
Waktu terus berjalan.Hari berganti minggu dan minggupun berganti bulan.Kurang lebih dua bulan sudah hubungan Syifa dan Maliq tidak juga membaik.
Maliq berusaha semaksimal mungkin untuk meluluhkan hati Syifa.Setiap hari dia berusaha mendekati istrinya itu.Tapi, Syifa tetaplah syifa, dia kadung kecewa dengan tuduhan Maliq padanya.Harga dirinya terasa diinjak.Menurut prinsipnya, tuduhan Maliq sangatlah keji.
Hari ini Syifa sengaja tidak beranjak dari kamar yang ditempatinya.Bukan tanpa sebab, sudah tiga hari ini dia mengalami kontraksi palsu dan semalaman dia sulit untuk tidur.
Walau begitu dia hanya diam saja tanpa memberitahukan pada siapa pun termasuk suaminya.
Syifa merebahkan tubuh ringkihnya di atas kasur setelah melaksanakan sholat Dhuha.Jika di waktu biasanya dia akan membaca Al Quran.Tapi hari ini dia seperti tidak punya kekuatan untuk sekedar duduk.Dia ingin berbaring.Dia memasang headset di telinganya untuk mendengarkan murottal Al Quran dari ponselnya.
Maliq yang hendak berangkat kekantor, pelan mendorong pintu kamar untuk sekedar menengok istrinya diam diam.
" Sepertinya dia lagi tidur " Gumam Maliq ketika melihat Syifa berbaring terlentang seraya memejamkan matanya.
" Aaargg....pak..!! Pak Maliq !! tolong !! " Tiba tiba suara Bu Ati memekik dari arah kamar Sandra.
Sontak Maliq berlari ke asal suara. " Ada apa bu ?? " pekik Maliq dari luar kamar Sandra.
" Non Sandra pak..Non Sandra jatuh di depan kamar mandi dan pendarahan !! " Bu Ati berteriak panik dari dalam.
Gegas Maliq masuk ke dalam kamar dan segera membopong tubuh Sandra yang sudah tidak sadarkan diri.
" Sandra !! Sandra !! buka matamu !! " Suara Maliq bergetar panik memanggil nama Sandra seraya berlari membawa tubuh Sandra menuju parkiran.
" Bu Ati...siapkan semua kebutuhan Sandra..!! nanti menyusul dengan taksi !! " Titah Maliq pada Bu Ati seraya setengah berlari.
" Iya Pak..!! " Sahut Bu Ati sambil membersihkan noda darah yang tercecer di lantai.
" Pak Sani...!! ambil mobil.Kita bawa Sandra ke rumah sakit !! " Teriak Maliq pada satpamnya saat tiba di depan garasi mobil.
Dengan sigap pria paruh baya yang menjadi satpam di rumah Maliq itu mengeluarkan mobil dari dalam garasi dan membukakan pintu untuk Maliq.
Sementara itu di dalam rumah.
Ibu Ati memasukan pakaian Sandra ke dalam koper, dan tak lupa dia mencari pakaian bayi Sandra yang tersusun rapi di samping susunan pakaian Sandra.
" Apa Nak Syifa belum bangun yaa ?? " Gumam Bu Ati seraya menyeret koper berisi pakaian Sandra menuju kamar Syifa.
__ADS_1
" Tok..tok..!! Nak Syifa !! " Bu Ati mengetuk pintu kamar Syifa dengan pelan.Dia takut mengejutkan Syifa andai Syifa sedang tidur.
" Sepertinya dia tidur " Gumamnya lagi.
" Biarlah aku antar dulu pakaian Sandra lalu segera balik lagi ke sini.Sebaiknya aku telpon Pak Maliq dulu, di rumah sakit mana Sandra di bawa "
Setengah jam kemudian.
Syifa meringis ketika dia merasakan kontraksi kembali.
" Astaghfirullah...sepertinya sakitnya semakin sering datang.Sebaiknya aku menyiapkan semua keperluanku dan segera ke rumah sakit " Desis Syifa seraya bangkit dari tempat tidur dengan wajah menggambarkan kesakitan.
Wajahnya seketika memucat menahan sakit yang semakin menusuk bawah perut dan pinggulnya.Keringat dingin deras membasahi tubuhnya.
