Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
289


__ADS_3

" Zian, boleh Abi masuk ?? " Ucap Maliq di ambang pintu kamar Zian yang tidak tertutup sempurna.


Walau sering mendapat penolakan dari Zian, untuk memanggilnya Abi, Maliq tetap menyebut dirinya Abi pada anaknya.Dia berharap, semakin sering dia menyebut Abi maka semakin terbiasa Zian mendengar itu dan tak menutup kemungkinan, bibir Zian akan terbiasa juga memanggil Abi.


Zian yang sedang duduk di meja belajarnya sedang mengerjakan PR langsung menoleh ke arah Maliq.


" Masuk saja, Om !! " Ujar Zian singkat dengan wajah acuh tak acuh.


Sama seperti Maliq yang tetap keukeh menyebut dirinya Abi, tak jauh beda dengan Zian. Dia tetap keukeuh juga memanggil Om pada Maliq. Benar benar pasangan ayah dan anak yang serasi. Sama sama keras kepala.


Maliq berjalan masuk ke dalam kamar Zian dan mengambil tempat duduk di tepi ranjang Zian.


" Zian !! Boleh Abi bicara, Nak ?? " Celetuk Maliq tiba tiba dengan nada sedikit ragu setelah beberapa menit senyap karena Zian lebih fokus dengan alat tulis di depannya.


Zian menghela nafasnya dengan berat seraya berbalik menghadap Maliq. Sedingin apapun sikapnya pada Maliq, dia tidak pernah melupakan ajaran dari Uminya untuk tetap hormat dan menjaga sikap terhadap orang yang lebih tua, apalagi ini adalah bapak kandungnya sendiri.


" Mau bicara apa, Om ?? " Tanya Zian dengan tatapan datarnya pada Maliq.


Laki laki dewasa berwajah tampan tersebut menelan salivanya dengan susah payah. Tatapan datar anaknya seolah mengintimidasinya.


" Ya Allah..apakah ini efek aku mengabaikannya sejak dari dalam perut sampai sebesar ini ?? Kenapa tatapannya membuatku terintimidasi. Astaga masih kecil saja sudah mengerikan. Hmm..benar benar dia anakku dengan Syifa. Wajahnya sangat mirip denganku, tapi auranya milik Uminya. " Batin Maliq tidak sengaja bergidik.


" Mm..apa Zian senang, Abi ada di sini ?? " Ungkap Maliq setelah susah payah menetralkan degup jantungnya.


Zian mengernyitkan keningnya dengan tatapan yang konsisten.


" Selama Umi senang, Zian pasti senang " Jawabnya singkat tidak membuat Maliq lega.


Lagi, Maliq meneguk salivanya.Perasaan gugupnya mengalahkan ketika dia menanti keputusan pemenang tender.


" Artinya, Zian tidak benar benar ikhlas Abi ada di sini ?? " Cecar Maliq lagi.


Zian menarik garis bibirnya membentuk sebuah lengkungan, tersenyum. Ah..bukan senyum, tepatnya sebuah seringai.


" Pertanyaan itu harusnya buat Om Ahdan. Bukan buat Zian " Sarkas Zian penuh teka teki, lalu membalikan badannya menghadap meja belajarnya kembali.


" Deg !! Apa maksudnya ?? " Maliq melongo.Mencoba mencerna apa maksud dari ucapan putranya.


" Apa maksud Zian, Nak ?? " Lirih suara Maliq sendu mencoba bertanya kembali pada anaknya yang sepertinya sudah tidak tertarik bicara dengannya.


Zian bungkam sambil menegakkan punggungnya. Tangannya terkepal erat di atas meja. Dia mencoba meredam gejolak yang ada di dalam dadanya tanpa menatap wajah laki laki yang seharusnya dia panggil Abi.

__ADS_1


Sementara Maliq masih setia menanti jawaban Zian selanjutnya.


" Drrrtt "


" Drrrtt "


Getar ponsel di saku celana Maliq mengalihkan atensi Maliq.


" Syifa !! " Gumam Maliq.


" Ya Assalamualaikum dek !! " Sapa Maliq pada penelpon.


******


" Eh..siapa kamu ?? Kenapa ponsel istri saya ada padamu ?? " Gusar Maliq mendengar orang diseberang memakai ponsel Syifa dan orang itu seorang pria.


******


" Astaghfirullah... Di rumah sakit mana ?? Kenapa bisa pingsan ?? " Pekik Maliq panik.


******


Sontak Zian menatap ke arah Maliq mendengar Maliq menyebut rumah sakit dan pingsan. Dia yakin, orang yang sedang dibicarakan oleh Abinya itu adalah Uminya.


Maliq memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan menatap Zian yang sedang menatap ke arahnya dengan wajah penuh pertanyaan.


