
Syifa termenung di tepi tempat tidurnya sambil menatap sendu wajah malaikat kecilnya yang terlelap dalam boks di depannya.
" Maafkan umi, nak.Umi harus membawamu pergi.Umi sudah tidak bisa lagi berada di sini.Umi tidak bermaksud menjauhkanmu dari Abi. Umi harap jika besar nanti kau bisa mengerti semuanya " Gumam Syifa lirih.Tangannya terulur mengelus lembut wajah putranya dengan punggung jari telunjuknya.
Sesaat kemudian.Syifa segera mengeluarkan separuh pakaiannya dari dalam lemari dan menatanya di dalam koper kecil.Selanjutnya dia mengatur semua pakaian bayi dan semua peralatannya di dalam koper besar.
Berkas berkas penting diselipkannya diantara pakaian anaknya.
" Sekarang dede pakai bedong yaa..!! nanti kita jalan jalan dan mencari dunia kita yang baru.Dunia kita sekarang menolak keberadaanmu.Tapi jangan khawatir nak..bumi Allah luas.Pasti belahan bumi yang lain akan menerimamu dengan suka cita " Ujar Syifa mencoba berkomunikasi dengan bayinya.
Bayi yang belum genap satu minggu itu membuka matanya dan mengerjap dengan lucu.Seulas senyum tersungging di bibir mungilnya, seolah dia memberi restu keputusan dari ibunya.
" Bu Ati..aku pamit dulu yaa...maaf jika ada salahku pada Bu Ati " Ucap Syifa seraya memeluk tubuh asisten rumah tangganya itu.
Bu Ati tergugu.Dia tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kata katanya.
" Sudah bu..jangan nangis lagi.Sehat sehat yaa bu !! " Syifa mengelus punggung wanita paruh baya itu yang bergetar menahan tangis.
" Nak..apa tidak bisa dibicarakan lagi dengan pak Maliq ?? kenapa harus pergi nak ?? "
Syifa menggeleng pelan. " Kak Maliq sudah tidak menginginkanku di sini bu..!! dan dia tidak mengharapkan kehadiran anakku "
Syifa mengurai pelukannya. " Pak Sani..!! bolehkah untuk terakhir kalinya aku minta tolong ?? Tolong bawa koperku ke tepi jalan.Aku menunggu taksi di sana " Ucap Syifa sedikit sungkan pada satpam rumah Maliq yang sedang menatapnya berpelukan dengan Bu Ati.Saat ini mereka berada di teras rumah.
" Iya..boleh Nak..!! atau sebaiknya bapak antar saja ke mana tujuan Nak Syifa " Ujar Pak Sani dengan wajah sendu.Matanya merah menahan tangis sedih.
Selama dia mengabdikan dirinya pada Maliq, dia mengenal Syifa adalah pribadi yang ramah dan selalu hormat padanya.Syifa adalah majikan yang baik hati.
" Tidak pak..!! aku bukan lagi majikan pak Sani yang harus diantarkan kemana aku pergi.Lagi pula, itu mobil kak Maliq, bukan milikku " Sahut Syifa seraya tersenyum ke arah Pak Sani.
__ADS_1
Pak Sani beranjak menyeret kedua koper Syifa dan mengangkat barang barang lainnya dan di letakannya di depan pintu gerbang.
" Biar bapak saja yang cari taksinya, nak..!! "
" Ooh..iya terima kasih pak..!! maaf sudah merepotkan "
Pak Sani menggeleng tanpa suara.Dia ingin menjawab kata kata Syifa tapi suaranya tercekat di tenggorokan karena menahan perasaan sedih dalam hatinya.
Sesaat kemudian taksi datang dan Syifapun pamit untuk kesekian kalinya pada Pak Sani dan Bu Ati.
Kedua orang paruh baya itu merasa sungguh hancur melihat kepergian Syifa.Keduanya menatap kepergian Syifa dengan bersimbah air mata.
Syifa menghentikan taksi di depan sebuah hotel.Dia ingin menginap dulu di hotel untuk dua hari kedepan sampai dia mendapatkan rumah kontrakan.
Setelah melakukan check in..syifa menggendong anaknya masuk ke dalam kamar yang diikuti pegawai hotel yang membawa barang barangnya.
" Hhff..terpaksa Umi minta tolong om Fandy lagi, dek..!! siapa tahu om Fandy bersedia menolong kita sekali lagi "
Saat pukul tujuh malam ba' da Magrib, Syifa mencoba menghubungi Fandy.Dengan perasaan sangat sungkan. Dia minta tolong pada Fandy untuk dicarikan kontrakan sederhana buatnya dan anaknya.
Fandy menyanggupi dan dia berjanji akan mencarinya besok setelah mendengar alasan kenapa Syifa mencari kontrakan.
