
" Jangan dekat dekat !! Sana duduk dekat Mommy-mu " Sentak Zian pada Valen yang duduk mepet dengan dirinya.
Mereka duduk di sofa restoran.
Saat ini mereka sudah berada di restoran. Gladis memilih masuk ke dalam private room agar lebih leluasa temu kangen dengan sahabatnya yang sudah sekian lama tidak berjumpa.
" Zian...Dede Valennya mau dekat sama Kakaknya. Nggak boleh gitu, sayang " Tegur Syifa lembut ke anaknya.
" Iya, Mi. Tapi dia mepet ke Zian. Zian sesak " Gumam Zian lirih.Hatinya benar benar kesal pada gadis kecil di sampingnya itu.
Gladis tersenyum geli melihat tingkah centil anak gadisnya. Dia tidak merasa tersinggung dengan sikap Zian pada anaknya. Dia sangat tahu anaknya itu rada rada centil kalau lihat anak laki laki tampan.
" Bunny !! Geseran dikit, sayang !! Kakak Zian sesak tuh.." Ujar Gladis sambil terkekeh lucu.
" Maaf..ya Zian. Anak tante memang senang kalau ketemu teman yang tampan dan imut kaya Zian " Ucap Gladis seraya mengerling jenaka ke arah Zian.
Zian menatap Gladis dengan raut frustasi. Dia ingin marah pada Valen, tapi dia tidak enak hati pada sahabat Uminya.
" Ok. Mom..!! Nih Valen sudah geseran " Ucap gadis pipi bakpao itu seraya beringusut membuat jarak lima senti dari Zian.
Syifa dan Gladis terkekeh pelan melihat jarak yang dibuat Valen.
" Sudah berjarak yaa, sayang ?? " Tanya Syifa tersenyum ke arah Valen. Dia bermaksud menggoda anaknya yang menekuk wajahnya karena kesal. Bibirnya cemberut seraya menatap tajam ke arah gadis kecil di sampingnya
" Iya Onty..nih valen sudah jauh jauh dari Kakak " Tukas Valen sambil tersenyum lebar ke arah Zian. Wajah polosnya terlihat tanpa dosa.
Gladis terbahak. " Membuat jarak lima senti " Seru Gladis sambil menepuk jidatnya pelan.
" Dia benar benar mirip dirimu, Gladis !! Genit " Ujar Syifa seraya terkekeh pelan.
Gladis semakin terbahak. " Itu tandanya dia memang anak Mommy-nya ..ha..ha.ha !! "
Syifa menggeleng pelan.
" Zian...Valen itu adek Zian juga kaya adek Farah. Jadi adeknya di sayang, dijaga, dilembutin, bukan dijutekin. Hmm.. !! " Ujar Syifa lembut seraya mengelus pelan kepala anaknya.
" Adek Zian cuma dede Farah. Tidak ada yang lain. " Ketus Zian dengan wajah cemberut. Pipinya gembung menahan kesal.
Farah adalah anak Fandy dan Tasya. Selama ini mereka intens berhubungan bahkan pasangan suami istri itu sering mengunjungi Syifa di kota ini. Itulah sebabnya Zian sangat dekat dengan anak Fandy yang berumur tiga tahun lebih ini.
Zian sangat menyayangi anak Fandy. Dia sangat posesif pada anak sahabat ibunya itu. Tidak boleh ada orang lain bermain dengan bocah kecil itu apalagi cium cium. Kata Zian, Farah hanya boleh bermain dengannya.
" Ckk..Zian kok gitu sih, sayang ?! " Keluh Syifa dengan wajah dibuat merajuk.
" Maaf Umi..tapi Zian tidak mau punya adek yang lain, selain adek Farah " Lirih suara Zian. Dia takut Uminya marah.
" Syifa !! " Seru Gladis pelan sambil menggelengkan kepalanya. Dia memberi isyarat untuk tidak mendesak Zian.
