Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
292


__ADS_3

" Mamah nggak usah balik. Mamah di sini saja sama Syifa !! " Bujuk Syifa pada mertuanya dengan nada manja.Dipeluknya tubuh wanita paruh baya itu dengan erat.


Mamah terkekeh. " Ishh..manja banget sih anak Mamah !! Apa nggak apa apa Mamah di sini ?? Takutnya mengganggu kamu dan keluarga kecilmu " Ungkap Mamah sungkan. Dia takut, kehadirannya membuat Syifa tidak nyaman.


" Mamah apaan sih. Syifa yang mau Mamah di sini. Biar Zian lebih dekat lagi sama Mamah " Rajuk Syifa memohon pada mertuanya.


Mamah mengelus rambut Syifa yang tergerai indah. Syifa sengaja tidak memakai jilbabnya kalau di rumah hanya ada suami dan mertuanya.


" Nanti Mamah bicarakan dulu dengan Maliq " Ucap Mamah.


Syifa memgangguk. " Kak Maliq pasti senang Mamah di sini.Soalnya kalau kak Maliq balik ngecek perusahaan, Syifa cuma berdua dengan Zian di sini " Ungkap Syifa.


Yah..sejak bertemu Syifa, Maliq lebih banyak berada di kota tempat tinggal Syifa. Dia balik ke kotanya hanya ketika ada pekerjaan yang penting. Sekali sebulan dia balik ke kotanya. Tapi sejak kehamilan Syifa, belum pernah sekali pun Maliq meninggalkan Syifa mengecek perusahaan.


Dia sangat tahu syifa tidak bisa tidur atau makan tanpa mencium aroma tubuhnya. Syifa sedang manja manjanya dan Maliq sangat menikmati itu. Dia ingin menebus waktunya yang hilang, ketika Syifa hamil Zian.


Dia tahu, sewaktu Syifa mengandung Zian, dia lebih banyak mengabaikan Syifa karena konflik dalam rumah tangga mereka. Sungguh jika dia mengingat itu, dia sangat menyesal. Apalagi sewaktu kelahiran Zian, dia tidak berada di sisi Syifa untuk berjuang bersama menyambut kehadiran buah hati mereka.


Saat ini, Maliq berjanji di dalam hatinya. Dia tidak akan meninggalkan Syifa sedikitpun di masa masa Syifa sedang susah melawan perubahan suasana hati, perubahan nafsu makan atau pun susah payah melawan rasa mual yang setiap saat datang tanpa mengenal waktu.


Maliq ingin, dia lah orang yang menjadi tempat Syifa bersandar dan mengeluh bahkan menjadi tempat pelampiasan kemarahan Syifa yang tiba tiba tanpa diketahui penyebabnya.


Intinya, dia ingin Syifa berbagi rasa dengannya.Dia tidak perduli, berapa banyak nanti kerugian materi karena dia tidak mengurus pekerjaan di purusahaannya. Dia percayakan semua kepada sang asisten ' Hendra ' karena dia tahu Hendra bisa amanah.


Tapi beda dengan Syifa, kadang dia bertanya pada Maliq kenapa dia jadi aneh dengan kehamilannya yang sekarang. Sewaktu dia mengandung Zian, dia biasa biasa saja. Makan tidak aneh aneh ataupun sikapnya tidak ada yang aneh.


" Mungkin saat ini Allah sedang menghukumku yaa, kak. Karena aku sudah keluar dari rumah tanpa ridho suami " Ucap Syifa waktu itu pada Maliq.


Maliq membantah asumsi Syifa.Dia percaya, inilah waktunya Syifa harus menyusahkan Maliq. Karena memang dia ingin disusahkan oleh istrinya itu.


" Mmm..Syifa !! Boleh Mamah bertanya sesuatu ?? " Celetuk Mamah memecah lamunan Syifa.

__ADS_1


" Iya, Mah. Mamah mau tanya apa ?? "


" Kenapa Zian memanggil abinya dengan sebutan Om ?? " Tanya Mamah ragu ragu.


Syifa terkesiap mendengar pertanyaan mertuanya itu. " Iya. Menurut Zian, bibirnya masih kaku memanggil abi pada Kak Maliq " Jawab Syifa ragu. Jujur, Syifa juga bertanya tanya dalam hati, kenapa anaknya seperti enggan memanggil abi pada ayahnya.


Mamah hanya ber- oh saja.Tapi otaknya belum bisa percaya dengan jawaban Syifa. Hatinya mengatakan bahwa Zian belum bisa menerima kehadiran Maliq.


