
" Kata dokter, kalau Zian habisin buburnya. Zian bisa pulang besok " Ucap Syifa membujuk Zian agar menghabiskan buburnya.
" Pahit, Mi !! " rengek Zian menolak suapan dari Uminya.
" Hmm..tapi ini sedikit lagi loh, sayang..!! "
Zian menggeleng pelan.
" Dek...biar nanti dibujuk sebentar lagi..Kakak liat sudah cukup banyak juga dia makan buburnya " Timpal Fatimah melihat wajah Zian yang kurang enak menatap bubur di piring yang dipegang oleh Uminya.
Syifa melirik sekilas ke arah piring bubur. " Hhmm..iya deh. Tapi nanti sebentar buburnya dihabisin ya sayang. Nenek sama Umi Nur mau ke sini loh jenguk Zian " Ujar Syifa sambil meletakan piring di atas nakas.
Umi Nur adalah panggilan Zian pada Nurul
Zian mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Uminya dengan tatapan penuh antusias. " Benar, Umi ?? "
" He' em..makanya Zian harus cepat sembuh "
" Iya Umi !! " Ucap Zian.
" Tok "
" Tok "
Pintu diketuk dari luar
Fatimah sontak berdiri membukakakn pintu.
" Assalamualaikum..!! " Seru orang yang datang.
" Masyaa Allah..Mamah !! " Pekik Fatimah ketika melihat siapa yang datang sambil memeluk erat tubuh wanita di depannya itu.
Syifa yang sudah bisa mengenali suara yang mengucap salam langsung menatap kearah suara.
" Mah..!! " Syifa menyongsong kedatangan Mamahnya dan langsung memeluk tubuh wanita yang melahirkannya itu dengan perasaan penuh kerinduan.
Fatimah memang sudah sangat mengenal baik keluarga Syifa. Dia ikut memanggil Mamah dan Papah pada kedua orang tua Syifa. Mereka sering datang menjenguk Syifa sejak empat tahun lalu.
" Kak Nurul !! " Seru Syifa lagi setelah mengurai pelukannya dari tubuh sang Mamah.
Mamah berjalan mendekat ke arah ranjang Zian. " Cucu nenek kenapa bisa sakit, sayang. Hmm ?? "
" Assalamualaikum nek...Apa kabar, nek ?? " Kata Zian sambil mencium takzim punggung tangan neneknya.
" Waalaikum salam....Alahamdulillah kabar nenek baik, sayang !! "
Mamah Syifa memeluk erat cucu laki lakinya itu dengan penuh rasa kerinduan lalu mengecup kedua pipi Zian.
" Aaah....anak Umi Nur tambah ganteng aja " Pekik Nurul seraya berlari ke arah Zian.
Zian tersenyum lebar sambil menyambut pelukan Nurul dengan antusias lalu mencium takzim punggung tangan kakak dari Uminya itu.
Syifa dan Fatimah kembali bergabung dengan Mamah dan Nurul yang mengerubungi ranjang Zian.
" Syifa..!! Itu beneran Syifa ?? " Desis seorang pria yang terpaku di ambang pintu.
" Mana Kak Zahrah, Umi Nur ?? " Ucap Zian yang telah kembali keceriaannya setelah kedatangan Nenek dan Umi Nurnya.
__ADS_1
" Kak Zahrah nggak bisa datang, sayang.Kaka lagi ikut olimpiade kimia, jadi nggak bisa ikut " Ucap Nurul seraya mengelus lembut kepala ponakannya.
Zian mengangguk sedikit kecewa. Dia sangat merindukan kakak sepupunya itu.
" Mamah sama Kak Nurul dari bandara langsung ke sini ?? " Tanya Syifa seraya menatap Mamah dan Nurul bergantian.
" Iya..kita langsung ke sini. Kamu kan sudah bagikan lokasinya. Kita naik taxi bandara " Jawab Nurul.
" Trus koper Mamah dan kakak di mana ?"
" Masih di luar, dekat pintu "
" Eeh..kenapa tidak dibawa masuk ?? "
Nurul terkekeh. " Iya sebentar kakak bawa masuk "
" Ekhemm..!! " Dehaman seseorang tiba tiba mengalihkan atensi orang yang sedang bertemu kangen di ruangan itu.
" Astagfirullah...aku lupa " Nurul terpekik kecil setelah menyadari sesuatu.
" Astagfirullah...Maaf Nak Rich..mamah lupa " Seru Mamah sambil menepuk jidatnya pelan.
" Ayo masuk Nak..!! "
" Maaf, kak !! " Kata Nurul dengan wajah rasa bersalah.
" Tidak apa apa. Saya maklum " Laki laki yang berdiri di ambang pintu terkekeh kecil sambil melangkah masuk ke dalam ruangan sambil menyeret dua koper berukuran sedang.
Syifa menautkan keningnya seraya menatap dengan intens ke arah sosok pria bermata amber dan bertubuh tegap yang sedang berjalan masuk itu.
Pria bule itu tersenyum dan menatap nanar ke arah Syifa.
" Syifa...!! " Pria itu menggerakan bibirnya tanpa suara.
" Syifa..!! Kenalkan Ini Kak Adalrich " Ucap Nurul mengenalkan sosok pria di depan mereka.
" Iya Nak..Kami datang sekalian datang untuk memperkenalkan calon suami kakakmu " Ucap Mamah menimpali ucapan Nurul.
Syifa terpaku. Dia tidak mendengar ucapan Mamah dan kakanya. Dia masih belum percaya bahwa sahabat yang dikenalnya tujuh tahun lalu ada di depannya kini.
