
" Dek..sudah dengar berita yang lagi viral di kompleks ?? " Cerocos Fatimah yang baru pulang dari pasar sambil meletakan kresek belanjaan di atas meja.
Syifa yang sedang memotong motong buah untuk salad, sejenak mengalihkan atensinya.
" Berita apa, kak ?? Bukan beritanya Lesti yang di pukulin suaminya kan ?? "
Fatimah terbahak sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. " Astagaa dek...tidak dek.. !! Aah..memangnya kakak ini wartawan infotaiment !! Ada ada saja "
Syifa ikut terkekeh pelan.
" Itu..rumahnya kakek Diman yang di depan kiosnya kakak itu, dibeli sama pendatang baru " Ujar Fatimah sambil memilih milih belanjaan yang akan dimasukannya ke dalam kulkas.
Syifa mengernyitkan keningnya heran.
" Trus masalahnya di mana sampe bikin heboh ?? Itu hal yang wajar kan kalau ada yang berminat dengan rumah Kakek Diman ?? "
" Masalahnya, katanya itu rumah di beli dengan harga fantastis. Tidak sesuai dengan objeknya "
" Memangnya di beli dengan harga berapa sih ?? " Timpal Syifa dengan santai.
" 700 juta plus ditukar dengan BTN yang ada di gang sebelah. Itu harga BTN kalau nggak salah cash 250 juta. Artinya, harga rumah kakek Diman itu menghampiri 1 Miliar.Makanya heboh semua orang sekompleks mendengar berita itu " Tutur Fatimah dengan antusias.
" Masyaa Allah..mungkin itu sudah jadi rejekinya kakek Diman. Artinya si pembeli sangat butuh dengan rumahnya kakek Diman. Tidak ada yang tidak mungkin selama itu menjadi kebutuhan dan mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya itu " Ujar Syifa masih dengan nada santai.
" Iya juga sih, dek. Artinya memang si pembeli sangat butuh dengan rumah itu.Tapi katanya pembelinya itu seorang pria dan hanya sendiri, tidak ada keluarganya pas pindahan kemarin " Ujar Fatimah lagi.
Syifa terkekeh geli lalu menatap wajah kakak angkatnya itu.
" Kakak. Kenapa jadi kepo gini sih ?? Biarin aja Kak..itu bukan urusan kita. Kan dia tidak mengganggu kita "
" Hi..hii..hii..iya ya, kenapa kakak jadi kepo ya ?? " Ucap Fatimah terkikik lalu menepuk jidatnya dengan pelan.
Syifa tersenyum lalu menggeleng pelan.
Ya Nabi Salam ’Alaika
__ADS_1
Ya Rasul Salam ’Alaika
Ya Habib Salam ’Alaika
Sholawatullah ’Alaika
Tiba tiba suara senandung anak kecil sedang menyenandungkan shalawat terdengar dari samping rumah.
" Assalamualaikum....!! " Seru suara khas bocah umur enam tahun mengucap salam dari arah pintu belakang.
" Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh !! " Jawab Syifa dan Fatimah serentak menjawab salam dari Zian.
Zian tersenyum sumringah ke arah Umi dan Bundanya seraya masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya meletakan sepatu bolanya di rak sepatu yang ada di teras belakang rumah.
Sudah menjadi kebiasaan yang diajarkan oleh Syifa pada anaknya. Bila dia pulang dari bermain atau olah raga, dia harus masuk lewat pintu belakang untuk menjaga kebersihan dalam rumah.Dan hari ini, Zian baru selesai bermain bola.
" Masyaa Allah..ceria sekali wajah anak Umi hari ini !! Bagaimana main bolanya, seru ?? " Sambut Syifa sambil tersenyum hangat pada bocah laki laki kesayangannya itu.
" Alhamdulillah...seru Mi...Zian senang bermain bola hari ini soalnya Zian ditemani oleh teman baru Zian " Seru Zian tersenyum sumringah. Sorot matanya sudah kembali berbinar. Berbeda dengan beberapa bulan belakangan ini.
Sudah dua bulan peristiwa waktu Zian kabur dari rumah, namun Zian sangat berubah sejak peristiwa itu. Tidak ada lagi Zian yang ceria. Yang selalu menghidupkan suasana, baik di dalam rumah maupun di lingkungan teman bermainnya. Dia menjadi anak yang introvert.
Dia lebih memilih belajar sendiri di rumah. Jika dia keluar rumah, semata mata hanya pergi sholat, mengaji ataupun latihan karate. Selebihnya dia menarik diri.
