
" Maliq..itu siapa yang nelpon,kenapa kamu cuma pandangi begitu ??itu ponsel Syifa kan ??" Pekik Mamah ketika dia melihat Maliq hanya menatap layar ponsel Syifa yang sedang bergetar karena panggilan masuk.
" Ee.. in ..inni..teman Syifa Mah..biar nanti saja " Ujar Maliq gagap.Dia merasa harus menjelaskan pada Mamah dulu keadaan Syifa,biar Mamah yang akan menelpon keluarga Syifa.
" Ya ..sudah.sekarang Mamah mau tanya bagaimana kronoligi kejadiannya " Tanya Mamah masih penasaran.
Maliq menarik napasnya panjang.Lalu menceritakan kejadian semalam.Tapi baru sebagian ceritanya,dokter sudah masuk umtuk memeriksa Maliq.
" Jadi bagaimana kedaan anak saya ,dok ??" Tanya Mamah Maliq pada dokter setelah dokter selesai memeriksa Maliq.
"Tidak ada cidera yang serius,jadi siang ini Pak Maliq sudah bisa pulang " Ujar dokter tersenyum dan mengangguk hormat pada Mamah Maliq.Dia bisa mengenali Mamah Maliq.
" Oo..ternyata Pak Maliq ini anaknya Ibu Sekda" Gumam dokter dalam hati.
" Syukurlah..dok "
"Baik Bu,saya tinggal dulu ya Bu...Pak Maliq..istrahat yang cukup yaa Pak..biar cepat pulih " Pamit dokter pada Maliq dan Mamah.
" Kak Maliq, istrimu kok nggak keliatan sih.Apa dia tidak menemani kakak di sini semalam ??Istri macam apa sih dia itu, ninggalin suami saat lagi sakit !! " Tiba tiba Ayin bersuara mencoba memprovokasi Mamah dan Maliq.
Maliq menatap Ayin dengan tatapan tajam. " Ayin...kalau tidak tau apa apa,jangan bicara.lebih baik kamu diam !!" Bentak Maliq geram.
__ADS_1
Ayin menunduk takut..."Iya Kak..maaf aku cuman kasian aja sama Kak Maliq,harusnya disaat seperti ini,Kak Maliq ditemani istri " Lirih suara Ayin tapi masih dengan nada memprovokasi.
Maliq mendengus kesal.
" Ayin...tidak usah ngomong " Ujar Mamah pelan tapi menatap Ayin dengan tajam.
Ayin mengangguk sambil cemberut lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di samping Hendra yang membisu dari tadi.
" Hendra..kamu bisa kembali ke kantor!! ...sudah ada Mamah di sini menemaniku " Titah Maliq pada Hendra.
" Baik Pak, saya permisi dulu.Mari tante !!" Pamit Hendra pada Mamah dan Maliq.
" Iya Hendra,makasih ya sudah menemani anak tante..."
" Mah...sse..sebenarnya Syifa ada di sini juga.." Ucap Maliq terbata.
Mamah mengernyitkan keningnya tidak mengerti.
" Iya, Mamah tau pasti Syifa tidak akan meninggalkanmu di sini sendiri.Buktinya ada tas Syifa di sini " Ujar Mamah sambil melirik tas Syifa.
" Bukan itu maksudku Mah...tapi, sekarang Syifa lagi di ruang ICU, dia kritis Mah.." Jelas Maliq dengan suara bergetar.
__ADS_1
" Jddrrr"..Mamah terkejut.Begitupun dengan Ayin.
" Oo..pantas aja nggak ada di sini,ternyata lagi sekarat " Batin Ayin.
" Ap..apa maksudmu Maliq ??!" Pekik Mamah.Digoyang goyangkannya tubuh Maliq.
Maliq tertunduk.
" Saat aku melawan penjahat itu,aku hampir saja di tikam sama penjahat,tapi Syifa datang menolong.Dia berkelahi dengan ketiga penjahat itu sendiri.Aku pingsan walau tidak lama.Saat aku sadar aku lihat Syifa sedang berkelahi.Aku ingin bangkit membantu tapi kepalaku pusing banget.Sampai tiba tiba aku melihat penjahat itu menyabet lengan Syifa.Karena keadaan gelap aku tidak tau seperah apa luka Syifa,aku pikir cuman tergores..Tapi dia tetap melanjutkan perkelahian dengan penjahat itu.Untung polisi sedang patroli datang,hingga penjahat itu kabur.Saat Syifa dan polisi ingin membawaku ke rumah sakit tiba tiba dia pingsan.Disitulah baru ketauan ternyata lukanya parah dan banyak mengeluarkan darah " Tutur Maliq terbata bata dengan nada sendu.
Mamah hanya bisa membekap mulutnya dengan telapak tangannya tanda keterkejutannya.
"Jadi Syifa melawan penjahat itu sendiri ?? " Tanya Mamah dengan nada tidak percaya.
"Iya Mah..dia jago bela diri "
"Aku tidak menyangka, gadis lembut itu ternyata wanita tangguh " Gumam Mamah sambil mengusap air mata yang menitik di pipinya.
" Mamah akan menjenguknya di ICU " Ujar Mamah sambil bangkit dari ranjang Maliq.
" Mah..aku ikut.Ayin kamu dorong Kakak pake kursi roda "
__ADS_1
" Iya , Kak "..