Dia tidak percaya bahwa itu Qenan, sebab negara Qenan terlalu jauh dari Indonesia. Dia lupa, ini jaman semuanya serba cepat, serba dekat dan serba ekspres.
Qenan mendekat. " Ini benar benar Syifa ?? " Kata Qenan sedikit meragu. Tak ada lagi getar lain di dalam hatinya. Rasa dalam hatinya tinggal sebatas rindu pada teman yang sudah lama tidak berjumpa. Dia benar benar telah jatuh cinta pada Nurul dan telah melupakan cintanya untuk Syifa.
" Iya. Ini benar Qenan kan ?? " Tukas Syifa yang disambut kekehan Qenan merasa sangat terkejut sekaligus bahagia dengan pertemuan mereka.
Mamah dan Nurul menatap mereka berdua dengan wajah bingung.
" Kalian sudah saling kenal ?? " Ucap Nurul.
Qenan dan Syifa mengangguk serentak.
" Syifa tetangga apartemenku sekaligus teman sekelasku waktu dia kuliah di Jerman.
" Oo..bagus dong kalau sudah saling kenal " Nurul terkekeh senang. Dia sangat senang kalau adiknya dan calon suaminya sudah saling mengenal.
" Tapi tunggu dulu. Kenapa Kak Nurul memanggilmu Adalrich ?? " Tanya Syifa skeptis.
__ADS_1
Qenan terkekeh pelan. " Kamu lupa bahwa namaku ini Qennan Adalrich, hmm ?! "
Syifa hanya tersenyum sekilas lalu ikut terkekeh. " Oo..iya, aku lupa nama panjangmu "
" Silahkan duduk, Qen !! " Ujar Syifa mempersilahkan Qenan untuk duduk di sofa.
Qenan mengangguk tapi melangkah ke arah tempat tidur Zian.
" Hai boy...kamu anak Syifa ?? " Ucap Qenan menyapa Zian dengan ramah.
Zian tersenyum sambil mengangguk hormat seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Qenan.
" Iya, Uncle...saya Zian anak Umi Syifa !! " Ujar Zian seraya mencium takzim punggung tangan Qenan.
Qenan terkesiap kagum dengan pembawaan bocah umur enam tahun tersebut.
" Bocah yang sangat tampan. Sungguh bocah ini mirip dengan daddynya " Gumam Qenan dalam hati.
" Wah..Qen. Kamu sudah lancar pakai bahasa Indonesia !! " Syifa terpekik kagum pada Qenan yang menguasai bahasa Indonesia dengan baik.
" Iya dong..tidak sia sia aku enam tahun tinggal di Indonesia. Lagian aku punya Zahrah sebagai guru privatku " Seru Qenan bangga.
" Eeh...enam tahun ?? sudah selama itu ??" Ucap Syifa setengah tak percaya.
" Iya...Sebulan setelah kau kembali Ke Indonesia. Daddy aku menugaskan aku untuk bekerja di perusahaan Daddyku yang ada di Indonesia. Perusahaanku salah satunya ada di kotamu. Dan juga ada di pulau ini. Makanya aku ikut Nurul sama Mamah ke sini sekalian memantau perusahaanku yang di sini " Tutur Qenan panjang lebar.
Tapi dia tidak menceritakan alasan utamanya datang ke Indonesia ini semata mata hanya ingin mengikuti Syifa. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata dia malah telah jatuh cinta dengan kakak Syifa, yaitu Nurul.
" Oo..pantas bisa kenal dengan Kak Nurul " Ujar Syifa setengah bergumam.
" Ngomong ngomong , Kamu sudah menikah ?? " Tanya Syifa lagi pada Qenan. Dia tidak mendengar ucapan Mamah tadi waktu memperkenalkan Qenan.
Qenan melirik ke arah Nurul dengan tatapan bingung yang dibalas gedikan bahu oleh Nurul.
" Syifa sudah berubah. Penampilannya sudah lebih dewasa dan lebih well come. Tidak ada lagi Syifa yang dingin dengan tatapan datar " Gumam Qenan terkekeh di dalam hati. Dia sangat ingat bagaimana sikap Syifa dulu pada lawan jenis.
" Tapi di mana suaminya ?? Atau lagi keluar yaa " Batin Qenan lagi mencari keberadaan Maliq.
" Qen..ditanya kok malah bengong sih !! "
" Eeh...Iya kamu tanya apa tadi ?? " Qenan gelagapan.
" Kamu sudah menikah belum ?? " Syifa mengulangi pertanyaannya yang tadi.
" Belum. Baru mau menikah " Jawab Qenan seraya melirik Nurul dengan tatapan mesra. Dan dibalas oleh Nurul dengan senyum tipis tapi dengan wajah tersipu.
" Dan calon istriku ada di sini juga " Imbuh Qenan lagi tanpa mengalihkan tatapannya dari Nurul.
Otak Syifa langsung tanggap dan mengalihkan tatapannya mengikuti tatapan Qenan.
" Maksudmu, Kak Nurul ?? " Tanya Syifa to the point.
Qenan mengangguk. " Iya !! "
" Astagfirullah..." Syifa beristigfar dalam hati sambil menatap tajam ke arah Nurul dan Qenan secara bergantian. Dia sangat terkejut. Dia tahu bahwa Qenan itu non muslim.
" Kenapa Kak Nurul semudah itu menerima cinta seseorang yang tidak seiman " Geram Syifa dalam hati.
__ADS_1