
Maliq menatap nanar deretan beberapa mobil mewah di depan rumah Syifa.Diturunkannya kaca mobil dengan sempurna agar bisa leluasa melihat ke arah rumah Syifa. Baru siang tadi dia kembali dari kotanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang mendesak. Sesuai janjinya pada Syifa, bahwa dia hanya pergi seminggu lamanya. Dan siang ini dia baru sampai di pulau K.
" Ada acara apa di rumah Syifa ?? Kenapa banyak sekali mobil terparkir di depan rumahnya ?? " Maliq bergumam seraya menepikan mobilnya tidak jauh dari mobil yang berderet rapi di depan rumah istrinya itu.
Maliq keluar dari mobilnya lalu menatap intens ke halaman rumah Syifa. Dia melihat ada beberapa meja tertata rapi dengan aneka macam makanan di atasnya dan ada sekitar lima puluhan orang sedang menikmati hidangan. " Sepertinya acaranya berkonsep out door " Desis Maliq dengan dada berdebar kencang. Entah apa yang terlintas di benaknya sehingga membuatnya jadi panik.
" Maaf bu !! Ini lagi ada acara apa di rumah Bu Syifa, yaa ??" Tanya Maliq pada seorang wanita paruh baya yang sepertinya menenteng kantong sampah, baru keluar dari halaman rumah tetangga Syifa.
" Ooh..itu ada acaran lamaran, pak !! " Jawab wanita itu.
" Deg..!! "
" Lamaran ?? " Beo Maliq. Wajahnya pucat pasi. Seketika tungkainya melemah.
" Ya Allah.. Syifa di lamar ?? " Gumamnya gelisah.
" Siapa yang di lamar, bu ?? Eeh ...kemana si Ibu ?? " Maliq ingin bertanya kembali tapi si ibu sudah menghilang dari hadapannya. Maliq tidak sadar si ibu sudah pergi.
" Hff.. Ini tidak boleh terjadi. Syifa masih sah menjadi istriku. Aku harus mencegahnya. Apapun yang terjadi, aku harus membatalkan lamaran ini " Geram Maliq lalu melangkahkan kakinya dengan terburu buru menuju rumah Syifa.
Maliq mengedarkan pandangannya menatap orang orang yang berada di sekitar halaman Syifa. Orang orang asing di mata Maliq itu tidak perduli dengan kehadiran Maliq.Mereka tetap melanjutkan obrolan mereka satu sama lain.
Maliq menelisik penampilan tamu Syifa itu. " Sepertinya mereka itu bukan orang biasa " Batin Maliq saat melihat penampilan elit dari mereka.
Dengan langkah lebar melanjutkan langkahnya. Dia ingin mencari Syifa di dalam rumah. Apapun, dia ingin mengingatkan Syifa bahwa dia masih sah menjadi istri dari seorang Maliq Ahdan.
" Nak Maliq !! " Suara berat bernada terkejut tiba tiba menyapa Maliq.
" Papah !! " seru Maliq dengan raut lebih terkejut.
" Apa ini artinya memang Syifa yang akan dilamar ?? Lihatlah orang tua Syifa ada di sini " Batin Maliq menjerit.
Maliq mendekat ke arah Papah Syifa dan mencium takzim tangan mertuanya itu dan disambut dengan usapan lembut di bahu dari mertuanya.
" Kenapa Nak Maliq ada di sini ?? " Pertanyaan ambigu dari mertuanya itu berhasil membuatnya emosi. Maliq merasa mertuanya sangat tidak menginginkan kehadirannya di sini.Seketika tangan terkepal erat.
" Sabar Maliq..sabar..!! Kau tidak boleh emosi. Kau harus merebut kembali hati Syifa dan mertuamu " Batin Maliq menenangkan dirinya sendiri.
" Pah...saya mohon, jangan nikahkan Syifa dengan orang lain. Syifa itu masih sah menjadi istriku.Saya tidak pernah menceraikan Syifa dan tidak akan pernah walau apapun terjadi " Celetuk Maliq tiba tiba dengan wajah memelas.
Laki laki paruh baya di depan Maliq tersebut langsung mengerutkan keningnya dan menatap penuh tanya ke arah Maliq.
" Maksudmu apa Nak ?? " Tanya Papah Syifa dengan nada heran.
" Saya tidak rela kalau Syifa menerima lamaran laki laki lain. Mungkin memang saya telah berbuat kesalahan fatal pada Syifa. Tapi, saya mohon beri kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya " Tegas Maliq dengan nada frustasi.
" Ada apa Pah ?? " Suara seseorang menginterupsi.
" Nak Maliq ?? " Suara itu terkejut.
Maliq menatap wanita paruh baya yang mendekat ke arahnya.
" Assalamualaikum Mah !! " Suara Maliq semakin lemah. Dia semakin yakin, Syifa yang sedang dilamar.
