
" Kemana sih kak Maliq ?? Katanya hanya pergi sebentar. Tapi sudah dua jam belum balik balik. Aku merindukan aroma tubuhnya " Syifa menggerutu sendiri sambil mondar mandir di dalam kamarnya. Maliq yang pamit dari dua jam yang lalu belum kelihatan batang hidungnya. Sedangkan Zian dari semalam dia menginap di rumah Fatimah. Sebenarnya akhir akhir ini, waktu Zian lebih banyak bersama Fatimah ketimbang dengan Syifa.
Sejak kehamilannya, entah kenapa dia merasa senang hanya kalau ada di samping Maliq. Dia tidak mau kehilangan Maliq walau hanya beberapa menit saja. Apalagi kalau hari libur begini, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali, dia ingin Maliq selalu ada di sampingnya.
" Kenapa aku jadi aneh kaya gini yaa..?? Mau makan saja mesti liatin wajah kak Maliq dulu baru nyaman perut. Kalau tidak, oooek !! Tuh kan..mual lagi !! Hiks hiks " Syifa semakin geram sedikit terisak karena tersiksa dengan rasa mual . Perasaan tidak nyaman di perutnya semakin menjadi. Gegas dia berlari ke arah kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya di sana.
" Astagfirullah..!! Lemas banget !! " Gumam Syifa sambil berjalan keluar dari kamar mandi.Wajahnya pucat dengan badan yang lemas.
" Aargghh...jangan sampe riasanku luntur " Pekik Syifa lalu berbalik kembali ketika melewati meja rias. Netranya menangkap bayangan wajahnya di cermin yang terlihat kuyu lalu cepat cepat memperbaiki kembali riasannya.
Satu hal lagi yang bukan diri Syifa yang sebenarnya sejak kehamilannya, yaitu suka dandan. Dia lebih centil. Mau tidur saja dia harus dandan dulu.
" Aahh...kalau begini kan cantik " Gumamnya sambil memutar mutar badannya di depan cermin setelah memperbaiki riasannya lalu tersenyum centil ke arah cermin.
" Teet..Assalamualaikum !! " Bunyi bel pintu rumah menginterupsi kegiatan Syifa.
Syifa sumringah lalu bergegas membukakan pintu setelah sebelumnya mengenakan jilbab instan yang tergeletak di ranjang. " Itu pasti Kak Maliq "
" Ceklek "
" Kak..!! Kenapa lama seka- lli ?? " mata Syifa membulat sempurna dengan mulut menganga melihat siapa yang ada di depan pintu.
" Assalamu alaikum...apa kabar , nak ?? " Seorang wanita paruh baya berdiri di samping Maliq dengan mata sudah berkaca kaca.
" Wa Waalaikum salam...masya Allah, mamah !! " Pekik Syifa lalu menghambur ke dalam pelukan mertuanya yang sangat dirindukannya.
" Apa kabarmu, nak ?? " Ujar Mamah setelah beberapa saat berpelukan dengan Syifa.
" Alhamdulillah..baik Mah. Mamah apa kabar ?? "
" Kabar Mamah sangat baik, nak apalagi setelah melihatmu lagi. Rasanya Mamah tidak pernah sebahagia ini " Mamah mencium kedua pipi Syifa lalu menatap menantunya itu dengan tatapan sejuta kerinduan.
" Masyaa Allah..kamu semakin cantik, nak " Puji Mamah pada Syifa. Dia yang biasanya melihat Syifa tanpa riasan, sangat terpesona ketika melihat Syifa dandan walau hanya dengan make up tipis berwarna natural.
" Ekhem..." Maliq berdehem lalu menatap kedua wanita kesayangannya itu.
" Dek..Mamah nggak disuruh masuk ?? " seloroh Maliq sambil terkekeh pelan.
" Astagfirullah...aku lupa " Syifa menepuk dahinya pelan lalu tersipu ke arah mertuanya.
" Maaf, mah. Ayo masuk !! " Ujarnya sambil mengamit lengan sang mertua dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Maliq ikut masuk sambil menyeret koper besar milik mamahnya dan memasukannya ke dalam kamar yang pernah ditempati oleh Fatimah.
" Mamah duduk dulu. Syifa mau bikinin minum buat Mamah " kata Syifa setelah mertuanya telah duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
" Mamah tidak minum manis lagi, nak. Mamah cuma minum air putih " Sahut Mamah.
" Oke. Baik Mah. Syifa ambil dulu " Ujar Syifa lalu beranjak menuju dapur.
" Kak Maliq tidak bilang kalau Mamah mau datang. Jadi Syifa tidak masak " Kata Syifa cemberut sambil mencebik ke arah Maliq yang duduk bersebrangan dengannya dan Mamah.
" Kejutan dek !! Mamah melarang kakak untuk memberitahu kedatangannya padamu. Katanya biar jadi kejutan " Tukas Maliq sambil tersenyum ke arah Syifa.
" Emang bisa masak ?? Nanti makanannya pesan online aja, dek !! Maaf Mah, sejak hamil Syifa tidak bisa mencium aroma bumbu. Jadi biasanya kita pesan online, atau kalau tidak dimasakin sama bundanya Zian " Imbuh Maliq lagi.
Mamah mengernyitkan dahinya. " Siapa bundanya Zian ?? " Tanya Mamah bingung. Kalau masalah kehamilan Syifa, dia sudah tahu. Begitu juga dengan nama anaknya, Maliq sudah menceritakan semua. Bahkan hampir tiap hari Maliq mengirimkan foto candid Zian.
