
" Om Ahdaan !! Ayo masuk !! " Pekik Zian ketika melihat Maliq sedang membuka pintu pagar milik Syifa.
Binar mata bocah yang memiliki tinggi lebih dari usianya itu menjelaskan dia sangat senang dengan kedatangan Maliq di rumahnya.
Seperti biasa jika hari libur seperti ini, Zian dan Syifa kadang menghabiskan waktu dengan menata tanaman dan membersihkan halaman rumah minimalis mereka.
Syifa yang sedang memindahkan pot bunga di samping rumah melirik sekilas ke arah sumber suara anaknya, lalu mendengus pelan.
" Dia lagi " Desis Syifa kesal.
" Umi !! Om Ahdan datang !! " Pekik Zian lagi memberitahukan kedatangan Maliq kepada Uminya. Dia menarik tangan Maliq menuju teras.
" Om duduk di sini dulu, yaa...Zian cuci tangan dulu " Titah Zian dengan wajah sumringah lalu berlari menuju keran air di samping rumah.
Maliq mengangguk pelan dan menautkan keningnya ketika Zian sudah berbalik menuju keran air.
" Aku fikir dia marah padaku. Kenapa sikapnya kemarin sangat ketus ??. Tapi hari ini dia kembali seperti biasa " Batin Maliq sambil menatap punggung anaknya yang sedang mencuci tangan.
Syifa yang merasa risih dengan kehadiran Maliq, gegas masuk lewat samping rumah. Dia belum mau bertemu atau berbicara dengan Maliq. Ingin dia melarang Maliq untuk datang ke rumahnya, tapi dia lebih memikirkan perasaan putra semata wayangnya.
" Zian mau jalan jalan dengan Om ?? " Tanya Maliq pada Zian ketika Zian sudah duduk di sampingnya.
Zian befikir sebentar dengan mimik lucu. Jika melihat ini, Maliq seperti tidak percaya Zianlah yang kemarin melontarkan ucapan ucapan menohok padanya.
" Mm.. Zian ijin ke Umi dulu yaa Om. Kalau Umi ngijinin, yuk kita go " Kelakar Zian dengan wajah jenaka.
Maliq tersenyum bahagia. Dia senang melihat Zian kembali hangat padanya. Dia sempat berfikir, Syifa sudah bercerita tentang masa lalu pada anaknya itu, sehingga Zian bersikap seperti itu kemarin.
Zian beranjak dari tempatnya dan berlari masuk ke dalam.
" Mi..Om Ahdan ngajak Zian jalan jalan. Boleh, Mi ?? " Ujar Zian saat meminta ijin pada Syifa yang sedang menata pot kecil tempat kaktus mini jenis ariocarpus ke rak bunga yang menempel di dinding teras belakang.
Syifa mengalihkan atensinya lalu menatap dalam dalam wajah sang anak yang memiliki pipi berwarna putih kemerahan.
Dia menghela nafasnya. Ingin hatinya melarang, tapi logikanya tidak ingin mematahkan wajah sumringah itu.
__ADS_1
" Boleh. Zian mandi dulu !! " Sahut Syifa setengah hati.
" Benar, Mi ?? Horeee...terima kasih, Mi !! " Pekik Zian sambil memeluk tubuh Syifa yang sebentar lagi menyamai tingginya.
Syifa mengangguk pelan.Lalu tersenyum tipis tanpa berucap.
Gegas Zian berlari kembali menuju teras depan.
" Om. Zian mandi dulu. Umi ngijinin Zian jalan jalan " Ucap Zian pada Maliq dengan senyum merekah.
" Ok. Om tunggu yaa !! "
Zian beranjak masuk kembali ke dalam kamarnya.
" Jangan sering datang ke sini !! Aku tidak ingin menimbulkan fitnah. Orang sini taunya aku itu janda. Aku tidak ingin nama baikku tercemar dengan seringnya anda berkunjung " Sarkas Syifa tiba tiba berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada, berhasil membuat Maliq terjengkit kaget yang sedang fokus dengan benda pipih berlayar datar di tangannya.
" Astaghfirullah..dek. Kamu mengejutkanku " Seru Maliq sambil mengelus dadanya karena terkejut.
Syifa melirik sinis ke arah Maliq. Jujur Syifa ingin tertawa melihat maliq terjengkit kaget. Tapi sebisa mungkin dia menutupi itu dengan wajah datarnya.
" Tidak akan ada fitnah, dek. Aku sudah menceritakan status kita pada pak RT. Saya jamin nama baikmu aman " Ujar Maliq lugas.
" Siapa yang memberi hak pada anda menjelaskannya pada Pak Rt ?? " Ujar Syifa kesal.