" Mm...baiklah kalau Zian tidak mau anggap adek Valen sebagai adeknya, Zian bolehkan jadikan Valen sebagai teman Zian ?? " Ucap Gladis dengan lembut.
Zian mendongak menatap Gladis. " Boleh tante. Tapi nggak boleh dekat dekat. Nanti Allah marah " Tegas Zian seraya beringsut semakin jauh dari Valen.
Gladis terkekeh. " Ok boy..nanti Valen nggak boleh dekat dekat Zian lagi asal berteman. Begitukan ?? " Seru Gladis sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Syifa.
" Bunny..!! Sekarang sudah temanan sama kakak Zian. Tapi kata kakak, Valen tidak boleh dekat dekat " Ujar Gladis membujuk anak gadisnya.
" Ok Mommy " Sahut Valen sendu seraya menundukan kepalanya lalu berjalan ke arah Gladis.
" Sorry " Ucap bibir Syifa tanpa suara pada Gladis.
" It's ok " Jawab Gladis tanpa suara juga lalu dua sahabat itu terkekeh pelan.
" Tapi, bolehkah Valen panggil aunty Syifa seperti kakak Zian memanggil aunty ?? " Celetuk Valen tiba tiba sambil menatap Syifa dengan puppy eyes-nya.
" Boleh dong, sayang !! Valen bisa panggil aunty, Umi Syifa " Seru Syifa seraya tersenyum lembut ke arah Valen dan bertepatan dengan pelayan datang menyajikan pesanan mereka.
__ADS_1
" Syifa !! Kamu belum cerita, kenapa waktu itu- " Ucapan Gladis tepotong dengan gelengan kepala Syifa dan isyarat telunjuknya menyilang di bibir Syifa.
Syifa mengerling ke arah Zian. Dia memberi kode pada Gladis untuk tidak membicarakan masa lalu dulu selagi Zian ada di antara mereka.
Gladis terdiam dan mengerti dengan isyarat Syifa.
" Ok "
" Umi..Sudah waktu dzuhur. Kita cari musholah buat sholat, Umi !! " Celetuk Zian tiba tiba sambil melirik jam tangannya berwarna hitam. Dia sudah menyelesaikan makan siangnya.
" Umi lagi nggak boleh sholat, sayang. Zian cari musholahnya sendiri ya !! "
" Ok. Mi.. Zian pergi ke musholah dulu. Assalamu alaikum " Pamit Zian pada Syifa lalu mengangguk hormat pada Gladis. Dia sudah mengerti kalau Syifa belum bisa sholat artinya Syifa sedang datang bulan. Sejak dini Syifa sudah memberi pengertian pada putranya itu, bahwa ada waktunya perempuan tidak bisa sholat dan puasa.
Dan Syifa juga sudah mengajarkan pada anaknya untuk mandiri dan berani. Sejak Zian masuk sekolah SD, dia sudah terbiasa pergi ke mesjid komplek sendiri atau pergi mengaji sendiri.Dan pergi latihan karate juga dia pergi sendiri. Kebetulan GOR tempat Zian latihan karate cuma berjarak 500 meter dari rumahnya. Sebagai anak yang cerdas dan pemberani, Zian sudah dapat melakukan itu semua. Pun jika mereka datang ke mall, dia bisa mencari musholah sendiri untuk sholat.
Dia sudah diajarkan bagaimana untuk berani bertanya dan waspada pada bahaya sekitarnya.
" Plend..itu Zian pergi sendiri ?? " Tanya Gladis khawatir.
Syifa mengangguk. " Iya..dia sudah biasa "
" Ooh.. "
" Mommy !! Kakak ke mana ?? Valen mau ikut !! " Celetuk Valen tiba tiba ketika melihat Zian pergi dari tempat mereka.
" Kakak sholat, bunny !! Nggak boleh ikut !! " Jawab Gladis.
