
Hari minggu pagi....
Suasana rumah minimalis Syifa terlihat ramai dengan Kehadiran keluarga Syifa.
Keluarga kecil Fandy dan Qenan yang memilih menginap di hotel dekat dari rumah Syifa, tampak baru turun dari mobil yang dikendarai oleh Qenan.
" Kan Adek sudah bilang semalam, adek itu bobonya di rumah kakak. Kenapa pas adek bangun bukan di rumah kakak ?! " Gerutu Farah yang ada dalam gendongan Fandy.
Semalam selepas mereka dari bandara, Fandy singgah di hotel dan Farah telah tertindur sehingga dia tidak sadar sewaktu dia di bawa ke dalam kamar hotel.
" Adek tidak boleh bobo sama sama Kakak. Kan ayah sudah bilang, adek itu perempuan dan kakak laki laki. Allah melarang perempuan dengan laki laki yang bukan mahrom bobo sama sama " Fandy menjelaskan sambil berjalan masuk ke halaman rumah Syifa.
" Tapi, ayah sama ibu bobo sama sama. Kan ayah laki laki trus ibu perempuan " Tukas Farah sambil mengerutkan keningnya. Bibir mungilnya cemberut bikin gemas orang yang melihatnya.
" Pfft..!! " Qenan yang berjalan di belakang Fandy menahan tawanya mendengar celetukan Farah.
" Silahkan dijelaskan, bro !! " Bisik Qenan seraya menepuk pundak Fandy pelan lalu berjalan mendahului Fandy.
" Astaga..!! " Desah Fandy frustasi lalu menengok istrinya yang berjalan di sampingnya dengan senyum tanpa dosa.
Qenan memang sudah akrab dengan Fandy dan keluarganya sejak Fandy intens mengabarkan tentang Syifa pada keluarga Syifa.
" Hei...Tasya !! Fandy !! Kenapa berdiri di situ ?! Ayo masuk !! " Pekikan Nurul dari teras rumah berhasil menyelamatkan Fandy dari pertanyaan maut putrinya.
" Kakak !! " Pekik Farah ketika melihat Zian berdiri di samping Nurul. Dia meringsek turun dari gendongan ayahnya dan berlari dengan antusias ke arah Zian.
" Selamat..selamat " Desah Fandy yang hanya ditanggapi cekikan oleh Tasya.
" Dek..!! Ayo !! " Zian berjalan menyongsong Farah dan menggandengannya masuk ke dalam rumah.
" Mungkin Willy dan keluarganya sebentar lagi sampai. Tadi Willy telpon katanya mereka dari subuh tadi sudah ada di hotel. Mereka mengambil penerbangan dini hari " Tutur Maliq ketika mereka sudah duduk di ruang keluarga.
" Sudah lama aku tidak merasakan kebersamaan dengan keluargaku. Ternyata pernikahan Kak Fatimah menjadi ajang reuni keluarga dan sahabat denganku " Desis Syifa dalam hati.Seulas senyum tipis terukir di bibirnya merah mudanya yang berwarna alami.
Maliq yang melirik sekilas ke arah Syifa tak sengaja menangkap senyum itu.
" kenapa senyum senyum sendiri, dek ?? " Bisik Maliq yang kebetulan duduk bersisian dengan Syifa.
Syifa menoleh ke arah Maliq lalu menggeleng pelan. " Siapa yang senyum senyum sendiri ?? " Bisik Syifa kembali seraya mengernyitkan keningnya.
" Lagi ingat yang semalam, yaa ?! " Goda Maliq pada Syifa masih dengan berbisik.
" Sssett " Wajah Syifa merah padam.
" Apa sih. Tidak jelas !! " Geram Syifa lalu menyusupkan tangannya mencubit pinggang Maliq.
" Aaww... " Maliq yang tidak menyangka serangan Syifa, refleks menjerit tanpa sengaja.
Orang yang ada di ruangan sontak menoleh dan menatap Syifa dan Maliq dengan wajah penuh tanya.
" Ada apa nak Maliq ?? " Tanya Mamah mewakili tanda tanya orang yang ada di ruangan.
