
Syifa meringkuk di tempat tidur sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak.Air matanya yang mati matian ditahannya sejak tadi,akhirnya luruh juga.
"Astagfirullahaladzim...Astagfirullahaladzim....Astagfirullahaladziim...!!! Ampuni aku Yaa Allah !!.Aku telah terbawa emosiku " Gumam Syifa sambil mendekap dadanya.
Syifa mengelus perlahan perutnya yang masih rata." Maafkan Umi,ya Nak..!! Umi telah memberi contoh tidak baik padamu.Umi mau kamu akan jadi anak sholeh,bertutur kata lembut dan lebih penyabar.Jangan seperti Umi Nak,lebih mudah tergoda oleh iblis....Astagfirullah...!! " Syifa membujuk janinnya untuk menenangkan seolah janin itu mengerti dan melihat apa yang dialaminya.
Syifa menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki hingga kepala. Seolah dia ingin meredam rasa sakit dan kekecewaannya di dalam selimut itu.
Di ruang kerja Maliq...
Maliq memijat ruang di keningnya.Dia termenung di depan meja kerjanya." Aarghhh...!!! sial !!! " kenapa aku hanya jadi pecundang.Aku tidak bisa melindungi istriku dari kemarahan kakek " Maliq berteriak frustasi.Hatinya sakit ketika bayangan Syifa ditampar oleh Kakeknya kembali melintas di benaknya.
" Ini semua gara gara Sandra !!! .Andai aku tidak melupakan berkasku tadi,entah apa yang akan diperbuat Kakek pada Syifa".
Tiba tiba Maliq teringat tatapan kekecewaan Syifa yang ditujukan padanya" Sedang apa Syifa di kamar sekarang.Aku harus minta maaf padanya.Dia tidak boleh bersedih..itu akan mempengaruhi janinnya.Tapi aku takut,dia akan menolakku." Monolog Maliq.
" Aaargghh...!!! Kenapa jadi begini ??" Maliq mengusap wajahnya dengan kasar.Dia semakin frustasi.
" Aku harus menemuinya.Aku harus membujuknya !! " Sontak Maliq bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menuju kamar Syifa.
Maliq memutar handle pintu kamar dan mendorong pelan daun pintu." Alhamdulillah kamarnya tidak di kunci " Gumam Maliq sambil mengedarkan pandangannya mencari Syifa.
__ADS_1
Maliq tertegun melihat selimut yang bertumpuk menggunung di atas kasur."Dek...!!!" Seru Maliq dengan lembut memanggil Syifa .Perlahan dia naik ke atas kasur.Disinggkapnya selimut yang menutupi kepala Syifa.
" Apa yang adek lakukan..hmm ?? nanti adek sesak,sayang ...!! " Ujar Maliq masih dengan nada yang lembut sambil mengusap kepala Syifa yang terlindung oleh khimarnya.
Syifa bergeming.Matanya tertutup rapat.Nampak jejak air mata masih tersisa di pipinya yang berwarna keunguan akibat tamparan Kakek.Entah dia benar benar tidur atau hanya pura pura.
Maliq mengangkat tangannya dan mengelus dengan lembut sudut bibir Syifa yang ada luka sobek kecil.Noda darah yang sudah mengering masih tertinggal disitu.
" Astagfirullah...!! Kakek benar benar keterlaluan " Rahang Maliq mengeras melihat pemandangan itu.Emosinya seketika kembali memuncak.
" Maafkan Kakak, dek...!! Kakak tidak pernah memberikanmu kedamaian dan kebahagiaan " Desis Maliq.
Syifa tetap tidak bereaksi dengan pergerakan Maliq.Fisik dan batinnya terlalu lelah walau hanya sekedar membuka matanya.Dia memilih membekukan tubuhnya walau apapun yang dilakukan oleh Maliq.
Maliq menatap wajah istrinya yang memar dengan tatapan sendu.Tampak olehnya bulir bening bergulir dari sudut mata Syifa.Hati Maliq tersayat perih melihat itu.Hati Maliq semakin gusar.
Maliq merebahkan tubuhnya disamping Syifa dan membawa tubuh Syifa dalam dekapannya.Dia tau Syifa tidak tidur.Dia merasakan tubuh Syifa bergetar menahan isakannya.
" Menangislah,dek...!! luapkanlah kemarahanmu pada Kakak.Makilah Kakak jika adek ingin memaki Kakak.Pukullah Kak sekuat yang ade mau,agar beban rasa bersalah ini sedikit berkurang.Tapi,Kakak mohon jangan pernah tinggalkan Kakak lagi !! " Suara Maliq bergetar memohon pada Syifa.Dia berusaha meredam kemarahannya pada Kakek.
"Jangan bicara lagi !! Tetaplah begini Kak..!! adek hanya ingin dipeluk. !!" Lirih suara Syifa menimpali ucapan Maliq sambil membekap mulut Maliq yang terus mengucapkan kata kata penyesalan.
__ADS_1
Maliq semakin mengetatkan dekapannya lalu membenamkan kepala Syifa di dada bidangnya.
" Maaf..!!! I love you,honey !! "gumam Maliq sambil mengecup berulang kali pucuk kepala Syifa.
Disisi lain...Sandra sedang menelpon seseorang.
" Sepertinya Syifa mengetahui sesuatu.Dia semakin posesif pada Maliq.Dia menghalangiku mendekatinya.Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya tadi.Aku takut rahasia kita sebentar lagi akan terbongkar dan rencana kita akan gagal" Ucap Sandra berbicara dengan orang di seberang telpon mengungkapkan kegelisahannya.
" Aku tidak mau tau,jika rahasiamu terbongkar aku tidak mau kau membawa bawa namaku.Aku tidak ingin bercerai dari istriku.Aku tidak ingin berpisah dengan anak anakku.Kau tau sendiri kan bagaimana kerasnya istriku " Ucap seseorang dengan nada mengancam.
" Br*ngs*k memang kau..!! kau yang merayuku setelahnya kau membuangku...dasar laki laki sialan...hanya mau enaknya saja !! " Maki Sandra berang.
" He..he...aku memang merayumu.Tapi aku tidak memaksamu.Memang dasarnya aja kau perempuan genit.Nggak bisa dirayu dikit langsung nempel " Laki laki di sebrang mencibir menghina Sandra.
" B*ng*aaat...!!! liat saja,jika rahasiaku terpaksa harus terbongkar.Aku akan membuatmu juga akan sengsara !! " Teriak Sandra geram.
" Coba saja kalau bisa..aku pastikan kau akan menerima kemarahan istriku.Aku rasa kau yang paling tau bagaimana kalau istriku sedang mengamuk." Laki laki itu balik mengancam Sandra dan berhasil membuat Sandra semakin geram.
Sandra membanting ponselnya di atas kasur setelah melihat panggilannya di tutup sepihak oleh laki laki yang di telponnya.Ditariknya rambut indahnya yang berwarna madu itu dengan kasar.
" Aarggh... !! semua gara gara anak kecil itu...Liat saja nanti,aku pasti akan membungkammu " Gumam Sandra sambil menyeringai jahat.Seringai itu menggambarkan ada rencana jahat yang sedang di susunnya dalam benaknya.
__ADS_1