" Ooh..sholat ?? Yang kaya Suster Dini yaa ?? " Kata Valen seraya menatap Mommynya dengan wajah menggemaskan.
" Iyaa..kaya sus Dini " Gladis mengangguk seraya tersenyum.
" Suster Dini adalah pengasuh Valen sejak bayi. Suster Dini beragama islam " tutur Gladis pada Syifa.
Syifa hanya mengaguk menanggapi lalu tersenyum ke arah Valen.
Syifa melirik ke arah Valen.
" ngak apa. Nanti dia aku kasih hp. Dia kalau sudah main hp, dia akan lupa sekitarnya " Ujar Gladis terkekeh. Dia mengerti kekhawatiran Syifa.
" Bunny..sambil nunggu daddy..Valen maun hp Mommy dulu yaa ?? " Ujar Gladis membujuk anaknya sambil menyodorkan ponselnya pada Valen.
" Oh..iya..thanks, Mom " Seru Valen antusias.
Syifa menarik nafasnya dan memulai ceritanya setelah memastikan atensi Valen fokus di ponsel Gladis.
Gladis meneteskan air matanya setelah mendengar semua cerita Syifa.
" Aku tidak tahu, bahwa kamu sesakit itu selama ini. Saat kamu sangat membutuhkan dukungan, justru aku tidak ada sebagai sahabatmu. Aku merasa tidak berguna sebagai sahabatmu " Ucap Gladis sambil terisak seraya memeluk tubuh mungil Syifa.
" Tidak Gladis. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku memang sengaja menghilangkan jejak dari kak Maliq dan orang orang yang kenal dengan Kak Maliq. Jangankan dirimu, orang tua dan kakakku pun tidak tahu aku dimana. Mereka tahu keberadaanku setelah dua tahun kemudian. Aku menghubungi mereka lewat ponsel temanku yang bernama Fandy.Taman sekampungku " Tutur Syifa panajang lebar.
" Kak Maliq hampir setiap hari datang ke rumah menanyakan keberadaanmu. Dia yakin, aku dan Kak Will menyembunyikanmu. Dia sangat frustasi. Dia terlihat sangat putus asa. Sampai sekarang dia masih mencarimu " Tukas Gladis dengan suara lirih.
" Dia tidak mau menempati rumah kalian lagi sejak kepergianmu. Dia tinggal di kantornya. Katanya dia tidak mampu ada di dalam rumah itu. Dia tersiksa dengan rasa bersalahnya padamu "
Syifa terhenyak mendengar pemaparan Gladis. " Dia tinggal di kantor ?? Trus yang tinggal di rumah siapa ?? "
" Menurut cerita kak Will..Ibu Aty dan pak Sani "
Syifa tertunduk lesu " Aku sangat berdosa telah pergi dari rumah tanpa seijin suamiku. Akan sia sia ibadahku selama ini, sedangkan aku menuai dosa setiap detik selama enam tahun ini " Gumam batin Syifa gusar.
" Tapi dia kan sudah mengusirku. Artinya sah sah saja aku pergi, itu adalah keinginannya " Batin sisi iblis Syifa berseru.
" Astahfirullah haladzim " Syifa beristighfar dalam hati.
__ADS_1
" Plend..!! " Seru Gladis melihat sahabatnya tercenung.
" Eeh..iya " Syifa gelagapan.
" Sorry, honey..daddy telat. Soalnya daddy bertemu dengan Ma- Eeh Syifa ?? " Suara bariton tiba tiba berseru mengalihkan atensi dua sahabat itu.
Sontak Gladis dan Syifa menatap ke arah suara.
" Kak Willy !! " Desis Syifa lalu menundukan wajahnya.
Willy terpaku di tempatnya berdiri. Dia masih belum percaya yang ada di depannya adalah istri dari sahabatnya yang menghilang tanpa jejak dari enam tahun lalu.