" aahh..** tidak, Mah. Itu ada semut tadi menggigit tanganku " Jawab Maliq gelagapan sambil meringis pelan.
__ADS_1
" Masa digigit semut jeritannya sampe segitunya ?! " Ledek Qenan yang memang dari tadi memperhatikan interaksi Maliq dan Syifa.
" Semutnya sebesar jempol soalnya " Ungkap Maliq sembarangan.
" Mana ada semut sebesar jempol.. Eeh !! " Celetuk Syifa keceplosan lalu membekap mulutnya dengan telapak tangannya.
Orang yang ada di situ yang mulai bisa membaca keadaan langsung tertawa terbahak.
" Ada. Namanya semut betina mencapit...ha..haaa !! " Ledek Qenan yang disambut riuh yang lainnya.
Maliq tersipu sekaligus geram pada Qenan. Dia tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Permisi.. Saya ke belakang dulu " Pamit Syifa tiba tiba lalu berdiri beranjak dari tempatnya. Dia salah tingkah menanggapi ledekan Qenan sehingga memutuskan untuk pergi dari situ.
" Kak Maliq sembarangan. Ngapain juga kejadian semalam pake diingatkan.Kalau ada yang dengar gimana ?? Cih dasar !! " Syifa menggerutu tidak jelas dalam kamarnya.Bibirnya cemberut mengingat tingkah Maliq yang absurd.
" Dek..!! " Maliq tiba tiba masuk ke dalam kamar sambil tersenyum nakal ke arah Syifa.
Syifa yang sedang duduk di tepi ranjang menoleh ke arah Maliq lalu mendelik dengan tatapannya yang tajam.
" Mau apa ?? " Ketus Syifa sontak berdiri untuk menjauhi Maliq.
" Sensi amat sih, dek !! Kakak cuma mau bilang, ada Gladis di depan " Ungkap Maliq setengah menggoda Syifa.
" Ooh...terima kasih " Ucap Syifa datar lalu beranjak dari tempatnya.
" Dek..senyum dong !! " Goda Maliq lagi sambil mencolek genit dagu Syifa.
" Apaan sih, kak !! " Syifa mempercepat langkahnya sambil menepis tangan Maliq. Semburat merah di pipinya masih sempat tertangkap oleh netra Maliq.
" Terima kasih Ya Allah..Kau sudah melembutkan hati istriku, untuk menerimaku kembali " Gumam Maliq sambil tersipu sendiri.
***
" Umi !! Kakak tidak bolehin Valen main sama Kakak !! " Adu Valen, putri Gladis pada Syifa. Matanya berkaca kaca dengan wajah muram. Dia baru saja keluar dari kamar Zian.
Bocah imut nan menggemaskan itu sebentar lagi menangis.
Syifa meraih tubuh Valen dan membawanya dalam dekapan. " Mm nanti Umi tanya ke kakak, kenapa kakak tidak mau dengan Valen. Ayo kita ke kamar kakak " Ajak Syifa pada Valen sambil mengerling ke arah Gladis yang hanya tersenyum merasa lucu dengan anaknya.
" Ekheem..Zian anak Umi lagi ngapain nak ?? " Ucap Syifa ketika tiba di dalam kamar Zian. Dia melihat Zian sedang tengkurap di atas karpet mengajarkan Farah untuk mewarnai gambar.
Zian mendongak dan menatap Uminya.
" Lagi ajarin dedek mewarnai, Mi !! " Ungkap Zian sambil bangkit duduk di tempatnya.
Syifa menjatuhkan bobot tubuhnya ikut duduk di atas karpet.
" Wah...dedek sudah pintar mewarnai !! Hebat !! " Syifa mengapresiasi hasil warna Farah sambil mengacungkan jempolnya.
Farah tersipu malu ketika di puji oleh Syifa. " Kakak yang ajarin, Mi " Gumam Farah malu malu seraya beringsut merapatkan tubuh mungilnya pada Zian.
Valen yang melihat pemandangan itu menatap mereka dengan tatapan iri. Matanya kembali berkaca kaca. Sungguh dia ingin seperti itu juga. Dia ingin bermanja pada Zian.
