputusan apakah dia perlu berbicara dengan Elana untuk menjelaskan daftar pekerjaan yang ditinggalkannya pada perempuan itu, ataukah membiarkan Elana bergerak atas inisiatif sendiri berdasarkan catatan panduan pekerjaan yang sudah ditinggalkan di meja Elana.
Suara pintu ruangan Xavier yang terbuka membuat Elios hampir terlompat dari posisi berdirinya karena terkejut. Seketika Elios menoleh ke arah sumber suara dan menelan ludah ketika menyadari bahwa Mayalah yang keluar dari sana. Untung sekali, seandainya Maya keluar beberapa menit lebih cepat, perempuan itu sudah pasti akan memergoki Akram yang keluar dari ruang toilet perempuan, dengan Elana yang berada di dalam ruang toilet itu.
"Kau butuh sesuatu?" Elios bertanya seketika saat menyadari mata Maya yang terlempar ke meja kerja Elios dan Elana yang kosong. Perempuan itu tampak mencari sesuatu.
Maya melangkah mendekat dengan kening berkerut, matanya mengawasi Elios yang tampak sedikit pucat dan terengah-engah.
"Craden menyuruhku untuk meminta tolong kepadamu supaya mengirim pesan kepada pelayan di bawah untuk mengirimkan kopi bagi mereka. Apakah kau bisa membantuku?"
Elios segera menganggukkan kepala. "Aku akan menghubungi mereka dan meminta untuk mengirimkan kopi ke atas, ada lagi yang kau inginkan?" dengan sengaja Elios melirik jam tangannya, tahu bahwa Akram saat ini mungkin telah menunggunya di mobil.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada lagi." jawab Maya cepat.
"Oke. Kalau begitu aku harus turun, tuan Akram akan meeting di luar." jawab Elios cepat, lalu tanpa menoleh lagi membalikkan badan untuk menekan tombol lift, mengucapkan selamat tinggal dengan santai sebelum kemudian masuk ke dalam lift dan pergi.
***
***
Maya masih merenung sambil menatap ke arah pintu lift yang telah menutup. Kekecewaan melingkupi hatinya ketika menyadari bahwa Akram Night telah meninggalkan gedung perusahaan ini dan tidak ada di gedung yang sama dengan dirinya. Padahal salah satu yang membuatnya bersemangat pagi ini adalah kesempatan untuk berada dekat dengan Akram, dan juga kesempatan tambahan untuk membuat lelaki itu terpesona kepadanya dan mencuri hatinya.
Tetapi, masih ada hari esok. Mengingat banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan oleh Craden di sini, besar kemungkinan dia akan dapat berinteraksi lebih intens dengan Akram esok hari.
Maya hendak membalikkan badan dan kembali ke ruangan tempat Xavier dan Craden berada, tetapi suara pintu terbuka dari toilet perempuan menarik perhatiannya, dia menoleh dan alisnya berkerut ketika langsung berhadap-hadapan dengan Elana yang baru keluar dari ruang toilet itu.
Elana sempat tertegun seolah tak menyangka akan langsung berhadapan dengan Maya begitu keluar dari ruang toilet itu. Tetapi dengan cepat dia menguasai diri dan menganggukkan kepalanya dengan sikap formal untuk menyapa.
"Nona Maya," sapanya lembut, lalu beralih cepat untuk melewati perempuan itu dan menuju ke meja kerjanya.
Sementara itu, Maya masih terpaku di tempat setelah Elana melewatinya. Ketika perempuan itu melewatinya, jelas sekali tercium aroma minyak wangi lelaki dari tubuh Elana. Perempuan itu tak mungkin menggunakan aroma minyak wangi lelaki dengan aroma kayu dan citrus hangat itu di tubuhnya, jadi kemungkinan besar, perempuan itu habis dipeluk erat atau menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuh laki-laki sehingga aroma tubuh laki-laki itu berpindah ke tubuhnya. Dan juga... mata Maya yang awas melihat bahwa bibir Elana tampak bengkak, dengan lipstick menipis... seperti habis dicium habis-habisan.
Mata Maya beralih lagi ke arah lift tempat Elios tadi pergi dengan ekspresi terkejut dan sedikit pucat. Kecurigaan bercampur rasa jijik langsung memenuhi benaknya.
Astaga. Bukan hanya menjual tubuhnya dan menjadi simpanan Xavier supaya dirinya bisa mendapatkan posisi asisten Xavier dengan mudah, Elana juga menggunakan tubuhnya untuk merayu dan bercumbu dengan Elios di tempat kerja? Di ruang toilet perempuan, pula! Sungguh perempuan menjijikkan dan tak bermoral!
***
***
Halo, ini adalah part 8/10 dari Crazy update. Author tidak bisa menjamin kesepuluh-sepuluhnya terposting berbarengan ya karena ada sistem review dari mangatoon.
Mudah2an saja bisa terposting berbarengan, tetapi jika tidak ( posting terpisah dengan jeda waktu jam/hari) maka diharapkan permaklumanny
Regards,
Ay
Note Author : Kisah tentang Cradence Evening ini rencananya akan menjadi proyek novel baru author. Tapi belum tahu apakah akan diposting disini setelah Essence Of The Darkness tamat atau tidak. Jika iya, pasti akan author buat pengumuman di sini. dan tentu saja dia TIDAK BERPASANGAN DENGAN MAYA.
***
__ADS_1