" Aku masih suamimu, dek. Itu tidak bisa dipungkiri. Aku tidak pernah menceraikanmu dan tidak akan pernah. Aku sudah memperlihatkan buku nikah kita pada Pak RT. Malah beliau menganjurkan aku untuk pindah ke rumah ini " Jelas Maliq dengan nada santai dan hal ini berhasil menambah kekesalan di hati Syifa.Wajahnya merah padam mendengar ucapan Maliq.
" Keterlaluan..dasar egois !! Tidak ada yang menginginkan anda tinggal di rumah ini " Sentak Syifa lalu membalikan badannya masuk ke dalam rumah sambil menghentakan kakinya.
Maliq terkekeh gemas melihat Syifa marah. " Kamu lucu kalau lagi marah, dek. Aku akan berjuang mendapat maaf darimu, agar aku bisa kembali bersatu denganmu " Gumam Maliq sambil menoleh ke arah perginya Syifa.
" Apaan..pake ngaku ngaku pada Pak RT. Bikin malu " Syifa misuh misuh sambil masuk ke dalam kamarnya. Tanpa sadar, dia melewati anaknya yang menatapnya bingung.
" Sebentar lagi Umi akan sangat bahagia. Zian janji akan mempersatukan Om Maliq dan Umi " Gumam Zian sambil menatap tubuh Syifa yang menghilang di balik pintu kamar.Dia tersenyum tapi sorot matanya menyimpan luka yang hanya bisa dirasakannya sendiri.
" Umi..!! Zian pamit pergi, Mi !! Seru Zian sambil mengetuk pelan pintu kamar Uminya.
__ADS_1
" Ceklek " Syifa membuka pintu kamarnya.
" Iya, nak..hati hati di jalan. Jangan nakal. Jangan merepotkan Om Ahdan !! " Pesan Syifa memberi ultimatum. Diusapnya pelan pucuk kepala putranya dengan penuh kasih.
" Iya, Mi.. Assalamualaikum !! " Sahut Zian sambil mencium takzim punggung tangan sang ibu.
***
" Kita kemana, Son ?? ke Trans Studio saja yaa..di sana Zian bebas bermain " Ujar Maliq antusias sambil mengendarai mobilnya yang membelah jalanan. Seulas senyum menggambarkan susana hatinya yang sedang bahagia.
Zian bungkam dengan wajah datar. Pandangannya mengarah ke luar jendela mobil.
" Zian. Kita kemana nih ?? " Maliq kembali mengulang pertanyaannya, tangannya terulur mengelus pucuk kepala anaknya.
Sontak Zian menoleh ke arah Maliq. Sorot matanya dingin. " Jangan panggil Zian dengan panggilan Son. Zian tidak suka " Sarkas Zian.
Maliq terkesiap. " Kenapa, nak.. Itu panggilan sayang bapaknya kepada anak "
Zian tersenyum tipis mirip seringai. " Karena Zian bukan anak Om Ahdan " Tegasnya dengan nada datar.
" Deg..!! " Wajah Maliq pucat pasi. Hatinya perih mendengar ucapan bocah tampan di sampingnya.
" Kenapa sikapnya berubah lagi. Bukankah dia sangat hangat padaku tadi ?? " Monolog Maliq dalam hati. Sekilas dia seperti melihat Zian memiliki kepribadian ganda.
" Ma maaf kalau Zian tidak nyaman dengan panggilan Om pada Zian " Ujar Maliq pelan setelah dia menguasai keterkejutannya.
" Zian tidak ingin kemana mana. Zian hanya ingin ke taman kota. Di sana tidak butuh bayaran kalau mau bermain " Tegas Zian lagi tapi dengan nada datar.
Maliq menepikan kendaraannya. " Kenapa Zian tidak hanya mau ke taman. Kan ada Om yang bayarin " Ucap Maliq hati hati dengan nada lembut. Dia heran melihat Zian seperti sedang memberi jarak dengannya.
" Zian tidak ingin merepotkan orang. Nantilah kalau Zian punya uang sendiri baru Zian pergi bermain ke Trans Studio " Ujar Zian sinis.
" Astagaaa..apa ini ?? Kenapa Zian cepat sekali berubah ?? Zian bukan orang lain, nak. Zian anak Abi !! " Jerit Maliq dalam hati. Hatinya benar benar terluka dengan semua ucapan Zian.
Maliq meraup wajahnya dengan kasar " Oo..ok lah kalau itu keinginan Zian " Kata Maliq lesu lalu menjalankan mobilnya kembali.
__ADS_1
Zian tak menanggapi. Dia membuang pandangannya keluar jendela seraya menyeringai sinis.
" Ada apa dengan anakku, Ya Allah !! Apa dia sedang menghukumku ?? " Batin Maliq menjerit.