
Sejak peristiwa keluarga Maliq datang menghina Syifa lagi.Kembali Syifa menjadi pribadi yang sangat dingin pada siapapun orang yang ada di dalam rumah,tak terkecuali Maliq suaminya.
Entah hatinya yang terlanjur sakit dan kecewa atau pengaruh hormon kehamilannya.Yang pasti,sikap Syifa ini cukup mengganggu pikiran Maliq.
Maliq seperti dejavu.Sikap Syifa seperti awal mula Syifa menikah dengan Maliq.
" Dek...hari ini Kakak mau diantarkan makan siang di kantor.Kakak ingin makan siang dengan adek !! " Ujar Maliq berusaha menarik perhatian Syifa.
Syifa mendongakan kepalanya menatap Maliq. " Insya Allah !! " Ucapnya singkat lalu melanjutkan sarapannya.
Maliq menghembuskan napasnya berat. " Ya sudah,Kakak ke kantor dulu !! " Ucapnya sambil bangkit dari kursinya dan meraih tas kerjanya.Maliq menatap Syifa yang masih setia dengan sarapannya tanpa memperdulikan Maliq.Dia berharap Syifa akan mengantarnya sampai di mobil seperti biasanya.Tapi,ternyata harapannya itu sangat jauh.Nyatanya Syifa tidak sedikitpun beringsut dari tempatnya.
Maliq berjalan mengikis jaraknya dengan Syifa dan mengecup pucuk kepala istrinya itu." Assalamualaikum !! " Pamitnya pada Syifa.
Syifa meraih tangan Maliq dan mencium takzim punggung tangan Suaminya itu. " Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh " Suara berat Syifa menjawab salam Maliq.
" Setidaknya dia masih mencium tanganku dan menjawab salamku. " Batin Maliq sedikit senang lalu melangkah keluar menuju pintu utama.
Syifa menatap nanar punggung suaminya." Maafkan aku Kak..!! aku sedikit kecewa denganmu yang tidak bisa mengambil sikap tegas.Kukira kau sudah bisa melepaskan Sandra,tapi ternyata kakek masih bisa mengendalikanmu " Desis Syifa dalam hati.Anggaplah dia egois,tapi dia menginginkan keutuhan rumah tangganya tanpa adanya campur tangan pihak ketiga yang setiap saat merecoki.
__ADS_1
Jika ada yang bertanya,Sandra ada dimana ?? Sejak Syifa mengancamnya,dia enggan harus bertatapan dengan Syifa.Sebisa mungkin dia menghindari bertemu dengan Syifa.Dia sudah tidak pernah lagi ikut makan bareng di meja makan.Dia makan kalau Maliq dan Syifa sudah tidak ada di meja makan.
Syifa bangkit dari kursinya dan membereskan piring kotor bekas mereka sarapan tadi. Lalu menuju kamarnya untuk melaksanakan sholat dhuha.
Saat malam hari.Setelah melaksanakan sholat Isya,Syifa melanjutkan membaca kitab suci.Sebenarnya tidak biasanya Syifa mengaji ba'da Isya.Dia biasanya mengaji pada saat ba'da maghrib menunggu sholat Isya.Tapi,saat ini dia sangat menghindari Maliq ,dia lebih menyibukan dirinya dengan mengaji.Dia belum ingin banyak bicara dengan suaminya itu.
Sesekali Maliq melirik istri kecilnya yang sedang membacakan ayat ayat Allah.Dia sengaja bekerja dalam kamarnya,bukan kerja dalam ruang kerjanya.Dia sadar,saat ini istrinya sedang membuat jarak tapi dia akan tetap merapatkan jarak yang dibuat oleh istrinya itu.
" Sampai kapan dek ?? " Desah Maliq pelan tanpa terdengar di telinga Syifa.
" Ting..tong..!! " Sayup Maliq mendengar bel berbunyi,tanda ada tamu yang hendak bertamu.
Maliq membuka pintu utama. " Kakek ?? " Gumam Maliq sambil membuka pintu lebar lebar dan mempersilahkan Kakek masuk.
