
Kadang kita harus memendam kekecewaan dan kesedihan agar orang yang kita cintai tidak ikut bersedih. Kita tak butuh umur yang banyak untuk terlihat dewasa, cukup membahagiakan orang tersayang, membuat kita akan terlihat bijak "
♡♡♡ Uthor ♡♡♡
" Aqlan Sharga Ziandru, anak Umi !! Umi ikhlas nak !!. Umi ridho !!. Zian pergi jauh dari Umi untuk memperdalam ilmu agama. Maafkan Umi, jika awalnya Umi egois hanya memikirkan perasaan Umi. Tapi Insyaa Allah, saat ini Umi sudah ikhlas. Kejarlah cita citamu dan kembalilah pada Umi jika Zian sudah dapat meraih cita cita yang diinginkan oleh Zian " Bisik Syifa pada anaknya dengan suara tersendat sendat. Sungguh dia tidak mampu hanya untuk sekedar berkata, mengucapkan kalimat melepas putra semata wayangnya itu.
Putra yang selama ini menemaninya melewati suka duka saat terbuang dari orang orang terdekat. Putra yang menjadi tumpuan kekuatannya untuk menjalani hidup yang berselimut kecewa. Hari ini, putranya itu akan dilepaskannya untuk pergi jauh dari sisinya.
Jujur sampai detik ini, batin Syifa belum sepenuhnya ikhlas menerima kenyataan bahwa dia akan berpisah untuk sementara dalam waktu yang tidak dapat dia pastikan.
Zian mendongakan kepalanya mengurai lembut dekapan sang Umi.
" Umi sayang. Jika Umi ikhlas dan ridho, tapi kenapa ada air mata di pipi Umi ?? " Tanya Zian polos dengan sorot mata yang sendu. Di usapnya pelan pipi mulus Syifa yang dilewati oleh cairan bening dari netranya.
" Zian sedih jika melihat Umi sedih. Zian sangat menyayangi Umi !! " Imbuh Zian lagi sambil mengecup kedua mata Syifa dengan lembut.
Sungguh manis perlakuan putra dari Nursyifa dan Maliq Ahdan ini. Dia bersikap sangat mesra pada wanita cinta pertamanya itu.
Tapi sungguh perih. Hancur hati Syifa mendapat perlakuan lembut dari sang putra. Benaknya dipenuhi bayang bayang ke depannya tanpa Zian di sisinya. Dadanya sesak harus berpisah dengan putranya itu.
Syifa menggeleng pelan kepalanya. " Umi janji tidak menangis nak !! " Ujarnya pelan di sela isakannya.
Zian tersenyum manis bahkan sangat manis ke arah Syifa.
" Berjanjilah, Mi. Ini adalah air mata kesedihan terakhir yang Umi teteskan. Yakinkan Zian bahwa Umi selalu bahagia tanpa Zian " Ujar Zian pelan sambil menangkup kedua pipi Syifa.
Syifa terkesiap mendengar ucapan putranya. " Kebahagiaan terbesar Umi adalah Zian, nak. Tapi Insyaa Allah, Umi akan selalu bahagia atas semua kebahagiaan Zian. Jika Zian bahagia dan senang untuk mondok..Bismillah, Umi ridho dan bahagia " Ungkap Syifa dengan nada tegas dan mulai tenang.
Syifa sadar, semakin dia menampakan ketidak relaan dan kesedihan pada sang anak. Maka anaknya akan semakin tertekan.
__ADS_1
Zian mengulurkan kelingkingnya. " Umi janji ?? " Ucapanya sambil mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkin Syifa.
Syifa terkekeh pelan. " Insyaa Allah. Umi janji selalu bahagia, karena mulai detik ini Umi akan menghitung hari, kapan Zian kembali pada Umi dengan membawa banyak ilmu tentang agama. Umi menanti kapan Zian akan datang mengajari Umi tentang ilmu akhirat " Ucap Syifa tanpa melapaskan kaitan jari kelingkingnya dari kelingking Zian.
Sorot matanya dibuat tegas untuk meyakinkan anaknya bahwa dia sudah ikhlas dan ridho.
" Aamiin..doakan Zian agar bisa menerima ilmu agama dengan baik " Ucap Zian dengan senyum terukir di bibir mungilnya lalu kembali memeluk sang Umi dengan erat.