" Syifa !! Apa tidak ada keinginanmu untuk kembali ke kota kita ?? " Tanya Mamah setelah sesaat hening.


Syifa menegakan tubuhnya dan menghembuskan nafasnya dengan berat.


" Syifa sudah merasa nyaman di sini, Mah !! Pekerjaan Syifa di sini " Ujar Syifa sambil menundukan pandangannya.


" Tapi, Insyaa Allah bulan depan Syifa akan ke kampung halaman Syifa mau menghadiri pernikahan Kak Nurul " Ucap Syifa lalu menatap wajah mertuanya.


" Ooh.Iya..Mamah ingat, minggu lalu Mamah kamu menelpon Mamah memberitahukan pernikahan kakak kamu " Sahut Mamah antusias.


" Insyaa Allah, Nak " Mamah membelai rambut Syifa dengan lembut.


" Sungguh kau tidak pernah berubah, nak !! Sebesar apapun kesakitan yang diberikan anak anakku padamu, tapi tak sedikitpun kau memeperlihatkan kekecewaanmu padaku. Semoga setelah ini, hanya kebahagiaan yang datang menghampirimu " Batin Mamah menjerit dan berdoa untuk menantu kesayangannya itu.


****


" Assalamualaikum !! " Suara cempreng khas anak anak menucap salam diiringi derap langkah dua orang beda usia mendekati Syifa dan mertuanya yang sedang duduk bersisian di sofa ruang keluarga.


" Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh " Sahut Mamah dan Syifa serentak menjawab salam Zian.


Zian mencium tangan Syifa dan Mamah bergantian dengan takzim lalu mengambil tempat duduk di samping neneknya.


Maliqpun mendekat dan mencium tangan Mamah juga dengan takzim lalu mengulurkan tangan setelahnya pada Syifa untuk dicium oleh Syifa.

__ADS_1


Kedua laki laki kembar beda usia itu baru saja pulang dari mesjid selesai melaksanakan sholat isya.


Maliq duduk bersebrangan dengan tiga orang kesayangannya lalu melempar senyum manis ke arah istrinya.


Syifa yang mendapat senyum manis dari sang suami menunduk tersipu malu.


" Aah..kak. Bagaimana dengan pembangunan rumah yang kak Maliq beli ?? " Celetuk Syifa tiba tiba untuk menghilangkan rasa salah tingkah karena ditatap oleh Maliq dari tadi.


Mamah menautkan keningnya. " Rumah yang Maliq beli ?? Memangnya mau dibangun seperti apa ?? "


" Rumah yang aku beli sewaktu aku datang pertama kali. Rencananya mau aku buat jadi mini market. Tempatnya sangat strategis untuk dijadikan mini market " Tutur Maliq menjelaskan pada Mamahnya.


" Ooh..jadi sudah di bangun ?? " Ujar Mamah lagi.


" Iya, pekerjaannya sebentar lagi kelar.Mungkin sudah 90%. Insya Allah bulan depan sudah bisa beroprasi " Jelas Maliq lagi.


" Alhamdulillah kalau begitu. Itu artinya kamu sudah mulai bangun usaha juga di sini " Timpal Mamah sambil terkekeh.


" Alhamdulillah Mah. Dan Insyaa Allah rencananya juga, aku ingin kerja sama dengan Willy membuka showroom juga. Kami sudah bicarakan ini dari beberapa bulan lalu sebelum aku pindah ke rumah ini "


Syifa terperangah dan menautkan keningnya. " Kak Maliq pernah ketemu Kak Willy sebelum bertemu denganku ?? " Tanya Syifa.


" Iya. Waktu aku ketemunya di mall. Dan waktu itu sempat juga ketemu Zian di mushola mall "


" Oh...iya. Aku ingat sekarang, waktu itu aku dengan gladis sedang makan di restoran. Zian pamit sholat dan dia bilang baru ketemu Om Ahdan " Syifa terkekeh pelan mengingat kejadian beberapa bulan lalu.


Maliq dan Mamah hanya tersenyum mendengar pemaparan Syifa.


Sedangkan Zian hanya diam mendengarkan pembicaraan orang dewasa di depannya.


Tapi yang sebenarnya dia bukan diam. Hatinya sedang bergejolak ingin mengungkapkan sesuatu. Raut bocah memasuki usia tujuh tahun itu terlihat gelisah.Dia sedang mencari momen yang tepat untuk mengungkapkan keinginannya.

__ADS_1


" Semoga Umi mengabulkan permintaanku " Batinnya seraya menatap instens wajah Syifa dengan tatapan sendu.


__ADS_2