__ADS_1
Syifa terkekeh dan mengusap kepala Farah dengan lembut. Dia merasa gemas melihat putri Fandy itu sangat manja pada Zian.
" Farah mau banyak teman ?? " Tanya Syifa pada Farah dengan tatapan lembut.
Farah mengangguk pelan. " Iya Mi !! "
" Mm..ini ada teman baru. Namanya Kak Valen. Kenalan yuk, Nak !! "
Farah menatap Zian sekilas. " Tapi kata kakak. Tidak usah diteman kak Valennya " Ungkap Farah polos seraya merangkul lengan Zian dengan posesif.
Mungkin di dalam hati bocah kecil itu. Dia tidak ingin mempunyai saingan.Zian hanya miliknya.
" Astagfirullah...kenapa ajarin adeknya kaya gitu, kak ?? Nggak baik loh itu kak !! kita harus berteman dengan siapa saja selama orang itu mengajak kita pada kebaikan. Bukan begitu kakak ?? " Tutur Syifa lembut sedikit menyindir Zian.
Zian tertunduk lalu mendengus pelan. " Iya, Mi !! " Sahutnya dengan suara lirih.
" Ya udah..kalau begitu, adek Valennya di panggil bermain juga yaa !! " Pinta Syifa pada Zian.
" Iya, Mi " Zian masih dengan wajah tertunduk menyanggupi permintaan Uminya.
" Valen sayang..gih main sama kakak dan dedek Farah " Ujar Syifa sambil mengelus lembut rambut hitam kecoklatan milik Valen.
" Iya..terima kasih, Mi !! " Sambut Valen girang. Wajahnya yang tadi bermuram durja kembali berseri.
" Ya udah. Main sama sama yaa sayang !! " Seru Syifa lalu mencium satu persatu ketiga bocah tersebut sebelum meninggalkan kamar Zian.
" Jangan dekat dekat !! Awas kalau ngadu sama Umi lagi !! "
" Iya..Kak. Valen cuma duduk di sini kok !!"
Syifa masih mendengar suara ketus Zian pada Valen.
" Astaghfirullah..kenapa Zian antipati sekali pada Valen " Gumam Syifa lalu melanjutkan langkahnya.
***
" Apa maksudmu mendekati Uminya Zahrah ?? " Tanya Maliq to the point pada Qenan. Saat ini mereka berdua sedang duduk di gazebo belakang.
Qenan mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Maliq.
" Jauh sekali kamu dari Jerman hanya untuk mengejar istriku. Mau menikahi Uminya Nurul pasti cuma modus " Imbuh Maliq lagi.
" Astaghfirullah...sungguh aku tidak modus, bro. Kenapa jauh jauh aku membawa Mommy sama Daddy aku hanya untuk melamar Nurul kalau itu hanya modus. Aku benar benar mencintai Nurul "
" Aku saja bertemu Syifa nanti pas Zian masuk rumah sakit kemarin. Aku terkejut ternyata Nurul itu kakaknya Syifa. Aku bertemu Nurul sudah dari enam tahun yang lalu dan tidak sedikitpun aku mengetahui bahwa Nurul dan Syifa itu bersaudara " Tutur Qenan panjang lebar. Dia merasa gemas atas tuduhan Maliq.
" Masuk rumah sakit ?? Kapan Zian sakit ?? " Beo Maliq.
" Beberapa bulan yang lalu. Kebetulan aku memantau perusahaanku di sini, jadi aku ikut Nurul dan Mamah "
" Tenang saja, bro. Aku sudah tidak ada rasa dengan Syifa. Dan aku minta maaf kalau pernah punya rasa dengan istrimu. Aku tidak tahu, kenapa hatiku bisa jatuh cinta pada Syifa saat itu " Desah Qenan dan meminta maaf dengan tulus pada Maliq.
" Eeh..kalian berdua dicariin ternyata lagi di sini !! " Celetuk seseorang menginterupsi percakapan Maliq dan Qenan.
__ADS_1
" Willy " Seru Maliq dan Qenan serentak.