Maliq yang melihat interaksi kedua orang terkasihnya itu perlahan beringsut mendekat.
" Abi boleh pelukan juga ?? " Ungkap Maliq sedikit ragu. Dia ragu Zian akan menerima pelukannya.
Zian menoleh ke arah Maliq. " Ayo, Om !! " Pekik Zian sumringah lalu memeluk tubuh kekar Maliq dengan erat.
Sungguh Maliq sangat terharu. Dia fikir anaknya tidak mau memeluk dirinya.
" Titip Umi ya, Om !! Jangan buat Umiku menangis !! " Ucap Zian terdengar polos. Tapi bagi Maliq itu bukan ucapan polos dari bocah berumur menjelang tujuh tahun. Maliq menangkap sesuatu keharusan dan titah dari kalimat bernada ringan itu.
Zian bangkit lalu menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan lega.
" Sudah waktunya Zian masuk. Berikan ridho kalian pada Zian " Ucap Zian tegas dengan netra tanpa riak.
Syifa dan Maliq mengangguk pelan. " Doa dan ridho kami selalu menyertaimu nak. Fokuslah belajar dan lebih mendekatkan diri pada sang pencipta " Ucap Syifa pelan sambil kembali mencium kedua pipi anaknya.
" Zian pamit, Mi. Om Ahdan. Assalamualaikum !! " Ujar Zian sambil mencium takzim punggung tangan kedua orang tuanya.
Syifa dan Maliq bungkam dengan mata terus menatap punggung kecil milik sang anak yang semakin menjauhi mereka.
Setelah beberapa meter. Sontak Zian berbalik seraya melambaikan tangan kecilnya pada Maliq dan Syifa dan melemparkan kiss bye dari kejauhan lalu menghilang di balik tembok pesantren. Wajah tampan itu sudah menghilang dari pandangan Maliq dan Syifa.
__ADS_1
Tubuh Syifa luruh dan terhempas di gazebo yang disiapakan oleh pihak pesantren untuk tempat pertemuan santri dan wali mereka.
Isakannya semakin pilu terdengar setelah tidak dapat melihat bayangan tubuh milik sang putra lagi.
" Anakku sayang !! Zianru kesayanganku !! Umi menunggumu kembali pada Umi, nak !! " Gumam Syifa pelan sambil mengusap pipinya yang bersimbah air mata "
Maliq mengelus punggung istrinya dengan lembut. " Insyaa Allah bulan depan kita akan menjenguknya lagi " Ucap Maliq menenangkan sang istri.
" Ayo. kita pergi dek !! Jangan sampai kita ketinggalan pesawat " Imbuhnya lagi sambil merengkuh tubuh Syifa menuntunnya menjauh dari tempat anaknya menimba ilmu.Mereka memutuskan untuk langsung pulang setelah mengantarkan putranya ke pesantren tempat Zian belajar.
Langkah kedua orang tua Zian itu semakin menjauh dari halaman pesantren. Meninggalkan jantung hati mereka di tempat yang jauh dari tempat mereka. Mereka menitipkan putra kesayangnya pada sang pemilik hidup. Harapan dan doa tak henti mereka lafadzkan dalam hati.
" Semoga Allah selalu membimbing dan menjaga putra kesayangan mereka dan menjadikan putra mereka menjadi manusia pembela agama Allah "
💗💗💗💗💗
Berakhir sudah kisah dari sang gadis introvert. Gadis sederhana dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Banyak cerita yang telah dia lewati. Dia melewatinya dengan kepribadian yang tegar dan tegas.
🙏🙏🙏
Terima kasih buat para reader setiaku yang sudah meluangkan waktunya untuk sekedar membaca karya recehku....Akhir kata..sampai berjumpa dengan Ziandru versi remaja lagi.
Jangan lupa nanti mampir lagi di
' SINCERE LOVE FOR ZIANDRU '
Semoga bisa publish di awal bulan..doakan author bisa cepat sehat agar bisa update
Love You All....
__ADS_1
And teristimewah terima kasih buat yang rajin komen bahkan beri apresiasi bintang lima...for you love love love love sejagat raya 😘😘😘
See you..bye bye 🤗🤗🤗