
Syifa segera ditindaki ketika tiba di ruang UGD.
" Bawa pasien ke ruang rawat dulu.. !!pembukaannya masih bukaan dua " Titah dokter obgyn setelah memeriksa Syifa.
" Pak..bapak boleh selesaikan administrasi.Istri anda akan kami bawa ke ruang perawatan " Perawat yang menyambut Syifa tadi mendatangi Fandy.
Dejavu.Kembali Fandy disangka suami Syifa.
" Ba baik sus !! " Sahut Fandy dengan suara tergagap.
" Syifa..!! kamu tidak apa aku tinggal nih ?? Tanya Fandy setelah mereka berada di ruang perawatan.
" Iya..Fandy.Pergilah..!! paling sebentar lagi suamiku menyusul ke sini " Sahut Syifa sedikit meringis.
" Nanti tunanganmu mencarimu.Tidak enak saat calon mertuamu kritis, kamu malah tidak mendampinginya " Imbuhnya lagi.
Fandy sudah menceritakan tadi pada Syifa bahwa kedatangannya ke rumah sakit ingin menjenguk calon mertuannya yang sedang kritis di ruang ICU.
" Baiklah Syifa..maaf aku tidak bisa menemanimu di sini " Sesal Fandy.Dia merasa bimbang untuk meninggalkan Syifa sendiri.
" Tidak apa Fandi..pergilah !! " Titah Syifa.
Fandy melangkah keluar dari ruangan Syifa.Ada rasa sedikit tidak rela di hatinya meninggalkan Syifa.Tapi dia merasa canggung juga kalau hanya berdua dengan Syifa dalam ruangan.
" Hhff..semoga suaminya segera datang " Gumam Fandy lalu melanjutkan langkahnya.
Syifa termenung di tempatnya sambil menatap nanar ke arah pintu.
" Bagaimana caraku menghubungi orang rumah, kalau ponselku tidak ada ?? "
" Yaa Allah..mudahkanlah persalinanku.. !! "
Satu jam kemudian..dokter datang memeriksa Syifa dan ternyata pembukaannya sudah lengkap.
" Ibu..!! pembukaannya sudah lengkap..kita segera ke ruang bersalin.Kemana suami ibu tadi ?? " Tanya dokter berhijab itu merasa heran melihat Syifa hanya sendiri.
" Lagi keluar dok..biar tidak usah menunggunya..saya sudah tidak tahan lagi " Syifa meringis menahan sakit.Dia tidak punya kekuatan untuk sekedar menjelaskan pada dokter tentang siapa Fandy sebenarnya.
__ADS_1
" Baiklah..!! Sus, bawa pasien ke ruang bersalin "
" Baik dok !! "
Allah memang maha adil dan memudahkan semuanya.Di saat Syifa melahirkan tanpa suami ataupun sanak saudara.Allah memudahkan persalinan Syifa.Tidak sampai setengah jam, bayi laki laki nan tampan telah lahir tanpa kesulitan berarti.Syifa melahirkan bayinya hanya tiga kali mengejan.
Tangis bayi merah itu semakin membuat perasaan Syifa bercampur aduk.Di sisi lain, dia sangat bahagia dengan kehadiran buah hatinya.Tapi di sisi lain, dia sangat sedih harus melahirkan tanpa di dampingi oleh siapapun orang terdekatnya.Syifa merasa seperti wanita yang hamil tanpa suami.
Syifa menatap kosong setiap sudut ruang rawatnya. " Astaghfirullah...ampuni aku Ya Allah...selalu mengeluh dan selalu lupa bersyukur atas nikmatMu.Sungguh aku manusia yang kufur nikmat "
" Bu...ini bayinya boleh dikenalkan pada ASI.Kita melakukan IMD dulu, biar bayinya mudah dalam proses menyusu " Perawat datang dengan menggendong bayi Syifa yang telah dibersihkan.
Syifa menoleh ke arah perawat dan menjatuhkan pandangannya pada bayinya yang ada dalam gendongan perawat.
" Baiklah sus !! " ujar Syifa sendu seraya mengulurkan tangannya menyambut bayinya seraya bangkit mengambil posisi duduk.
Untuk ukuran perempuan yang baru saja melalui proses persalinan, Syifa sangatlah segar seolah hanya sakit perut biasa saja.Wajahnya sudah kembali segar tidak sepucat pada saat kesakitan tadi.Tenaganya pun cepat pulih karena terbantukan oleh cairan infus.
Masyaa Allah memang.Syifa baru pertama kali melahirkan dengan usia yang masih muda.Selama masa kehamilan, dia berikhtiar dan memohon kemudahan kepada Allah.Dalam ikhtiarnya, Syifa tidak pernah alpa dalam shalat wajib dan shalat sunah.Karena dia tahu, gerakan gerakan shalatlah yang bisa melatihnya agar bisa mudah dalam proses melahirkan nanti.