" Ada apa kek..?? kenapa datangnya malam malam,datang sendiri lagi !! " Ucap Maliq yang melihat kakek hanya datang seorang diri.
" Kakek tidak datang sendiri.Kakek datang diantar sopir Mamahmu,itu ada di pos satpam " Sahut kakek sambil menunjuk ke luar. Kakek duduk di sofa dan diikuti oleh Maliq.
" Maliq.. !! kakek sengaja datang.Kakek ingin bicara denganmu " Kakek menjeda ucapannya dan menatap Maliq dengan intens.
__ADS_1
" Kakek mau bicara apa kek ?? "
" Kakek adalah orang tua dari Papahmu.Dan kau tahu sendiri,bahwa kau itu cucu kesayangan kakek.Sedari kau kecil,kakeklah yang lebih banyak menghabiskan waktu denganmu. Saat Papahmu sibuk mengurusi bisnisnya,hanya kakek yang menggantikan peran seorng ayah saat itu.Kau juga tahu,bahwa 60 % hartaku telah kakek hibahkan padamu sedari kau remaja.Itu tandanya,aku sangat menyayangimu nak..!!". Ujar kakek dengan nada sendu.
Maliq menautkan keningnya tidak mengerti kemana arah pembicaraan kakek. " Iya kek..aku sangat tau itu dan Insyaa Allah akan selalu kuingat ". Kata Maliq.
" Kau cucuku yang paling mengerti kakek.Cucu paling patuh.Tapi,saat ini kakek tidak mengenalimu lagi.Kau lebih pentingkan istrimu daripada perasaan keluargamu yang sudah dilukai oleh istrimu itu.Terus terang,kakek sedih,kakek sudah tidak mengenali cucu kakek lagi " Ucapan sendu dari kakek berhasil membuat Maliq tersentak.
" Kakek ngomong apa ?? Aku bukan tidak perduli lagi dengan kakek.Tapi, Syifa itu istriku.Tanggung jawabku dunia akhirat.Dan aku sangat yakin,Syifa tidak sedikitpun punya niat untuk menyakiti keluarga.Syifa anak yang santun dan lemah lembut.Dia sangat tau mana saat dia harus marah dan mana saat dia harus diam.Dia tidak akan marah jika tidak diusik,Kakek !! " Tutur Maliq sedikit mulai terlihat emosi.
" Ooh..jadi menurutmu kakek ini usil ?? datang mengusik istrimu itu tanpa sebab ?? Kakek datang padanya hanya ingin memberinya pengertian,agar bisa menerima Sandra sebagai madunya.Tapi,istrimu itu terlalu sombong dan angkuh.Dia menyela semua kata kata kakek dengan angkuhnya,seolah dia lebih tahu segalanya dari pada kakek.Kira kira siapa yang tidak geram dengan orang yang tidak sopan seperti itu !! " Sentak kakek yang terlihat mulai emosi juga.Dia geram Maliq masih terus membela Syifa.
" Dan menantu seperti apa yang tega mengusir mertua dan iparnya dengan kejam.Dia melontarkan kata kata ancaman pada Kakek dan juga pada dua saudramu.Sandra pun tidak luput dari ancamannya.Apa itu yang kau bilang lemah lembut ?? Di mataku dia itu tidak lebih dari seorang psikopat !! "
" Astagfirullah...!! Syifa pasti punya alasan dibalik semua itu, kakek !!. Dia pasti merasa tertekan dengan ucapan ucapan kakek sehingga dia melawan ".
" Heh...masih juga kau membelanya ?? " geram Kakek.
" Sekarang..!! kakek mau tanya,kau lebih pilih istrimu atau pilih keluargamu ?? " Kakek berdiri dari tempatmu dan berkacak pinggang.Matanya nyalang menatap ke arah Maliq.
__ADS_1
" Tidak perlu Kak Maliq memilih " Tiba tiba suara datar tapi terdengar merdu menginterupsi perdebatan kakek dan Maliq.