
" Selamat ya, pak. Istri anda hamil dua minggu " Ucap dokter cantik sambil tersenyum ke arah Maliq dan Syifa.
Sesuai anjuran dokter Rose. Maliq membawa Syifa ke dokter obgyn.
" Alhamdulillah...terima kasih Ya Allah !! " Gumam Maliq sambil mengusap kedua telapak tangannya ke wajah. Ditatapnya Syifa dengan tatapan penuh dengan kebahagiaan.
" Zian sekarang akan jadi kakak, nak " Ujar Maliq sambil meraih tubuh Zian yang berada di sampingnya dan membawanya ke dalam pelukan.
Zian tersenyum sumringah ke arah Uminya dan mengurai pelan pelukan Maliq.
" Mi..Zian mau jadi kakak ?? " Ucap Zian lalu memeluk Syifa dengan bahagia.
" Insyaa Allah, nak !! " Ujar Syifa pelan lalu mengelus kepala putranya dengan lembut.
" Alhamdulillah ya Allah...akhirnya Zian punya adek " Gumam Zian lirih dengan wajah sumringah.
" Tapi karena tekanan darah Ibu Syifa sangat rendah, jadi Ibu rawat nginap dulu semalam. Insyaa Allah kalau keadaan sudah membaik, besok Ibu boleh pulang " Ucap dokter cantik berjilbab dusty pink itu dengan ramah. Dia ikut merasakan kebahagian keluarga kecil di depannya itu.
" Ooh. Iya dok " Tukas Maliq lalu menggenggam tangan Syifa yang masih duduk di kursi roda.
" Baiklah, nanti resepnya saya titip lewat perawat. Bapak silahkan urus administrasinya dulu " Ujar dokter itu.
" Terima kasih dok. Ayo dek, kita ke ruang perawatan "
***
" Nanti kalau sudah ada dedeknya, Zian ada temannya. Dan Umi nggak bakal kesepian kalau Zian sudah pergi " Gumam Zian sambil menatap kedua orang tuanya yang terlihat begitu bahagia. Sekilas matanya nampak berkaca kaca.
Maliq sedang menyuapi Syifa yang terbaring di bed rumah sakit.
" Dek..dihabisin buburnya. Biar kamu cepat pulih " Bujuk Maliq sambil menyodorkan sendok bubur ke mulut Syifa.
Syifa menggeleng pelan sambil membekap mulutnya.
" Bao kak..bobournya bao amis " Ucap Syifa dengan suara tidak jelas karena mulut dan hidung dibekapnya.
" Trus kamu mau makan apa ?? Biar kakak cari " Ujar Maliq lembut.
Lagi. Syifa menggeleng. " Aku tidak mau apa apa. Aku cuma mau peluk Zian. Sini nak !! Umi mau peluk Zian. Umi rindu !! " Syifa melambaikan tangannya pada putranya yang sedang duduk di sofa, isyarat untuk mendekat. Syifa merasa ada sesuatu dari sorot mata sendu Zian. Dia takut, Zian merasa diabaikan karena kehamilannya. Sebisa mungkin dia akan menyingkirkan perasaan itu dari fikiran anaknya.
" Ya Allah..jangan sampe Zian iri dengan kehadiran adiknya. " Batin Syifa bermohon.
Maliq memutar badannya. " Zian !! Sini nak. Umi pengen peluk kamu " Seru Maliq menuruti permintaan Syifa.
Zian tersenyum sekilas lalu beranjak menuju ranjang Uminya.
__ADS_1
" Zian sudah besar, Mi. Sebentar lagi punya adek. Malu kalau dipeluk peluk sama Umi " Tukas Zian sambil tersenyum malu malu.
" Tidak !! Bagi Umi, mau sebesar apa Zian. Zian tetaplah anak kecilnya Umi. Jadi sini peluk Umi dulu " Tukas Syifa sambil merangkul tubuh bocah kesayangannya itu dan mengajaknya naik ke atas ranjang.
Zian naik ke atas ranjang dan memeluk tubuh Uminya dengan erat. Tanpa Maliq dan Syifa sadari, setetes cairan bening meluncur tanpa permisi dari netra bening milik sang anak.
" Bahagialah selalu, Umiku sayang. Zian senang, Umi sudah sering tersenyum bahagia " Batin Zian sambil menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Syifa.
Maliq tersenyum bahagia melihat anak istrinya saling berpelukan bahagia. Dia beringsut mendekat juga.
" Abi tidak dipeluk juga ?? " Rajuk Maliq dengan wajah dibuat cemberut.
Zian terkekeh. " Boleh Om..sini pelukan sama Umi " Ujar Zian sambil mengurai pelukan Syifa. Secara tidak langsung, dia menolak berpelukan dengan Maliq.
Maliq tahu sikap Zian tapi dia tetap meraih tubuh Syifa dan anaknya. Dia memeluk keduanya dalam dekapan yang sangat erat. Sungguh rasa ini sudah lama tidak pernah dia rasakan. Kebahagiaan yang didambakan sudah dari enam tahun lalu. Suatu rasa yang hanya bisa dia bayangkan dalam mimpinya.
