
" Nanti bunda coba bicara sama Umi. Tapi menurut bunda, wajar Umi keberatan Zian mondok. Soalnya Zian maunya di pulau Jawa. Kalau seandainya di sini saja, umi bisa jenguk Zian seminggu sekali " Ujar Bunda Fatimah setelah mendengar cerita Zian.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Zian mengajak bundanya dan Aslan duduk di ayunan tempat duduknya tadi bersama sang Umi.
Zian menceritakan semuanya bahwa dia ingin sekolah di pesantren dan belum mendapat restu dari wanita yang melahirkannya itu.
" Apa Zian tidak rindu Umi kalau sudah di pondok ?? Jauh loh itu nak..pulau Jawa. Nanti Zian jarang ketemu Umi " Celetuk Aslan tiba tiba karena sungguh dalam hatinya seperti tidak rela ditinggalkan oleh Zian. Dia sudah terlanjur sayang pada ponakan angkat dari istrinya itu. Zian sudah sangat dekat dengannya sebagaimana Zian dekat dengan Fatimah. Fakta bahwa mereka tidak akan bisa mendapat momongan membuat Aslan mencurahkan kasih sayangnya pada Zian.
" Pastinya Zian akan selalu rindu. Tapi Insyaa Allah sebisa mungkin, Zian akan belajar tidak akan menjadi anak yang cengeng. Kan kalau Zian selesai mondok, Insyaa Allah pulang ke Umi juga " Ucap Zian sambil terkekeh pelan.
" Masalahnya Om Aslan juga bakal kangen Zian " Aslan menangkup kedua pipi Zian, dan menghujaninya dengan ciuman bertubi tubi. Mata teduh laki laki tampan itu itu terlihat berkaca kaca.
" Apaan sih Mas Aslan, bukannya kasih motivasi buat Zian, jadi menjatuhkan semangatnya !! " Tegur Fatimah pada sang suami. Tapi dia tidak sadar, mata miliknya juga sudah memerah menahan tangis.
" Ishh..yang. Mata kamu merah juga loh !! Tuh lihat, sedikit lagi banjir " Ledek Aslan tidak terima ditegur pemilik hatinya.
__ADS_1
Fatimah menepuk bahu Aslan pelan. Wajahnya tersipu. " Mana ada aku nangis !! " sanggah Fatimah lalu memalingkan wajahnya menghindari pandangan suaminya dan Zian.
" Kenapa sih..nggak ada yang mendukung keinginan Zian. Semua hanya memperlihatkan wajah sedih. Zian kan mondok untuk mencari ilmu akhirat " Rajuk Zian memasang wajah cemberut.
" Tidak nak. Bunda mendukung Zian. Wajar bunda dan yang lainnya sedih kalau Zian jauh dari kami semua, tapi Insyaa Allah kita ridho nak. Doa bunda selalu menyertai Zian. Insyaa Allah bunda akan bicara dengan Umi " Ujar Fatimah sambil mendekap erat bocah laki laki yang diasuhnya sejak dari bayi itu.
" Janji ya bund. Bunda ngomong sama Umi !! " Ujar Zian sumringah dan ditanggapi anggukan oleh Fatimah.
" Ya udah, kita masuk dulu. Insyaa Allah bunda cari waktu yang pas untuk ngomong sama Umi " Janji Fatimah pada Zian seraya menuntun bocah tampan itu untuk masuk ke dalam rumah.
***
Syifa bungkam dengan isakannya. Wajahnya yang sudah bersimbah air mata disembunyikannya di dada bidang suaminya. Suami istri itu sedang duduk di atas ranjang sambil bersandar di headboard ranjang.
" Kak Fatimah tadi juga ngomong begitu. Tapi hatiku belum rela berpisah dengan anakku. Dia masih terlalu kecil kak, untuk jauh dari orang tuanya " Sanggah Syifa mempertahankan pendapatnya.
__ADS_1
Maliq terkekeh pelan sambil mengecup pucuk kepala sang istri dengan lembut lalu dagunya di tumpukan di atas kepala Syifa.
" Sebenarnya aku juga merasa sedih. Apalagi aku belum lama bersama dengannya dan tiba tiba dia harus pergi jauh dariku. Hati kecilku tidak rela. Tapi, sesungguhnya dia adalah anak yang hebat. Dia memilih tidak ingin manja, dia hanya ingin mengejar ilmu akhirat untuk bekalnya di dunia dan di akhirat. Aku bangga mempunyai putra sepertinya " Ungkap Maliq lirih mirip sebuah gumaman. Setetes cairan bening meluncur melewati pipinya.
" Dan aku sangat tahu, kepergiannya ini semata mata untuke menghindariku. Semoga sekembalinya dari pondok, dia akan menerimaku sepenuhnya sebagai Abinya " Lanjut Maliq di dalam hati.
" Ikhlaskan dia pergi, dek. Berikan ridhomu padanya, agar keberkahan dan keselamatan selalu menyertainya " Imbuh Maliq lagi walau dalam hatinya sangat perih ketika mengucap kalimat itu.
Syifa mendongak. " Kakak menangis ?? " Ujar Syifa ketika mendengar suara Maliq bergetar.
" Tidak !! " tegas Maliq gelagapan. Gegas dia menghapus air mata di pipinya.
" He..he..hee..Kak Maliq bohong !! Kak Maliq nangis " Ledek Syifa sambil memukul pelan dada suaminya.
Maliq menarik kepala istrinya, menenggelamkannya di dada bidangnya. " Kakak sedih juga dek...tapi sekali lagi kita harus ikhlas dan ridho agar anak kita selalu mendapatkan kebaikan " Ucapnya sambil mengelus surai hitam milik istrinya.
__ADS_1
" Hhfff...Insyaa Allah aku ikhlas kak. Besok aku akan bicara dengan Zian. Bahwa aku mengijinkannya untuk mondok " Desah Syifa lirih. Dia harus menguatkan hatinya demi kebaikan putra semata wayangnya.
" Masyaa Allah...mari kita kuatkan hati kita dek. Insyaa Allah ini demi kebaikan Zian " Timpal Maliq masih dengan suara bergetar untuk menguatkan istrinya.