
Syifa memijat keningnya sembari menghembuskan nafasnya dengan pelan.Kepalanya terasa berat setelah dua jam menghabiskan waktunya di toko buku untuk mencari buku untuk referensi tugas akhirnya.
" Maaf,Kak.Lama menunggu !! ".Syifa tersenyum canggung ke arah Maliq.Dia merasa tidak enak karena Maliq harus menemaninya mencari buku.
" Nggak apa apa,dek.Sudah tugas seorang suami,menemani dan memberi suport pada istrinya " Ujar Maliq sambil mengelus kepala Syifa yang tertutup dengan khimar panjangnya.
Syifa menundukan wajahnya yang tersipu lalu berjalan keluar dari toko buku.
" Kau sangat manis ketika tersipu " Gumam Maliq sambil mengukir senyumnya lalu melangkah mengikuti Syifa yang mendahuluinya.
" Kita langsung ke swalayan saja atau makan dulu,dek ?? " Tanya Maliq pada Syifa saat mereka masuk ke dalam mobil.
Syifa menatap Maliq sekilas." Terserah,Kakak !!".
Maliq melirik benda warna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya." Sudah waktunya makan siang.Kita makan saja dulu ".
Maliq memacu kendaraannya menuju restoran Italia.
" Yuk,dek.Kita coba makan di restoran Italy !!" Seru Maliq sambil membukakan pintu mobil untuk Syifa.
Syifa termangu menatap bangunan di depannya,sambil bergumam dalam hati." Selama aku tinggal di Jerman,baru kali ini aku masuk ke dalam restoran.Semoga aku tidak malu maluin".
" Kamu mau pesan apa,dek ??" Tanya Maliq sambil menyerahkan buku menu pada Syifa.
Syifa membaca menu yang tercantum di buku menu " Aku pesan risotto yang campurannya sayur saja dan minumnya granita.Kayanya itu sesuai seleraku.Risotto pake sayur dan minumannya tidak terlalu manis" Ujar Syifa pada Maliq sambil menyodorkan buku menu kembali pada Maliq.
" Kak Maliq pesan apa ??" Imbuhnya lagi.
" Samain aja "
" Ok.Pesan risotto sayur dua sama granita dua " Ucap Syifa pada pelayan sambil tersenyum ramah pada gadis cantik tersebut.
" Kamu sudah pernah makan risotto ??" Tanya Maliq pada Syifa ketika pelayan sudah berlalu dari tempat mereka.
__ADS_1
" Pernah,waktu itu Evren membawakanku.Dan aku suka rasanya ".
" Oh..pantas kamu pesannya itu "
" Hallo,bro !! apa kabar ?? " tiba tiba suara bariton menyapa dari belakang Syifa.
Sontak Maliq mendongakan kepalanya menatap ke arah sumber suara, begitu juga dengan Syifa yang seketika memutar tubuhnya.
" Qenan !! " Desis Syifa.
Qenan tersenyum tulus ke arah Syifa dan Maliq sembari menarik kursi di samping Maliq lalu duduk tanpa dipersilahkan.
Maliq menatap tajam ke arah Qenan tanpa membalas sapaannya.
" Boleh aku duduk di sini ??" Tanya Qenan sambil melirik ke arah Syifa.
Syifa membuang pandangannya menghindari tatapan Qenan lalu menatap Maliq yang masih menatap Qenan dengan tatapan tajam.
" Silahkan !! percuma juga aku melarangmu,toh kamu juga sudah duduk tanpa permisi"Ujar Maliq sinis.
" Cih..manusia tidak tau malu " Gumam Maliq berdecih.
Syifa mengernyitkan keningnya sambil menatap Maliq dengan penuh tanda tanya.
" Kenapa Kak Maliq sinis sekali pada Qenan.Padahal Qenan sudah menyelematkanku waktu itu " Batin Syifa.
" Mm..Qenan.Terima kasih sudah menolongku waktu itu.Aku belum sempat mengucapkan terima kasih,soalnya sejak peristiwa itu kita tidak pernah bertemu lagi. " Ujar Syifa tiba tiba tanpa menatap Qenan.
