Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
288


__ADS_3

Sepasang pengantin berjalan dengan elegan memasuki ballroom sebuah hotel termewah di kota ini. Keluarga mempelai pria adalah orang terkaya dan terpandang, tentu saja tidak sembarang memilih tempat resepsi pernikahan anggota keluarganya. Tidak tanggung tanggung, ayah Aslan menyewa seluruh hotel beserta kamar kamarnya untuk di tempati oleh kedua keluarga mempelai.


" Masyaa Allah !! Pak Aslan sangat tampan !! " Pekik seorang gadis pada temannya dan sepertinya dia salah satu mahasiswa Aslan yang mendapat undangan dari dosen tampannya itu.


" Hussst !! Jangan norak. Liat orang orang pada menoleh ke sini " Hardik temannya setengah berbisik.


" he..he..maaf " Gadis itu tersenyum salah tingkah lalu menunduk menyembunyikan wajahnya.


" Ge..ge..itu kan Ibu Syifa ?! " Bisik gadis yang menegur temannya yang bernama Gea tadi.


Gea mendongak dan menatap wajah temannya lalu mengikuti pandangan temannya.


" Iya..itu sudah pasti ibu Syifa. Buktinya ada si tampan nan imut Zian di sampingnnya. Memangnya kenapa ?? " Tukas Gea sambil menatap gemas ke arah Zian.


" Yang di samping ibu Syifa, Ge..!! Oh My God..tampan banget. Apa itu suami Ibu Syifa yaa ?? " Bisik teman Gea dengan mata penuh kagum ke arah Maliq.


" Cih..bilangnya aku norak tadi. Nyatanya di situ yang lebih norak " Ledek Gea pada temannya.


Teman Gea cemberut. " Tapi benaran tampan kan ?? Mirip Zian yaa. Kalau diperhatikan. Berarti fix itu bapaknya Zian.


" Iya..mirip banget sama Zian. Pantas saja Zian gantengnya kebangetan. Rupanya Ibu bapak tidak salah..tampan sama cantik " Timpal Gea seraya memicingkan matanya menatap ke arah keluarga kecil Syifa.


" Iya. Ibu Syifa sangat cantik dan imut. Tapi sayang, tatapannya itu sangat dingin dan tidak pernah tersenyum "


" Hooii..lagi gibahin Ibu Syifa yaa.." Sentak seseorang dari belakang berhasil mengejutkan kedua gadis tersebut.


Sontak kedua gadis itu menoleh ke belakang. " Astagaa, Ashar !! Bikin kaget tau !! "


" He..he..kalian lagi apa ?? Nanti di dengar ibu Syifa, dapat nilai E baru tau rasa " Ledek Ashar sambil terkekeh.

__ADS_1


" Siapa juga yang lagi gibah " Gerutu Gea.


" Kita cuma penasaran sama laki laki di samping ibu Syifa " Imbuhnya lagi.


Ashar menatap ke arah Syifa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. " Sepertinya itu suami bu Syifa. Tapi kemana dia selama ini ?? " Batinnya. Jujur, ada perasaan yang tidak bisa dia jelaskan.Apa dia cemburu ?? Tapi dia siapa harus cemburu. Dia hanyalah mahasiswa yang mencintai dosennya diam diam.


" Huff " Tanpa sadar Ashar membuang nafasnya dengan tatapan sendu ke arah Maliq yang merangkul pinggang Syifa dengan posesif.


Gea dan temannya menatap Ashar heran. " Kenapa, Shar ?? " Tanya mereka.


Ashar tak menanggapi. Dia memilih beranjak meninggalkan kedua temannya itu.


" Om Ashar !! " Pekik suara cempreng khas anak kecil memanggil nama Ashar.


Sontak Ashar mencari asal suara.


Zian anak yang humble sehingga dia mudah akrab dengan siapa saja termasuk mahasiswa dan rekan kerja Syifa.


" Hai, bro..ganteng banget malam ini " Seloroh Aslan yang melihat Zian mengenakan tuksedo warna hitam dengan dasi kupu kupu menambah kesan imut pada Zian.


Zian terkekeh dan melakukan high five dengan Aslan yang sudah menjadi kebiasaannya setiap bertemu dengan mahasiswa Syifa itu.


" Om Aslan juga ganteng. Tapi lebih gantengan Abiku loh " Bisik Zian sambil melirik sekilas ke arah kedua orang tuanya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Zian memang bersikap dingin terkesan cuek pada Maliq. Tapi diam diam dengan bangga dia mengenalkan pada orang orang bahwa dia punya Abi juga seperti teman temannya yang memiliki keluarga lengkap.


" Ooh..itu Abinya Zian ?? " Tanya Ashar sambil mengajak Zian duduk.


" Iya itu Abi Zian " Sahutnya seraya tersenyum. Mata elangnya mirip dengan mata Maliq itu berbinar bahagia.

__ADS_1


" Tampan kan, Om. Mirip Zian !! " Seru Zian jumawa seraya tersenyum sumringah.


Ashar hanya tersenyum tipis." Iya sangat tampan " Tukasnya pelan.


" Boleh aku duduk di sini ?? " Tiba tiba Lani menginterupsi pembicaraan Zian Ashar.


" Iya. Silahkan duduk, tante !! " Seru Zian seraya tersenyum ramah ke arah Lani.


" Eeh..jangan panggil tante dongn Zian !! Panggil kakak saja. Jadi berasa tua deh " Rajuk Lani memberenggut lalu mengambil tempat duduk bersisian dengan Zian.


" Ha..ha...memang sudah tante tante !! " Ashar terbahak meledek Lani.


" Ishh. Ashar !! " Gerutu Lani.


" Dipanggil kakak saja ya, ganteng !! Please !! "


" Iya deh...kakak tante Lani ha..haa !! " Zian terbahak ikut menggoda Lani.


Lani gemas. Dicubitnya pipi cubby Zian.


Maliq dan Syifa menoleh ke arah Zian yang sedang tertawa dengan Ashar dan Lani.


Syifa tersenyum sekilas melihat anaknya yang sangat mudah bergaul dengan siapa saja.


Tapi beda dengan Maliq. Ada sisi dalam hatinya yang tercubit melihat anak semata wayangnya itu bisa bercanda dan sangat hangat dengan orang lain, bahkan dengan siapa saja. Dan pengecualian dirinya. Sampai saat ini hatinya terus bertanya tanya, kenapa dengan Zian.


Awal pertemuannya dengan Zian, anaknya itu sangat hangat padanya. Bahkan dia juga yang meminta agar Maliq dan Syifa kembali bersatu.


Tapi lihatlah. Zian besikap dingin dan terkesan menjauhinya. Rasanya Maliq ingin bertanya langsung pada anaknya itu. Tapi dia takut, Zian akan semakin menjauh.

__ADS_1


__ADS_2