
" Deg " Seseorang di balik pintu terkejut mendengar pembicaraan Syifa dan kedua orang tuanya.
" Jadi dia mau lanjutkan kuliahnya ke Jerman ??"
" Tidak..tidak..ini tidak bisa dibiarkan,aku harus mencegahnya pergi.Kenapa dia tidak pernah memberitahukan hal ini padaku.Aku tidak pernah tau apa apa tentang sekolahnya.Padahal selama ini aku yang bersamanya.Tapi pada kedua orang tuanya dia bisa mengatakan segalanya.Dia bebas bercerita.Dan lihat,dia sangat manja bukan seperti Syifa yang kukenal.Syifa yang kukenal adalah gadis kaku yang penuh misteri.Bolehkah aku iri dengan kedua orang tuanya??".Gumam Maliq pelan.
"Tuh kan..kan...Keegoisan Maliq balik lagi...perasaan kemarin dia berjanji akan mengabulkan permintaan Syifa,asalkan Syifa selamat"(POV author)
Maliq yang baru pulang dari memantau sentralnya terpaksa tidak jadi masuk ketika mendengar Syifa sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.Awalnya dia berniat hanya ingin memberikan ruang untuk Syifa melepas rindu dengan orang tuanya.Tapi dia tertarik menguping ketika dia mendengar Syifa akan melanjutkan studynya.
" Syifa ...kamu sudah membicarakan hal ini dengan Maliq ??" Tanya Mamah.
Syifa menggeleng lemah.
" Astagfirullah...Kamu itu sudah menjadi istri Maliq.Segala seauatunya harus seijin suami.Jangan ambil keputusan sebelum membicarakannya dengan suamimu " Mamah menasihati Syifa.
" Iya Mah."
Maliq tersenyum di balik pintu.
***
Dua hari berlalu.Dan hari ini Syifa sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Setelah merawat Syifa di rumah selama tiga hari,akhirnya Mamah dan Papah Syifa pamit pulang dan diantar kembali oleh Jhon.
Sejak pulang dari rumah sakit,sikap Syifa pada Maliq semakin dingin.Lebih dingin dari sebelum sebelumnya.Tiap kali dia melihat Maliq,hatinya sangat perih.Ucapan Maliq saat dia koma serasa terus menari nari di kepalanya.
Sikap dinginnya pada Maliq hanyalah usahanya untuk membiasakan dirinya bila saatnya dia dan Maliq akan berpisah.Dia tidak ingin merasakan rindu jika saatnya mereka tidak bersama lagi.
" Biarlah seperti ini,agar kesakitanku tidak akan menyiksaku nantinya " Batin Syifa.
Maliq yang melihat sikap Syifa sama sekali tidak peka.Tidak sekalipun dia berusaha mendekati Syifa dan menanyakannya.Yang dia tau bahwa Syifa memang seperti itu adanya.Dia lebih sibuk membujuk Linda yang terus mendesaknya minta dinikahi.
__ADS_1
Hingga tibalah saatnya Syifa menyelesaikan pendidikannya.Hanya dua tahun setengah dia sudah dapat menyandang gelar Sarjana Ekonomi.Syifa merasa sangat senang,dia sudah dapat meraih gelar sarjananya.Tapi kegembiraannya itu hanya dapat dia nikmati sendiri.Saat dia wisuda,tak ada kerabat yang tau karena dia hanya diam tak pernah berbagi rasa dengan siapapun orang yang ada di sekitarnya.Tempatnya berbagi hanyalah sahabatnya "Gladis".Dan hanya Gladis pula yang mendampinginya saat wisuda.Dia ingin mengabari orang tuanya,tapi dia bingung mengabarinya lewat apa.
Siang setelah Syifa dan Gladis keluar dari ruang tempatnya diwisuda.
" Plend..aku antar kamu ke rumah ??atau mau ke mana dulu ??" Tanya Gladis sambil menggadeng tangan Syifa.
" Kita pulang saja..tidak mungkin kita pergi dengan aku yang masih dengan pakai toga seprti ini " Ujar Syifa sambil tersenyum.
" Ya sudah..yuk kita kemon he..he.." Gladis terkekeh.
" Plend...aku sedih,setelah ini kita tidak bisa sama sama lagi..huu..huu..huu " Ujar Gladis sedih sambil menangis setelah mereka ada di dalam mobil.Dipeluknya Syifa dengan erat.