Maliq menggeram kesal dalam hati mendengar ucapan Syifa yang berterima kasih pada Qenan. Dia mengepalkan tangannya di bawah meja sampai buku buku jarinya memutih.
" Woww...!!mimpi apa aku semalam.Selama aku mengenalnya,baru kali ini dia bicara panjang denganku...luar biasa,Qenan !! " Sorak hati Qenan sumringah.
" Tidak perlu sesungkan itu,Syifa.Bukankah sebagai sesama manusia kita harus saling tolong menolong dan kebetulan aku sangat sibuk,jadi belum sempat ke kampus. " Ujar Qenan antusias.
__ADS_1
" Yang sebenarnya aku memilih tidak melanjutkan kuliahku di kampus itu lagi,Syifa.Aku sedang berjuang untuk melupakanmu " Imbuh Qenan dalam hati.
Syifa tersenyum tipis sambil mengangguk canggung.
Maliq melirik Syifa dengan tatapan tajam.Dia tidak rela Syifa harus berbicara banyak pada Qenan.Dan hal ini tak luput dari perhatian Qenan.
" Sungguh satu keputusan yang bodoh,aku harus di sini.Sepertinya suamimu sangat ingin menelanku bulat bulat.Tapi apa daya setelah sekian lama aku hanya menatapmu dari kejauhan,hari ini aku sudah tidak bisa menolak perasaan rinduku ingin menatapmu dari dekat.Runtuh sudah pertahananku dan sia sia usahaku selama ini untuk menghindarimu.Maafkan aku Syifa,aku tenggelam dalam kebodohanku karena harus mencintaimu yang sudah menjadi istri orang " Batin Qenan menjerit pilu.
" Mm..Kak,aku ke toilet dulu " Pamit Syifa pada Maliq.Dia merasa canggung dengan suasana di tempatnya duduk sekarang.Dia merasa aura yang dikeluarkan oleh Maliq membuatnya menjadi tidak nyaman.
Maliq melirik dan mengangguk ke arah Syifa lalu menatap punggung mungil itu yang semakin menjauh dari tempatnya.
" Eekhemm...Qenan..!! mana nomor rekeningmu " Tiba tiba suara bariton Maliq memecah kesunyian setelah beberapa saat kepergian Syifa.
" Aku akan mengganti biaya yang kau keluarkan untuk pengobatan Syifa " Jelasnya lagi to the point.
" Aah..tidak perlu diganti.Aku ikhlas.Syifa temanku,sudah sepantasnya aku menolongnya " Ujar Qenan lalu mentap Maliq dengan tatapan persahabatan.
" Tapi aku yang tidak ikhlas menerima bantuan orang asing pada istriku.Dia tanggung jawabku dan aku tidak semiskin itu harus melimpahkan tanggung jawabku pada orang lain " Sarkas Maliq sambil menatap tajam ke arah Qenan.
Qenan tersentak mendengar ucapan Maliq.Hatinya teriris perih." Yah..aku memang orang asing yang mencintai istri orang " Batin Qenan.
" Sorry,bro.Bila hal itu membuatmu tersinggung.Sungguh aku tidak bermaksud merendahkanmu " Ucap Qenan dengan nada sesal.
" Ya..sudah mana nomor rekeningmu !! " Sentak Maliq.
Qenan menghela nafasnya berat lalu mengeja nomor rekeningnya pada Maliq.
" Ting " Bunyi notifikasi berdering di ponsel Qenan.
" Aku sudah transfer lewat aplikasi " Kata Maliq datar.
" Ok.Bro !! sepertinya aku sudah ditunggu klienku.Aku ingin menemuinya.Salam buat Syifa " Ujar Qenan sambil berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Qenan hanya mengangguk kaku tanpa menanggapi Qenan yang sudah beranjak dari tempatnya.
" Tak akan kubiarkan kau mendekati Syifa !!" Gumam Maliq sambil menatap tajam punggung Qenan yang menjauh.