Dia meraih tangan mertua perempuannya dan mencium takzim.
" Kapan datang, nak " Tanya Mamah Syifa.
" Baru saja, Mah "
" Ayo makan dulu, nak..kebetulan acaranya baru saja selesai. Tinggal makan bersama saja "
" Deg "
" Sudah selesai ?? Artinya acara lamarannya sudah selesai ?? " Maliq membatin. Hatinya semakin nelangsa.
" Pah..ayo kita temui dulu keluarga Nak Aslan !! " Ajak Mamah Syifa pada Papahnya.
__ADS_1
Maliq tersentak. " Mah..saya mohon batalkan lamaran ini. Syifa masih istri sah saya " Suara Maliq menghiba mencegah Mertuanya yang hendak beranjak. Ditangkupnya kedua tangan di depan dadanya.
" Eeh...maksudnya ?? " Mamah Syifa melongo lalu melirik ke arah papah Syifa yang dijawab dengan gedikan bahu.
Tiba tiba Syifa dan Nurul datang dari arah dapur.
" Mah, Pah !! Katanya mau ketemu dengan Pak Aslan. Kenapa masih di sini ?? " Tanya Syifa pada kedua orang tuanya dengan tampang cuek ditujukan pada Maliq.
" Dek !! Batalkan lamaran ini !! " Seru Maliq dengan dengan suara yang lemah. Wajahnya benar benar terlihat sangat miris.
Syifa menatap Maliq dengan tatapan tajam sambil menaikan sebelah alisnya.
" Tidak bisa !! Memangnya siapa kamu mau main batalkan lamaran orang ?? " Sarkas Syifa dengan wajah sinis.Spontan dia ingin mengerjai suaminya itu.
" Tapi kamu masih istriku dek !! " Ujar Maliq dengan frustasi. Diusapnya wajahnya dengan kasar.
" eeh..hihi..hii.." Tiba tiba Nurul terkikik geli mendengar ucapan Maliq.
" Nak Maliq !! Tidak ada yang mau melamar Syifa. Yang dilamar itu Fatimah, bundanya Zian " Celetuk Mamah Syifa merasa kasihan melihat Maliq yang terlihat menyedihkan.
" Ckk..Mamah !! " Gerutu Syifa. Dia masih ingin ngerjain Maliq tapi keburu diungkapkan kebenaran oleh Mamahnya.
" Haa ?? Fatimah ?? " Beo Maliq sambil melongo. Sontak wajahnya merah padam, dia merasa malu dengan tingkahnya.
" Astagaaa..benar benar memalukan. Ternyata aku salah sangka " Jerit batin Maliq. Sebenarnya dia sangat senang bahwa bukan Syifa yang dilamar. Tapi di sisi lain dia sangat malu pada kedua mertuanya.
" Iya..Yang dilamar itu Nak Fatimah. Dia dilamar oleh pak Aslan. Karena Fatimah tidak punya keluarga, jadi kamilah yang menerima lamarannya " Tutur Mamah memperjelas pada Maliq.
" Yah..sudah kami ke depan dulu nak. Mau menemui keluarga Pak Aslan " Papah Syifa menepuk pundak Maliq pelan lalu beranjak dari sana dengan diikuti oleh Mamah Syifa.
" Ii iya Mah, Pah " Desis Maliq hampir tidak terdengar. Jujur dia sangat malu dengan tindakannya tadi. Ingin rasanya dia memasukan wajahnya ke dalam panci, agar tidak terlihat lagi.
" Dek..urus tuh suamimu yang lagi salting ..hihi !! " Bisik Nurul sambil cekikikan tapi masih dapat didengar oleh Maliq.
Maliq tertunduk salah tingkah sampai Nurul pergi meninggalkannya dengan Syifa.
" Ckk...kebiasaan dari dulu tidak pernah berubah. Paling cepat menyimpulkan sesuatu tanpa mengecek kebenarannya dulu. Jadinya malu sendiri kan !! " Gerutu Syifa sambil membalikan badannya masuk ke dapur.
" Dek ! "
" Dek ! "
Pekik Maliq mengejar Syifa sampai ke dapur.
Langkah Maliq terhenti ketika melihat seseorang tidak asing sedang duduk manis di meja makan sambil memainkan ponselnya. Dan ada dua orang paruh baya laki laki dan perempuan.
" Qennan !! " Gumam Maliq sambil mengenyitkan keningnya.
Laki laki yang disebut namanya itu sontak menoleh ke arah Maliq.
" Hai..!! Bro..apa kabar ?? " Seru Qennan sambil berdiri menyambut Maliq.
Qennan mengulurkan tangannya bersalaman dengan Maliq.