Sepak bola yang rutin dia mainkan dengan teman temannya saat sore hari pun dia abaikan.
Hingga hari ini. Syifa benar benar kaget ketika tiba tiba pamit ingin main sepak bola di lapangan kompleks.
" Masyaa Allah...teman sebaya, kakak kakak atau om om, sayang ?? " Tukas Syifa.
Syifa sangat tahu anaknya itu sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Mau itu orang sebaya dengannya ataupun orang dewasa. Dia akan menyebutkan mereka semua itu adalah temannya, asal orang itu senang dengannya.
" Om om, Mi...dia selalu menunggu Zian di depan rumahnya kalau Zian ke mesjid atau pergi mengaji. Dia juga mengantar Zian waktu Zian latihan karate kemarin. Dan hari ini, dia menemani Zian main sepak bola. Pokoknya Zian senang sekali, Mi " Tutur Zian antusias.
Syifa menautkan keningnya. " Memangnnya teman Zian itu tinggal di mana ?? Zian sudah berapa lama kenal dengan teman baru Zian ?? " Cecar Syifa pada anaknya.
__ADS_1
" Mmm... Zian kenal sudah satu minggu, Mi. Dan dia tinggal di rumah kakek Diman " Jawab Zian.
Sontak Syifa dan Fatimah saling melempar pandangan. Seketika tubuh Syifa meremang.
" Ya Allah..siapa orang itu ?? Kenapa dia mendekati anakku " Gumam Syifa dalam hati.Reaksi Syifa yang tadinya tidak peduli dengan berita pembeli rumah kakek Diman, tiba tiba jadi gelisah.
" Ya sudah...Zian bersih bersih dulu, nak.. !! " Titah Syifa pada anaknya.
" Iya Zian masuk bersih bersih dulu yaa Mi..bund.. !! " Seru Zian sambil masuk ke dalam kamar mandi setelah sebelumnya menarik handuk dari jemuran handuk di depan kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Seperti biasa, dia tidak memakai kamar mandi yang di dalam kamarnya kalau dia habis bermain.
Syifa mengangguk sambil tersenyum lalu melirik sekilas ke arah Fatimah.
" Kak...kok aku jadi was was ya, kak. Siapa sih orang yang beli rumah kakek Diman ?? " Ujar Syifa setelah Zian sudah masuk ke dalam kamar mandi.
" Iya..kakak jadi khawatir juga, dek. Kan aneh aja, ada orang beli rumah sederhana dengan harga rumah mewah. Apa tujuannya, coba ?? " Timpal Fatimah seketika jadi ikutan gelisah.
" Aku takut, dia itu..Naudzubillahi mindzalik.. Phedofil yang mengincar anak kecil seperti Zian " Syifa bergidik ngeri membayangkan yang tidak diketahuinya.
" Naudzunillahi Mindzalik...Astaghfirullah...!! Ya Allah semoga Allah menjauhkan keburukan dari Zian " Seru Fatimah ikutan bergidik.
" Aamiin...!! " Gumam Syifa mendesah gelisah.
Sejak hari itu, Syifa ataupun Fatimah selalu mengawasi Zian kalau berada di luar rumah. Tapi selama itu pula mereka tidak mendapatkan keanehan di situ.
Fatimah sering melihat penghuni baru itu keluar masuk rumah yang kebetulan bersebrangan dengan kios tempat Fatimah menjahit. sehingga dia mudah mengawasi pria tersebut.
" Tidak ada gelagat aneh dengan orang itu. Dia mudah berbaur dengan tetangga bahkan sangat ramah dengan warga kompleks. Dia sering masuk swalayan yang di ujung gang mungkin untuk membeli kebutuhannya " Tutur Fatimah pada suatu hari pada Syifa.
" Kita harus tetap waspada Kak...modelan orang seperti itu sangat mudah berkamuflase " Ujar Syifa lirih yang disambut anggukan oleh Fatimah.
" Sayangnya aku belum pernah melihat sosok orang itu. Tapi setiap aku lewat depan rumahnya, entah mengapa tubuhku meremang. Aku merasa ada orang yang sedang memperhatikanku dari dalam rumah. Padahal kaca mobil aku tutup full " Imbuh Syifa lagi dengan nada khawatir.
" Tapi dek...kakak perhatikan, wajah orang itu mirip seseorang, tapi Kakak lupa siapa " Ucap Fatimah tiba tiba setelah sesaat hening.
" Haa ?? Maksud kakak ?? "
__ADS_1
" Iya..wajahnya familiar di mata kakak "
" Ya Allah..siapa sih orang itu ?? " Desah Syifa frustasi.