
Maliq melangkahkan kakinya ke arah ruang tamu.Niatnya dari dalam kamar tadi sebenarnya Dia mau mandi.Tapi mendengar percakapan Syifa dengan Mamah dan Kakaknya akhirnya Maliq memutuskan menundanya dulu.
Maliq menghempaskan badannya di sofa di ruang tamu.Diedarkannya padangannya di setiap sudut ruang tamu.
"Benar-benar sederhana".Batin Maliq
"Andai Aku membelikan perabot yang baru untuk keluarga Syifa,apa mereka tidak tersinggung??"Gumam Maliq sambil memandangi setiap sudut ruangan.
Maliq memang Pria keras kepala,egois,dan sedikit angkuh tapi sebenarnya Dia mempunyai jiwa sosial yang tinggi.Teman-temannya sangat senang berteman dengannya karena setiap temannya menghadapi kesulitan,dengan tanpa pamrih Maliq akan membantunya.
***
Dari arah pintu pagar,Maliq melihat mertua laki-lakinya bersama Seorang Pria sedang berjalan masuk halaman rumah.Sepertinya mereka baru pulang dari Masjid melaksanakan sholat Subuh.
"Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh"...Ucap Papah Syifa bersama pria tersebut serentak saat memasuki rumah.
"Walaikum Salam warrahamatullahi Wabarakatuh".Jawab Maliq sambil tersenyum ke arah mertuanya.
Maliq berdiri untuk mencium punggung tangan mertuanya.
"Sholat di rumah tadi Maliq??".Tanya Papah Syifa pada Maliq,sambil mengelus bahu Maliq dengan lembut,lalu menghempaskan tubuhnya di sofa samping tempat Maliq duduk.
__ADS_1
"Ee...iit..itu...Iya,tadi saya sholat di kamar".Jawab Maliq salah tingkah.Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menutupi kebohongannya.
"Matti Aku..terpaksa bohong..hff.!!batin Maliq .
Maliq melirik sekilas ke arah pria yang duduk di samping mertuanya yang sedang menatapnya.
"Maaf ini dengan apanya Syifa yaa...soalnya Aku baru lihat".Tanya Maliq sambil tersenyum ke arah pria itu.Maliq berinisiatif berkenalan duluan untuk mengalihkan pertanyaan mertuanya tadi.
"Saya Irman,suami Nurul,Kakanya Syifa"sahut Irman sambil menyodorkan tangannya ke arah Maliq.
"Oo..iya..maaf soalnya baru kali ini kita ketemu jadi saya nggak kenal".Ujar Maliq menjabat tangan Irman sambil terkekeh.
"Kakak Syifa memang sejak menikah diboyong ke kota kelahirannya Irman.Mereka tinggal di kota M.Makanya baru kali ini kamu bertemu dengan mereka".Ujar Papah Syifa memberi penjelasan.
"Mari sarapan dulu Pah,Maliq,Irman.."seru Mamah Syifa yang tiba-tiba muncul dari dalam.
"Oo..iya,Ayo kita sarapan dulu"Ajak Papah Syifa sambil berdiri mengajak kedua anak mantunya untuk sarapan.
Maliq dan Irmanpun ikut berdiri dan berjalan menuju meja makan.
Di meja makan sudah terhidang sarapan yang disipkan oleh para istri.
__ADS_1
Maliq melirik sekilas ke arah Syifa yang sedang menggedong anak kecil berumur sekitar 9 bulan.Syifa menguyel-nguyel pipi anak kecil itu dengan gemas sambil cekikikan.Dia terlalu asyik bermain dengan anak kecil itu hingga tidak menyadari kehadiran Maliq di situ.
"Kok Aku jadi gemes melihat Syifa begitu,serasa dia yang jadi babynya".Batin Maliq.
"heh...he..."Maliq terkekeh pelan tanpa sadar.
Papah Syifa melirik Maliq yang sedang melihat ke arah Syifa.
"Itu Zahrah anak Nurul dan Irman".Ujar Papah Syifa seolah mengerti dari tatapan Maliq.
"Ee....iya...lucu yaa Pah".Sahut Maliq salah tingkah karena terciduk sedang memperhatikan istri kecilnya.
"Itu babynya umur berapa ??".Sambung Maliq basa basi.
"Sembilan mau masuk sepuluh bulan".Jawab Irman menanggapi pertanyaan Maliq.
Syifa yang merasa sedang diperhatikan tiba-tiba menoleh ke arah meja makan.
"Eeh...kenapa mereka melihat ke arahku??"Syifa membuang pandangannya ke arah lain sambil berdiri lalu berjalan ke arah ruang tamu sambil menggendong Zahrah ponakannya.
"Syifaa...kamu tidak sarapan sama-sama Naak...sini layani suamimu,Zahrah biar mama yang gendong,Biar Mamah yang menyuapi Zahrah"seru Mamah Syifa saat melihat Syifa meninggalkan ruang makan.
__ADS_1
"Iya..mah..."sahut Syifa sambil berjalan ke arah Mamahnya.