Syifa menatap intens setiap bagian wajah bayinya." Wajahmu sangat mirip dengan Abimu, nak..!! Kau Maliq dalam versi bayi " Gumam Syifa seraya mengelus lembut kepala bayinya yang sedang menyusu.
" Sus..!! dedenya sudah tidur..!! ucap Syifa tiba tiba membuyarkan lamunan si perawat.
" Oh..iya bu.Mari dedenya saya letakan dalam boks bayi.Kalau ibu butuh apa apa, ibu bisa tekan tombol di atas kepala ibu " Ujar perawat lembut.Perawat berumur sekitar 35 tahun itu tidak bisa menyembunyikan rasa ibanya pada Syifa.
" Iya sus !! terima kasih !! "
" Mm..sus..anak saya belum di adzankan ?? Tanya Syifa pelan seraya menunduk menatap bayinya yang terlelap di dalam boks.
Perawat tersebut tersentak. " Belum, bu.Kami menunggu kedatangan bapaknya "
" Ya Allah...malang sekali kamu nak...!! sudah sekian jam kamu lahir kedunia, tapi belum ada yang membisikan nama Tuhanmu di telingamu " Batin Syifa menjerit pilu.
" Bu...kalau ibu berkenan, saya bisa minta tolong pada dokter ahli bedah di rumah sakit ini.Beliau sangat taat dengan agamanya.Saya yakin beliau mau mengadzani anak ibu " Ucap Perawat itu hati hati.Dia seperti bisa menebak apa isi hati Syifa yang sebenarnya.
Syifa hanya mengukir senyum pedih. " Iya sus..maaf sudah merepotkan " Ujar Syifa sungkan.
__ADS_1
" Tidak merepotkan, dek..!! saya malah senang membantumu.Jadi jangan sungkan minta tolong padaku " Kata perawat seraya tersenyum lembut.
" Oh..ya..saya boleh panggil kamu adek ?? saya lihat usia kamu seusia adek bungsu saya " Imbuh perawat lagi yang dibalas anggukan dan senyum sumringah dari Syifa.
" Terima kasih kak.. sudah menganggap saya adik " Ujar Syifa terbata bata karena terharu.
Perawat tersebut mengusap lembut kepala Syifa yang tertutup khimar. " Tetap semangat yaa dek..!! pasti ada hikmah dibalik semua peristiwa dan cobaan dari Allah.Dan panggil saja saya Kak Nilam..nama saya Nilam "
Syifa hanya bisa mengangguk dan meneteskan air matanya.
Sesaat kemudian, Nilam pamit kepada Syifa untuk lanjut bekerja lagi.Tinggallah kini Syifa hanya bersama bayi mungilnya di dalam kamar dengan sepi yang menani.
Sementara itu di tempat lain.Keluarga Maliq sedang gelisah menunggu di depan ruang oprasi.
Di sana ada Maliq, Kakek, Kak Dewi, suami kak Dewi dan Ayin.Mereka gelisah menunggu Sandra selesai dioprasi.
Kandungan Sandra mengalami pendarahan dan janinnya harus dikeluarkan secara caesar.
" Drrtt...drtt.." Ponsel Maliq yang sengaja diumpetin Kak Dewi di dalam tasnya tiba tiba bergetar.
Tadi kak Dewi tidak sengaja melihat ponsel Maliq yang ketinggalan di jok mobil bergetar dan membaca pesan dari Syifa.Seketika akal licik Kak Dewi bekerja, dia tidak berniat menyampaikan pesan Syifa pada Maliq.Tapi sebaliknya dia menyembunyikan ponsel itu di dalam tasnya.
Kak Dewi menjauh dari tempat keluarganya berkumpul.Dia ingin melihat siapa yang menelpon Maliq.
" Pasti perempuan kampung itu lagi..!! Gerutu Kak Dewi seraya melihat layar ponsel.
" Bu Ati ?! ngapain dia telpon ?? "
" Ya..hallo !! ada apa Bu Ati ?? "
" Eeh..maaf, pak Maliq di mana ?? "
" Maliq lagi sibuk mengurus Sandra !! memangnya ada apa ?? " Ketus Kak Dewi.
" Iit..itu Non.Nak Syifa tidak ada di rumah.Pas saya sampai di rumah tadi Nak Syifa tidak ada " Panik Suara Bu Ati mengabarkan Syifa.
" Elleh..paling dia kabur lagi dengan kekasih gelapnya.Sudah jangan ganggu lagi Maliq..dia lagi stress memikirkan Sandra " Ujar Kak Dewi ketus lalu memutuskan panggilan sepihak.
__ADS_1
" Ha..haa..haa..Syifa !! kau akan mendapat kejutan saat kau pulang ke rumah nanti " Batin Kak Dewi sambil tersenyum licik.