Tadi Gladis menghubungi Willy. Dia memberitahukan pada Willy bahwa dia berada di restoran tapi dia tidak memberitahukan tentang Syifa. Dia ingin Willy terkejut melihat Syifa. Dan dia berhasil, Willy sangat terkejut.
" Daddy...!! Kenapa lama sekali datangnya. Valen mau kenalin daddy sama kak Zian " Suara cempreng Valen memecahkan keterkejutan Willy.
Valen meletakan ponsel Gladis di atas meja dan berlari ke arah Willy.
" Ayo..dad. Valen mau mengenalkan Umi Syifa pada Daddy " Valen menarik tangan Willy yang masih terpaku di tempatnya.
Gladis terkekeh di tempatnya. " Surprise !! Daddy terkejut kan ?? Ini Syifa dad..!! Daddy tidak lupa dengan Syifa kan ?? " Seru Gladis antusias.
Willy mendekat dengan tatapan tak lepas ke arah Syifa.
Syifa yang mendapat tatapan itu menarik bibirnya hingga membentuk garis lengkung samar. " Apa kabar kak Willy ?? Ucap Syifa berdiri dari tempatnya sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.
" Kabar baik, Syifa. And you ?? " Tanya Willy masih dengan tatapan tidak percaya.
" Alhamdullillah..baik Kak "
" Silahkan duduk, kak !! " Ujar Syifa melihat Willy masih setia berdiri.
" Aah..iya. He..he.. " Willy terkekeh lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.
" Apa mereka belum bertemu ?? " monolog Willy dalam hati.
Setelah beberapa saat. Pintu ruangan dibuka. " Assalamualaikum !! Maaf, Mi..Zian lama soalnya Zian bertemu dengan Om Ahdan di musholah tadi. Tapi Om Ahdan tidak mau Zian ajak ke sini. Katanya ada urusan " Tiba tiba Zian datang dan bercerita tapi belum menyadari kehadiran Willy.
" Om Ahdan ?? " Beo Syifa.
" Iya..Om Ahdan teman baru Zian yang tinggal di rumah kakek Diman " Tutur Zian sambil meraih tangan Uminya lalu menciumnya dengan takzim kebiasaanya setelah habis sholat.
Setelah mencium tangan Syifa, Zian bergeser mencium tangan Gladis.
" Eeh..maaf. Zian tidak lihat ada Om " Ucap Zian tersenyum lebar ke arah Willy lalu menyodorkan tangannya ingin bersalaman.
Willy terpaku menatap wajah Zian. " Oh..Tuhan,, dia putramu, Syifa ?? Seru Willy sambil menyambut tangan Zian.
" Iya Kak !! " Jawab Syifa menatap sang putra.
" Saya Zian Om. Anak Umi Syifa !! " Ucap Zian memperkenalkan diri lalu tersenyum lebar.
Sontak Willy memeluk tubuh bocah enam tahun itu. Setetes cairan bening berhasil lolos dari netra laki laki dewasa itu.
" Hey boy..kau sudah sebesar ini ?? " Seru Willy mengurai pelukannya dan menangkup kedua bahu Zian. Dipindainya wajah bocah tampan itu dengan senyuman lebar.
" Kau sangat mirip dengan - "
" Aah..Zian. Kenalkan itu Daddy-nya Valen. Suami dari tante Gladis " Ucapan Willy menggantung karena terpotong dengan seruan Syifa.
Willy melirik ke arah sang istri yang dibalas dengan gelengan pelan dari Gladis.
" No !! " Gumam Gladis lirih tapi dapat dimengerti oleh Willy.
" Daddy..Kak Zian sudah jadi teman Valen. Tapi Valen tidak boleh dekat dekat Kak Zian. Kak Zian marah, Dad !! " Celetuk Valen mengalihkan atensi ketiga orang dewasa tersebut.
__ADS_1
Ketiganya tertawa mendengar celetukan valen. Tapi berbeda dengan Zian. Dia mendelik ke arah Valen.
" Rese " Gumam Zian seraya beranjak mendekati Uminya.