Maliq menyambutnya dengan dingin. " What are you doing here ?? "
Qennan mengerutkan keningnya. " Aku ?? Aku sedang menemani calon istriku di sini " Sahut Qennan santai dengan bahasa Indonesia yang lancar.
" Aah..kenalkan ini Daddy sama Mommyku " Imbuh Qenan lagi memperkenalkan dua orang paruh baya dengannya tadi.
Atensi Maliq beralih lalu menyambut uluran tangan kedua paruh baya tersebut.
" Astaagaa apa lagi ini Ya Allah.Kenapa ini bule kesasar sampai di sini pake bawa orang tuanya. Trus apa katanya tadi ?? Dia menemani calon istrinya ?? Kalau ini pasti benar, dia kan tergila gila pada Syifa.Aahh..Zian !! Aku harus menemui Zian untuk mencegah Qennan menikahi Syifa " Batin Maliq. Dia termenung di tempatnya.
" Bro !! Ada apa ?? " Seru Qenan melihat Maliq termenung dengan raut yang tidak bisa diartikan.
" Aa..iya. Saya permisi menemui anakku dulu " Ujar Maliq tidak menanggapi Qenan lalu beranjak mencari Zian.
__ADS_1
" Aku harus jujur pada anakku " Gumam Maliq.
***
" Ada apa Om ?? Om mau bicara apa ?? " Tanya Zian pada Maliq. Saat ini mereka sedang duduk di gazebo belakang rumah.
" Mm...Zian-" Maliq menjeda ucapannya.
Zian mengerutkan keningnya lalu memiringkan badannya menghadap Maliq.
Maliq menatap dalam dalam netra yang sangat mirip dengan netranya itu.
" Andai..Abinya Zian datang terus ingin bersama Zian dan Umi. Apa Zian akan menerimanya ?? " Tanya Maliq hati hati dengan suara tergagap.
Zian balik menatap netra sang ayah. Entah riak apa yang ada di kedalaman netra bocah kecil itu. Maliq tidak dapat menyelami.
" Andai hal itu membuat Umi bahagia. Zian pasti akan ikut bahagia. Tapi bila dia datang hanya membuat Umiku menangis lagi, Zian tidak akan mengijinkannya mendekati Umi " Tutur Zian datar setelah sesaat dia diam.
Maliq menelan salivanya dengan susah payah.
" Apa Zian tidak marah padanya ?? " Tanya Maliq lagi.
Zian tersenyum misterius.
" Untuk apa Zian marah ?? Dengan alasan apa ?? " Ucap Zian skeptis.
" Aaa...mungkin mungkin..mmm Zian benci karena dia tidak ada di sisi Zian selama ini " Zian semakin tergagap. Tatapan Zian seolah semakin mengintimidasinya.
" Astagaa..kenapa aku takut dengan sorot mata anakku !! " Jerit batin Maliq gusar.
" Haa.hhaa..Om ini ada ada saja. Zian tidak mau repot memikirkan masalah orang dewasa. Jika dia mau datang untuk apa Zian susah susah menanyakan alasannya kenapa baru datang. "
" Terlalu ribet persoalan orang tua, Om !! Tidak terjangkau oleh otak kecil Zian " Zian terbahak menjawab pertanyaan Maliq. Maliq yang mendengar tawa itu seolah dia mendengar Zian sedang menertawakannya.
Maliq terkesiap. Entah mengapa dia merasa anaknya menyimpan sesuatu.
" Zian..!! Om mau jujur " Ucap Maliq tiba tiba setelah beberapa saat hening.
" Mau jujur apa, Om ?? " Tukas Zian
" Sse sebenarnya Om ini adalah - "
" Mm ?? " Zian menanti kelanjutan kalimat Maliq dengan tatapan membuat degup jantung Maliq semakin kencang.
" Om ini adalah Abinya Zian..." Gumam Maliq setelah bisa menetralkan degup jantungnya.
Zian diam. Tak ada raut terkejut di wajah tampan itu.
" Ooh.. " Zian ber- Oh ria.
" Haa...hanya bilang ooh ?? " Maliq melongo.
Zian mengangkat sebelah keningnya.
" Zian tidak terkejut ?? " Tanya Maliq pada Zian. Dia heran melihat reaksi Zian. Dia membayangkan tadi Zian akan histeris.
" Tidak !! " Jawab Zian tegas.
" Kenapa ?? " Tanya Maliq ambigu.
" Karena Zian sudah tahu " Jawab Zian santai dengan wajah datar.
Maliq semakin melongo melihat sikap anaknya lalu beringsut semakin mendekat ke arah anaknya. " Dari kapan Nak ?? "
" Dari sebelum Om kenal Zian " Ucap Zian lalu melompat dari gazebo lalu melangkah meninggalkan Maliq yang masih terpaku dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celana.
Satu kata 'cool' itu gaya Zian.
__ADS_1