Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
275


__ADS_3

Jalan hidup dan takdir seseorang memang tidak ada yang bisa mengira. Hal ini adalah mutlak rahasia sang pemilik hidup. Sebagai makhluk, kita hanya bisa menjalani apa yang sudah menjadi ketentuan-Nya.


Syifa. Gadis polos, berasal dari keluarga sederhana. Entah daya tarik apa yang ada di dirinya, sehingga bila ada yang jatuh cinta padanya pasti akan rela berkorban untuk bisa melihatnya bahagia.


Dulu, saat remaja. Pemuda tampan, sang kakak kelas, begitu tergila gila padanya tapi di akhir cerita ternyata, rasanya hanya bisa sampai sebatas persahabatan yang awet sampai sekarang.


Begitu pula seorang guru muda berwajah tampan, pun sangat mendambakan Syifa, yang akhir hubungan hanya sebatas saudara ipar walau saat ini hanya tinggal mantan ipar.


Di satu waktu juga, seorang pemuda Jerman yang gagah dan berumur matang. Sangat ingin memiliki Syifa, dan akhirnya menelan kekecewaan setelah tahu bahwa Syifa sudah bersuami.


Tapi benar kata orang, cinta itu memang tidak waras. Pemuda Jerman itu tetap memendam cintanya itu dan bertekad akan menjaga Syifa dari kejauhan. Ternyata niatnya itu membawanya pada cintanya yang sebenarnya. Yah..dia jatuh cinta pada Kakak dari sang wanita pujaannya.


Itulah permainan takdir. Syifa banyak dipuja laki laķi yang tulus padanya. Tapi siapa yang tahu akhir dari muara cintanya ternyata berlabuh pada seseorang yang membuatnya gamang.


Lelakinya lah yang membuatnya tahu bagaimana rasanya mencintai. Lelakinya pula yang membuatnya mengenal apa itu sakit, bagaimana rasanya dikhianati, dan lelakinya pula yang menjatuhkan mentalnya sampai ke dasar paling dalam, hingga susah untuk dapat bangkit kembali.


" Om Ahdan !! Kenapa aku sangat penasaran dengan orang itu. Tapi anehnya, aku tidak pernah melihatnya padahal aku sengaja pelan pelan saat lewat di depan rumahnya "


Gumam Syifa dengan kening berkerut. Syifa melipat tangannya di depan dada dengan tatapan kosong mengarah ke arah air mancur kecil di taman samping rumahnya.


Syifa berdiri di depan jendela kamarnya. Sejak kemarin dia semakin penasaran dengan orang yang dipanggil Om Ahdan oleh pria kesayangannya.


Tetes sisa sisa air hujan masih nampak luruh satu satu dari daun bunga puring yang ditanamnya di samping jendela. Jarum jam sudah menunjukan pukul empat sore. Tapi Syifa masih enggan beranjak dari kamarnya.


" Tiiit..Assalamualaikum !! " Tiba tiba suara bel rumah berbunyi dari arah luar. Syifa yang sedang termenung sontak menajamkan pendengarannya.


Saat ini Syifa hanya sendiri di rumah. Fatimah sang kakak angkat sedang berada di kios jahitnya. Sedangkan Zian, putra tampannya pergi ke GOR untuk latihan karate.


" Siapa sih yang datang ?? " Gumam Syifa tapi belum beranjak dari tempatnya.


Sementara di luar. Sesosok pria dewasa berpakaian casual dengan perawakan tinggi tegap dan berwajah tampan, serta bernetra hitam pekat. Pria itu menekan bel dan berbalik membelakangi pintu sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


" Dia sudah berhasil mandiri di sini. Sepertinya hidupnya baik baik saja " Gumam pria tersebut sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah. Bibir dari lelaki tampan berwajah tegas itu melengkung mengulas sebuah senyuman dengan mata berkaca kaca.


Rumah dengan gaya minimalis bercat warna putih kombinasi abu tua, terlihat asri dengan halaman sedikit luas ditanami beberapa macam bunga.


Disamping kanan rumah ada carport yang dihuni oleh mobil mungil Syifa berwarna putih.


Di samping kiri, terdapat ayunan besi yang dikelilingi beberapa pot bunga yang tertata rapi.


Di depan pagar besi berwarna putih. Berderet bunga bambu sepanjang pagar menghalangi pemandangan dari luar ke arah halaman.


Di teras rumah, terdapat sepasang kursi teras dan rak bunga di kiri kanannya.


" Dia menata dengan cantik rumahnya " Gumam laki laki itu dengan mata berbinar.Sekilas dia melihat ada beberapa jenis bunga anggrek tergantung di samping di samping teras di tempat khusus menggantung bunga.


Dan setelah diperhatikan. Warna putih mendominasi di sini. Mulai dari pot bunga, ayunan besi, carport, pagar rumah, cat tembok rumah, serta kursi teras semua berwarna putih.Sungguh menggambarkan kepribadian penghuninya.