Syifa menceritakan hanya inti dari alasannya kenapa dia mencari kontrakan.Tapi dia tidak menceritakan secara mendetail permasalahan rumah tangganya.Dan Fandy yang tidak ingin terlalu kepo dengan urusan orang lain, sudah bisa memahami apa yang diinginkan oleh Syifa.
Keesokan harinya.Fandy datang mengunjungi Syifa di hotel.Dia datang bersama tunangannya.
" Syifa..!! tidak usah mencari kontrakan.Kau bisa tinggal di apartemenku saja.Itu apartemenku semasa aku kuliah dulu.Dan sekarang sudah jarang aku tempati, soalnya kantorku jauh dari apartemenku " Tunangan Fandy menawarkan bantuannya pada Syifa.
Gadis berhijab pasmina itu menawarkan dengan tulus.Senyum ramahnya selalu menghiasi bibirnya ketika berbicara dengan Syifa.
__ADS_1
" Apa tidak merepotkan ?? " Ucap Syifa lirih.
" Tidak Syifa..malah bagus, ada orang yang menempati apartemen itu.Biar tidak mubadzir.Rencananya kemarin, aku mau menjualnya.Tapi Ayahku tidak mengijinkannya.Menurutnya pasti suatu saat akan dibutuhkan.Dan ternyata sekarang kau lagi butuh tempat tinggal " Tutur gadis bernama Tasya itu dengan lembut.
" Iya Syifa..bukan kah katamu kemarin, kau akan mengajar di Universitas tempat kuliahmu dulu ?? kebetulan apartemen itu dekat dari kampus " Tukas Fandy tiba tiba setelah lama hanya mendengarkan percakapan kekasihnya dengan Syifa.
Syifa membuang pandangannya ke arah jendela hotel. " Aku memang menerima tawaran itu.Tapi sepertinya aku mau mengajar di cabang Yayasan yang ada di pulau lain.Aku ingin mencoba hidup yang baru dengan cara membuang masa laluku.Aku ingin anakku tumbuh tanpa ada bayang bayang orang yang tidak menginginkannya " Ujar Syifa lirih sambil menarik nafasnya dengan berat.
Fandy dan Tasya tersentak. " Kau mau kemana Syifa ?? kau tidak bisa pergi jauh dengan anakmu yang masih kecil itu.Bahkan umurnya belum genap seminggu " Tukas Fandy dengan nada cemas.
" Tawaran pihak kampus ada dua pilihan.Mengajar di kota ini atau mengajar di pulau K anak cabang dari kampus yang di sini.Setelah aku pikir dari semalam, sebaiknya aku mengajar di pulau K agar anakku tidak bertemu dengan keluarga Abinya yang nantinya hanya menyakiti hatinya "
" Dan yaa...Insyaa Allah aku tunggu anakku berumur satu bulan dulu baru aku berangkat " Tutur Syifa menjelaskan pada Fandy dan Tasya.
Fandy dan Tasya hanya mengangguk pasrah dengan keputusan Syifa. Ada rasa tak rela di hati mereka harus melepaskan Syifa pergi jauh menyebrangi pulau.Tapi mereka harus menghormati dan maklum dengan keputusan Syifa.
" Baiklah Syifa..aku akan menelpon orang yang biasa membersihkan apartemenku dulu.Biar besok kamu sudah bisa pindah " Ucap Tasya tiba tiba setelah beberapa saat hening.
" Terima kasih Tasya..!! jadi merepotkan " Ujar Syifa sambil menggenggam tangan Tasya dengan lembut.
Tasya tersenyum." Tidak Syifa..aku tidak merasa repot.Aku malah senang bisa menolongmu.Menolong teman dari calon suami itu sangat menyenangkan " Ujar Tasya diiringi dengan kekehan kecil.
Fandy tersenyum ke arah Tasya. Matanya menyiratkan kekaguman pada kekasihnya itu yang sudah bersedia menolong Syifa.
" Oh ya..Syifa..apa keluargamu sudah tahu tentang keputusanmu ini ?? Tanya Fandy tiba tiba.
Syifa mendongak lalu menggeleng pelan. " Belum... !! aku menunggu mentalku siap dulu untuk menceritakan perjalanan rumah tanggaku pada kedua orang tuaku.Aku tidak sanggup melihat kekecewaan dan kesedihan di mata mereka.Dan aku mohon rahasiakan hal ini dulu pada mereka.Nantilah aku sendiri yang akan datang menemui mereka jika aku sudah siap "
" Baiklah..!! kalau itu sudah menjadi keputusanmu.Aku hanya bisa mendoakan semoga kau akan menemukan kebahagiaanmu kelak " Ujar Fandy dengan suara bergetar yang dijawab dengan Amiin dari Tasya dan Syifa.
__ADS_1