" Ya Allah..sepertinya aku mau melahirkan.Aku mau telpon kak Maliq dulu " Syifa meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur dan melakukan panggilan ke nomor Maliq.
Panggilan pertama..masuk tapi tidak diangkat.Panggilan kedua, ketiga dan keempat juga tidak diangkat.
" Kemana kak Maliq ?? sebaiknya aku panggil Bu Ati saja " Dengan langkah tertatih Syifa keluar dari kamarnya.
" Bu Ati..!! Bu !! " Dengan suara yang lemah, Syifa mencoba memanggil nama Bu Ati.
Syifa yang merasa perutnya semakin sakit, akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri setelah sebelumnya mengirimkan pesan lewat aplikasi hijau pada suaminya.
" Assalamualaikum..Kak !! Aku sudah kontraksi dan sekarang mau ke rumah sakit " Ketiknya di layar ponselnya.
" Aaauuw...Astagfirullah...sakit !! " Ringis Syifa pelan lalu mendudukan bokongnya di tepi ranjang.Dia ingin menetralisir rasa sakitnya dengan menarik nafas perlahan dan membuangnya pelan.
" Alhamdulillah..sakitnya sudah berkurang " Gumam Syifa lalu bangkit meraih koper pakainnya dan pakaian bayinya yang sudah disiapkannya sebelumnya.
Dengan langkah tertatih..Syifa keluar dari dalam rumah untuk mencari taksi yang lewat.
Keberuntungan sedang berpihak padanya.Belum tiga menit dia berdiri di pinggir jalan, dari arah kanan Syifa terlihat sebuah taksi mendekat.
Syifa melambikan tangannya menghentikan taksi. " Tolong ke rumah sakit pak...!! saya mau melahirkan " Seru Syifa dengan nafas terengah saat sudah duduk di dalam taksi.
" Astaghfirullah..baik non !! " Sopir taksi panik mendengar ujaran Syifa.
__ADS_1
Jalan sedikit ramai tapi Alhamdulillah tidak macet, sehingga sopir taksi bisa membawa kendaraannya tanpa hambatan.
" Astaghfirullah...aku lupa ponselku " Desis Syifa sambil menepuk dahinya.
" kenapa Non..?? perutnya sakit ?? Tanya sopir panik melihat tingkah Syifa.
" Tidak pak..saya cuma lupa bawa ponselku " Jawab Syifa sedikit meringis.
" Oh...jadi bagaimana ?? mau balik lagi atau bagaimana, non ??
" Tidak usah ..pak !! sepertinya saya sudah mau lahiran " Ujar Syifa.
Sopir mengangguk dan sedikit menambah kecepatan kendaraannya.
" Kemana suami atau keluarganya ?? kasihan !!. " Batin sopir merasa prihatin dengan keadaan Syifa yang mau melahirkan tanpa ada yang mendampingi.
" Sudah sampai non.. !! Ujar Sopir lalu turun untuk membukakan pintu mobil untuk Syifa dan mengeluarkan koper Syifa.
" Mari saya antar ke dalam, non..!! " Ucap sopir ingin menyeret koper Syifa.
Syifa yang sedang berdiri di samping mobil, sedikit meringis menahan sakit yang tiba tiba menyerang lagi.
" Astaghfirullah...Ya Allah..nikmat sekali sakitnya..!! desis Syifa seraya meremas khimarnya untuk menyalurkan rasa sakitnya.Dia sedikit membungkuk untuk menahan sakit di perutnya.
" Syifa..!! "
Syifa mendongak mendengar suara bariton memanggil namanya.
" Lagi..?? kenapa selalu Fandy saat aku seperti ini !! " Batin Syifa.
" Kamu kenapa ?? mau lahiran ?? " Tanya Fandy melihat wajah pucat Syifa dan sedang meringis kesakitan.
Syifa hanya mengangguk pelan dengan menggigit bibir bawahnya.
" Pak..tolong panggil perawat di UGD..!! Titah Fandy pada sopir taksi.
" Iya..pak " Sopir taksi bergegas menuju ruang UGD.
__ADS_1
Fandy meraih tubuh Syifa dan menuntunnya ke kursi roda saat perawat datang.