
Derap langkah berkejaran menyusuri koridor rumah sakit.
" Evren..!!! bagaiman Syifa ??" Tanya Qenan pada Evren saat sampai di depan Evren.
" Maaf..!! terpaksa aku menanda tangani surat persetujuannya.Aku takut mereka terlambat menangani Syifa " Lirih Evren sambil menatap satu satu orang yang datang dengan Qenan.
" Ini sepupu Syifa dan kakaknya " Ujar Qenan memperkenalkan Maliq dan Willy.Setaunya memang Willy adalah sepupu Syifa,Maliq adalah kakak Syifa dan untuk Gladis dia belum tau.
Maliq tak memperdulikan ucapan Qenan tapi dia menatap ke arah Evren.
" Terus mana Syifa ???" Cecar Maliq.
" Sudah dibawa ke ruang oprasi.Dari lima belas menit yang lalu dia di oprasi untuk mengeluarkan peluru di pinggangnya " Jawab Evren lemah.
"peluru ???apa dia di tembak ??? " Tanya Maliq dengan suara tercekat.
Willy dan Gladis pun tersentak mendengar pernyataan Evren
Evren mengangguk pelan lalu menatap ke arah Qenan.Dia minta bantuan Qenan untuk menjelaskan.
Qenan menarik nafasnya berat lalu menceritakan kejadiannya dengan suara terbata bata menahan emosinya.
" Ba*s*t...!!! siapa yang mau membunuh Syifa !! " geram Willy sambil mengepalkan tangannya.
Tubuh Maliq terhuyung kebelakang lalu bersandar ke dinding.Seketika tubuh kekar itu luruh kelantai.
Dicengkramnya rambutnya dengan keras. " Aaargh...!! " pekik Maliq frustasi.
Maliq menangkup wajahnya dengan kedua tangannya menutupi air matanya yang semakin deras mengalir dari sudut matanya.
__ADS_1
Evren hanya terdiam dengan wajah penuh kegelisahan.
Gladis terisak dalam pelukan Willy.
" Sayang...duduk dulu !!! .Kamu pasti capek dari pagi jalan terus " Willy menuntun Gladis duduk di kursi tunggu di depan ruang oprasi.
Gladis mengangguk lemah dan mendudukan bokongnya di kursi.
Qenan tiba tiba beranjak dari tempatnya dan berjalan sedikit menjauh dari Maliq dan lainnya.
" Hallo...selidiki kejadian di jalan xxx sekitar pukul 16.00 tadi.Ada penembakan, pelakunya mengendarai mobil SUV warna hitam.cari rekaman CCTV nya " Titah Qenan di telepon pada orang suruhannya "
.......
" Aku tunggu laporannya secepatnya.Kalau pelakunya sudah ditangkap,segera bawa ke gudang yang ada di pinggir kota.Awas jangan sampai terendus oleh polisi.Aku mau,aku sendiri yang akan menghukum pelakunya "
.........
......
Qenan menutup panggilannya lalu kembali bergabung dengan yang lainnya dengan wajah gusar.
Maliq duduk di kursi tunggu sambil tertunduk lemah.Bibirnya komat kamit melafadzkan doa dan selalu berdzikir memohon pertolongan Allah.
" Ya Allah...aku mohon padamu,selamatkanlah istriku.Aku belum mendapat maaf darinya. Aku telah banyak menyakitinya.Aku belum memberikan kebahagiaan untuknya " Gumam hati Maliq berdoa.
" Sweetie..!!!.aku tau kamu gadis yang kuat.Aku yakin kamu akan bisa melewati ini.Kumohon bertahanlah !! " Batin Qenan memohon.
" Bee...bertahanlah,Bee...kau gadis yang kuat " .Batin Evren.
__ADS_1
" Plend..!!! Kamu harus kuat.. !!! kamu pernah melewati keadaan seperti ini dan kamu bisa bertahan.Kali ini pun aku yakin,kamu bisa melewatinya.Aku merindukanmu, Plend...!!!" Batin Gladis berharap.
" Syifa...!! kamu harus kuat.Maliq sangat terpuruk saat ini " Batin Willy.
Maliq,Willy,Qenan,Gladis dan Evren terdiam dengan benak masing masing.Mereka mendoakan keselamatan Syifa dalam hati mereka.
Ketegangan meliputi perasaan mereka menanti kabar Syifa yang masih berada di dalam ruang oprasi.
Satu jam kemudian pintu ruang oprasi terbuka seiring dengan keluarnya dokter yang menangani Syifa.
Serentak mereka berlima berdiri dan mendekati dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan Syifa,dok ?? " cecar mereka berlima serentak pada dokter.
" Dokter tersebut menarik nafasnya berat " Pelurunya sudah berhasil dikeluarkan.Karena pelurunya hampir saja mengenai ginjalnya sehingga pasien saat ini dalam keadaan koma " Tutur dokter sambil menepuk bahu Qenan yang posisinya paling dekat dengan dokter.
" Pasien akan kami pindahkan keruang ICU.Kita berdoa semoga pasien bisa melewati masa kritisnya " Imbuhnya lagi.
" Deg..." Maliq merasa dejavu.
Maliq tidak bisa berkata kata mendengar berita dari dokter tadi.Seketika tubuhnya kembali melemas.
Qenan mundur dan melayangkan tinjunya ke arah tembok.
" B*n*sa*...!! aku akan menemukan kalian " Geram Qenan lalu beranjak dari tempatnya dan berjalan dengan langkah lebar,entah kemana.
" Qenan !!! Mau kemana ??" teriak Evren melihat Qenan pergi.
" Mencari pelakunya !! " Jawab Qenan tanpa membalikan badannya.
__ADS_1
Gladis dan Evren semakin terisak.
Willy mendekati Maliq." Bro...yang sabar,semoga Syifa akan bisa melewati masa kritisnya.Kita berdoa untuk keselamatannya" Ujar Willy sambil menepuk pelan bahu Maliq memberikan kekuatan.