" Tetaplah bersama Abi sampai akhir hayat, Abi. Tegur Abi bila khilaf. Jangan pernah lagi meninggalkan Abi sendiri " Gumam Maliq entah untuk siapa. Yang pasti Syifa dan Zian sangat jelas mendengar gumaman itu.
Syifa mengelus lembut punggung Maliq. " Tetaplah jadi imam yang baik untukku dan anak anak " Bisik Syifa di telinga Maliq.
Maliq terkesiap mendengar bisikan Syifa. Ada perasaan bahagia yang tidak bisa dia deskripsikan. Dia berjanji dalam hati, dia tidak akan lagi mengecewakan istrinya itu.
" Aakhh..hufff..sesak !! " Seru Zian tiba tiba sambil mengurai pelukan kedua orang tuanya. Posisinya yang berada di antara Maliq dan Syifa membuatnya menjadi sesak.
" Haa...maaf nak.. Zian sesak ?? " Ujar Maliq panik sambil menangkup wajah putranya.
Lagi. Zian seperti menghindari sentuhan Maliq.
" Zian cari musholah dulu, kayanya sudah mau sholat Isya " Ujarnya saat sudah berdiri di samping ranjang Syifa.
" Eeh...sholat di sini saja nak. Kita sholat berjamaah di sini " Tukas Maliq menahan langkah Zian.
" Sekuat apapun Zian menghindari Abi, sebesar itu juga Abi akan mendekati Zian " Ucap Maliq kemudian tapi hanya di dalam hati.
" Kalau kita keluar, tidak ada yang jagain Umi " Imbuhnya lagi.
" Iya, nak. Biar Umi juga sholat berjamaah dengan Zian dan Abi " Ujar Syifa lembut menimpali ucapan Maliq.
" Ooh..oke, Mi. Zian berwudhu dulu " Kata Zian sambil masuk ke dalam kamar mandi.
" kalau mau wudhu, nanti kakak gendong " Ujar Maliq sambil menatap Syifa.
" Nggak usah, kak !! aku bisa sendiri " Syifa tersenyum ke arah Maliq menolak tawaran suaminya itu.
***
__ADS_1
" Tok "
" Tok "
" Assalamualaikum " Suara ketukan seiring dengan suara orang memberi salam dari balik pintu ruang rawat Syifa.
Gegas Maliq berdiri lalu membuka pintu.
" Ceklek "
" Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh " Sambut Maliq ketika melihat siapa yang datang.
" Fatimah , Pak Aslan !! " Seru Maliq.
" Silahkan masuk "
Sore tadi Syifa menelpon Fatimah memberi kabar kehamilannya setelah dia sudah ditempatkan di ruang perawatan.
Fatimah dan Aslan masuk setelah sebelumnya, mereka bersalaman dengan Maliq.
" Kak Fatimah !! " Ucap Syifa dengan wajah sumringah dari tempat tidurnya. Dia sedang dalam posisi duduk di atas ranjangnya.
Fatimah meletakan sebuah paper bag di atas nakas lalu berjalan mendekati Syifa.
" Selamat yaa, dek..kakak sangat bahagia mendengar berita ini " Ucap Fatimah tulus lalu mengecup pucuk kepala Syifa dengan penuh kasih sayang.
" Terima kasih kak !! " Tukas Syifa sambil tersenyum.
" Selamat Bu Syifa !! " Seru Aslan pada Syifa dari sofa tempatnya dia duduk dengan Maliq.
" Terima kasih, Pak !! " Kata Syifa sambil mengangguk pada Aslan.
" Mana anak bunda ?? " Fatimah mengedarkan pandangannya mencari Zian sampai tatapannya berhenti pada sosok tubuh yang sedang tertidur dengan pulas di atas ranjang khusus penunggu pasien
Kamar inap Syifa adalah kamar suite room, sehingga fasilitas yang disediakan sangat lengkap dengan tempat tidur untuk penunggu pasien.
Fatimah mendekat pada Zian yang sudah pulas berlayar dalam mimpinya.
" Apa dia sudah makan ?? " Tanya Fatimah seraya menatap Zian dengan intens. Dielusnya dengan lembut kepala anak yang diasuhnya dari bayi tersebut.
" Sudah, Kak. Abinya tadi beli makanan di restoran di depan rumah sakit " Jawab Syifa.
" Padahal kakak sudah memasak makanan kesukaannya dan makanan kesukaanmu juga tadi " Ujar Fatimah dengan tatapan mengarah ke arah paperbag di atas nakas.
" Masyaa Allah...terima kasih, kak. Kebetulan aku belum makan. Aku tidak suka makanan rumah sakit " Pekik Syifa sumringah. Jujur dari tadi dia memang membayangkan masakan dari kakak angkatnya itu.
__ADS_1
Fatimah terkekeh. " Ya sudah, sini kakak suapin " Ucap Fatimah lalu meraih paperbag yang dibawanya tadi.