" Cantik. Secantik pemiliknya " Desis laki laki itu seraya terkekeh pelan.


" Tapi ke mana dia ?? Setahuku dia tidak kemana mana saat ini " Imbuhnya lagi bergumam seolah dia sudah mengawasi Syifa dari tadi seraya menoleh sekilas ke arah pintu, tapi tidak merubah posisi berdirinya.


" Ceklek "


" Maaf, cari siapa ?? "


Sontak laki laki itu membeku di tempatnya. Seketika tubuhnya jadi kaku walau hanya sekedar membalikan badannya.


Keberaniannya yang berhasil dia kumpulkan dengan susah payah tadi, tiba tiba ambyar hanya karena mendengar suara merdu yang menyapanya.


" Ekheem..maaf. Cari siapa ?? " Ulang Syifa menyapa tamunya yang sedang membelakanginnya dengan punggung lebar, setelah menunggu sesaat.

__ADS_1


Laki laki itu menetralkan denyut jantungnya dan perlahan membalikan badannya yang menjulang di depan Syifa.


" Cantik. Dia semakin cantik " Gumam Maliq dengan sorot sarat dengan kerinduan.


Tubuh Syifa sontak mundur satu langkah ketika mengenali wajah orang di depannya.


Matanya membulat sempurna. Tanpa sadar dia menjatuhkan rahangnya.


Sesaat netra pekat itu menatap ke dalam netra bening Syifa. Dua manusia itu sontak terdiam dengan rasa berkecamuk di dada masing masing.


" Aa assalamualaikum !! " Sapa laki laki itu tergagap mengucap salam sesaat kemudian.


Syifa mengerjap matanya berulang kali seraya menggeleng pelan.


" Assalamu alaikum !! " Ulang laki laki itu lagi berhasil mengembalikan kesadaran Syifa.


" Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh " Jawab Syifa setelah bisa menguasai keadaan.


" Kenapa dia ada di sini " Batin Syifa menjerit. Jujur, dadanya berdenyut lebih kencang dari biasanya. Ada rasa yang tidak bisa dia jelaskan sedang berkecamuk di sana.


" Aa apa kabar, Sssyifa ?? " Laki laki itu masih saja tergagap setiap berucap.


" Baik " Ucap Syifa singkat dengan wajah datar dan sorot mata yang dingin untuk menyamarkan kegugupannya.


Pria di depan Syifa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia salah tingkah melihat reaksi Syifa.


" Boleh saya masuk ?? " Ujarnya tiba tiba setelah melihat Syifa tidak berniat mempersilahkannya masuk.


" Silahkan duduk !! Saya tidak bisa menerima tamu laki laki di dalam. Akan menjadi fitnah nantinya. Saya seorang janda " Ucap Syifa skeptis. Dia mengarahkan pandangannya ke arah kursi teras seolah memberi isyarat pada tamunya untuk duduk di teras saja.


Laki laki itu terperangah. " Kau bukan seorang janda. Aku masih hidup, Syifa !! " Gusar laki laki itu yang ternyata adalah Maliq, suami Syifa. Abinya Zian.


" Silahkan duduk dulu. Tidak etis rasanya menerima tamu hanya dengan berdiri " Sarkas Syifa masih dengan wajah datar.


Maliq mengusap wajahnya dengan telapak tangannya lalu duduk di kursi teras.Dia menatap wajah Syifa dengan perasaan rindu yang membuncah. Ingin rasanya dia memeluk tubuh mungil itu erat erat dan bersujud memohon maaf. Tapi, hal itu tidak mungkin dia lakukan setelah melihat tatapan datar tanpa ekspresi dari istri kecilnya itu.


" Ada perlu apa datang berkunjung ?? "


" Haa...?? " Maliq melongo mendengar pertanyaan Syifa.


" Datang menemui kalian. Ternyata kalian bersembunyi di sini " Jawab Maliq sambil mentap dalam dalam wajah Syifa yang enggan menatapnya.


Syifa terkekeh pelan. " Untuk apa mencari kami ?? bukankah anda telah mengusir kami ?? " Sarkas Syifa. Kalimat itu sangat datar diucapkan oleh Syifa, tapi tersirat berjuta perih di situ.


" Deg " ada rasa yang teriris perih ketika mendengar Syifa menyebutkan kata ' anda ' untuknya.


" Maaf " Cicit Maliq lirih lalu menundukan kepalanya. Ada tetesan cairan bening luruh di pipi pria dewasa itu.


" Apakah masih ada maaf untukku, dek ??"


" satu kata maaf untuk seorang laki laki yang selalu mengedepankan emosi ini. Aku menyesal, dek. Enam tahun aku mencari kalian seperti orang kehilangan kewarasan.Aku tahu, aku memang sudah tidak pantas mendapat kata maaf darimu. Tapi aku mohon satu kesempatan lagi, dek !! aku rela mencium kakimu, dek !! "


Suara Maliq bergetar menahan isakannya. Dia bangkit dari tempatnya lalu menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Syifa. Tidak ada lagi kata malu di dalam diri Maliq. Saat ini dia hanya ingin mendapat maaf dari istrinya itu. Dia sudah tidak memperdulikan harga dirinya.