" Abi mau ke rumah sakit dulu. Umi sakit dan di bawa ke rumah sakit " Ungkap Maliq setengah bingung. Dia tidak ingin membawa Zian, tapi Zian hanya sendiri di rumah.


Biasanya ada Fatimah yang menemani Zian jika Syifa beraktifitas di luar. Tapi sejak Fatimah menikah, Fatimah ikut dengan Aslan pindah ke rumah yang di beli Aslan untuk Fatimah.


" Zian ikut. Zian mau lihat Umi " Ucap Zian tegas seraya merapikan alat tulisnya di atas meja.


" Oke baiklah. Kalau begitu, Zian siap siap !! " Ujar Maliq lalu beranjak ke arah lemari pakaian Zian.


" Mmm... Zian harus pakai jaket soalnya hari sudah sore takutnya kemalaman, nak. Jaket Zian ada di sebelah mana ?? " Imbuh Maliq lagi sambil memperhatikan susunan pakaian Zian.


" Biar Zian siap siap sendiri. Zian sudah biasa mandiri " Tukas Zian pelan.


" Mendingan Om siap siap juga, biar cepat ke rumah sakit " Ujarnya lagi.


Maliq mengangguk dan mengacak rambut Zian lembut. " Oke. Abi siap siap dulu " Kata Maliq sambil berjalan keluar dari kamar Zian.

__ADS_1


****


" Mana istri saya ?? " Ujar Maliq ketika tiba di depan ruang UGD pada dua orang yang di duganya sebagai teman seprofesi Syifa.


Wanita berjilbab pasmina coklat susu menatap Maliq lalu tersenyum.


" Ini suami Ibu Syifa yaa ?? " Tanya wanita berusia tiga puluhan itu. Tatapannya menyiratkan kekaguman.


Maliq yang ditatap sedemikian rupa jadi risih.


" Tante Asma !! Mana Umi ?? " Suara Zian mengalihkan atensi wanita yang bernama Asma itu.Rupanya Zian sudah mengenalnya.


" Eeh..ada si tampan !! Iya Umi masih diperiksa dokter di dalam " Ujarnya dengan senyum genit.


Maliq mendengus pelan. " Teman lagi sakit, tapi masih genit genit sama suaminya. Menjijikan !! " Umpat Maliq dalam hati seraya melangkah menjauhkan jaraknya dengan kedua teman Syifa.


Pria yang bersama Asma mendekat ke arah Maliq." Kenalkan saya Boby, Pak. Teman Ibu Syifa. Saya yang menelpon bapak tadi " Sapa pria itu seraya mengulurkan tangannya pada Maliq.


" Ooh..iya. Saya Maliq suami Syifa. Terima kasih sudah menolong istri saya " Sambut Maliq tersenyum tipis menyambut uluran tqngan Boby.


" Ibu Syifa tiba tiba pingsan tadi ketika sedang memberikan materi kuliah di kelas tadi. Untung masih sempat duduk di kursinya dan berpegangan di meja sebelum pingsan jadi tidak sempat jatuh ke lantai. Itu kata mahasisawanya tadi. " Tutur Boby pada Maliq tanpa ditanya oleh Maliq.


" Astaghfirullah..padahal dari rumah tadi dia baik baik saja. Malah dia menolak ketika saya mau mengantarnya ke kampus " Maliq gusar tidak peka dengan keadaan Syifa.


" Mungkin Ibu Syifa kecapean " Asumsi Boby tanpa ditanggapi oleh Maliq yang sedang gelisah.


" Ceklek "


Pintu ruang UGD tiba tiba di buka seiring dengan keluarnya seorang wanita dewasa berwajah ramah menggunakan snelli lengan pendek. Nampaknya dia seorang dokter umum.


Maliq beranjak mendekati dokter wanita tersebut.


" Keluarga pasien bernama Syifa ?? " Ujar dokter ber-name tag Rose itu.


" Iya, saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istri saya ?? Dia tidak kenapa napa kan, dok ?? Apa dia baik baik saja ?? " Cecar Maliq pada dr.Rose.


Dokter tersebut tersenyum lebar sambil menggeleng.


" Ikut saya pak !! Nanti saya jelaskan di dalam sebelum mengurus administrasinya " Ujar dokter ramah tersebut diselingi dengan kekehan kecil lalu menepuk bahu Maliq dengan pelan lalu membalikan badannya masuk kembali.


kegelisahan Maliq makin bertambah. " Kenapa sih, nggak di jelaskan di sini saja " gerutu Maliq penasaran dengan keadaan istrinya.

__ADS_1


Diam diam Zian meraih tangan Maliq dan menggenggamnya. " Zian ikut " Lirihnya dengan wajah khawatir.


Maliq menatap Zian lalu membalas genggaman tangan anaknya. " Ayo "


__ADS_2