Syifa hanya bisa menitikkan air matanya tanpa bisa berkata kata." Gladis,persahabatan kita tetap akan terjalin walau jarak akan memisahkan kita.Jika ada kehendak dari Allah,kita pasti akan bertemu kembali " Ujar Syifa sambil mengelus punggung Gladis yang masih memeluknya."Dan aku sangat bersyukur bertemu denganmu,kau selalu ada ketika aku membutuhkan sesorang yang mendukungku,kau memang sahabat terbaikku " Ucap Syifa tulus pada Gladis.Air matanya deras membasahi pipinya.Dia sangat sedih harus berpisah dengan sahabatnya itu.
" Aku juga sangat senang bisa kenal denganmu.Banyak hal yang aku dapat darimu.Hal yang mampu mengubahku dari anak yang manja menjadi mandiri.Dari anak yang egois menjadi peduli.Semua hal itu kepelajari darimu. " Ujar Linda sambil mengusap air matanya.
Syifa tersenyum lembut." Kita saling mengisi.Aku yang dulu Introvert bisa berubah jadi lebih percaya diri.Itu berkatmu,Dis.."
Keduanya kembali berpelukan.Setelahnya Gladis membawa mobilnya menuju rumah Syifa.
Syifa mengangguk " Datanglah !! Ujar Syifa singkat.
"Ok "..aku akan datang membawa gitarku,boleh??"
"Boleh "
" Yaah..sudah sampaii " Gerutu Gladis saat menyadari ternyata mereka sudah berada di depan rumah Syifa.
" Makasi yaa..Dis.." Ujar Syifa saat sudah berada di luar mobil Gladis.
" Ok Plend...jangan lupa besok Yaa..." Gladis melambaikan tangannya saat mobilnya mulai berjalan.
Syifa membuka pintu pagar rumahnya.Dia tidak melihat Satpam penjaga keamanan di posnya.
__ADS_1
" Mungkin lagi keluar " Gumamnya.
"Tap..tap...tap.."
" Assalamualaikum " Syifa memberi Salam.Di dorongnya pintu yang kebetulan tertutup setengah. " Hhhfft pasti Bu Aty lupa menutup pintunya lagi " Keluh Syifa.
Suara televisi terdengar dari ruang tamu." Syifa..!!" Suara bariton mengagetkan Syifa saat melitas di ruang keluarga.Sontak Syifa menoleh ke asal suara.
" Kak Maliq !! Desis Syifa datar.
" Dari mana kamu ??" Tanya Maliq sambil berjalan mendekati Syifa.
" Dari Kampus " Singkat jawaban Syifa.
" Itu..kamu pakai toga.Kamu wisudah hari ini??" Telisik Maliq sambil menatap Syifa dengan intens.
" Iya "
Maliq tersentak.
" Syifa..!!.kau anggap apa aku ini ??momen sepenting itu kau tidak memberitahukan padaku haa ??" Bentak Maliq.
Syifa hanya menatap Maliq datar..
" Kak Maliq sampai detik ini tetap masih kuanggap sebagai suami.Masalah aku tidak memberitahukan aku wisudah hari ini,aku minta maaf.Aku tidak tau bahwa Kak Maliq ingin mengetahuinya.Karena aku sadar selama ini Kak Maliq tidak peduli dan tidak mau tau tentang urusanku,karena itu memang tidak penting untuk diketahui." Ujar Syifa dengan nada tetap datar.
" Deg..." Maliq tersentak."Memang selama ini aku tidak pernah sekalipun bertanya tentang dirinya". Batin Maliq.
" Oh ya..aku juga tidak memberitahukannya pada Mamah..karena Mamah lagi sakit"
" Jadi siapa pendampingmu saat Wisudah ??Tanya Maliq.
Syifa tersenyum kecut." Sahabatku, Gladis "
__ADS_1
Emosi Maliq langsung memuncak." Bagus,,lebih berarti sahabatmu dibanding suamimu.Tidak pernah sedikitpun kau hargai aku ???Syifaa!! Ingat aku suamimuuu !! Pekik Maliq gusar.Dia ingin menampar gadis di hadapannya.Giginya gemelutuk menahan kemarahannya.
Syifa yang melihat Maliq emosi hanya bisa tertunduk." Maaf Kak..aku tidak pernah berniat untuk tidak menghargai Kakak.Berkali kali aku meminta perhatian Kakak tapi Kakak selalu menolakku.Sebagai manusia aku juga mempunyai rasa malu ditolak berkali kali.Jadi aku pikir untuk kali ini pun aku sudah tidak ingin meminta perhatianmu.Dan aku sadar juga sebentar lagi kita akan jadi mantan" Bergetar suara Syifa menjelaskan pada Maliq.Dia berusaha untuk tidak menagis di hadapan Maliq.