Syifa mengangkat wajahnya, sontak menggeser kakinya yang disentuh oleh Maliq.


" Apa yang anda lakukan ?? " sentak Syifa gusar.


" Jangan jatuhkan harga diri anda hanya untuk memohon maaf atas kesalahan yang mungkin anda akan ulangi kembali " Skeptis Syifa.


Maliq mendongak lalu menggeleng keras. " Maafkan aku, dek !! "

__ADS_1


" Berdiri !! Aku bukan Tuhanmu " Sentak Syifa lagi dengan nada suara yang telah naik satu oktaf lalu berdiri menjauh dari hadapan Maliq. Dia melipat tangannya yang tersembunyi di balik khimarnya yang berwarna cream.


Sekilas Syifa melihat bayangan anaknya berjalan mendekat ke arah pintu pagar.


" Berdiri dari tempatmu. Aku belum ingin menjawab pertanyaan dari anakku. Anakku akan heran melihat orang asing bersimpu di lantai " Titah Syifa masih dengan nada datar.


Maliq menoleh ke arah pintu pagar. " Dia anakku juga, dek. Aku bukan orang asing " Cicitnya sendu sambil berdiri dari tempatnya.


" Cih..kemana aja dulu. Kenapa sekarang datang datang mengakuinya sebagai anak ?? Bukannya dulu anda tidak mengakuinya ?? " Ujar Syifa dengan suara rendah seraya melirik ke arah Zian yang mendekat. Dia takut Zian akan mendengar perdebatannya dengan Maliq.


" Dek- "


" Sst..jangan mendebatku. Anakku sudah datang " Tukas syifa memotong ucapan Maliq.


" Assalamualaikum !! " Suara khas bocah enam tahun berseru memberi salam


" Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh " jawab Syifa dengan senyum tipis menyambut anaknya.


Zian mendekat memberi salim pada ibunya.


" Eehh...Om Ahdan !! Pantas Zian cari cari tadi GOR. Rupanya Om lagi di sini " Zian terkejut melihat kehadiran Maliq di rumahnya.Dia memberi salim pada Maliq.


Maliq terkekeh. " Sorry, son. Om datang bertemu ibumu tanpa bilang dulu ke Zian " Ujar Maliq lalu memeluk tubuh pria kecil yang sangat mirip dengannya itu.


" Om Ahdan ?? Oo.. ternyata Kak Maliq yang diceritakannya selama ini. Pantas aku tidak asing dengan nama itu. ' Maliq Ahdan ' Syifa membatin sambil menatap tajam pada ayah dan anak di depannya itu.


" Jangan peluk peluk dulu, Om. Zian masih kotor. Zian baru habis latihan " Tolak Zian ketika Maliq memeluknya.


" Tidak apa apa, son " Lirik suara Maliq menahan isakannya yang hampir lolos. Dia sedih, harus mendengar anaknya memanggilnya Om. Apa mau dikata, tidak mungkin dia langsung mengenalkan dirinya, bahwa dia adalah ayah Zian.


" Om teman Umi juga ?? " Tanya Zian dengan polos.


" Haa teman ?? " Beo Maliq lalu melirik Syifa yang langsung berpaling tidak ingin menatap Maliq.


" Ii- iya. Om teman Umimu " Jawab Maliq terbata bata.


" Ok..kalau begitu Zian mandi dulu ya, Om. Om jangan dulu pulang !! Zian masih ingin bermain dengan Om." Titah Zian lalu berlari lewat samping rumah.


Maliq mengangguk lalu mengangkat jempolnya. " Ok, son "


" Om Ahdan " Cicit Syifa mencibir sambil terkekeh pada Maliq setelah Zian sudah masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.


" Jangan berikan harapan pada anakku, jika anda datang hanya akan melukai hatinya " Ucap Syifa tegas lalu menatap Maliq dengan tajam.


" Dia anakku juga, dek. Aku tidak memberikan harapan palsu padanya. Aku hanya ingin mendekatinya " Tukas Maliq sendu.


" Dengan mendekatinya secara sembunyi dariku ?? "


" Anda pengecut !!. Silahkan pergi dari sini, sebelum membuat aku dalam masalah " Ujar Syifa mengusir Maliq.


" Aku sudah berjanji menunggu Zian, dek !! " Maliq mencoba membujuk Syifa.


" Cih...alasan " Syifa berdecih lalu membalikan badannya masuk ke dalam rumah.


" Dek !! "


" Stop di situ. Jangan coba coba masuk ke dalam. Tunggulah anakku di situ !! " Titah Syifa sebelum masuk.


" Syukurlah..setidaknya bisa bermain dengan Zian " Batin Maliq lalu tersenyum sumringah menatap punggung Syifa yang masuk ke dalam rumah.


" Ayo..lebih berjuang lagi Maliq " Gumamnya memberi semangat pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2