" Oo..kak Fatimah itu kakak angkat Syifa di sini Mah. Syifa bertemu dengannya pas Syifa baru datang ke sini " Jawab Syifa tanpa menjelaskan secara gamblang siapa Fatimah sebenarnya.
" Ooh. " Mamah menggut manggut dengan mata memandang ke segala arah seolah sedang mencari sesuatu.
" Zian mana ?? " Tanya Mamah tiba tiba ketika sesaat tidak menemukan orang yang dia cari.
" Zian lagi di rumah kak Fatimah, Mah. Andai Syifa tahu Mamah akan datang, Syifa tidak mengijinkan Zian bermalam di rumah kak Fatimah " Jawab Syifa dengan wajah rasa bersalah ke arah Mamah.
" Iya.Nggak apa, nak. Lagian Mamah yang minta kok ke Maliq agar jadi kejutan buat kamu " Tukas Mamah sambil meraih tubuh Syifa masuk ke dalam dekapannya.
" Biar kakak jemput Zian saja dulu " Celetuk Maliq tiba tiba.
Maliq bangkit dan meraih kunci mobil yang ada di atas meja.
" Mamah sebaiknya istirahat dulu. Mamah pasti capek habis perjalanan jauh " Ucap Syifa setelah mobil Maliq sudah pergi.
" Aah..iya. Mamah skalian mau sholat Ashar dulu. Tapi habis ini kita ngobrol lagi. Mamah sudah sangat rindu denganmu, Nak "
" Iya. Mah. Syifa juga kangen banget pada Mamah. Mari Syifa antar Mah !! " Sahut Syifa sambil memeluk kembali mertuanya itu.
***
" Assalamualaikum, Umi !! Zian pulang !! " Pekik Zian ketika memasuki rumah. Dia belum tahu tentang keberadaan neneknya. Maliq sengaja tidak memberitahunya.
" Umi di mana, Om ?? " Tanya Zian ketika mememeriksa seluruh ruangan tapi tidak menemukan Syifa.
" Mungkin di gazebo belakang. Umi kan paling suka santai di situ " Jawab Maliq sambil mengelus puncak kepala Zian.
Gegas Zian berlari menuju belakang rumah diikuti oleh Maliq dan benar saja, dia melihat sedang duduk di gazebo belakang rumah.
" Eeh..siapa bersama Umi ?? " Gumam Zian ketika melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk bersisian dengan Uminya.
Zian mendekat. " Assalamualaikum, Mi !! Zian pulang !! " Seru Zian dengan suara ragu ragu.
__ADS_1
Sontak Syifa menoleh. " Waalaikum salam. Sayang !! sudah pulang ?? " Ujar Syifa sambil mengulurkan tangannya lalu dicium dengan takzim oleh Zian.
Mamah terpaku menatap bocah yang sangat mirip dengan Maliq itu.
" Cucuku " Desis Mamah tanpa sadar sudah meneteskan air matanya.
Zian menatap bingung ke arah Mamah.
" Zian !! Salim nenek, nak !! " Titah Syifa pada anaknya.
Zian sedikit tersentak lalu memberi salam pada Mamah Maliq.
" Assalamu alaikum, nek..saya Zian " Ucap Zian masih dengan nada ragu lebih kebingung tentang siapa yang ada di depannya itu.
Mamah menyambut uluran tangan Zian dan menarik Zian masuk ke dalam pelukannya.
" Zian cucuku !! Ternyata kamu sudah sebesar ini, nak !! " Isak Mamah sambil memeluk erat tubuh bocah tampan itu.
Zian bungkam. Masih banyak pertanyaan menari di benaknya.
" Kau sangat tampan, nak.. !! " Ucap Mama mengurai pelukannya membuat jarak dan menatap intens wajah tampan Zian.
Zian hanya bisa tersenyum samar dengan riak netra penuh tanya.
" Zian. Ini nenek. Ibunya Abi " Celetuk Syifa melihat kebingungan Zian.
" Nenek ?? " Beo Zian .
Mamah mengangguk. " Iya, nak. Ini nenek !! " Ungkap Mamah tanpa melepas rengkuhannya di bahu Zian.
" Ooh..Saya Zian, nek. Anak Umi Syifa !! " Zian menyahuti dengan polos. Wajah tampannya terlihat menggemaskan di mata Mamah.Netra beningnya tidak lepas menatap Mamah.
" Iya, nak..nenek sudah tahu " Mamah semakin terisak haru melihat sikap Zian yang mudah menerima kehadirannya. Diciumnya bergantian kedua pipi Zian. Sungguh rasa bahagia membucah di dalam dadanya. Cucunya yang lahir hampir tujuh tahun lalu, baru kali ini dia bisa melihat langsung sang cucu.
Zian membalas ciuman sang nenek dengan wajah sumringah.
" Ternyata Zian punya dua nenek ..he..he..Zian senang, Mi " Celetuknya polos.
Sungguh ungkapan ucapan Zian yang baru saja diungkapkannya itu menyentil hati ketiga orang dewasa yang ada di situ.
" Maafkan Umi, nak. Sudah memisahkanmu dari orang orang yang berarti buatmu " Batin Syifa.
" Astaghfirullah..maafkan Abi, nak. Karena kebodohan Abi, dirimu jauh dari keluargamu " Gumam Maliq dalam hati semakin merasa bersalah.
" Masyaa Allah cucuku ternyata dia merindukan seorang nenek " Jerit Mamah di dalam hati.
__ADS_1